Tiga Belas

1079 Kata
Yudia menggeliat mengerjapkan matanya beberapa kali saat sinar matahari berhasil masuk ke celah jendelanya. Pergerakannya terhenti saat ada sebuah lengan yang melingkari perutnya. Seketika ingatan Yudia tertarik ke belakang. Astaga... Malam tadi... Ya ampun... Rona merah muncul dari pipi Yudia. Oh... Salahnya malah menggoda singa yang sedang kelaparan. Tentu saja dirinya yang akan dimangsa. Malam tadi itu benar-benar menakjubkan dan.. Begitu panas. Perlahan Yudia membalikkan tubuhnya tanpa melepaskan lengan Pria yang memeluknya. Senyum Yudia mengembang melihat sosok yang terlelap begitu tenang di sampingnya dan memeluknya. Jemari lentik Yudia bergerak mengusap gurat lelah di kening Faiz. Telunjuknya bergerak menyusuri hidung mancung Faiz lalu turun ke bibir Faiz yang tebal begitu penuh. Bibir ini... Perlahan mata Faiz mengerjap pelan sebelum akhirnya membuka matanya menatap dirinya. Yudia tersenyum tipis. "Jangan bilang Om mau mandi air kembang 7 rupa karena sudah bercinta sama saya wanita kotor. Jangan bilang hal menyakitkan dulu Om, ini masih pagi," ucapnya langsung karena takut Faiz akan melontarkan perkataan yang membuat moodnya buruk sepanjang hari. Faiz menarik sebelah alisnya menatapnya denga tatapan yang sulit diartikan. "Bodoh," gumamnya masih bisa terdengar. Pupil mata Yudia mengecil menatap sengit Faiz. Ia segera menjauhkan tangannya dari wajah Faiz. "Siapa yang bodoh?" Yudia merasa tersinggung dengan perkataan itu. "Kamu bodoh," jawab Faiz tak melepaskan pandangannya, "bangun tidur itu ucapin selamat pagi, atau kasih morning kiss. Bukan malah bicara yang bukan-bukan." Kemudian Faiz bangkit dari tidurnya bersandar pada sandaran ranjang. Yudia memberengut sebal saat mendengar omelan Faiz, tetapi juga tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. "Om beneran jangan ngomong yang pedas-pedas, ya? Masih belum siap telingaku mendengarnya," peringatan Yudia menatap Faiz memelas. Faiz mengedik. "Semua terjadi karena saya yang mau." Yudia terbelalak menatap Faiz tak percaya. Lah si Om kulkas tumben mau ngaku. Biasanya kan sok jual mahal. Batin Yudia terheran-heran. "Tum-"                                                                        Faiz menoleh menatap Yudia lekat. "Saya mau minta maaf atas segala perlakuan saya sama kamu yang mungkin menyakiti hati kamu," ucap Faiz terdengar tulus. Yudia tercengang menatap Faiz heran. "Om..." "Ya?" Yudia ikut bangkit tidak lupa mengaitkan selimut untuk menutupi tubuhnya. "Nggak kesambet, kan? Atau ada setan yang nempelin Om waktu perjalanan pulang ke rumah?" Maksudnya bukan itu yang dia mau katakan, tapi mengapa malah itu yang lolos dari mulutnya. "Setan?" "Iya, setan. Genderowo mungkin. Kan genderowo kesukaannya nidurin wanita, Om." Faiz menggeleng pelan menatapnya jengah. "Kamu terlalu suka baca buku mitologi, Dia," tukasnya sembari membenarkan letak selimut. "Kok Om tahu?" Yudia terpana melihat senyum Faiz yang mengembang begitu menawan. Ya ampun... Nikmat mana lagi yang dirinya mau dustakan. Semalam saja, bola matanya nyaris keluar melihat pusaka Om kulkas yang ia pikir berkarat ternyata gagah perkasa. Memang Om Kulkas sempurna kalau sudah tidak jadi kulkas lagi. "Om..." Yudia memandang lekat Faiz dari samping mengagumi pemandangan yang langka ia lihat. "Hem..." "Om sudah tua, tapi kenapa kadar ketampanannya malah semakin bertambah sih?" Yudia mengakui untuk pertama kalinya dirinya tergila-gila pada sosok manusia yang selalu bersikap dingin padanya. "Saya memang sudah tampan dari lahir," bangganya tersenyum tipis. Yudia berdecak menggeleng pelan menyadari jika dirinya terlalu memuji Faiz. "Ya sudah, Om mau sampai kapan di kamar saya? Mau mandi sama-sama?" Penawaran yang gila memang, tapi kan semuanya sudah terlanjur. Yang jual mahal juga sudah kalah. "Saya mau-" Ucapan Faiz terhenti saat mendengar suara riang anak-anak yang tiba-tiba memasuki rumah. Mereka saling melempar pandang. "Keanu!" pekik mereka bersamaan. "Tante? Kean masuk, ya.." Sekejap mata Faiz melompat turun dari ranjang berlari memunguti pakaiannya yang berserakan. Begitupun dengan Yudia yang langsung mengenakan baju tidurnya. "Tante... Kean masuk, nih..." Bibir Yudia membulat menatap Faiz yang bergerak gelisah bingung harus bagaimana. Dengan cepat Yudia turun dari ranjang berjalan mendekati Faiz lalu mendorongnya masuk ke kamar mandi. Belum sempat Yudia mengembuskan napas lega, pintu sudah terbuka menampakkan Keanu yang sudah rapi dengan pakaian santainya. Yudia tersenyum, tanpa sengaja matanya menangkap celana dalam Faiz yang tergeletak di ujung ranjang. Astaga... *** "Papa belum pulang ya, Tan?" Samar-samar Faiz mendengar suara putranya dari dalam kamar mandi. Faiz menempelkan telinganya di daun pintu. Sial! Mengapa dirinya bisa lengah begini? Biasanya dia paling jago mengontrol emosi apalagi gairahnya. Yudia benar-benar memiliki aura yang mampu memikatnya. "Papa sudah pulang. Di kamarnya masih tidur kali." "Nggak ada, Tan. Kean juga sudah cari di kamar mandinya nggak ada." "Em.. Terus kemana dong Papa kamu?" hening sesaat. "Ah! Papa lagi olahraga kayaknya keliling komplek." Faiz memejamkan matanya, sementara bibirnya tersenyum puas. Kepalanya terasa ringan karena akhirnya mendapatkan pelepasan yang sudah sangat lama tidak ia dapatkan. "Nenek ajak kita pikinik, Tan. Ayo." "Oke. Aku bersih-bersih dulu nanti keluar nyusul kamu, ya?" "Dia, memangnya Bang Faiz belum pulang? Kok nggak ada?" Faiz merutuk di dalam kamar mandi. Eh kampret. Mengapa Janira ikut-ikutan masuk ke dalam juga sih! Faiz mendesah gusar merapikan kemejanya yang sangat kusut. "Sudah kok, tapi kayaknya lagi joging deh keliling komplek." Joging pala lu peyang. Joging semalaman di ranjang mah iya. Batin Faiz menimpali. "Kata Keanu mau piknik? Ya sudah aku siap-siap dulu, nanti nyusul keluar, oke?" Hening... Saat Faiz hendak berbalik tiba-tiba pintu terbuka membentur kepalanya. "Sakit, Dia!" ringisnya memegangi keningnya. Yudia mengintip di celah pintu meringis bersalah. "Maaf, Om. Nggak tahu Om nguping dekat pintu." Seketika dirinya menatap Yudia tajam. "Saya nggak nguping," bantahnya cepat. Yudia mengangguk pelan. "Iya nggak nguping, cuman dengerin dikit. Sudah ah. Ayo cepetan keluar, Om." Yudia berjalan ke arah belakangnya kemudian mendorong tubuhnya keluar kamar mandi. Faiz tercengang menoleh ke belakang menatap Yudia heran. Dia pemilik rumah dan Yudia dengan begitu beraninya mengusir dirinya? Luar biasa sekali. "Tunggu dulu," Faiz menghentikan langkahnya. "Saya keluar lewat mana?" Yudia menyeringai mengedikkan dagunya ke arah jendela yang sudah terbuka lebar. "Nggak buruk juga kan kalau lewat sana? Daripada lewat pintu langsung ke gep?" Faiz mendesah lelah segera berajalan menuju jendela kemudian menaiki bingkai jendela dan duduk di sana membelakangi taman menatap Yudia lekat. "Saya beneran minta maaf, Dia," ujarnya kembali melanjutkan percakapan yang sempat terputus. Faiz terpesona melihat senyum tulus dan tatapan lembut yang memancar dari manik cokelat terang itu. "Santai saja, Om. Saya nggak pernah ambil hati omongan Om yang pedasnya mengalahkan boncabe level 30," jawabnya sekenanya. Untuk pertama kalinya Faiz tersenyum tulus pada Yudia. "Terimakasih." Hening sesaat sebelum tiba-tiba Yudia mendorong tubuhnya hingga bokongnya yang terlebih dulu mendarat di tanah. "s**t! p****t gue," ringis Faiz mengusap bokongnya kesakitan. Faiz terkesiap saat celana dalam mendarat tepat di wajahnya. "Yudia...," geramnya menatap sengit Yudia. Baru saja dia meminta maaf, dan Yudia malah kembali membuat ulah. Yudia melongokkan kepalanya sedikit menggigit bibir bawahnya menatap Faiz takut. "Maaf, Om. Sengaja." Yudia langsung menutup jendela kamarnya setelah mengatakan itu. "Kampret!"  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN