Tiga

692 Kata
Satu minggu seperti waktu yang sudah dijanjikan. Siang ini Yudia akan memberikan surat perjanjian yang sudah ditandatanganinya. Tekad Yudia sudah bulat untuk menerima kontrak itu. Berhubung masih siang hari, Yudia memakai setelan santai. Celana jeans panjang dipadupadankan dengan kaos putih longgar polos. Rambut hitamnya ia cepol asal ke atas menggunakan jepitan rambut ala kadarnya. Yudia berjalan memasuki kafe hanya menenteng map yang berisi perjanjian itu tanpa ada tas di tangannya. Yudia memang wanita yang terbilang sederhana, ia berpakaian glamor dan mewah hanya saat-saat tertentu saja. Yudia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Tidak ada Pria itu, Yudia mengedik melenggang menuju sofa yang ada di ujung kafe. Duduk di sana menyimpan map itu di atas meja. Siapa yang menyangka jika Yudia seorang kupu-kupu malam saat dandanannya seperti ini. Yudia tersenyum ramah saat ada beberapa Pria yang melemparkan senyuman padanya. Yudia melirik jam dinding sekilas berdecak kesal karena yang membuat janji tidak kunjung datang. Dentingan lonceng berbunyi, Yudia mengalihkan tatapannya ke arah Pria yang mengenakan setelan jas kerja cokelat gelap. Rambut hitamnya yang disugar ke belakang. Manik cokelat terangnya tak bisa berkedip melihat ketampanan yang begitu jelas. Yudia menggeleng pelan segera membuka map memastikan jika usia yang tertera di sana salah. 45 tahun? Yudia kembali melihat Pria yang semakin mendekat ke arahnya. Salah. Pasti salah. Batin Yudia ragu. Wajahnya tidak tampak seperti usia hampir setengah abad. Ya Tuhan... Yudia terpesona. Yudia menyentuh dadanya sendiri yang tiba-tiba bergemuruh hebat saat melihat Pria itu semakin mendekat. Perut Yudia terasa melilit seketika. Sebentar, ini ada apa dengan reaksi tubuhnya yang tiba-tiba seperti ini? Ya Tuhan... Jangan sampai! "Gila! Masa gue cinta sama kulkas empat pintu, sih! Yang benar saja!" Yudia menggerutu merasa hal yang berbeda dari biasanya. Apa mungkin nyalinya sedang meriut karena sekarang masih siang hari? Yudia menunduk beragumen dengan pikiran dan hatinya yang tiba-tiba seperti sekarang. Sebelumnya, Yudia memang pernah merasakan hal menggelikan itu, tapi Yudia harus kecewa karena dia ditinggal begitu saja oleh orang yang dia cintai waktu lalu. Cinta yang biasa orang sebut sebagai cinta monyet. Namun Yudia sadar kalau rasanya sama seperti sekarang ini. "Yang kamu sebut kulkas empat pintu itu manusia, Dia." Yudia terpaku nyaris terlonjak karena suara rendah yang sukses membuatnya menahan napas. Yudia mendongak, tatapan mereka bertemu. Yudia menggeleng kembali menunduk. Sial, sial, sial! Kenapa dia jadi seperti gadis lugu yang baru kesengsem sama Pria sih! Mana Prianya sudah Om-om lagi. Yudia merutuki dirinya sendiri memukul kepalanya pelan. "Ada tikus di bawah?"                       "Hah?" Faiz menarik sebelah alisnya tersenyum miring pada Yudia. Jari terulur menuju kening Yudia menempel di sana lalu mengetukkannya beberapa kali sebelum berkata, "Fokus," ucapnya tersenyum mengejek. Yudia mendengkus menepis jari yang menyentuh keningnya. "Duduk!" seru Yudia berani. Sebelah Alis Faiz kembali terangkat. "Kamu berani nyuruh saya?" Yudia memberengut membuang pandangannya ke lain arah. "Terserah!" ketusnya bertopang dagu kemudian. Faiz mengulum senyum geli kemudian duduk di samping Yudia sedikit memberi jarak. "Jadi?" Yudia menoleh tersenyum manis dibuat-buat. "Saya terima, Om." "Faiz." "Really? Om kali, usia kita bedanya jauh banget. Saya baru 25 tahun sedangkan Om sudah 45 tahun. Setengah abad kurang lima tahun lagi," ejek Yudia riang. Faiz mendengkus tak suka. "Terserah." Yudia kali ini tersenyum lebar menyodorkan map yang ada di atas meja pada Faiz. "Ini, Om. Sudah saya tandatangani." "Kamu sudah bulat?" Yudia menggeleng membuat kening Faiz mengerut. "Kamu belum bulat?" Yudia menyeringai. "Saya sudah bulat, Om. p******a bulat, p****t bulat, tapi sayangnya a--" "Bisa serius?" sela Faiz jengah. Yudia menyengir lebar menampilkan deretan gigi putihnya. "Saya sudah persegi, Om." Kening Faiz masih mengerut tidak mengerti. "Saya serius," geramnya kesal. Yudia mengangguk mantap kemudian menjawab, "Saya sudah persegi karena kalau bulat itu berputar-putar dan ujungnya nanti berubah-ubah. Kalau persegi kan sisi sama sisinya sama, ujungnya juga sama nggak akan ada yang berubah," jelas Yudia tersenyum bangga merasa pintar. Faiz berdecak kesal. "Berbelit sekali ternyata," ucapnya sarkas. Yudia mengangguk cepat. "Kalau nggak ribet bukan hidup namanya, Om." Yudia tersenyum puas melihat ekspresi Faiz yang menahan kesal. Ingin rasanya Yudia tertawa seperti malam itu waktu di hotel, tapi Yudia harus menahannya karena sekarang dia sedang ada di depan umum. Dilihat-lihat, Faiz memang menggemaskan. Wajahnya yang tidak sama seperti usianya membuatnya ingin membungkusnya saja ke apartemen. Wajahnya benar-benar imut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN