"Iya, Sie. Kamu mau tinggal di apartemen aku juga boleh kok."
Yudia tengah menghubungi Siena memberitahu bila dirinya sudah pindah dan apartemennya kosong. Faiz memang mengizinkannya untuk istirahat hari ini sambil berkeliling rumah untuk melihat-lihat area mana yang perlu didatangi dan dilarang untuk didatangi. Seperti kamar Pria kulkas itu misalnya. "Oke, nanti kita ketemu kalau ada waktu, bye," putus Yudia kemudian menutup teleponnya.
Kamar Yudia berada di ujung dekat taman belakang. Jendela kamar Yudia langsung mengarah pada taman belakang. Yudia tersenyum simpul menatap hamparan rumput hijau yang dihiasi lampu-lampu taman, tidak ketinggalan bunga-bunga yang bisa dibilang langka menjadi pemanis taman itu. Yudia duduk di bingkai jendela menatap hamparan taman itu. Sudah lama dirinya tidak merasakan kebebasan seperti sekarang. Masalalu kelam yang berusaha dia lenyapkan dalam ingatannya.
Pengorbanan yang sia-sia.
Begitu rutuk batinnya ketika mengingat proses bagaimana dia bisa terjerumus dalam pekerjaan gelap itu. Setitik air mata keluar dari sudut matanya. Yudia tersenyum hampa mengusap sudut matanya menatap air matanya sendiri.
"Ah, kapan terakhir aku nangis kayak gini?"
Entah, karena sejak saat kejadian memilukan itu Yudia mengeraskan hatinya. Membekukan air matanya. Kejadian pedih yang mengikis kepercayaannya akan kata cinta. Kejadian tragis yang merenggut masa depannya. Pintu kamar terbuka, seketika Yudia menoleh ke belakang. Yudia tersenyum lebar saat melihat Keanu berjalan ke arahnya. Persis seperti Bapaknya. Batin Yudia memuji.
Yudia segera turun dari bingkai jendela menghampiri Keanu yang memasang wajah muram dan sedih.
"Wuah.. Anak tampan ini kenapa murung begini?" Yudia berlutut mengusap pipi Keanu lembut.
"Tante cantik bisa bantuin Keanu buat rebut perhatian Papa dari pekerjaannya?" Mata Keanu menatap penuh harap pada Yudia yang bergeming dengan kening mengerut. "Papa nggak sayang sama Keanu, Tante. Papa sayangnya cuman sama kerjaannya doang," ucapnya lagi yang akhirnya membuat Yudia mengerti.
Yudia berdeham. Keanu kesepian. Itu yang langsung terlintas di kepalanya saat mendengar permintaan Keanu. "Papa kerja kan buat Keanu, berarti Papa sayang sama Keanu," hibur Yudia lembut.
Yudia ingat, dalam artikel mengatakan menghadapi anak kecil diperlukan ekstra sabar dan selalu bersikap lembut.
Keanu menggeleng, Yudia pun ikut menggeleng. "Papa nggak sayang, Tante. Buktinya, Papa nggak bisa balikin Mama buat sama Keanu."
Yudia diam menggigit bibir bawahnya bingung. Manik cokelat terangnya berpencar mencari jawaban yang tepat tapi tidak menimbulkan kesalahpahaman. "Mama memang nggak bisa dibalikin, tapi Keanu tahu nggak kalau Mama Keanu selalu ada sama Keanu," ucap Yudia hati-hati.
Keanu menengokkan kepalanya ke kanan-kiri mencari keberadaan Mamanya seperti yang dikatakan Yudia. "Mama nggak ada sama Keanu, Tante."
iris mata Keanu memerah hendak menangis. Yudia buru-buru berkata, "Mama Keanu memang nggak ada di sekitar Keanu, tapi Mama Keanu selalu ada di sini," tunjuk Yudia pada d**a bawah Keanu. Keanu menatap nanar Yudia, sementara Yudia menganggukkan kepalanya pelan. "Mama selalu ada di hati Keanu. Keanu kemana pun, Mama bakalan ikut dan selalu menemani Keanu." Yudia tidak tahu mengapa dia bisa selancar ini menghibur Keanu. Mungkin benar. Sepotong hati Ibu Keanu cukup membantu dirinya.
"Keanu paham?" Yudia kembali memastikan.
Keanu bergeming sesaat kemudian memeluk Yudia erat. Yudia bisa merasakan punggung kecil Keanu bergetar hebat. Keanu menangis teredam. Hati Yudia terasa pedih mendengar isakannya. Mengapa Keanu bocah polos bisa begitu merindukan Ibunya? Sedangkan dirinya tak sedikitpun merindukan Ibunya, meski pun dia sangat ingin merindukan Ibunya. Mungkin karena hatinya sudah ia keraskan untuk melupakan semua kenangan. Manik cokelat terang Yudia bertemu dengan manik hijau tua milik Pria kulkas itu. Tatapan mata itu tersirat akan penuh perasaan bersalah, sementara Yudia masih sibuk mengusap punggung Keanu yang masih menangis.
***
"Tehnya, Om." Yudia menyimpan satu cangkir teh di meja pinggir kolam renang. Yudia duduk di kursi satunya lagi tanpa izin Faiz kemudian ikut menatap lurus pada kolam renang. "Keanu merindukan Mamanya, Om," ucap Yudia memecah keheningan.
Faiz menoleh menatap Yudia dari samping dan Yudia ikut menoleh membalas tatapan dingin Faiz.
"Kamu nggak tahu apapun," pungkas Faiz datar.
Yudia tertawa pelan. "Saya memang nggak tahu apapun, tapi saat melihat Keanu memelas meminta Om untuk berhenti bekerja, saya yakin Keanu benar-benar sangat membutuhkan Mamanya karena kesepian."
Hembusan angin malam mengisi kesunyian di antara mereka.
"Saya besar dalam lingkungan perceraian, Om. Saya bisa merasakan dengan jelas gelombang rindu dan kesepian yang Keanu rasakan," ujar Yudia menatap lekat Faiz yang menatap lurus ke depan. Yudia tersenyum tipis saat Faiz tidak menanggapi ucapannya sama sekali. "Saya juga merasakan kurang kasih sayang dan jadilah saya seperti sekarang ini," Yudia tersenyum tipis saat Faiz menatap ke arahnya menyembunyikan kegitirannya.
"Menjadi seorang p*****r maksudmu?"
Yudia meringis dalam hati mendengar kata p*****r untuk kedua kalinya yang dilontarkan Pria kulkas itu. Heran. Sikapnya dingin tapi mulutnya pedas sekali. "Iya. Jadi seorang p*****r," sahut Yudia membenarkan.
Faiz berbalik menatap serius pada Yudia. "Mengapa kamu jadi p*****r? Kekurangan uang? Ingin hidup mewah?" cecar Faiz tajam seperti pisau yang baru saja diasah.
Yudia menarik napas dalam membalik tubuhnya supaya bisa berhadapan dengan Faiz. "Kepribadian saya jauh dari kata mewah, Om." Yudia tersenyum simpul membalas tatapan dingin Faiz. "Yang saya cari bukan uang, tapi kedamaian. Hampir setiap hari mendengar pertengkaran orangtua sejak usia delapan tahun itu bukan hal yang bagus. Saya tertekan dan saya berontak."
"Dengan menjual diri kamu?"
Yudia menggeleng pelan. "Awalnya saya cari perhatian dengan berbagai prestasi mau akademik maupun non akademik, tapi tetap saja orangtua saya nggak pernah mau perduli, terutama Mama saya."
Tatapan lekat Faiz membuat Yudia bergidik. "Papa dan Mama bercerai, tragisnya Mama saya itu seorang Mami yang sering menjual seorang wanita. Papa saya sakit, komplikasi. Dan membutuhkan banyak uang." Yudia tahu Faiz tidak perduli dengan ceritanya, tapi tidak ada salahnya kalau dia menceritakan kehidupannya.
"Mirisnya saya dijual Mama saya sendiri." Yudia mengebaskan hatinya agar tidak menangis.
"Dijual?" gumam Faiz masih terdengar oleh Yudia.
Yudia mengangguk. "Waktu saya berusia 18 tahun, Mma jual saya pada pelanggannya. Saya diperkosa habis-habisan waktu itu. Tanpa rasa perduli atau kasihan sedikitpun Mama membiarkan saya."
Miris bukan? Seorang ibu tidak mungkin menyakiti anaknya sendiri. Namun buktinya Yudia menepis pernyataan tersebut dengan fakta yang ia alami. Ibunya tega menjualnya tanpa sepengetahuannya. Saat dirinya akan kabur, semuanya sudah terlambat. Yudia tidak punya tempat berlindung, Papanya pun tidak perduli dengan kondisinya. Waktu itu, harga diri dan seluruh jiwa raganya hancur tak bersisa. Saat dia mengalami kehancuran itu, tidak ada yang merangkulnya, memeluknya atau menenangkannya. Yudia sendiri dalam kegelapan yang menariknya secara paksa. Yudia lari dari kenyataan dengan mencoba mengakhiri hidupnya yang telah rusak, tetapi ada tangan yang menariknya berusaha menghentikan tindakannya. Dan Yudia malah harus terperosok lagi. Saat Yudia kembali terperosok, tak ada tangan yang ingin meraihnya.