HATI YANG HANCUR

1124 Kata
"Dimana?" tanya Bima lagi yang tidak mengetahui keberadaan Yogi. "Eh, tadi disana!". Dalam pikiranku, aku melihat wanita itu datang dan sekarang Yogi menghilang, apakah mereka sedang berduaan? Ahh, semoga perkiraanku ini salah. "Maaf ya Bim? Aku tinggal dulu mau nyusul Yogi." kataku pamit, meninggalkan Bima dengan terges- gesa di tengah pesta ulang tahun Niken yang ramai, aku mencari Yogi yang menghilang dari pandanganku tetapi aku tidak menemukannya. Rumah Niken sangat luas sehingga aku cukup kebingungan saat menelusuri setiap sudut ruagannya. Kini aku berada di lantai dua, dan aku melihat sekeliling tidak ada orang satupun jadi aku berniat untuk turun lagi ke lantai bawah dengan melangkah menuruni anak tangga. Tetapi saat sebelum aku sampai ke lantai bawah, aku mendengar suara kecupan serta desahan. Aku menghentikan langkahku dan berfikir sejenak mengira ngira "apakah itu suara tikus ya tapi mana mungkin rumah semegah ini ada tikus" Ah mungkin memang tikus, jadi aku melanjutkan langkahku menuruni anak tangga. Tapi saat aku tiba di lantai satu aku mulai berfikir lagi. "Apa salahnya jika aku memeriksanya." jadi aku segera kembali menaiki anak tangga dan mengikuti suara kecupan mirip tikus itu. Aku melihat ruang kamar dengan pintu tertutup, tapi ada sedikit celah dilubang tempat kunci pintu sehingga aku bisa mengintipnya. "Ya tidak ada salahnya kan jika aku penasaran." Aku melihat seorang wanita yang begitu liar sedang menciumi kekasihnya dan tangannya bergerak cepat membuka kancing baju kekasihnya yang sedang berbaring dibawah antara kedua pahanya. Tapi pria itu seperti berusaha untuk melepaskan diri. "Cukup Yun!" kata pria itu karena nadanya yang tinggi jadi aku cukup mendengarnya dari balik pintu. Seperti tidak mempan bentakannya kemudian perempuan itu kembali menjulurkan lidahnya ke dadanya yang bidang. Entah, apa yang terjadi pria itu bangkit dan membanting tubuh perempuan itu hingga roboh, aku masih belum bisa melihat wajahnya dengan jelas tapi dari postur tubuhnya dari belakang seperti pria yang aku kenal. "Bel, kamu sedang apa?" kata Bima membuatku kaget bukan main. Ah padahal dalam hatiku belum cukup puas untuk menontonnya dan tanpa sadar aku menertawai diriku sendiri. "Cihh aku gila." "Bel, hayo ke depan karena sebentar lagi akan ada acara penting jadi kita harus ikut!" kata Bima mengajakku dan aku iya-kan. Lalu aku melangkah pergi bersama Bima tapi tak lama kemudian, belum sampai di depan pintu aku mendengar suara hentakan kaki menuruni tangga. Aku menoleh penasaran karena itu pasti pria tadi yang sedang aku intip. "Yogi" aku berucap kaget, mataku membelalak dan jantungku berdetak sangat hebat. Ditambah aku melihat wanita itu menyusul Yogi dan bergelantungan di lengannya, Yogi yang kaget melihatku langsung membuka paksa tangan wanita itu agar lepas. Hatiku terasa sakit, ingin sekali rasanya aku berteriak dan mataku berkaca kaca akibat menahan hancurnya perasaan yang begitu hebat karena di khianati tapi untung saja akalku tidak hilang karena aku tidak ingin membuat suasana jadi kacau karena ini pesta ulang tahun temanku. jadi aku segera mengambil tangan Bima dan menariknya untuk pergi segera agar tidak terkejar oleh Yogi. "Hayo Bim!" Ahhh cinta? Cinta yang begitu bodoh sampai mengorbankan segelanya yang paling berharga demi cinta yang palsu. ***** "Bel, kau gak apa-apa?" tanya Bima penuh perhatian karena semenjak aku melihat Yogi tadi, konsentrasiku tidak karuan dan fikiranku kemana mana. "Iya aku gak apa-apa kok, cuma pusing dikit." kataku berbohong karena sebenarnya aku sedang tidak baik. "Ah tidak perlu kok, sebentar lagi acaranya bakal selesai." "Oh! ya sudah kalau begitu." Bima tersenyum lega saat mendengar jawabanku. Pembawa acara (MC) mengadakan kuis bagi pasangan dan kebetulan aku dan Bima dianggap jadi salah satu pasangan yang ikut serta. "Kuis tebak salah benar bagi pasangan! Kita akan membacakan beberapa hal yang harus dilakukan oleh pasangan, jika benar kalian mengacungkan tangan dan jika salah makan tidak usah tapi kalian harus kompak, jika kalian tidak kompak maka kalian akan dihukum, bagaimana? Setuju?" kata MC sambil memeriahkan suasana. Yang aku heran adalah semua orang setuju dengan ide konyolnya dan tibalah kuis dijalankan. Kita hanya sahabat jadi jelas kita pada permainan ke dua kita kalah karena tidak kompak. "Argggghhh." "Wah pasangan Bima dan Bela tidak kompak, jadi mereka berdua harus di hukum." kata pembawa acara. Aku dan Bima hanya bisa tersenyum malu, apalagi suasana hatiku tidak memungkinakan untuk merasakan pesta malam ini. "Cium! Cium! Cium!" terdengar suara dari teman teman yang menyaksikan, tentu kita menolak nya karena kita memang bukan pasangan. Bima berusaha berbicara kepada teman teman agar memberi hukuman yang lain tapi di satu sisi aku melihat sosok Yogi datang kearahaku, sosok pria yang tidak ingin aku temui untuk saat ini. Saat melihat wajahnya aku mengingat kejadian saat dia sedang b******u dengan wanita lain didalam kamar, seketika otakku ingin meledak rasanya. Benar-benar muak. Lalu aku menarik jas hitam milik Bima sehingga tubuhnya mengarah kepadaku, tanpa sadar aku menekan punggung leher dan kepalanya menggunakan kedua tanganku, dan aku berjinjit untuk bisa meraih bibirnya dan menempelkan bibirku. Tak ku sangka Bima membalas pelukanku dan semakin mengeratkan tubuhku agar lebih menempel dengan tubuhnya. Dia membuka mulutku yang semula hanya aku tempelkan dengan menggigit bibir bawahku hingga Bima dengan leluasa memainkan lidahnya, didalamnya. Kini aku merasakan kehangatan yang diberikannya dan tak sadar aku memejamkan mata dan menikmatinya. Aku mendengar orang orang bersorak dan tepuk tangan membuatku tersadar kemudian segera aku melepaskan pelukanku dan menjaga jarak dari Bima. Aku lihat Yogi menatap tajam kearahku sambil mengepalkan kedua tangannya dan pergi dengan marah. Aku tidak sadar apa yang sudah aku perbuat, apa ini karena aku cemburu tapi bukankah ini keterlaluan, sekejab hatiku merasa bersalah kepada Yogi. "Bela, aku akan mengantarmu pulang!" kata Bima yang berada disampingku. "Ah tidak perlu, aku akan memanggil taksi saja." "Ini sudah malam, biar aku saja yang mengantarmu pulang!" Karena Bima memaksa akhirnya aku pulang dengannya tapi sampai saat inipun Yogi tidak menghubungi ku sama sekali. "Sial! Dia yang berkhianat, tapi kenapa aku yang merasa bersalah?!" kataku bergugam kesal kepada dirisendiri. **** Terdengar suara ketukan pintu, membangunkan aku dari mimpi indahku. Segera aku membuka pintu dengan penampilanku yang masih lusuh setengah sadar. "Kamu memang pemalas ya Bel, sekarang sudah jam sebelas loh kamu masih tidur aja" kata Bima sambil mengetuk kepalaku pelan hingga aku mengaduh kesakitan. ."Ngapain, sih? Aku gak ada kelas hari ini." Lalu aku beranjak pergi lagi untuk membaringkan tubuhku sejenak yang kelelahan karena semalam aku tidak tidur memikirkan Yogi. Seketika saat tubuhku terlempar di kasur, Bima langsung menarik tanganku dan membawaku kedalam kamar mandi. "Cepetan sekarang mandi!" kata Bima menyuruh. "Apaan sih kok tiba tiba? Aku masih ngantuk tahu. Memangnya kita mau kemana?" "Aku akan mengajakmu keluar jadi sekarang cepetan mandi! apa perlu aku yang memandikanmu?" tanya Bima sambil menggodaku. "Apaan sih Bim, yaudah aku mandi!" kataku gugup karena ulah Bima sampai membuat pipiku terasa panas. **** Bima mengajakku ke sebuah kedai mie, yang biasa kita datangi bersama saat masih sekolah menengah dahulu. Ia juga tidak lupa menu mie kesukaanku dan Ia langsung memesankan nya untukku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN