Hujan kembali turun membasahi bumi. Maira terbangun dengan hati yang bahagia mendengar suara itu. Ia cepat-cepat membuka jendela, kemudian kembali ke tempat tidur. Berbaring seraya memandang tetesan hujan. Entah kenapa, air mata Maira mengalir perlahan. Ada rasa sakit yang tiba-tiba menggerogoti hatinya. Sepi, kini begitu ia rasakan. Lagi-dan lagi, ia selalu merasa sendiri.
Mungkin, andaikan dulu Ia tidak ditinggalkan begitu saja oleh Mike, mantan kekasihnya, ia tidak akan seperti ini. Menjadi wanita yang pendiam, kaku, dan dingin. Mike, begitu nama kekasihnya sekitar enam tahun yang lalu, tentunya sekarang sudah berstatus sebagai mantan kekasih. Pria berkebangsaan Jerman itu kembali ke negara asalnya dan tidak ada kabar. Semua kontak Maira diblokirnya. Maira benar-benar kehilangan, ia merasa sudah memberikan seluruh cintanya pada pria itu, tapi Mike, membawa semua dan membuangnya entah kemana. Mike membawa semua bagian dari diri Maira, yang tersisa hanyalah kenangan.
Maira menarik napas panjang, ia beranjak dari tempat tidur untuk mengambil sebotol air mineral. Dengan celana pendek dan tank topnya, ia pergi ke tepi jendela, melihat pemandangan di luar. Sekilas, ia melihat bayangan Nugra. Maira tersentak, mengedipkan matanya dua kali untuk memastikan yang ia lihat adalah salah. Nugra, tidak lagi terlihat. Mungkin, wanita itu merasa sedikit bersalah, sebab Ia merasa memang berprilaku tidak sopan pada pria yang sudah menolongnya.
"Ah, sudahlah...saatnya menikmati hidup,"ucap Maira. Ia segera mandi dan bersiap-siap sarapan.
Maira sempat mematung beberapa detik saat melihat area ruang makan terlihat penuh. Mungkinkah karena ini sudah akhir pekan sehingga ramai seperti ini. Wanita itu berjalan perlahan, mencari meja yang kosong.
"Maira..." Suara dingin itu membuat bulu kuduk Maira merinding, suara itu terdengar tidak asing. Tapi, ia lupa dengan sang pemilik suara.
Maira menoleh, sedikit tersentak melihat si pemilik suara."N...Nugra?"
Nugra melihat ke sekeliling, kemudian ia kembali menatap Maira,"Kamu mau sarapan?"
"I...iya, tapi...kayaknya nggak jadi. Nanti aja kalau sudah sedikit sepi,"ucap Maira dengan gugup.
"Sini...ikut aku." Nugra mempersilakan dengan sopan. Mau tidak mau, Maira ikut saja dari pada ia menjadi pusat perhatian karena sejak tadi berdiri terus.
"Silakan duduk,"ucap Nugra.
Maira menatap Nugra, matanya berkedip berkali-kali melihat pria itu."Emm...itu...aku..."
Nugra memegang kedua pundak Maira dengan pelan, membawa wanita itu duduk."Silakan makan. Aku...hanya akan makan. Jangan khawatir."
Maira mengangguk dengan canggung."Iya. Thanks."
Nugra tersenyum,ia pun melanjutkan makan paginya. Sesekali Maira memberanikan diri menatap Nugra. Pria itu tampak tenang, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka."Apa kegiatan kamu hari ini?"
"Berkeliling."
"Kemana?"
"Ke sekitaran air terjun, di belakang sana,"jawab Nugra
Maira mengangguk-angguk."Dari kamarku nggak kelihatan air terjunnya."
"Oh ya?" Nugra tertawa kecil."Tapi, kamu masih bisa keluar dari kamar kan kalau mau lihat."
Maira kembali mengunyah sarapan paginya. Keduanya saling diam sampai selesai sarapan.
"Aku sudah selesai, Maira. Aku...duluan." Nugra bangkit, kemudian pergi setelah melemparkan senyuman khasnya.
Maira mengangguk saja karena ia masih mengunyah. Tapi, diam-diam ia memperhatikan kemana Nugra pergi. Pria itu tidak berjalan ke arah kamarnya, melainkan ke arah lain yang membuat Maira penasaran. Ia bergegas menyiapkan sarapannya, kemudian mengikuti jejak Nugra.
Pria itu ternyata pergi ke air terjun, ia tampak sedang memotret. Ternyata ia menyimpan kamera di tas hitam yang ia pakai tadi. Maira memerhatikan Nugra dari kejauhan, perlahan ia duduk di bebatuan, menenggelamkan kakinya di air. Maira tidak membawa ponsel atau kameranya. Ia betul-betul hanya ingin berlibur, tidak ingin mendokumentasikan apa pun.
"Nggak kedinginan? Kan tadi habis hujan!" Entah bagaimana tiba-tiba saja Nugra sudah berada di dekat Maira. Padahal, Maira merasa beberapa detik yang lalu, Nugra berada jauh di sana. Mungkin, ia terlalu menikmati suasana di sini sehingga tidak ingat berapa lama ia merenung.
"Nggak."
"Oke." Nugra berjalan menapaki bebatuan. Kaki yang beralaskan sendal gunung itu tampak kokoh.
"Nugra!"
"Iya?" Pria itu menghentikan langkahnya.
Maira merutuk dirinya. Mulut jahatnya itu entah kenapa harus memanggil nama Nugra. Tapi, sudah terjadi. Tidak mungkin ia ralat."Hmmm...boleh aku ikut?"
Nugra terdiam beberapa detik, tampaknya pria itu memiliki sedikit keraguan. Tapi, kemudian ia mengangguk."Oke."
Maira berdiri, ia tampak bersemangat. Ia menjinjing sendalnya karena kakinya yang basah. Ia menginjak bebatuan bekas injakan Nugra.
"Hati-hati,"ucap Nugra seraya mengawasi langkah wanita itu.
Maira tersenyum, kemudian ia mendahului Nugra. Mereka semakin mendekati air terjun. Kaus yang dipakai Maira sedikit basah karena percikan air. Tapi, ia cukup senang. Nugra mengambil beberapa gambar di alam sekitar, sementara Maira tetap main air.
Tiba-tiba Maira berteriak, Nugra menoleh dan dengan spontan. Tapi, beberapa detik kemudian ia mendengar tawa Maira. Wanita itu terpeleset di air. Tubuh wanita itu terjatuh dan tenggelam di air. Nugra tersenyum, ia menghampiri Maira, berjongkok di bebatuan besar."Memangnya tadi nggak mandi ya sampai mandinya di sini?"
"Mandi, aku kepleset tahu!"
"Kan aku sudah bilang, hati-hati. Tadi habis hujan, jadi...agak licin. Sini naik, nanti kamu kedinginan." Nugra mengulurkan tangannya untuk membantu Maira.
Maira meraih tangan Nugra, ia naik ke batu besar itu dan duduk di sebelahnya.
"Kamu langsung balik aja ke kamar, Maira. Ganti baju. Nanti masuk angin,"pesan Nugra.
Maira tertawa."Nggak apa-apa... ini... menyenangkan."
"Oh ya?" Nugra tertawa kecil.
"Kapan kamu pergi dari sini?"
"Maksudnya?"tatap Nugra.
"Maksudku, kapan keluar dari hutan ini?"
"Oh...Minggu depan,"balas Nugra.
Maira menatap lekukan wajah Nugra dari dekat, aroma parfum pria itu menstimulasi pikirannya. Perlahan ia menggeser duduknya lebih dekat ke Nugra, tapi pria itu tak menyadarinya.
"Maira...kamu..."Nugra menoleh tapi kemudian ia kaget karena tiba-tiba ia menjadi dekat sekali dengan Maira. Mereka sama-sama diam, kemudian Nugra merasakan bibirnya terasa dingin disentuh oleh jemari Maira.
Nugra terdiam, tidak berani bereaksi apa pun. Ia takut wanita itu tiba-tiba sikap wanita itu berubah dan menjadi menyerangnya. Kemudian ia merasakan bibir Maira menempel di bibirnya. Nugra terdiam, beberapa detik ia membiarkan Maira mengeksplor bibirnya. Tapi, lidah Maira melesak ke dalam, memaksanya membuka mulut. Mulut Nugra terbuka, membalas ciuman Maira. Kali ini, ia tidak berani berbuat jauh. Ia hanya bisa menunggu apa yang akan dilakukan Maira selanjutnya.
"Nugra..." Maira melepaskan ciumannya.
"Kenapa, Maira?"
"Aku...mau ke kamarku, tolong...antarkan."
Nugra melihat Maira mulai mengigit kedinginan. Ia cepat-cepat mengangguk."Ayo!"
Keduanya berjalan beriringan, tidak ada yang bicara sampai mereka tiba di kamar. Tangan Maira gemetaran saat membuka pintu. Dengan sigap, Nugra membantunya. Pintu terbuka lebar, Maira buru-buru masuk dan meraih handuk.
"Langsung keringkan badan dan ganti baju." Maira ke dalam toilet, melepaskan semua pakaiannya yang basah, lalu meletakkan ke dalam tempat pakaian kotor. Nanti saja itu diurus, pikirnya. Ia mengenakan handuk kimono, lalu keluar .