Ruang kerja Rhea sunyi, hanya bunyi kipas pendingin dan detik jam yang terdengar. Ia menatap layar laptop dengan pandangan kosong — berita pembatalan pertunangan Christian dan Hanna masih menempel di laman utama, namun pikirannya tak di sana. Ada hal yang jauh lebih berat berputar di kepalanya. Ketika pintu diketuk, ia tak menoleh. Suara itu pelan, tapi berulang tiga kali — cemas. “Mbak Rhea…” suara Elina terdengar dari balik pintu, serak dan lelah. Begitu pintu terbuka, Rhea langsung tahu ada sesuatu yang tidak beres. Elina tampak kacau rambut berantakan, wajah pucat, dan matanya sembab seperti tak tidur semalaman. Tangannya gemetar memegang ponsel. “Ada apa, El?” tanya Rhea perlahan. Elina menelan ludah, lalu menatap Rhea dengan pandangan yang membuat jantungnya ikut terhimpit. “Jess

