Di ruangan kantor cabang, suasana siang itu tenang-tenang saja. Beberapa karyawan sibuk dengan laporan, ada yang mengetik cepat di depan laptop, ada pula yang lalu-lalang membawa berkas. Namun, ketenangan itu perlahan berubah sejak Christian Miller muncul. Pria itu masuk dengan langkah mantap, kemeja hitamnya kontras dengan cahaya putih lampu kantor. Seolah-olah keberadaannya otomatis jadi pusat perhatian. Di sisi lain, Jesslyn duduk di kursinya dengan wajah datar. Senyum pun tidak. Ia tahu persis kalau Christian akan melakukan sesuatu—sudah dari sorot mata pria itu bisa ditebak. “Kenapa mukanya serius banget, hm?” suara berat Christian terdengar, cukup keras untuk membuat beberapa kepala menoleh. Jesslyn tetap menatap layar laptopnya. “Karena saya kerja, Pak,” jawabnya pendek, tanpa se

