Christian melangkah keluar dari kantornya dengan langkah besar. Pikirannya masih dipenuhi kalimat terakhir Noah “Dia pergi naik kereta, Bang. Arah barat.”
Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat dadanya terbakar. Untuk pertama kalinya, Christian benar-benar merasa kehilangan. Jesslyn pergi, bukan karena dipaksa, tapi karena memilih. Dan itu lebih menyakitkan dari apapun. Bahkan Christian tidak pernah berpikir jika wanita itu bisa pergi sesuka hatinya seperti ini. Dan ya, setelah ketemu jangan harap Christian tidak akan menghukumnya. Dia akan menghukum wanita itu karena berani pergi meninggalkan dirinya tanpa kabar. Sialan!! Siapa yang mengajarinya seperti itu!! Sabian? Jika iya, gue akan potong leher pria itu sampai putus. Pikir Christian.
Di parkiran, ia membuka pintu mobil dengan kasar, masuk, lalu menyalakan mesin. Namun tangannya yang menggenggam setir justru bergetar. Napasnya memburu, matanya merah karena kurang tidur bercampur emosi. Tapi setelah ini, setelah bertemu akan Christian pastikan dia bisa tidur nyenyak disamping Jesslyn.
“Kenapa lo selalu kabur, Jess? Apa gue segitu nggak pantasnya buat lo percaya?” monolog Christian.
Ia memukul setir keras, suara klakson panjang membelah udara. Beberapa karyawan menoleh, tapi Christian tak peduli. Ia melajukan mobilnya keluar dari area kantor, tanpa tujuan jelas.
Yang ia tahu, Jesslyn ada di luar sana. Dan ia tidak bisa hanya duduk diam.
Setelah kepergian Christian banyak karyawan yang mulai berbisik, begitu juga dengan Sabian yang hanya menatap adiknya lewat jendela. Kemana perginya Christian dengan tergesa-gesa seperti itu?
Di sisi lain, Noah sedang berdiri di balkon lantai tiga, menatap mobil Christian yang melesat pergi. Ia menghela nafas panjang. Pria itu tersenyum kecil sambil menikmati kopi dinginnya. Dia sudah memberi petunjuk, memberi jalan agar Christian tidak frustasi. Selebihnya Noah hanya berharap jika Christian tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini lagi.
Mobil Christian berhenti mendadak di dekat stasiun utama. Ia turun, berjalan cepat masuk, matanya menyapu kerumunan orang yang sibuk dengan koper dan tiket di tangan.
Keramaian itu membuat kepalanya pusing. Jesslyn bisa saja sudah pergi jauh. Tapi instingnya menuntun untuk mencari petunjuk sekecil apa pun.
Ia mendatangi loket, memperlihatkan senyum tipis yang lebih mirip ancaman. “Saya butuh data penumpang kereta tujuan barat, tiga hari lalu. Ada nama Abigail Jesslyn Greta di daftar?”
Petugas loket terperangah, jelas terintimidasi oleh tatapan tajam pria itu. “M-maaf, Pak… kami tidak bisa memberikan data penumpang sembarangan.”
Christian mencondongkan tubuh, suaranya berat dan dingin. “Saya bukan sembarang orang. Ini urusan penting.”
Petugas itu menelan ludah, lalu akhirnya berbalik untuk mengecek komputer. Beberapa menit kemudian ia kembali, wajahnya tegang. Dia tahu siapa pria di hadapannya sekarang, jika dia tidak memberi informasi bisa jadi karirnya tamat hari ini juga.
“Benar, Pak. Tiga hari lalu ada penumpang dengan nama itu. Tujuannya… kota kecil di barat. Tapi selebihnya saya nggak bisa kasih tahu.” ucapnya.
Christian mengangguk singkat, lalu melemparkan kartu namanya ke meja. “Kalau ada hal mencurigakan, hubungi saya. Dia istri saya yang lagi kabur dari rumah.”
Ia keluar dari stasiun, dadanya semakin berat. Kota kecil di barat. Itu satu-satunya clue yang ia punya. Sedangkan banyak sekali kota kecil di sana. Dimana Jesslyn tinggal?
Ia duduk di dalam mobilnya lagi, memejamkan mata sebentar. Bayangan Jesslyn muncul jelas di kepalanya—senyumnya yang dingin, tatapannya yang menusuk, juga rapuhnya yang hanya muncul sesekali.
“Lo pikir gue bakal berhenti? Lo pikir gue bakal nyerah cuma karena lo kabur? Nggak, Jess. Gue bakal dateng, gue bakal tarik lo pulang, meskipun lo teriak benci gue seribu kali.” ucapnya penuh tekat.
Ia menyalakan mesin mobil, lalu menatap jalan raya yang membentang panjang. Arah barat menunggu. Dan ia sudah siap menempuh apa pun demi menemukan Jesslyn.
Sementara itu…
Jesslyn sedang duduk di ruang kerjanya di kantor baru. Ia menatap layar komputer, tapi pikirannya melayang jauh. Seakan ada yang sedang bergerak ke arahnya, mendekat.
Ia menggenggam pena erat-erat, dadanya berdebar tanpa alasan. Nafasnya tercekat, seolah sesuatu tengah mencekik dirinya.
“Kenapa rasanya gue nggak benar-benar bebas? Seperti ada sesuatu yang perlahan mendekat…” gumam Jesslyn lirih.
Tanpa ia sadari, di saat itu Christian sudah melaju di jalan raya, menembus jarak demi satu tujuan: dirinya.
***
Hari itu kantor baru Jesslyn terasa lengang. Kota kecil ini memang tidak seramai Jakarta, tapi suasananya justru membuat Jess merasa bisa bernapas lebih lega. Ia duduk dibalik meja, menekuni laporan yang baru masuk.
Namun sejak pagi, ada hal-hal kecil yang mengusik pikirannya. Yang membuat wanita itu tidak tenang sama sekali. Seperti sesuatu akan terjadi dengannya setelah ini.
Tadi pagi, seorang kolega yang baru ia kenal—seorang resepsionis ramah bernama Mira—berkomentar sambil menyerahkan surat.
“Lucu ya, Mbak Jesslyn. Nama Mbak sama kayak yang sering disebut di berita perusahaan besar Miller Group. Apa ada hubungan?” kata Mira.
Jesslyn sempat tertegun, tapi buru-buru tersenyum datar. “Ah, kebetulan aja namanya sama.”
Ia mencoba mengabaikannya. Namun sepanjang hari, ia merasa tatapan-tatapan ingin tahu dari beberapa rekan kerja. Tidak frontal, tapi cukup membuatnya gelisah. Apa mungkin orang disini tahu siapa Jesslyn dan beritanya?
Saat jam makan siang, ia berjalan ke kafe kecil dekat kantor. Di meja belakang, dua pria yang mengenakan jas terlihat sedang membicarakan Miller Group.
“Katanya divisi lama di sini jarang banget ada bos besar yang datang.” kata karyawan lainnya.
“Iya, kecuali ada masalah besar. Tapi siapa tahu tahun ini beda.” sambung yang satunya lagi.
Jesslyn menelan ludah, pura-pura tidak mendengar. Tapi hatinya berdesir aneh. Kenapa justru Miller yang disebut-sebut di kota kecil ini? Ia menatap keluar jendela, mencari ketenangan di balik lalu lintas yang jauh lebih lambat daripada Jakarta.
Seakan ada sesuatu yang menunggu, mendekat.
Jesslyn berjalan keluar dari kantor, membawa map berisi dokumen. Angin sore yang sejuk menyambutnya. Ia sempat berhenti di depan pintu, memandangi langit yang mulai berubah warna jingga.
Entah kenapa, hatinya tiba-tiba berdebar kencang. Bukan karena takut, bukan pula karena cemas—lebih seperti… sebuah firasat.
“Tibai banget perasaan gue nggak enak.”
Namun kata-kata itu terasa seperti doa yang mustahil. Karena pada saat yang sama, mobil hitam dengan plat nomor ibukota sudah melaju mendekati gerbang kota.
Mobil Christian berhasil masuk ke kota kecil ini dengan senyum yang menggembang. “Tunggu gue, Jess. Sekali lo milih kabur, gue bakal jadi orang yang nyusul lo sampai ke ujung dunia.”
Kota kecil itu sebentar lagi akan menjadi saksi pertemuan dua hati—satu yang berusaha bersembunyi, dan satu yang pantang menyerah mengejar.
****