Bab-38

1129 Kata
Malam sudah turun ketika Christian meninggalkan rumah ibunya. Pertengkaran itu masih berputar-putar di kepalanya, membuat d**a terasa sesak. Ia butuh menenangkan diri, butuh wajah yang bisa membuat semua amarah itu mereda. Pikirannya hanya tertuju pada satu orang—Jesslyn. Wanita itu … wanita yang selalu ada untuknya selama ini. Mobilnya melaju cepat menembus jalanan kota. Dalam benaknya, ia membayangkan Jesslyn masih di rumah, mungkin sedang menonton drama favoritnya, atau menulis catatan kecil di meja kerja. Pikiran itu cukup membuat langkahnya ringan saat berhenti di depan rumah sederhana yang sudah begitu akrab baginya. Namun, begitu pintu diketuk berkali-kali dan tak ada jawaban, Christian mulai resah. Ia mencoba menelepon, tapi hanya nada sambung panjang tanpa jawaban. “Jess… lo di mana, sih?” gumam Christian. Ia mengetuk lagi, lebih keras, lalu memutar gagang pintu yang ternyata terkunci rapat. Dari celah jendela, lampu dalam rumah gelap gulita. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Dimana dia? Dada Christian semakin berat. Ia berbalik, menekan ponselnya, mencoba lagi menghubungi Jesslyn. Sama saja. Tidak ada respon. Tanpa pikir panjang, ia langsung menuju kantor. Mungkin saja Jesslyn lembur, atau ada kerjaan dadakan yang membuat wanita itu tidak bisa menerima panggilannya. Lift terbuka di lantai utama kantor, meski jam sudah menunjukkan larut malam. Hanya ada beberapa karyawan lembur, sebagian besar sudah pulang. Namun Christian tidak peduli. Ia berjalan cepat ke meja kerja Jesslyn. Kosong. Kursi rapi, meja bersih, bahkan tidak ada dokumen berserakan. Seolah-olah Jesslyn sudah berhari-hari tidak duduk di sana. Seorang staf administrasi yang baru keluar dari ruang fotokopi menatap Christian kaget. “Tuan Christian? Masih ada urusan?” kata Fajar, salah satu staff kantor ini yang masih ada. “Jesslyn… Lo lihat dia hari ini?” tanya Christian, dengan nafas yang terengah. Staf itu tampak berpikir sejenak, lalu menggeleng. “Seingat saya, dia tidak masuk, Tuan. Dari pagi sampai sore, saya tidak melihatnya.” Christian menahan napas, menolak percaya. Ia berjalan cepat ke ruangan Sabian, berharap kakaknya tahu sesuatu. Tapi ruang itu pun gelap. Sabian sudah pulang atau mungkin pergi bersama Jesslyn? Di lorong, ia mencoba bertanya lagi pada dua karyawan yang masih lembur. Siapa tahu saja mereka melihat Jesslyn di kantor ini atau mungkin di tempat lain. “Jesslyn? Tidak, Pak. Hari ini kami tidak melihat dia sama sekali.” jawab Budi, karyawan lainnya yang ternyata tidak melihat keberadaan Jesslyn juga. “Mungkin izin? Tapi saya tidak dengar kabar.” sambung salah satunya lagi yang Christian tidak tahu apapun. Kata-kata itu menusuk seperti jarum. Jesslyn—perempuan yang biasanya selalu ada, yang selalu bisa ditemuinya kapan saja, kini menghilang tanpa jejak. Christian berdiri di tengah lorong kantor yang mulai sepi, lampu neon pucat menyorot wajahnya yang muram. Jemarinya mengetuk ponsel lagi, mencoba menghubungi, mengirim pesan, tapi tetap nihil. “Kemana lo pergi, Jess? Kenapa tanpa bilang apa-apa sama gue.” batin Christian. Rasa frustasi membuncah. Ia meninju dinding kaca lift, meninggalkan bekas merah di tangannya. Bukan sakit yang ia rasakan, melainkan kehilangan yang tiba-tiba mencengkram terlalu kuat. Ia kembali ke meja Jesslyn, menarik kursi, duduk sejenak, berusaha menenangkan diri. Namun semakin ia diam, semakin ia sadar: ini bukan sekadar Jesslyn tidak masuk kerja. Ada sesuatu yang ia sembunyikan. Dan di titik itu, Christian mulai menghubungkan potongan-potongan kecil. Pertengkarannya dengan Hanna. Ibunya yang terus memaksa. Hanna yang mendatangi kantor. Semua itu mungkin sudah terlalu membebani Jesslyn. “Apa ini karena gue…?” Dadanya terasa perih. Untuk pertama kali dalam waktu yang lama, Christian merasakan ketakutan yang nyata. Takut kehilangan. Takut Jesslyn menjauh lebih jauh lagi. Ia bangkit, meninggalkan kantor dengan langkah berat, matanya liar mencari arah. Malam semakin larut, tapi pencariannya baru saja dimulai. *** Malam itu, bus perlahan berhenti di terminal kecil di kota yang jauh dari hiruk pikuk tempat biasa Jesslyn bekerja. Hawa dingin menyambutnya begitu ia turun, menarik koper kecil yang sudah ia siapkan sejak siang. Lampu jalan redup, suara kendaraan jarang terdengar, hanya beberapa pedagang makanan kaki lima yang masih bertahan. Jesslyn menghela napas panjang. Rasanya aneh—kosong sekaligus lega. Di satu sisi, ia merasa seperti pengecut yang kabur dari masalah. Tapi di sisi lain, hatinya lebih ringan karena setidaknya untuk sementara ia tak harus bertemu dengan Hanna, atau menanggung tatapan tajam keluarga Christian. Jesslyn menarik nafasnya pelan, “Gue… butuh waktu. Maaf, Tian.” gumamnya pelan. Ia melangkah pelan menuju penginapan sederhana yang sudah ia pesan lewat ponsel. Resepsionis menyambut singkat, menyerahkan kunci kamar, dan Jesslyn pun akhirnya bisa merebahkan diri di kasur yang agak keras tapi cukup nyaman. Begitu pintu tertutup rapat, barulah ia benar-benar merasa sendirian. Ia menatap langit-langit kamar dengan mata berkaca-kaca. Kenapa gue harus pergi sejauh ini? Padahal gue tahu, dia pasti nyariin gue sekarang. Ucap Jesslyn dalam hati. Bayangan wajah Christian muncul jelas di kepalanya—rasa marah, frustasi, sekaligus keras kepalanya. Jesslyn menggigit bibir. Ia tidak tahan membayangkan bagaimana pria itu bereaksi ketika menemukan rumahnya kosong, atau kantor tanpa dirinya. Namun ia harus. Ia harus menjaga dirinya tetap waras. Pertemuan dengan Hanna siang tadi di kantor sudah cukup membuat jantungnya berdebar tak karuan. Permintaan Hanna untuk membantu mencari tahu wanita yang mendekati Christian masih terngiang-ngiang, dan Jesslyn terlalu takut kalau suatu hari Hanna sadar bahwa wanita itu adalah dirinya sendiri. Ia bangun, membuka koper, lalu mengeluarkan buku catatan kecil. Di halaman depan, ada coretan lama—daftar impian sederhana yang pernah ia buat untuk dirinya: berjalan di kota baru, mencicipi makanan lokal, menulis sambil melihat pemandangan berbeda. Jesslyn tersenyum tipis. “Mungkin ini saatnya… mulai lagi dari nol. Walau cuma sebentar.” katanya lagi menguatkan dirinya sendiri. Di luar, suara jangkrik dan desiran angin masuk lewat jendela. Jesslyn duduk di kursi kecil di samping meja, menatap kota asing itu dari balik tirai. Ada ketenangan yang ia rindukan, sesuatu yang tidak bisa ia dapatkan jika masih berada di dekat Christian dan semua konflik rumitnya. Namun, semakin lama ia diam, semakin ia sadar: hatinya tidak bisa benar-benar tenang tanpa pria itu. Tian… gue takut kehilangan lo. Tapi gue juga takut kalau harus terus berhadapan dengan keluarga lo. Gue bukan siapa-siapa… dan gue lelah harus terus merasa seperti orang asing di hidup lo. Gumam Jesslyn dalam hati. Air mata akhirnya jatuh, meski ia buru-buru menyekanya. Tidak ada seorangpun yang bisa melihat, tidak ada seorangpun yang bisa menghakimi. Untuk pertama kalinya, Jesslyn membiarkan dirinya menangis sepuasnya di kota asing ini. Setelah tangis itu reda, ia menyalakan ponsel. Puluhan panggilan tak terjawab dari Christian terpampang di layar. Pesan-pesan singkat masuk, sebagian singkat, sebagian panjang, semua bernada panik dan marah. Jesslyn hanya bisa menggenggam ponsel erat-erat, tidak berani membalas satupun. Dalam hati dia meminta maaf pada pria itu karena tidak memiliki keberanian penuh untuk bilang yang sebenarnya. Ia menutup layar, meletakkannya di meja, lalu menarik selimut hingga menutupi wajah. Malam itu, di kamar asing, Jesslyn memutuskan untuk menghilang sejenak dari semua orang—bahkan dari orang yang paling ia cintai sekalipun. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN