Pagi itu, suasana kantor Miller Group tidak seperti biasanya. Biasanya jam delapan lewat sedikit sudah ramai dengan suara tuts keyboard dan obrolan ringan di antara karyawan. Tapi hari ini… semua terasa canggung. Hening tapi tidak benar-benar sunyi — karena di balik suara mesin printer dan langkah sepatu, terdengar bisikan kecil di setiap sudut ruangan. “Katanya Jesslyn rebut suami orang, ya?” “Bukan, bukan suami — tunangan Hanna. Tapi tetep aja, kan, parah.” “Makanya bisa cepat naik jabatan, mungkin gara-gara—” Bisikan itu berhenti mendadak ketika Jesslyn melangkah menuju lanti ruangannya. Langkahnya pelan tapi pasti, heels-nya menimbulkan gema kecil di lantai marmer. Rambutnya digerai rapi, wajahnya tanpa ekspresi. Tapi di balik tatapan datar itu, matanya menahan sesuatu — campuran

