"Agatha!" Panggilan itu membuat Agatha berbalik. Melihat Irene yang berlari mendekatinya. Napasnya terengah-engah saat dia sudah berada di depan Agatha. Mengambil tempat duduk di sebelah Agatha dan menatap wanita itu dalam.
"Ada apa?" Jika dilihat dari wajah Irene, wanita itu tampak panik.
"Kau ada hubungan apa dengan Jhony sebelumnya?"
"Hanya teman lama saja."
Irene merenggut tak percaya. Dia berusaha mencari kebohongan di mata Agatha, tetapi tak ia temukan. "Yakin, hanya teman saja?"
"Tentu." Hubungannya dengan Jhony memang tak lebih dark teman. Baik Agatha dan Jhony adalah tak pernah menganggap hubungan mereka melebihi dari kata teman. Lagian juga, tipe ideal Agatha bukanlah Jhony, begitu juga sebaliknya.
"Bagaimana kalian bisa saling mengenal."
Agatha baru tahu Irene memiliki keingintahuan yang besar. "Mengapa kau tak bertanya saja kepada Jhony." Bukan tanpa alasan, Jhony adalah sepupu Irene, pastinya hubungan mereka cukup dekat, sedangkan Irene dengan Agatha tak memiliki hubungan yang begitu dekat.
"Dia sangat pendiam dan tak suka diganggu jika sedang bekerja. Aku tak ingin mendapatkan amukannya hanya menganggunya." Ya, kalau Agatha lihat kepribadian Jhony telah berubah secara signifikan. Dilihat dari cara bicaranya yang terkesan formal dan pendiam.
Sifat usilnya saja sudah menghilang, tak seperti dulu lagi, meski saat berbicara sama Agatha santai, tetapi Agatha dapat melihat perubahannya saat ini. "Baiklah. Aku akan menceritakannya."
Agatha mulai bercerita, "Jhony adalah salah satu temanku disaat sekolah dasar. Kami cukup dekat, sifatnya yang usil dan menyebalkan juga terkadang membuatku muak. Namun, sifat alaminya itu yang membuatku betah menjadi temannya." Agatha mendekatkan wajahnya ke telinga Irene. "Kau tahu, dia sangat baik dan sering mentraktirku makanan. Dahulu saja aku tak pernah keluar uang untuk ke kantin."
Irene terkekeh mendengarnya. Dia jadi teringat dengan tubuh gemuk Jhony dulu. "Dia dulu memang gemar makan."
"Namun, aku tak pernah bertemu dengannya lagi saat kelas lima sekolah dasar. Aku dulu menganggap dia pergi keluar kota atau ke maha kuasa."
Tawa Irene pecah mendengar ucapan Agatha. Berpulang ke maha kuasa? Astaga, entah bagaimana ekspresi Jhony jika mengetahui baha Agatha menganggapnya telah meninggal. "Jika Jhony mengetahui kalau kau menganggapnya telah meninggal. Aku yakin dia akan mengamuk."
"Mengamuk dengan menghabiskan makanan, gitu?"
"Tidak! Dia akan menghancurkan Mansion ini."
Mereka berdua tertawa bersama. Menceritakan Jhony sang pemilik Mansion, tempat mereka berada. Tanpa menyadari bahwa Jhony sudah ada di belakang mereka. Mendengar caci maki yang sering Agatha layangkan untuknya. Wanita itu ternyata belum banyak berubah, sifatnya masih sama, yaitu mulutnya sangat pedas.
"Sudah selesai membicarakan ku." Dari belakang, Jhony dapat melihat tubuh Agatha dan Irene yang menegang. Pertama Irene yang berbalik, memberikan senyum kikuk. Terlihat sekali wajah cemas dan takutnya.
Menghina Jhony sama saja mencari masalah. Meski Irene dan Jhony masih satu keluarga besar, hanya saja Jhony terus memberikan jarak untuk siapa saja berusaha akrab padanya.
Berbeda sekali dengan Irene yang tampak biasa saja. Dia tersenyum lebar pada Jhony. Tak tersirat sedikitpun wajah bersalahnya. "Jhony. Kemarilah jika kau ingin bergabung. Kebetulan aku dan Irene sedang membicarakan mu."
Irene melotot tak percaya. Sudah sedari tadi dia menahan diri agar tak kabur dari tempat ini, tetapi Agatha justru membuat kondisi semakin memanas. "Agatha, Jhony, aku harus pergi dulu. Menghubungi kedua orangtuaku, kalian tahu bahwa aku sudah lama tak menghubungi mereka." Minat Jhony yang mengangguk membuat Irene senang kepalang.
Dia langsung kabur dari tempat itu. Meninggalkan Agatha bersama dengan Jhony.
Jhony berjalan mendekati Agatha. Mengambil tempat duduk di sampingnya. "Aku sudah mendapatkan beberapa informasi."
"Benarkah?" Jhony mengangguk. Hal itu membuat Agatha senang kepalang, ingin rasanya dia melompat saat ini untuk menunjukkan kebahagiaan nya. "Jangan bahagia dulu, Agatha. Ini masih awal saja, kita harus sigap menghadapi mereka."
"Apakah benar jika Joy dan Boby adalah pelakunya?" tanya Agatha.
"Benar. Mereka adalah dalang dari semua kehancuran mu." Beruntungnya Agatha sudah percaya bahwa Joy adalah pelakunya, sehingga saat ini dia tak merasakan kesedihan yang mendalam. Agatha hanya merasa kecewa saja pada Joy.
Bukan hanya Joy yang sakit dengan masa lalu, Agatha juga. Dia merasakan sangat sakit hati saat ditinggal oleh Mark untuk selama-lamanya. Jika Agatha tahu bahwa Joy sangat mencintai Mark, maka Agatha akan merelakannya.
Jhony mengelus pelan bahu Agatha. Dia sudah cukup tahu dengan semua rintangan yang Agatha lewati selama ini. "Jika kau butuh bukti, maka ikutilah aku."
Jhony menarik tangan Agatha. Mereka memasuki ruangan kerja Jhony. Pria itu mengambil satu map biru dan langsung memberikannya pada Agatha.
Map itu berisi perjalanan hidup Joy setelah tamat SHS, disaat Joy masuk Rumah sakit jiwa selama empat tahun lamanya dan pertemuan Boby dengan Joy.
Boby memiliki pekerjaan sebagai salah satu dokter di rumah sakit jiwa yang menangani Joy. Mungkin saja cerita cinta mereka seperti dalam film.
Hanya saja, jika Agatha lihat dari posisi Boby. Dia sangat mencintai Joy, semua keinginan Joy akan dikabulkan oleh Boby, termasuk menuntaskan dendamnya. Jadi yang mengikutinya selama adalah Boby.
"Apakah mereka juga yang berperan dalam penculikan aku?" Jhony mengerutkan dahinya.
"Kau pernah di culik."
"Ya. Aku diculik dan diberi narkoba. Makanya aku tak bisa menyangkal rumor yang bertebaran."
Ternyata kasus milik Agatha cukup sulit. Dia sama sekali tak tahu bahwa Agatha pernah diculik. Informasi yang didapatkannya ternyata masih belum lengkap. "Apakah kau baik-baik saja setelah memakai narkoba."
"Mulanya tidak. Aku mengalami sakau. Beruntungnya aku bisa mengatasi kecanduan. Sampai saat ini, sakau ini sering datang disaat tertentu."
Lama-lama Jhony juga merasa kesal dengan Boby dan Irene. Cara mereka untuk menghancurkan Agatha begitu kejam. Tangannya mengepal kuat, masalah ini harus cepat selesai. Jhony tak akan membiarkan Agatha menderita lebih lama lagi.
"Kau diculik di mana?"
"Di gang Apartemen Apple, tempat tinggal ku dulu bersama member Smart yang lain."
"Baiklah. Aku akan mencari tahu tentang penculiknya. Aku berjanji, besok para penculik mu akan ditemukan." Jhony terdiam sebentar. "Aku yakin sekali kalau Boby dan Joy pelakunya. Jika kita bisa menangkap penculiknya, maka kita bisa mendapatkan bukti yang lengkap untuk diserahkan kepada pihak berwajib."
Agatha beranjak. Dia menghampiri Jhony dan memeluknya erat. "Terimakasih Jhony." Dia begitu terharu melihat Jhony yang berusaha untuk menyelesaikan masalahnya.
"Aku akan selalu membantumu, Agatha." Jhony ikut memeluk Agatha juga. Dapat dia rasakan tubuh Agatha yang bergetar, dapat dipastikan Agatha sedang menangis saat ini.
"Tenang saja. Semua masalah akan selsai, jangan pesimis, tetaplah optimis."
••••••
Jhony terbiasa tidur disaat pagi akan menyusul. Dia hanya tidur selama 2 jam saja dalam semalam, alasannya karena bagi Jhony, tidur hanya akan membuang waktu saja. Jhony adalah seorang yang sangat menghargai waktu.
Di tengahnya malam ini, Jhony sibuk dengan komputernya. Dia mengeluarkan seringai saat melihat cctv yang berhasil dia retas. Meski video yang ditunjukkannya tak penuh, karena pelaku penculikannya telah menembak cctv, setidaknya Jhony sudah mendapatkan ciri mobil yang dipakai penculik.
Menggunakan mobil BMW X5 tanpa plat mobil. Seharusnya dia sudah terkena teguran dari polisi, entah sogokan apa yang dia berikan agar bebas. Untuk mencari informasi yang lain, Jhony kembali meretas cctv disekitar gang kecil tersebut.
Sampai dia menemukan ke mana mobil itu membawa Agatha, ke sebuah gedung yang tak terpakai. Namun, Jhony harus kecewa karena gedung bekas tersebut tak memiliki satupun kamera cctv.
Satu mobil BMW X5 keluar, Jhony belum sempat melihat wajahnya, karena dia memakai kain penutup wajah. Tak lama setelah mobil itu keluar, Jhony melihat empat pria dengan penampilan layaknya berandalan berjalan keluar dengan tangan yang memegang sebuah amplop tebal.
Jhony men-pause video tersebut. Tak lupa dia memotret ke empat berandalan tersebut. Jhony menyeringai, dia telah menemukan salah satu penculiknya. Dia mengambil gadgetnya, lalu menelpon nomor asistennya.
"Carikan data empat pria yang ada dalam foto itu. Setelah itu, culik mereka, aku ingin dalam waktu tiga hari, mereka sudah tertangkap."
•••••
Agatha tidur bersama dengan Irene. Malam ini, dia tak bisa tidur. Sedari tadi, Agatha terus mengalami kegelisahan dalam dirinya. Agatha bangun dari tidurnya. Dia membuka tirai jendela. Melihat kegelapan hutan yang ada disekitar.
Ada beberapa penjaga yang tetap tegap meski sudah malam. Tanggung jawab mereka begitu besar, mereka harus menjaga keamanan Mansion ini.
Pikiran Agatha dipenuhi dengan nama Joy dan Boby. Dia sangat tahu bahwa Joy menderita saat kepergian Mark. Agatha ingin menyelesaikan masalah ini secara cepat, jika hanya bersujud padanya untuk mendapatkan maaf, maka Agatha akan lakukan.
"Joy. Jika kau tahu, aku menderita juga, aku yakin kau tak akan melakukan ini." Agatha bergumam.
"Masalah ini akan selesai." Agatha menutup matanya. Membiarkan angin malam menyapu tubuhnya. Rambutnya menari dengan serunya, wajahnya berubah tenang, tak ada lagi kegelisahan yang dialaminya Agata menutup tirai jendela.
Dia beralih menuju balkon. Kepalanya menengok ke arah kanan, melihat Jhony yang juga melihatnya.
"Mengapa belum tidur?" tanya dia dengan nada yang dibesarkan agar Agatha dapat mendengarnya.
"Aku sedang memikirkan masalahku." Agatha berucap dengan jujurnya.
"Jangan terlalu dipikirkan. Tenanglah, jika kau terus memikirkan masalahmu, maka kau akan depresi." Agatha membenarkan. Sudah berulangkali dia melupakan masalah ini, hanya saja otaknya tak bisa diajak kompromi.
"Kau benar."
"Cepat sana, tidur. Kau harus banyak beristirahat." Agatha memasuki kamarnya, sebelum itu dia menengok ke arah Jhony berada. Dia memberikan senyum kecilnya kepada pria itu.
"Kau juga, beristirahatlah." Tanpa perlu menunggu tanggapan Jhony dulu, Agatha sudah kabur karena menahan malu.
Malu? Ini adalah kali pertama dirinya malu jika berhadapan dengan Jhony.
Jhony yang melihat Agatha yang memerah hanya memberikan senyum kecil. Betapa lucunya wanita itu disaat sedang malu, sama seperti dulu disaat Agatha memarahinya karena makan terlalu banyak.