“g****k!”
Satu suara bernada sinis itu membuat Kenzo memutar kepalanya dan melihat gadis galak yang katanya sahabat Reynald semasa SMA itu sedang menggerutu seraya menatap ke arah penginapan. Kejadian Grace jatuh pingsan dan Reynald langsung bertindak cepat dengan cara menangkap tubuh gadis itu dan menggendongnya kedalam penginapan membuat seluruh perhatian para mahasiswa tersita karenanya. Perlahan, Kenzo mendekati Arny dan berdiri tepat di samping gadis itu. Arny, Reynald dan Kenzo memang berada dalam kelompok yang sama.
“Siapa yang g****k?” tanya Kenzo penasaran. Walaupun sejujurnya, Kenzo sendiri tahu siapa orang yang disebut g****k oleh Arny.
Arny melirik Kenzo sekilas dan kembali menatap penginapan di depannya dengan tatapan sinis. “Si Reynald... siapa lagi menurut lo?”
Kenzo menghela napas keras dan ikut menatap penginapan di depannya. Dia tahu hal ini berat untuk Reynald maupun Grace. Terlebih Reynald. Karena Grace sama sekali tidak mengetahui apapun mengenai hubungan darah yang dimiliki oleh keduanya. Hanya Reynald yang tahu dan laki-laki itu tidak berniat untuk memberitahu Grace. Menunggu waktu yang tepat... itulah yang diucapkan Reynald saat Kenzo menyuruhnya untuk mengatakan yang sebenarnya pada Grace. Masalahnya... kapan saat yang tepat itu tiba?
“Sini,” ajak Kenzo. Laki-laki itu menarik pergelangan tangan Arny dan membawa gadis itu ke tepi pantai agar tidak ada yang bisa mendengar pembicaraan keduanya. Sementara itu, Arny sudah berupaya untuk melepaskan cekalan Kenzo dari pergelangan tangannya. Sia-sia saja. Gadis itu bahkan sampai meringis menahan perih karena Kenzo tidak membiarkan dirinya terlepas begitu saja. Insiden Grace yang jatuh pingsan membuat acara ditunda untuk beberapa menit, guna mengetahui keadaan gadis itu lebih lanjut.
Begitu sampai di tepi pantai, Arny langsung menyentakkan tangan Kenzo kuat-kuat dari pergelangan tangannya. Gadis itu memijat pergelangan tangannya yang sedikit memerah dan menatap Kenzo dengan tatapan penuh amarah.
“Elo udah gila beneran, ya?!” seru Arny langsung. “Lo kayaknya beneran mau gue... mmffft....”
Seruan Arny yang berapi-api itu kini teredam oleh sebelah tangan Kenzo yang membekap mulutnya. Gadis itu meronta, bermaksud ingin menyingkirkan tangan Kenzo dari mulutnya. Namun, Kenzo justru semakin membekap mulut Arny dan sebelah tangannya yang lain menahan tubuh gadis itu.
“Janji dulu lo akan kalem selama gue ngomong! Kalau lo masih nekat buat teriak-teriak kayak gini, bukan tangan gue lagi yang bakal membekap mulut lo, tapi bibir gue!” ancam Kenzo.
Mendengar itu, kedua mata Arny kontan membelalak. Gadis itu mengangguk cepat dan mengangkat jari telunjuk serta jari tengahnya secara bersamaan. Setelah melihat sikap kooperatif Arny, barulah Kenzo bersedia menjauhkan tangannya dari mulut Arny. Gadis itu langsung menarik napas panjang dan membuangnya dengan keras.
“Sinting lo!” seru Arny langsung.
“Eiitss....” Kenzo menggoyang-goyangkan jari telunjuknya di depan wajah Arny yang memberengut. “Siap buat gue cium? Hmm?”
Seketika itu juga, Arny langsung bungkam. Gadis itu melipat kedua tangannya di depan d**a dan menatap Kenzo dengan tatapan sinis. “Ngapain lo bawa gue kesini?”
“Nama lo Arny, kan?”
Sebelah alis Arny terangkat satu.
“Gue tau dari Reynald...,” jelas Kenzo, seakan mengetahui jalan pikiran Arny. “Nama gue Kenzo.”
“Gue nggak butuh nama lo,” kata Arny ketus. “Yang mau gue tau, kenapa lo bawa gue kesini?”
Kenzo menarik napas panjang dan menatap Arny tepat di manik mata. “Lo bilang Reynald itu g****k. Apa lo punya alasan kuat, kenapa lo bisa ngomong kayak gitu soal dia?”
“Lo lupa?” tanya Arny dengan nada ketus yang sama. “Tempo hari, sewaktu di tangga, gue dengar dengan kedua telinga gue sendiri kalau lo nyuruh si Reynald ngejar cewek yang namanya Grace, yang notabene adalah kakak tingkat kita, sewaktu dia nggak sengaja liat gue sama Reynald berpelukan. Terus, dengan santainya Reynald bilang kalau dia sudah putus sama Kak Grace. Dan lo liat tadi?”
Kenzo tidak menyela kata-kata Arny. Dia membiarkan gadis itu mengungkapkan apa yang ada di pikirannya saat ini. Dengan nada berapi-api dan kekesalan yang terlihat jelas bagi Kenzo.
“Dia bahkan langsung gerak cepat saat Kak Grace jatuh pingsan. Kemarin, saat Reynald bernyanyi di depan bis, lo pasti liat juga waktu Reynald nggak berhenti menatap Kak Grace. Dia jelas-jelas masih mencintai Kak Grace dan dengan gobloknya dia nggak berusaha untuk mempertahankan rasa cintanya untuk Kak Grace? Ungkapan apa lagi yang pantas untuk sahabat gue itu?”
“Dia bukannya nggak mau berusaha, Ar... keadaan yang tidak memperbolehkan.” Kenzo angkat bicara dengan nada lelah.
“Apa maksud lo?”
Tarikan napas Kenzo membuat Arny mengerutkan keningnya. Ada masalah apa sebenarnya antara Reynald dan Grace itu?
“Ini rahasia. Gue tekanin sekali lagi, ini RAHASIA!” Kenzo menatap tajam Arny yang hanya mengangkat satu alisnya. “Kalau ada orang lain yang tau hal ini, termasuk Kak Grace... elo yang bakal gue cari biar sampai ke ujung dunia juga!”
Arny memutar kedua bola matanya dan mengangguk malas. Memangnya, dia mempunyai tampang yang tidak bisa dipercaya? Benar-benar minta disantet laki-laki di depannya ini!
“Reynald... Reynald sama Kak Grace kakak-adik....”
“Elo bercanda!” seru Arny langsung. Kenzo langsung meletakkan jari telunjuknya di bibir Arny yang langsung ditepis oleh gadis itu.
“Udah gue bilang, jangan sampai hal ini ada yang tau!” desis Kenzo. “Lo rela gue bunuh sekarang, ya?”
“Elo yang minta dibunuh, Zo!” seru Arny dengan suara yang dipelankan. “Bisa, nggak, sih, elo kalau ngasih berita jangan yang nggak masuk diakal gitu? Selama gue bersahabat sama Reynald, yang gue tau, dia cuma punya satu kakak, dan itu Bang Rizko!”
“Gue juga nggak tau, Ar...,” balas Kenzo dengan suara pelan. Namun, Arny bisa melihat guratan kesedihan di wajah Kenzo. Sorot mata laki-laki itu menunjukkan kesungguhan dan kejujuran. Seketika itu juga, perasaan Arny langsung tidak karuan.
“Yang gue tau, setelah insiden di tangga itu, Reynald cerita ke gue kalau dia sama Kak Grace punya Bunda yang sama. Reynald pernah datang ke rumah Kak Grace dan melihat pigura foto Bundanya berada di rumah Kak Grace. Waktu Reynald tanya ke Kak Grace siapa orang yang berada didalam pigura foto itu, Kak Grace menjawab bahwa itu adalah Bundanya. Kak Grace bilang pada Reynald bahwa Bunda dan Ayahnya bercerai saat dia berumur tiga tahun. Reynald juga bilang bahwa Kak Grace berkata Bundanya menikah lagi dengan seorang laki-laki yang kaya, yang notabene adalah Ayah Reynald, enam bulan kemudian. Lo pasti ngerti gimana perasaan Reynald saat itu. Dia hancur, Ar... berkeping-keping. Dia benar-benar mencintai Kak Grace, tapi dia tau itu nggak mungkin. Dia nggak mungkin mencintai kakaknya sendiri.”
Arny menggelengkan kepalanya dengan tegas. Gadis itu menolak percaya. Bagaimana bisa? Maksudnya, ini sama sekali tidak masuk akal.
“Bukannya Reynald dan Kak Grace itu hanya terpaut satu tahun?”
“Hah?”
“Umur mereka...,” kata Arny lagi. “Kak Grace anak semester tiga, kan? Berarti, umur Reynald hanya setahun dibawah umur Kak Grace.”
“Terus maksud lo itu apa?” tanya Kenzo. “Jangan berbelit-belit, deh!”
Arny berdecak kesal dan menoyor kepala Kenzo pelan. “b**o! Pake otak lo! Coba lo pikir... tadi, lo bilang kalau Kak Grace cerita ke Reynald bahwa Bunda Kak Grace dan Ayah Kak Grace bercerai saat Kak Grace berumur tiga tahun. Kalau umur Kak Grace dan Reynald hanya terpaut satu tahun berarti....”
“Reynald udah ada saat itu...,” sambung Kenzo menyelesaikan ucapan Arny. Seketika itu juga, Arny menjentikkan jarinya di depan wajah Kenzo dengan wajah penuh semangat.
“Exactly!” seru Arny girang. “Menurut gue, Reynald terlalu shock saat mengetahui kebenaran itu tanpa memikirkan keganjalan yang ada.”
“Tapi...,” sela Kenzo dengan nada ragu. “Bisa aja, kan, jauh sebelum orangtua Kak Grace bercerai, Bunda Kak Grace berselingkuh sama Ayah Reynald?”
Arny membuka mulutnya lalu menutupnya kembali. Sejujurnya, kemungkinan itu ada.
“Kalau begitu, kemungkinannya ada dua....”
Kenzo memperhatikan Arny dan saling tatap dengan gadis itu. Suasana mulai terasa tegang dan sedikit mencekam.
“Reynald dan Bang Rizko bukanlah saudara kandung... atau... Reynald dan Kak Grace-lah yang bukan saudara kandung...,” kata Arny pelan.
~~~
Rizko baru saja akan membuka pintu mobilnya, ketika melalui ekor matanya, laki-laki itu melihat seorang wanita berpakaian rapih, berdiri di depan pagar dan menatap ke arah rumahnya. Ketika tatapan keduanya bertemu, wanita itu langsung membalikkan tubuhnya dan berlari menjauhi pagar rumahnya menuju mobil Jazz yang terparkir tak jauh dari rumahnya.
Begitu wanita tersebut berniat masuk kedalam mobil, Rizko langsung mencekal lengan wanita itu dan memutar tubuhnya.
“Bunda...,” panggil Rizko dengan suara bergetar. “Ini... Bunda..., kan?”
Wanita itu menundukkan kepalanya. Menghindari kontak mata dengan Rizko. Kemudian, laki-laki itu memegang kedua pundak wanita tersebut dengan tegas.
“Anda... Bunda Rizko, kan?” tanya Rizko lagi. Masih dengan suara bergetar yang sama.
Tiba-tiba, wanita itu mengangkat kepalanya. Airmata sudah membasahi wajahnya yang putih. Kedua matanya menyiratkan kerinduan yang teramat sangat. Kemudian, dengan satu gerakan cepat, wanita tersebut memeluk tubuh Rizko yang lebih tinggi darinya. Membuat Rizko sempat tersentak beberapa langkah ke belakang.
“Iya... ini... Bunda... Nak...,” jawab wanita itu dengan suara serak dan terbata karena bercampur dengan isak tangisnya.
Rizko hanya bisa terdiam. Laki-laki itu mulai mengangkat kedua tangannya secara perlahan dan mulai membalas pelukan wanita itu. Jantungnya berdebar keras. Tubuhnya gemetar hebat. Ketika akhirnya dia memeluk erat tubuh wanita mungil tersebut, Rizko tidak dapat menahan airmatanya lagi. Laki-laki itu menangis. Menangis karena kerinduan yang teramat besar untuk wanita itu. Untuk Karla... Bundanya.
“Bunda... Rizko kangen....” Laki-laki itu semakin memeluk erat Karla. Menumpahkan semua kerinduannya pada wanita tersebut.
~~~
“Kamu... apa kabar?”
Suasana canggung itu masih terasa. Rizko dan Karla kini berada disebuah rumah makan kecil yang terletak di pinggir jalan. Rizko hanya mampu tersenyum tipis saat pertanyaan itu telontar dari mulut Bundanya. Bunda kandungnya sendiri. Bunda yang selama ini selalu dirindukannya, semenjak Ayahnya menceritakan perihal kejadian yang sebenarnya.
“Baik...,” jawab Rizko kikuk. Tidak bisa disalahkan memang, mengingat lamanya waktu yang memisahkan mereka. Pastilah saat ini, Rizko dan Karla membutuhkan waktu untuk bisa bersikap normal layaknya Ibu dan anak. “Kalau Bunda? Gimana kabar Bunda selama ini? Sudah berkeluarga lagi?”
Karla menggeleng dan tersenyum. Wanita itu mengelus rambut Rizko yang duduk di hadapannya. Mendapat perlakuan seperti itu membuat Rizko merasa sangat tenang dan nyaman. Laki-laki itu semakin tersenyum ke arah Karla.
“Bunda nggak pernah menikah lagi, Nak... Bunda tinggal dengan Eyangmu di kota ini. Kabar Bunda baik-baik saja, seperti yang bisa kamu lihat sekarang.”
Rizko mengangguk dan menghela napas lega. Entah mengapa, perasaannya meringan ketika dia bertemu dengan Bundanya. Bunda yang telah melahirkannya ke dunia.
“Bunda...,” panggil Rizko pelan.
“Hmm?”
Rizko menarik napas panjang dan membuangnya perlahan. Dia harus menanyakan tentang kebenarannya sekarang juga pada Bundanya. Dulu, dia hanya mendengar penjelasan dari Ayahnya. Sekarang, dia harus mendengar penjelasan dari Bundanya juga. Juga tentang mengapa Bundanya tidak pernah mencarinya dan Reynald selama ini.
“Ayah pernah bilang sama Rizko kalau Bunda... mmm... Bunda....”
Ucapan itu menggantung di udara. Rizko bimbang. Dia ingin mengetahui kebenarannya namun dia takut ucapannya ini malah akan menyakiti perasaan Bundanya.
Seakan mengetahui apa yang berkelebat di pikiran anak sulungnya, Karla tersenyum dan menggenggam tangan Rizko.
“Kalau Bunda berselingkuh dengan laki-laki lain? Itu yang ingin kamu ucapkan barusan, bukan?”
Rizko menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan sebelah tangannya. Dengan senyum kecil, Rizko mengangguk mengiyakan ucapan Karla. Karla hanya menghembuskan napas pelan dan menatap keadaan diluar sana dengan tatapan menerawang.
“Bunda tidak pernah berselingkuh, Sayang... Ayahmu salah paham,” ucap Karla dengan nada sedih. Dia memaksa hati dan pikirannya untuk mengingat kembali masa-masa dimana dia merasa sangat sedih dan terpuruk karena suaminya tidak mempercayainya. “Bunda dan Rio hanya berteman. Kami bersahabat. Waktu itu, Bunda hampir jatuh karena terpeleset dan Rio menolong Bunda. Saat itulah, Ayahmu datang dan menganggap bahwa Bunda dan Rio berpelukan.”
Rizko menelan ludah dengan susah payah. Mengapa Ayahnya tidak mendengarkan penjelasan Bundanya terlebih dahulu sebelum pria itu mengambil keputusan untuk menceraikan Bunda? Dulu, sewaktu Bunda tirinya meninggal dunia karena kecelakaan, hal itu juga karena Ayah bertengkar hebat dengan Bunda tirinya. Ayahnya mengira Bunda tirinya berselingkuh dengan pria lain. Sama seperti yang diceritakan oleh Bunda barusan.
“Tapi... kenapa Bunda tidak pernah berusaha untuk menemui Rizko dan Reynald?”
Karla memejamkan kedua matanya dan kembali menghembuskan napas. “Bunda selalu memperhatikan kalian dari jauh, Sayang... perintah Ayahmu kepada Bunda agar Bunda tidak boleh bertemu lagi dengan kamu dan Reynald membuat Bunda takut untuk sekedar muncul di hadapan kalian, sehingga akhirnya, Bunda baru berani untuk mencari kalian sekarang.”
Rizko terpekur. Dia merenungi semua ucapan Bundanya. Ternyata, Bundanya tidak seburuk yang Ayahnya kira. Bahkan, sampai saat ini, Bunda tidak pernah menikah lagi. Berbeda dengan Ayahnya yang langsung menikah enam bulan kemudian.
“Bunda... Ayah... Ayah pernah menikah lagi.”
Karla membuka kedua matanya dan mengerutkan keningnya.
“Ayah pernah menikah lagi dengan seorang janda beranak satu. Dia wanita yang sangat baik. Dia memperhatikan Rizko dan Reynald. Dia menyayangi Rizko dan Reynald.”
Karla tersenyum kecil walaupun hatinya terasa sedikit sesak. Ternyata, posisinya telah digantikan oleh wanita lain.
“Tapi... wanita itu... dia... sudah meninggal dunia tiga tahun yang lalu,” ucap Rizko lagi. Laki-laki itu mendapati dirinya kesulitan untuk bernapas dengan benar. Mengingat lagi kematian Bunda tirinya yang sangat baik hati itu membuat hati Rizko berdenyut tanpa ampun. “Waktu itu, Bunda tiri Rizko bertengkar hebat dengan Ayah. Ayah menuduh wanita itu berselingkuh dengan pria lain dibelakang Ayah. Akibatnya, wanita itu berlari keluar rumah sambil menangis dan Reynald mengejar wanita itu dari belakang. Sampai kemudian....”
Karla menggenggam dengan erat tangan Rizko, memberikan kekuatan bagi anak sulungnya itu. Anehnya, hanya dengan genggaman tangan Karla, Rizko merasa kembali tenang dan bisa berpikir jernih. Setelah sebelumnya dia harus mengingat kembali peristiwa tersebut.
“Kamu sama Reynald pasti sangat menyayangi wanita itu....”
Rizko mengangguk. “Sangat, Bunda... wanita itu, meskipun Rizko dan Reynald bukanlah anak kandungnya, tetapi dia memperlakukan kami seperti anak kandungnya sendiri. Reynald yang paling dekat dan sangat sayang pada wanita itu, hingga akhirnya, saat wanita itu meninggal dunia, Reynald berubah menjadi sosok yang dingin. Dia selalu bertengkar dengan Ayah. Tidak pernah mau menuruti perintah Ayah.”
“Reynald...,” gumam Karla. “Bagaimana kabarnya sekarang?”
“Baik,” jawab Rizko seraya tersenyum. “Waktu Rizko mengintip dari balik jendela kamar saat Ayah dan Bunda bertengkar tempo hati, Bunda sempat bertemu dengan Reynald, bukan? Laki-laki yang mendatangi kalian lalu pergi dengan mengendarai motor. Dia itu... Reynald.”
Karla mengangguk sambil tersenyum tipis. Anaknya yang dulu masih berusia dua tahun, kini sudah menjelma menjadi seorang laki-laki tampan dan gagah.
“Tapi... ada satu yang tidak diketahui oleh Reynald, Bunda....”
Karla menatap Rizko dengan kening berkerut. Perasaannya mendadak tidak enak. Dia bisa melihat wajah gelisah Rizko di depannya.
“Reynald sama sekali tidak tahu bahwa wanita yang sudah meninggal itu adalah Bunda tirinya. Yang dia tau, wanita itu adalah Bunda kandungnya, karena Ayah tidak pernah menceritakan hal itu kepada Reynald. Tidak seperti Rizko yang dulu diceritakan mengenai kebenaran ini pada saat Ayah sakit keras dan menganggap waktunya sudah tidak lama lagi....”
Seketika itu juga, Karla langsung merasa sedih dan rasa sesak memenuhi rongga dadanya.
~~~
Yang pertama dilihatnya ketika kesadarannya pulih adalah langit-langit kamar yang berwarna cokelat muda. Kemudian, Grace mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dan mengernyit saat menemukan sebuah baskom dan handuk kecil di atas meja di samping tempat tidurnya. Grace mengerang pelan saat kepalanya terasa sedikit pusing, ketika gadis itu memaksakan diri untuk bangun dari posisi tidurnya. Dia mengangkat sebelah tangannya ke atas kening dan mengerutkan kening saat menyadari tubuhnya tidaklah lagi terasa panas. Demamnya sudah turun.
“Siapa yang ngompres gue, ya?” gumam Grace pada dirinya sendiri. Saat sedang berkutat dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba, Azizah muncul di ambang pintu kamar dan tersenyum ke arah Grace.
“Grace... udah sadar?” tanya Azizah senang seraya memeluk tubuh sahabatnya itu. Kemudian, ketika pelukan Azizah terlepas, gadis itu tersenyum semakin lebar.
“Wah... demam lo udah turun!” seru Azizah riang. “Mau makan?”
Grace menggeleng pelan dan balas tersenyum ke arah Azizah. “Gue nggak lapar,” ucap Grace pelan. “Siapa yang ngompres gue, Zah?”
Pertanyaan Grace itu membuat Azizah terdiam. Gadis itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan sibuk memikirkan jawaban apa yang akan diberikannya untuk Grace. Dia ingin sekali mengatakan bahwa Reynald-lah yang menjaga Grace dan mengompres kening sahabatnya itu, sampai Reynald rela tidak mengikuti pelatihan kepemimpinan yang berujung dengan pemberian hukuman dari Ryu, namun, dia teringat lagi akan janjinya pada Reynald. Bahwa dia tidak boleh memberitahu Grace akan hal ini.
“Azizah?” panggil Grace seraya menyentuh lengan sahabatnya itu. Seketika itu juga, lamunan Azizah buyar. Gadis itu tertawa hambar dan terlihat gugup. Kegugupan yang terbaca jelas di kedua mata cokelat milik Grace.
“Ya gue, lah, yang ngompres kening elo. Hebat, kan, gue? Bisa bikin demam lo turun.” Azizah menepuk-nepuk pundak Grace dan menarik napas panjang. Gadis itu tahu bahwa Grace tidak mempercayai ucapannya begitu saja.
“Mmm... Grace... gimana kalau kita ke pantai? Jadwal sore ini tentang permainan. Jadi, bakalan diadain permainan tikus dan kucing. Mau ikutan? Lo, kan, pingsan udah dari pagi, tuh... siapa tau, lo pengin ikutan main biar lo makin sehat.” Azizah langsung menawarkan usul demi terhindar dari pertanyaan-pertanyaan yang akan dilontarkan oleh Grace selanjutnya.
Grace melirik jam beker di atas meja dan menghembuskan napas keras. Sudah pukul empat sore. Lumayan lama juga dia tidak sadarkan diri. Mungkin demam yang dialaminya akibat dia tercebur ke laut semalam.
“Boleh...,” jawab Grace seraya bangkit berdiri. “Gue juga butuh udara segar sepertinya.”
Azizah tersenyum senang dan mendesah lega didalam hati. Dia segera menyelipkan tangannya ke lengan Grace dan menatap sahabatnya itu sekilas. “Benar, nih, lo nggak mau makan dulu? Kalau nanti lo sakit dan pingsan lagi, gimana?” tanya Azizah khawatir.
Grace tertawa dan memukul lengan Azizah pelan. “Apaan, sih, lo? Gue udah sehat, kok. Tenang aja....”
Sambil mengobrol dan sesekali tertawa, keduanya melangkah menuju pantai. Disana, Grace bisa melihat Kian menatap ke arahnya sambil tersenyum. Mau tidak mau, demi kesopanan, Grace membalas senyuman Kian yang kini sudah kembali sibuk bermain dengan para kelompoknya.
“Kayaknya, pada asik banget, ya, mainnya,” ucap Grace pelan sambil berjalan menuju kelompoknya bersama Azizah.
“Iya...,” balas Azizah. “Lo nggak tau, sih, selama pelatihan tadi, si Kak Kian udah kayak ngelatih anggota militer. Kejam banget. Teriak sana-sini. Perintah sana-sini. Udah mirip kayak Hitler! Makanya, pas diadain permainan ini, semua mahasiswa semester satu pada senang dan heboh.”
Grace mengangguk paham. Dia sudah mengenal sifat sok menjajah milik Kian selama laki-laki itu menjabat sebagai ketua BEM di kampus. Sudah bukan berita baru lagi untuknya. Ketika Grace sudah sampai di kelompoknya, gadis itu disambut dengan senyuman oleh Sheilla, Ryu dan Putra. Juga para anggota kelompoknya, termasuk... Reynald.
Tatapan Reynald yang begitu intens membuat perasaan Grace menjadi tidak karuan. Gadis itu berusaha menghindari kontak mata dengan Reynald. Ketika Azizah tersenyum dan pamit padanya, Grace langsung berdiri di samping Sheilla dan tersenyum manis ke arah mahasiswa-mahasiswa semester baru yang menjadi tanggung jawabnya.
“Kak Grace!” seru Reynald keras. Grace menoleh dan menatap laki-laki itu tepat di manik mata. Sheilla, Ryu, Putra dan semua mahasiswa yang menjadi peserta di kelompok Grace juga ikut menatap Reynald yang kini saling tatap dengan Grace. “Udah sehat?”
Entah karena terlalu kaget atau tidak menyangka bahwa Reynald akan menyapa dan menanyakan tentang keadaannya, yang dilakukan oleh Grace hanyalah mengangguk polos tanpa memberi jawaban apapun. Kemudian, Grace bisa melihat sudut bibir Reynald terangkat ke atas. Membentuk seulas senyuman.
“Good! Jaga kesehatan, ya, Kak!” seru Reynald lagi. Seketika itu juga, suara sorak-sorai dan siulan terdengar dari para peserta yang mendengar ucapan Reynald itu. Membuat wajah Grace berubah merah dan gadis itu menundukkan kepalanya karena malu. Jantungnya pun kini berdegup kencang dan tidak karuan. Kenapa Reynald bersikap baik lagi kepadanya? Apa laki-laki itu bermaksud untuk membuatnya sakit hati lagi?
Permainan dimulai. Karena Grace baru saja sadar dari pingsannya dan baru sembuh, maka Ryu memutuskan bahwa Grace-lah yang akan menjadi si kucing, untuk merayakan kesembuhan Grace. Gadis itu akan dimasukkan kedalam lingkaran yang dibuat oleh mahasiswa-mahasiswa semester satu yang saling bergenggaman tangan. Sebelum mata Grace ditutup dengan sehelai kain berwarna hitam, gadis itu telah lebih dulu diberitahu bahwa dia harus menangkap Lisa, mahasiswi yang membawa sebuah tongkat bisbol. Grace harus menangkap Lisa sebelum waktu sepuluh menit yang diberikan oleh Ryu habis.
Suara teriakan dan tawa mulai terdengar riuh. Mahasiswa-mahasiswa semester satu itu sibuk berlari menghindari Grace yang berjalan dengan gugup dan mata tertutup kain ke arah mereka. Beberapa kali, Grace menangkap orang yang salah. Hal itu membuat tawa semua orang yang sedang bermain menjadi lebih keras terdengar. Beberapa peserta dari kelompok lain bahkan sempat menoleh saking hebohnya permainan yang diciptakan oleh kelompok Grace ini.
Kemudian, Grace menangkap satu orang dengan penuh percaya diri. Dengan semangat yang sangat tinggi, Grace menahan baju orang yang ditangkapnya itu, ketika dia merasakan orang tersebut akan kabur darinya. Sialnya, keseimbangan tubuhnya hilang. Grace kontan limbung ke depan dan memekik pelan saat dia jatuh dengan keras di atas sesuatu. Sepertinya, dia sudah jatuh di atas tubuh orang yang ditangkapnya tadi.
Dengan tergesa, Grace langsung membuka penutup matanya dan berniat untuk meminta maaf. Ketika akhirnya penutup matanya itu sudah terlepas, detik itu juga tubuh Grace membeku. Dia... dia jatuh tepat di atas tubuh Reynald!
Grace menahan napas. Dia menelan ludah susah payah. Degup jantungnya mulai meliar. Wajahnya sangat dekat dengan wajah Reynald. Tangan laki-laki itu melingkari pinggangnya. Reynald bahkan terlihat santai, meskipun jelas-jelas tubuh Grace jatuh tepat di atas tubuhnya. Seolah-olah Reynald tidak merasa berat sedikitpun dengan beban tubuh Grace.
Orang-orang disekitar mereka berdua mulai tersenyum penuh makna melihat keadaan Grace dan Reynald. Beberapa bahkan sampai ada yang bersiul untuk menggoda keduanya. Kemudian, sentakan napas terdengar dari beberapa mahasiswi, ketika mereka melihat Reynald membelai rambut Grace, menyampirkan rambut gadis itu ke belakang telinga lalu membersihkan pipi Grace yang terlihat kotor karena pasir.
“Lo berhasil menangkap gue, Grace...,” bisik Reynald lembut di depan wajah Grace. Senyum lembut terlihat menghiasi bibir Reynald saat ini. Untuk sekali ini saja, Reynald akan berkata jujur, meskipun Grace tidak akan pernah lagi percaya pada kata-katanya. Tuhan... maafkan dia... maafkan dia yang akan mengungkapkan perasaanya untuk kakaknya sendiri.
“Ma—maksud lo, apa?” tanya Grace terbata. Dia sungguh tidak mengerti dengan sikap Reynald belakangan ini. Reynald memutuskan hubungan mereka, tapi menjaganya sepanjang malam saat dia terserang demam sewaktu dia pulang dari dufan. Reynald menyuruhnya untuk bersikap tidak saling mengenal satu sama lain, tetapi dia menyelamtkannya saat Grace terjebak di hamparan laut yang luas semalam. Semua ini benar-benar membuat Grace gila!
“Lo berhasil menangkap gue, Grace...,” ulang Reynald. Senyuman lembut itu bahkan masih berada di bibir Reynald. Kemudian, tidak peduli dengan kehebohan yang mulai tercipta karena tindakannya, Reynald mendaratkan bibirnya di pipi Grace seraya berbisik, “Lo berhasil menangkap hati gue....”
~~~
Ketika malam menyambut, beberapa mahasiswa semester satu duduk melingkari api unggun sambil bernyanyi. Sebagian dari para peserta ada yang memilih untuk diam didalam penginapan dan mengobrol atau menonton televisi. Para panitia lebih memilih untuk ikut menikmati api unggun dan bernyanyi bersama peserta yang lain.
Grace tidak nampak dimanapun. Gadis itu lebih memilih untuk mengurung diri didalam kamarnya dan memikirkan semua sikap aneh Reynald padanya belakangan ini. Laki-laki itu memutuskan hubungan mereka, bersikap dingin kembali padanya, lalu mengatakan bahwa dirinya sudah berhasil menangkap hati laki-laki itu. Apa sebenarnya yang diinginkan oleh Reynald? Kalau dia memang hanya berniat untuk membalas dendam, maka dia melakukannya dengan sangat sempurna dan berhasil!
Udara malam yang dingin berhembus dari jendela kamar yang sengaja dibuka oleh Grace. Gadis itu bisa mendengar suara para mahasiswa semester satu yang sedang bernyanyi di pantai ditemani oleh api unggun. Lagu demi cinta milik Kerispatih terdengar sampai kedalam kamarnya.
“Dari pada gue galau didalam kamar dan mikirin orang nggak jelas macam Reynald, yang bisanya cuma bisa bikin gue gila kayak gini, mendingan gue ikutan nyanyi di pantai bareng mereka,” ucap Grace pada dirinya sendiri, lalu bergegas menuju pantai.
~~~
Reynald menyusuri tepi pantai dan mengerutkan kening saat menemukan satu sosok yang sangat dikenalnya sedang duduk di atas batu besar sambil sesekali melempar kerikil kecil ke arah laut. Reynald langsung berlari untuk menghampiri orang tersebut.
“Bang Rizko?”
Rizko menoleh dan tersenyum. Laki-laki itu kemudian bangkit berdiri dan menepuk pundak Reynald beberapa kali.
“Hei, Rey... gue pikir, gue harus nunggu lo lebih lama lagi disini,” ucap Rizko seraya menjatuhkan tubuhnya kembali di batu besar yang tadi didudukinya.
“Kok lo bisa ada disini, Bang?” tanya Reynald lalu mengikuti jejak Abangnya. Duduk di sebuah batu besar yang berada di samping Rizko. Rizko menoleh sekilas dan kembali memusatkan perhatiannya ke arah laut di depannya.
“Bukannya tadi gue udah SMS lo, ya, kalau gue mau datang?”
Reynald mengerutkan keningnya dan segera meraih ponselnya yang berada di saku celana pendeknya. Laki-laki itu berdecak pelan saat menyadari bahwa memang terdapat satu pesan masuk dari Abangnya itu.
“Maaf, Bang... Rey nggak tau... ponselnya Rey silent...,” jawab Reynald seraya memasukkan kembali benda tersebut ke saku celananya.
“Nggak apa-apa, Rey,” balas Rizko. “Untung kamu punya niat buat jalan-jalan disekitar sini.”
Diam. Beberapa detik lamanya, yang terdengar hanyalah suara ombak laut ditemani dengan hembusan angin malam. Baik Rizko maupun Reynald sama sekali tidak ada yang berbicara. Keduanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
“Rey...,” panggil Rizko kemudian, memecah kesunyian. “Ada yang harus gue kasih tau sama lo.”
Reynald menoleh dan mengerutkan keningnya sementara Rizko tetap fokus menatap lautan di depannya.
“Bunda... masih hidup.”
Detik itu juga, tubuh Reynald membeku di tempatnya. Dia menatap tajam Rizko. Dadanya mulai bergemuruh. Kedua tangannya mulai terkepal kuat. Rasa dingin itu mulai menguasai tubuhnya. Perlahan, Rizko menoleh dan bertatapan dengan Reynald. Tatapan Rizko begitu tenang, kontras dengan tatapan Reynald yang terkesan ingin membunuh Rizko.
“Lo bercanda!” desis Reynald.
Rizko menghembuskan napas keras dan menggeleng. “Gue serius, Rey... Bunda kita itu sebenarnya... masih hidup....”
Tanpa diduga, Reynald justru tertawa keras. Tawa yang benar-benar keras hingga Rizko sempat menduga bahwa adiknya itu mulai gila.
“Bullshit, Bang! Lo nggak usah ngomong yang nggak-nggak! Lo jelas-jelas ikut di pemakaman Bunda waktu itu!” seru Reynald keras. Laki-laki itu kini bangkit berdiri, diikuti oleh Rizko.
“Rey... yang waktu itu meninggal bukanlah Bunda kandung kita... dia itu... Bunda tiri kita, Rey....”
Rey membeku. Dia menatap Rizko tepat di manik mata. Mencari kebohongan disana. Tapi, yang didapatnya hanyalah kesungguhan dan kejujuran. Dan tiba-tiba saja, perasaannya seperti meringan. Perasaannya seperti tanpa beban. Apakah ini semua... benar?
Lalu, mengalirlah cerita dari mulut Rizko. Tentang Darian yang menganggap Karla berselingkuh dengan Rio lalu menceraikan wanita itu. Tentang Darian yang menikah lagi dengan seorang janda beranak satu. Tentang Darian yang menceritakan pada dirinya mengenai Karla pada saat dirinya masih duduk di bangku SMP dan Reynald masih duduk di bangku SD. Tentang Darian yang melarang Karla untuk menemui dirinya dan Reynald dan memaksa dirinya untuk tidak menceritakan kebenaran ini pada Reynald.
Yang bisa dilakukan oleh Reynald adalah... diam. Laki-laki itu kemudian merasakan kelegaan yang begitu besar. Kesenangan yang begitu hebat. Kesesakkan yang membuatnya kemudian tersenyum dan semakin tersenyum.
“Jadi... dia... bukan kakak... gue?” gumam Reynald terbata pada dirinya sendiri. Rizko yang mendengar itu hanya bisa mengerutkan kening dan menatap Reynald dengan tatapan tidak mengerti.
“Maksud lo apa?”
Tiba-tiba saja, Reynald langsung memeluk tubuh Rizko. Rizko sendiri hanya bisa terperangah dan membalas pelukan adiknya dengan ragu.
“Makasih, Bang! Makasih banyak!” seru Reynald. Ketika pelukan itu terlepas, Reynald langsung menepuk pundak Rizko beberapa kali. “Gue pergi dulu, Bang! Ada yang harus gue selesaikan! Dan lo harus janji sama gue, setelah gue pulang dari sini, lo harus bawa gue buat ketemu sama Bunda... kandung kita!”
Rizko hanya bisa tersenyum lebar dan melambaikan tangan saat Reynald berlari menjauhinya dengan penuh semangat.
~~~
Melihat orang yang sedang dicarinya sedang duduk sambil menikmati api unggun dan ikut bernyanyi bersama para panitia dan peserta, membuat senyuman Reynald semakin jelas terlihat. Laki-laki itu kemudian berhenti berlari dan berdiri tak jauh dari orang-orang tersebut.
“KAK GRACE!”
Teriakan Reynald itu membuat semua orang yang berada disana menoleh, termasuk Grace. Gadis itu bahkan langsung bangkit berdiri dan menatap Reynald dengan tatapan waspada. Terlebih ketika melihat Reynald perlahan melangkah mendekatinya, yang dilakukan oleh Grace adalah mengambil langkah mundur. Sementara itu, Kian menatap Reynald dengan tatapan membunuh. Kedua tangannya terkepal kuat di sisi tubuhnya. Dia ingin sekali menghajar Reynald saat ini, namun dia juga harus menjaga wibawanya di depan para mahasiswa semester satu.
Kenzo, Arny dan semua yang mengelilingi api unggun hanya bisa terperangah dan melongo saat melihat bagaimana Reynald langsung berlari ke arah Grace dan memeluk tubuh gadis itu dengan erat. Grace sendiri hanya bisa tercengang. Dia terlalu terkejut untuk bisa mencerna apa yang sedang terjadi saat ini.
“Gue sayang elo, Grace... gue cinta sama lo... maafin gue karena udah memutuskan hubungan kita waktu itu. Gue nggak bisa tanpa lo... jangan pernah pergi dari sisi gue... jangan pernah...,” bisik Reynald lembut.
Grace membeku. Dia ingin mempercayai semua ucapan Reynald tadi, tapi dia takut ini hanya sebuah mimpi. Dia takut ini hanya sebagian dari rencana Reynald untuk balas dendam padanya, seperti yang pernah laki-laki itu katakan.
Mengetahui bahwa Grace tidak membalas pelukannya, Reynald terpaksa melepaskan pelukannya pada gadis itu dan sebagai gantinya, dia memegang kedua pundak Grace. Kedua matanya menyelami kedua mata Grace.
“Gue serius... apa yang baru saja gue katakan tadi serius, Grace... dan gue nggak akan pernah ngebiarin lo pergi dari sisi gue! Nggak akan pernah! Satu orangpun nggak akan ada yang bisa memisahkan lo dari gue!”
“Selamat malam semuanya!”
Satu suara bernada tegas itu membuat Reynald, Grace dan semua mahasiswa menoleh. Reynald membeku di tempatnya saat dia melihat kedatangan Ayahnya dan... Clara!
“Malam semuanya,” ulang Darian seraya berdiri di depan para mahasiswa. Di sampingnya, Clara berdiri dengan anggun dan tersenyum manis. “Saya senang, suasana yang tercipta disini begitu bersahabat.”
Tidak ada yang menyahut. Semua mahasiswa menatap serius ke arah Darian.
“Saya sengaja datang kesini untuk melihat aktivitas kalian.” Darian kembali bersuara. “Sekaligus, saya ingin mengumumkan sesuatu.”
Reynald menatap Ayahnya itu dengan tatapan dingin. Di sampingnya, Grace hanya bisa mengerutkan kening. Terlebih ketika dia melihat seorang gadis muda yang cantik berdiri di samping sang pemilik kampus.
“Tidak banyak yang tau kalau Reynald,” tunjuk Darian ke arah Reynald. Saat itu juga, Reynald menggenggam tangan Grace dengan erat. Gadis itu mengerutkan kening dan melirik ke arah tangannya yang digenggam oleh Reynald. Kemudian, tatapan Grace beralih ke wajah Reynald yang terlihat tegang. “Adalah anak kandung saya.”
Terdengar suara kasak-kusuk dari para mahasiswa yang belum mengetahui kebenaran hal itu. Hanya para mahasiswa yang sudah tahu mengenai hal itulah yang tetap tenang dan terus memperhatikan sang pemilik kampus.
“Dan saya disini akan mengumumkan mengenai pertunangan Reynald Farhenza, anak bungsu saya, dengan Clara Mutiara Sanjaya,” tunjuk Darian seraya tersenyum ke arah Clara. “Gadis cantik yang berdiri di samping saya ini. Saya akan mengadakan pertunangan mereka... disini... saat ini juga.”
Suara kasak-kusuk itu semakin heboh terdengar. Reynald sendiri hanya bisa membeku di tempatnya. Tangannya masih menggenggam tangan Grace yang terasa dingin. Entah tangan Grace yang terasa dingin atau justru tangannya sendiri. Sementara itu, Grace hanya bisa menatap gadis yang bernama Clara itu dengan tatapan kosong. Matanya mulai memanas. Grace rasanya ingin sekali menangis. Apa ini salah satu cara Reynald untuk menyakitinya lagi?
Tak jauh dari tempat Grace dan Reynald berdiri, Kian menatap kejadian tersebut dengan senyum puas yang tercetak di bibirnya.
“Lo itu memang milik gue, Grace!” tandas Kian penuh kemenangan.
~~~