BAB 8 Keseriusan Nao

1115 Kata
Nao dan Reonald kini saling berhadapan. “Pusatkan perhatianmu padaku? dan jangan ragu-ragu untuk menyerang. Nao mengangguk dan Anak lelaki itu segera mengeratkan cengkramannya pada pedang baru yang di beli ibunya. menatap gurunya dengan percaya diri dan bersiap-siap menyerang. Dan dalam hitungan detik. Anak lelaki itu berlari ke arah gurunya sambil mengayunkan pedangnnya dan berteriak keras. Nao berteriak kencang kala mulai menyerang gurunya. Tapi sayangnya, sang guru berhasi benghindar. “Jangan menyerang pada satu arah. Coba serang dengan membelokkan pedangmu ke pada objek yang ingin kau serang,” kata Reonald memperingati. Sekali lagi anak lelaki itu menyerang sambil berteriak kencang. Namun, sang guru masih saja menghindar dan tak mengenai sama sekali. Bertubi-tubi Nao menyerang. Tapi, ia masih saja tak bisa mengenai gurunya. Keringat mulai membanjirinya. Ia terlalu lelah dan ingin istirahat. Tapi, ia juga tak ingin membuang waktu. Waktunya tidak banyak. Ia harus menguasai beberapa teknik untuk bisa lolos dari tes yang akan datang. Terdengar suara pedang saat pedang itu menebas batu. Sang guru yang berhasil menghindar kini berada di samping Nao lalu menendangnya cukup kuat hingga anak lelaki itu terjatuh dan tubuhnya kotor terkena tanah. “Jangan terlalu terburu-buru. Pelan-pelan saja dan pusatkan pikiranmu,” peringat sang guru sekali lagi. Hingga hari tak lama lagi berganti malam. Nao sudah terlalu lelah, berdiri saja ia sudah tidak kuat apa lagi harus menyerang. Tubuh anak lelaki itu sudah penuh dengan lumpur dan sobek di mana-mana. “Sepertinya sudah cukup untuk hari ini. Kita lanjutkan lagi besok,” kata sang guru lalu masuk ke dalam rumah Nao untuk pamit pada tuan rumah yang telah menyewanya. “Bagaimana, apakah anakku ada perubahan?” tanya ibu Nao. Diam-diam Nao bersembunyi dan mendengarkan pembicaraan mereka berdua. “Sepertinya anak ibu susah untuk menguasai teknik pedang. Tapi kita lihat saja, semoga Nao bisa menguasai apa yang aku ajarkan padanya.”Terima kasih untuk hari ini.” "Kalau begitu aku pergi dulu.” Lelaki paruh baya itu itu kembali dan meninggalkan sang tuan rumah. Melihat sang ibu yang masuk ke dalam rumah sang anak pun segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Di dalam kamar mandi, Nao berkali-kali mengingat gerakan demi gerakan yang di ajarkan sang guru. “Nao! Apa yang kau lakukan! Kenapa kau lama sekali!” sebuah teriakan di balik pintu kamar mandi itu mengangetkan Nao yang sedang berlatih seorang diri. Anak lelaki itu pun segera menghentikan latihannya dan berteriak nyaring. “Iya, aku segera keluar!” jawab Nao dengan suara keras. Dan dengan kecepatan kilat anak lelaki itu pun menyelesaikan mandinya. *** Tiap hari Nao berlatih pedang bersama dengan gurunya. Sudah satu bulan Nao berlatih. Tapi, hingga sekarang satu teknik pun tak bisa ia kuasai membuat sang ibu menjadi cemas. Walau begitu Nao tetap belajar keras. Ia berusaha untuk menguasai apa yang di ajarkan gurunya. Kini Nao berada di halaman rumahnya latihan seorang diri sambil menunggu sang guru. Hingga ia melihat Ken yang keluar dari rumah. Sekilas Ken menatap Nao lalu memalingkan wajahnya. Akhir-akhir ini keduanya jarang bertatap muka. Nao sibuk latihan pedang sedangkan Ken sibuk berada di luar. Tak lama kemudia sang guru pun datang dan Nao pun kembali memulai latihannya. *** Ken berjalan-jalan ke dalam hutan yang ada di belakan rumahnya. Anak lelaki itu terus melangkah hingga akhirnya ia tiba di sebuah danau kecil. Ken mengambil sebuah kerikil kecil dan melemparkannya ke danau. “Nao berengsek! Aku benci Nao!” teriak Ken dengan suara kencang. ia meluapkan segala kekesalannya pada danau. Akhir-akhir ini, Ken tak di anggap lagi sama kedua orang tuanya. Keduanya hanya memikirkan Nao ketimbang dia. Padahal dia juga akan ikut tes masuk di Leron Acamic. Tapi kenapa hanya Nao yang di berikan fasilitas lengkap untuk latihan. Bahkan ada guru yang mengajar Nao dalam latihannya. Sedangkan dia tak ada. Dia hanya latihan seorang diri. “Akan ku pastikan aku akan masuk di Academic itu. Aku tak akan kalah pada anak manja dan lemah itu,” batinnya. Anak lelaki itu menatap danau dengan serius. “Ice Floe.” Ken mengucapkan sebuah mantra sihir untuk membuat sebuah gumpalan-gumpalan es dari air danau yang ada di hadapannya. Tak lupa ia juga menggerakkan tangannya dengan lihai untuk menyempurnakan latihannya. Anak lelaki itu mempertahankan posisinya. Ia harus bisa bertahan lebih lama dari latihannya yang kemarin. Ken mengerang saat merasakan sudah tidak kuat lagi mempertahankan mana yang ada pada dirinya. “Sedikit lagi,” batinnya. Ia terus bertahan dalam posisinya tak membiarkan gumpalan es itu hancur. Hingga akhirnya ... Terdengar suara keras saat gumpalan es yang Ken buat hancur dan meledak. Ledakan pada gumpalan esnya menimbulkan suara keras dan tiupan angin yang kencang membuat tubuh kecinya pun itu ikut tersambar. Ken menutup kedua matanya saat tubuhnya akan mengenai phon besar yang ada di belakannya. Dan dalam beberapa detik kemudian. Ia tak merasakan apa-apa. Jadi dengan perlahan Ken membuka kedua matanya. Seorang lelaki paruh baya berbadan besar kini mengangkatnya. “Siapa kamu?” tanya Ken. Lelaki itu tersenyum dan menurunkan Ken. “Perkenalkan Namaku Rowlin. Aku sudah memperhatikanmu sejak kemarin.” “Pergi saja sana. Aku tidak ingin kau mengangguku latihan.” Anak lelaki itu berjalan pergi berusaha menjauhi lelaki yang tidak ia kenali. “Aku bisa melatihmu untuk menjadi kuat,” ujar lelaki yang tidak ia kenali itu. Ken segera menghentikan langkahnya menatap sekilas lelaki itu lalu kembali melangkahkan kakinya. “Ice Floe.” Dan dalam sekejap air danau itu membentuk gumpalan-gumpalan es dengan sempurna. Ken menghentikan langkahnya dan menatap gumpalan es tersebut. “Star Shape.” Sekali lagi lelaki mistrius itu mengucap sebuah mantra dan saat itu juga gumpalan itu berubah bentuk menjadi bintang-bintang. Seketika kedua mata anak lelaki itu berbinar menatapnya. “Wah. Indahnya ...” gumamnya pelan. Lelaki itu mendekati Ken dan meletakkan tangannya di pundak Ken. “Aku bisa melatihmu hingga menjadi kuat. Dan tak ada yang akan mengalahkanmu.” Ken berbalik menatap lelaki itu dan tersenyum lalu membungkuk memberikan hormat pada lelaki yang akan menjadi gurunya. “Kalau begitu aku terima tawaranmu dengan senang hati, Guru.” Ken pun memulai latihannya bersama dengan seorang lelaki misterius bernama Rowlin setiap hari. Begitu pun dengan Nao yang juga mengikuti latihannya dengan baik dan serius. Hingga akhirnya, tak terasa tiga bulan telah berlalu. Kini Nao dan Ken berada di depan gerbang Leoren Acadeic of Magic. Hari yang paling di tunggu-tunggu telah datang. Hari ini adalah hari di mana anak-anak baru seperti mereka akan mengikuti tes penyeleksi untuk masuk ke sekolah barunya. Nao dan Ken saling bertatapan sejenak dan saling melemparkan wajah serius. “Aku tidak akan kalah,” ujar Ken dingin pada Nao. “Begitu pun denganku. Aku juga pasti bisa dan akan di terima di sekolah ini,” balas Nao. Lalu keduanya pun melangkah masuk ke dalam gerbang tersebut. Tempat di mana keduanya akan belajar ilmu sihir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN