Raniya Si Muka Dua

1017 Kata
Karena sudah terlibat hubungan satu malam dengan teman istrinya, Galang berinisiatif akan membuat wanita itu mendapatkan tempat tinggal sendiri. Hanya itulah cara yang bisa membuatnya bisa bercinta dengan Raniya kapan saja. Bukan karena Galang sudah tak menyukai Hanin, tapi pesona Raniya jauh lebih di atas rata-rata. Wanita kampung itu ternyata sangat agresif dan berani, membuat Galang bisa bersenang-senang dengan keduanya. "Aku harus kembali ke kamar, kamu juga." Galang sudah merapikan baju tidur Raniya, berlalu dan meninggalkan wanita yang masih berharap lebih. Raniya tak bisa mengontrol sifat penggodanya, bahkan ia berinisiatif untuk mengajak Galang melangkah lebih jauh. Tentu saja tanpa sepengetahuan Hanin Sahara. *** Sinar matahari menyoroti wajah ayu Hanin, ia terpaksa membuka matanya karena tak tahan dengan sorotan cahaya. Tubuhnya masih sedikit sakit karena di genjot Galang semalaman. Sisa-sisa kenyerian masih menderu di bagian pahanya. "Mas, kamu tumben belum bangun?" Hanin menekan punggung suaminya. Padahal ini hampir jam tujuh, tak seperti biasanya. Galang selalu rutin bangun pagi untuk sekedar jogging di sekitar perumahan maupun membaca koran di teras. Galang semalaman memang begadang, setelah grepe-grepe Raniya sebentar pikirannya makin kalut. Bisa-bisanya ia lupa diri kalau sudah berstatus suami orang. "Aku gak kerja dulu, udah izin semalem," Tangan Hanin langsung menyentuh jidat suaminya, memastikan bahwa Galang tidak demam ataupun flu. "Nggak anget kok, Mas?" Hanin segera merapatkan baju tidurnya, melangkah keluar dan membuatkan teh hangat. Meskipun tidak ada tanda-tanda kalau Galang sakit tapi tetap saja ia khawatir. "Lagi apa, Mbak?" tanya Raniya yang sudah mandi, bisa dilihat dari rambut sepinggangnya yang masih basah. Wanita itu tersenyum lebar pada Hanin. "Lagi bikin teh anget buat Mas Galang, katanya sih demam. Tumben kamu udah mandi, mau ke mana?" Hanin lupa kalau rencananya hari ini akan mengajak Raniya membeli ponsel baru. Wanita itu menepuk jidatnya sendiri, hampir saja melupakan janjinya pada Raniya. "Ya ampun, aku pikun banget! Maaf, Ran. Sepertinya hari ini aku belum bisa mengajakmu pergi, aku mau jagain Mas Galang dulu," sesalnya merasa bersalah. Sebenarnya bukan karena itu Raniya mandi pagi, tapi lantaran kejadian semalam bersama suami orang membuatnya mimpi basah dan berkeringat hebat. Pasti Galang demam karena efek perlakuannya nakalnya semalam. "Enggak apa-apa kok, Mbak. Itu bisa kapan-kapan. Kesehatan suami Mbak Hanin jauh lebih penting bukan?" Raniya pura-pura ikut cemas dengan rasa khawatir Hanin terhadap suaminya. "Aku ke kamar dulu, kamu makan sendiri dulu aja, ya," Hanin sudah membawa nampan berisi bubur dan teh hangat. Sampai di kamar, dilihatnya suaminya masih tidur. Padahal Galang hanya memejam, sedangkan pikirannya melalang buana ke entah berantah. Hanin memijat kaki suaminya, mengendurkan pakaian Galang agar pria itu tidak merasa sesak. "Mas, kita ke rumah sakit, ya?" Pria itu menggeleng, menyandarkan tubuh pada sisi ranjang dan mengelus wajah cantik istrinya. Hanin pasti kecewa berat kalau tahu suami yang sangat dicintainya bermain-main dengan wanita lain. Apalagi wanita itu adalah teman Hanin dari kampung halamannya. "Aku nggak apa-apa, Sayang. Cuma lagi mager aja, nanti juga baikan sendiri, butuh tidur aja. Terima kasih sudah melayaniku dan mengkhawatirkanku, ya?" Wanita itu tak kuasa untuk memeluk Galang, bersandar pada bidang d**a suaminya yang sedikit terbuka. Apapun yang menyakiti suaminya, Hanin ikut merasakan juga. Ia tak ingin pria itu kenapa-kenapa. "Katanya kamu mau nemenin Raniya pergi, kenapa nggak jadi?" Galang mengalihkan perhatian Hanin agar istrinya tak bertanya kenapa dirinya malas bekerja. Sebenarnya Hanin bingung, apakah ia memberi tahu akan pergi dengan Raniya pada Galang? Ah, mungkin dirinya saja yang lupa. "Aku sudah bilang padanya kalau pergi besok saja, Mas. Kan sekarang aku lagi jagain kamu, masa tega sih ninggalin suaminya sakit sendirian di rumah?" Hanin mengkerucutkan bibirnya, pura-pura bersikap manja. Dielusnya pipi Hanin dengan lembut, mengecup bibir wanita itu lama sekali. Galang merasa sesak di dalam. Ia tak kuasa melihat Hanin terluka karena perbuatan bejatnya dengan Raniya. Pikirannya acak-acakan. Bayangan Raniya menghantuinya sampai saat ini. Baik Hanin maupun wanita kampung itu sama-sama menggoda. Ia menyesal sudah memperbolehkan teman istrinya menginap di rumahnya lantaran kasihan, dan sekarang ia terjebak dengan permainan panas wanita itu. "Mas kok ngelamun?" tanya Hanin memecah pikiran Galang yang kebingungan. "Enggak apa-apa, Sayangku. Aku mandi dulu, ya?" pria itu akhirnya beranjak dari rasa magernya, membiarkan Hanin menatap punggung suaminya masuk ke kamar mandi. Sambil menunggu suaminya selesai mandi, ia kembali ke dapur untuk membuat sarapan. Pasti tidak kenyang hanya makan bubur saja, apalagi tadi suaminya hanya makan beberapa suap saja. Melihat Hanin berdiri, Raniya segera berjalan cepat-cepat bersembunyi lewat pintu belakang. Ia mengintip lagi kegiatan suami istri itu, berharap Galang akan keluar kamar dan bersarapan dengannya seperi biasa. Rasa iri menyelinap masuk tanpa permisi. Raniya cemburu selingkuhannya menatap Hanin penuh cinta, ia ingin di perlakukan seperti itu juga. "Masak apa, Mbak? Butuh bantuan?" Raniya kembali muncul, menawari Hanin untuk ikut andil menyiapkan sarapan. Ia handal soal memasak. "Wah, kebetulan nih. Kata Bude Ratih kamu jago masak kan, ya? Aku jarang masak soalnya Mas Galang udah nyewa pembantu. Sayangnya Bi Dalmi izin pulang kampung karena anaknya sakit." Raniya tersenyum licik, itu berarti tak ada gangguan untuk menggoda Galang saat mereka berpas-pasan. Wanita itu bahkan sudah menonton trik dari YouTube agar bisa cantik dan semodis Hanin. Ia sudah di masuki setan dan tak peduli lagi soal kesetiaan kawan. "Sini, biar aku aja Mbak. Kamu mandi saja, nanti kalau sudah matang aku panggil, ya?" Raniya segera mengulek bumbu dan memotong sayur. Hanin cukup lega karena keberadaan Raniya benar-benar membantunya. Galang sudah selesai dari mandinya, berganti kostum yang lebih santai. Ia berjalan ke arah cermin, membasuh kepala dan menyisir rambutnya. "Kamu gak mandi, Sayang? Katanya tadi ngajak sarapan?" Hanin mendekat dan membantu suaminya mengeringkan rambut dengan Hairdyrer. Memeluk tubuh pria itu yang sudah wangi. Wanita itu tersenyum lebar, melihat pria tampan yang semakin menawan di hadapannya. "Aku tadi sudah bikin sarapan, nanti kita ke meja makan bareng-bareng. Raniya ikut bantu, masakan dia enak banget lho, Mas. Dulu di kampung dia sering banget jualan sayur dan kue keliling," Mendadak wajah Galang berubah kaku, mendengar nama w*************a itu membuatnya sedikit tak nyaman. Jangan sampai bayang-bayang adegan semalam terpecah lagi. "Kamu mandi dulu gih, nanti kita sarapan bareng," usul Galang demi menyamankan perasaan paniknya. Hanin sudah selesai mengeringkan rambut suaminya, ia segera menanggalkan seluruh pakaiannya dan masuk ke kamar mandi, berendam di bathup.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN