Ranjiel dan Theo saling tatap, kedua cowok itu kemudian tertawa dengan keras di dalam lift. Mereka merasa begitu senang karena Barton sangat kesal dan mengejar mereka berdua. Sudah sangat lama keduanya tidak melakukan hal itu, dan sekarang rasanya benar-benar menyenangkan. Theo menghela napas panjang, ia kemudian tertawa lagi dan memukul pundak Ranjiel. Wajah Barton masih terbayang di dalam benaknya, bagaimana cowok itu kesal juga masih terukir dengan jelas. “Si Beton bener-bener ngamuk,” ujar Theo. Ranjiel mengangguk, ia kemudian menghela napas. “Dia kayaknya mikir kita ke lantai satu, bagusan kita balik ke lantai lima.” “Oke deh, hayuk aja mah kalo gue,” balas Theo. Mereka berdua kemudian menatap ke arah pintu lift, dan saat sudah sampai di lantai satu keduanya dengan cepat menekan

