Bab 5.

711 Kata
Cahaya yang sudah hafal mati dengan sifat Kevin hanya melirik malas karena tahu jika Kevin hanya berpura-pura. Walaupun dalam hati, Cahaya tahu jika dia sudah menjambaknya dengan sekuat tenaga, tapi apalah daya karena kesalnya lebih besar menguasai hatinya yang selalu diganggu oleh Kevin. “Sudah siang, ayo cepat mandi. Nanti bisa telat masuk, cantik!” ucap Kevin kembali terdengar setelah rasa perih di kepalanya mulai hilang. “Aku tak ingin sekolah hari ini. Aku masih berduka,” sahut Cahaya tegas. “Berduka untuk apa sih, Cahaya?” jawab Kevin yang duduk bersila di hadapannya kini sambil merapikan rambutnya. “Taring berhargaku direnggut, Kevin. Aku sudah bersusah payah menjaga dan merawatnya selama ini. Taringku itu simbol kecantikanku, tapi gara-gara anak aneh itu, aku kehilangan taringku untuk selamanya!” cicit Cahaya membeberkan usaha yang begitu keras menjaga taringnya yang kini telah tiada. Kevin menatap Cahaya dan hanya mengangguk tanda mengerti sebagai respon pura-pura prihatin dengan apa yang menimpa taringnya itu. Padahal, Kevin bersorak sorai karena taring itu akhirnya lepas berkat bantuan Monre. Dia yang sepertinya akan menjadi rival bagi Kevin. “Kamu lebih cantik tanpa taring itu, Cahaya” kata Kevin pelan. “Tidak! Aku merasa lebih cantik dengan taring!” sahut Cahaya cepat. “Aku serius, Cahaya. Tuh lihat, kamu cantik banget tanpa taring walaupun masih bau acem!” beo Kevin lagi. “Aku yang punya taring, kenapa kamu bicara begitu?” “Karena kamu seperti vampire jika ada taringnya,” ucap Kevin jujur dari lubuk hatinya. ‘Bugh’ Kembali sebuah bantal melayang di wajah Kevin dan membuatnya langsung terkekeh. Kekehan yang membuat Cahaya semakin kesal dengan Kevin. Merasa akan berubah menjadi orang gila jika berlama-lama dengan Kevin, Cahaya bangun dari duduknya dan menuju kamar mandi sambil menggerutu tak jelas. “Mandinya jangan lama-lama, Cahaya. Sudah kesiangan kita!” teriak Kevin diabaikan Cahaya yang sudah masuk ke kamar mandi. Ketika Cahaya sedang melakukan acara mandi cantiknya, Kevin beranjak dari ranjang dan menuju balkon karena tak mungkin Kevin akan tetap di kamar Cahaya melihatnya berganti pakaian. Sesampainya di balkon, Kevin berdiri melihat sekeliling area rumah di mana di sebelah kiri rumah Cahaya adalah rumah dia sendiri dan terlihat Mbak Erisa sedang membersihkan halaman rumahnya. Mbak Erisa adalah pembantu di rumah Kevin sejak 5 tahun yang lalu. Sambil menunggu Cahaya selesai bersiap, tiba-tiba terlintas di otak Kevin tentang siapa Monre. Kevin sudah tahu jika Monre adalah teman sekelas Cahaya bahkan satu meja. Hal itu membuat rasa cemburu dan waspada Kevin meningkat. Terlebih karena Cahaya sudah tak memiliki gigi taring yang dia anggap jelek dan mengganggu pandangan bagi Kevin. “Taring aneh Cahaya sudah hilang dan otomatis jadi semakin cantik. Harus aku permak lagi Cahaya supaya orang lain tak tahu kalau Cahaya cantik!” gumam Kevin bermonolog. Kevin terus berpikir keras sekiranya hal apa yang akan dia lakukan agar Cahaya tak terlihat cantik bagi orang lain. Terlebih sekarang ada Monre yang pasti akan selalu ada di samping Cahaya selama di sekolah. Tentu Kevin tak akan tinggal diam jika Monre atau orang lain berani untuk mendekati Cahaya. Cahaya itu hanya miliknya. 30 menit sudah berlalu, terdengar Cahaya yang memanggilnya karena sudah rapi. Baju putih kebesaran, rok abu di bawah lutut, kacamata besar berbentuk bulat yang menutupi sebagian wajahnya serta rambut panjang yang dikuncir kuda. “Sempurna!” gumam Kevin bahagia melihat Cahaya dengan penampilannya seperti murid kutu buku. “Ayo!” ajak Kevin yang langsung menggandeng tangan Cahaya. “Ma, Cahaya berangkat! Samlekom!” teriak Cahaya cukup keras karena keberadaan Viona yang sedang di dapur dan hanya menjawab dengan suara terdengar samar. Perjalanan menuju sekolah bisa ditempuh sekitar 30 menit dengan menggunakan motor. Setiap hari, Kevin berangkat ke sekolah dengan menggunkaan motor dengan Cahaya yang membonceng di belakangnya. Sejujurnya Cahaya tak keberatan jika harus berangkat sekolah sendiri, tapi Kevin tak akan pernah terima dengan penolakan Cahaya, dan tak peduli jika Cahaya terus menolaknya. Menempuh perjalanan yang mulai sedikit macet, akhirnya mereka tiba di sekolah dengan selamat dan belum terlambat. Tentu saja tak terlambat, Kevin mengendarai motornya seperti sedang balapan liar dan membuat Cahaya terus berteriak karena ketakutan. Kevin memarkirkan motor kesayangannya di tempat biasa. Dengan cepat, Cahaya melepas helmet yang menutupi kepalanya dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Kakinya bergerak turun dari motor dan membungkukkan badan dengan tangan kiri memegang lutut, sedangkan tangan kanan menyentuh dadanya yang memburu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN