“Ma! Mama tahu! Vela baru saja melihat Mbak Elsa mencium pipi Bian, Ma! Bukankah itu sangat keterlaluan! Dia bilang, mereka sudah berpacaran secara resmi! Padahal sudah jelas, Bian adalah calon suamiku kan, Ma? Mama harus melakukan sesuatu dong, Ma.”
Sampai di rumah, Vela langsung mengadu pada Nani. Perasaan di dalam hatinya merongrong tak mau menerima apa yang baru saja dilihat oleh mata kepalanya sendiri.
“Apa, Vel! Kamu nggak salah lihat kan? Beraninya anak pungut itu melampaui batasnya! Sudah bikin malu gara-gara membatalkan pernikahan, sekarang malah bikin ulah lainnya. Anak itu seharusnya tetap dikurung di kamarnya biar nggak bikin orang jadi naik darah!”
Kedua mata Nani melotot hampir keluar. Urat di lehernya tampak jelas tergambar. Anak dan ibu itu terbakar amarah yang maha dahsyat sebab sikap Elsa yang sebelumnya tak pernah diduga.
“Mama harus melakukan sesuatu, Ma. Pisahkan mereka. Jangan sampai Mbak Elsa merebut Bian dariku. Aku suka sama Bian, Ma. Dia harus menikah denganku,” rengek Vela seperti layaknya anak kecil yang meminta mainan pada ibunya.
Manik mata gadis berambut pendek itu kian mengembun. Bahkan, tidak lama lagi akan menjadi butiran kristal bening yang berjatuhan.
“Tenang, Sayang. Mama akan memisahkan mereka. Kamu jangan menangis, ya. Ingat kan, apa yang dimiliki oleh Elsa, adalah milikmu juga. Jadi, jangan menangis. Mama nggak mau melihat anak Mama yang paling cantik ini bersedih sampai menitikkan air mata. Jangan menangis, ya.”
Tampak penuh kasih sayang, namun yang Nani lakukan sudah melebihi ambang kewajaran. Anak yang sejak kecil diperlakukan layaknya seorang putri raja, dimanja secara berlebihan, dampaknya akan sangat buruk bila tak ada keseimbangan. Keegoisan akan mendominasi pada sikap anak tersebut.
Bulir bening yang mulai berjatuhan di pipi, Nani hapus dengan jemarinya. Rasa nyeri turut Nani rasakan kala melihat anak tersayangnya menjatuhkan air mata.
“Mama janji kan, Bian akan menjadi suami Vela?” Sambil memeluk Nani, Vela masih merengek agar permintaannya terpenuhi.
“Iya, Mama akan coba semaksimal mungkin. Anak Mama nggak boleh tersakiti seperti ini. Mama ikut sakit melihatmu bersedih.”
Dalam pelukan itu, Nani mengusap penuh kasih sayang rambut anaknya.
***
“Ma! Lihat, Ma! Mbak Elsa makin keterlaluan. Dia terekam kamera sedang memasuki hotel bersama Bian, Ma! Mana videonya mulai viral. Ma, jangan biarkan dia merebut Bian, Ma!”
Baru saja merasa tenang dan iseng membuka media sosial, perasaan Vela kembali bergemuruh hebat kala melihat video yang menampilkan Bian dan Elsa sedang memasuki sebuah hotel bersama.
“Anak itu bener-bener sudah bikin malu keluarga! Ayo, Sayang, kita harus melaporkannya pada Ayah. Elsa harus menerima hukuman atas perbuatannya. Anak pungut nggak punya malu!”
Nani dan Vela bergegas pergi ke ruang kerja yang ada di rumahnya untuk menemui Handi. Hawa panas dari kedua ibu dan anak itu terasa sangat kuat. Amarahnya membara dalam level dewa.
“Yah! Lihat anak pungutmu ini, Yah! Dia sangat keterlaluan, Yah!”
Baru saja langkah kaki melewati ambang pintu, Nani seketika murka saat mengadukan apa yang dilihat dalam ponselnya.
“Ada apa ini, Ma? Kamu tahu kan, Ayah lagi kerja. Kenapa suaramu selantang itu? Bikin orang kaget aja,” protes Handi seketika menoleh dan terperanjat mendengar perkataan istrinya.
Dengan d**a yang bergemuruh hebat, Nani berjalan mendekati Handi. Tangannya menggenggam ponsel yang berisi video viral yang ada di media sosial.
“Lihat ini, Yah. Anak pungutmu lagi-lagi bikin ulah. Bikin malu keluarga, Yah! Harusnya, dia tetap dikurung di dalam kamarnya sebelum jadi seperti ini, Yah!”
Handi fokus melihat setiap detik video yang diputar. Keningnya mengerut kala melihat seseorang yang tak asing di matanya.
“Ini benar Elsa kan? Apa yang sebenarnya sedang dipikirkan olehnya? Bikin malu keluarga saja!”
Kedua tanduk di kepala Handi muncul dengan sangat runcing. Amarahnya sudah terpancing.
“Dia sama calon suami Vela, Yah! Bukankah sangat keterlaluan? Kita nggak bisa diam saja begini, Yah. Video ini juga sudah terlanjur tersebar. Kita harus melakukan apa, Yah!” Amarah bercampur kecemasan jelas terpancar dari raut wajah Nani.
“Vela tadi juga lihat Mbak Elsa mencium pipi Bian di tempat umum, Yah. Bagaimanapun, perjodohan yang akan dilakukan sudah membuat Vela berharap lebih, Yah. Vela suka sama Bian dan nggak mau kalau Mbak Elsa merebutnya, Yah.” Kini, Vela yang merengek dengan wajahnya yang memelas.
“Elsa benar-benar nggak pikir panjang! Ngaco dia! Kalau tentang perjodohan Ayah usahakan akan tetap terjadi. Keluarga dari pihak laki-laki sudah menyetujuinya. Apalagi perusahaan memang lagi butuh modal yang akan diberikan oleh perusahaan dari keluarga Bian, kamu akan tetap menikah dengannya, Vela.”
Handi mengusap lembut anak tersayangnya. Dia belum tahu, Elsa juga ternyata buah hatinya yang dulu menghilang dan dicari selama bertahun-tahun lamanya.
“Kita harus suruh Elsa pulang sekarang, Yah. Sekarang sudah malam juga. Beraninya dia di dalam kamar hotel hanya berdua dengan seorang laki-laki. Ini sudah melampaui batas kan, Yah!”
Nani selalu menyemburkan racun dari mulutnya, membuat otak Handi semakin tercuci oleh kata-kata busuknya dan terhasut untuk semakin membenci Elsa.
“Iya, hubungi sekarang!”
***
“Bian, ya ampun! Anak itu, apalagi yang sedang dilakukan sih? Malah ajak wanita lain ke hotel sampai viral begini? Anak itu ya, susah banget dibilangi. Tinggal nurut dijodohin, apa susahnya sih?”
Laras baru saja melihat video yang sedang viral di media sosial. Ia tahu, sebab anak perempuannya yang telah memberitahunya. Wanita berusia sekitar setengah abad itu meradang hebat.
“Mama tahu sendiri sifatnya Mas Bian kan, Ma. Mana mau mendengar orang lain. Tapi, bagus loh, Ma. Artinya, Mas Bian mau berusaha sendiri demi apa yang Mama harapkan. Syaratnya yang penting menikah kan?”
“Zeta! Kenapa malah mendukung masmu yang nggak nurut itu sih! Dia kan sudah dijodohkan. Mau ditaruh mana muka Mama, Ze. Apalagi sudah ada kesepakatan sebelumnya. Bian memang nggak pernah bikin bahagia. Selalu saja bikin pusing kepala orang tua. Mama harus apa coba, Ze?”
Zeta juga bingung. Ia hanya menghela napas. Memang tidak punya jalan keluar. Zeta tahu persis bagaimana sifat kakaknya itu. Keras kepala dam berprinsip sangat kuat.
“Mama bakalan nggak berani keluar rumah gara-gara Bian, Ze. Oh ya, kamu tahu siapa perempuan yang Bian bawa ke hotel, Ze?”
“Zeta kayaknya pernah lihat deh, tapi di mana ya?” Keningnya mengerut.
“Iya, Mama juga sepertinya familier sama wajahnya.”
Anak dan ibu itu bergeming sesaat. Otaknya berpikir keras mencari jawaban yang sepertinya sudah pernah terekam sebelumnya.
“Oh, Zeta ingat, Ma! Dia saudaranya calon istrinya Mas Bian, Ma. Iya, Zeta ingat wajahnya. Kalau nggak salah, namanya Elsa Wicaksono. Yang Zeta tahu, dia hanya anak yang diadopsi oleh keluarga Wicaksono, Ma.”
“Apa itu benar, Ze?” Matanya membeliak. Tampak amarah dari raut wajah Laras.
“Iya, Ma. Zeta yakin, itu memang dia.”
“Keterlaluan kan namanya? Calon suami saudara sendiri malah direbut begitu? Bian juga, kenapa memilih pergi sama saudara dari calon istrinya sih! Mama nggak habis pikir sama keduanya, Ze! Wajah Mama harus ditaruh di mana coba? Bian itu mikirnya apaan sih?”
“Ya udah, daripada bingung begitu, lebih baik telepon Mas Bian saja, Ma. Biar dia pulang dan jelaskan semuanya. Ini sudah malam, berani juga menginap di hotel bareng wanita begitu. Padahal dia kan jomlo tingkat dewa.”
“Iya, ini Mama lagi coba hubungi masmu.”
***
Suara ponsel terdengar riuh di dalam kamar hotel. Bian dan Elsa sedang sibuk bermain game tanpa memedulikan berita yang sedang viral di media sosial.
Bian sengaja memesan kamar yang di dalamnya ada perlengkapan untuk bermain game. Kamar itu, awalnya akan digunakan sebagai pelarian dirinya agar tidak selalu mendapatkan ceramah dari Laras.
Namun, kini malah ada teman bermain yang tak disangka-sangka. Bian cukup terhibur dengan kedatangan Elsa di dalam kamar ini.
“Udahan dulu, ponsel bunyi mulu. Seheboh itu kah, gara-gara aku nggak pulang ke rumah? Kamu juga.” Elsa menyudahi permainannya dan bergegas mengambil ponsel.
“Benar, mamaku sudah biasa menceramahiku. Jadi, aku tak mau mengangkat telepon darinya. Sudah biasa juga, aku nggak pulang ke rumah.”
“Demi apa, Bi? Ini kita kan?”
Elsa sengaja mengabaikan telepon dari kontak bernama Mama Nani. Meski sudah ada panggilan tak terjawab dari Handi, Elsa masih memilih membuka pesan dari temannya.
“Wah! Hebat bener. Dalam beberapa jam, video sudah jadi viral begini.”
“Kamu nggak masalah?”
Sebelum pertanyaan itu dijawab, Handi menelepon Elsa. Tentu saja, telepon itu tidak mungkin diabaikan. Elsa menggulir tombol telepon yang berwarna hijau.
“Elsa! Di mana kamu! Cepat pulang! Ayah nggak mau mendengar alasan apa pun sampai kamu ada di depan Ayah.” Kemarahan terdengar jelas dari ujung sambungan.
“Tapi, Yah.”
“Cepat pulang, Elsa! Ayah menunggumu!”
Tanpa mengucap kalimat lain, telepon itu terputus. Wajah Elsa tampak layu.
“Ada apa? Kamu disuruh pulang?” tanya Bian.
Elsa hanya mengangguk.
“Ayo, aku antar.”
Elsa menatap heran laki-laki yang baru dikenalnya. Mau apa Bian mengantarkan Elsa pulang ke rumahnya?