11. Kecemburuan Hendrik

1375 Kata
Audy terjingkat kaget mendengar suara dari belakang, ia menyatukan kedua alisnya heran sejak kapan tamu tak di undang ini di belakangnya. " mau apa lagi." tanya Audy ketus " mau berkunjung ke kost mantan istri aku." Hendrik mendekat pada mobil baru Audy. Ia bersandar di mobil merah bata, memasukan kedua tangannya di kantong celana. Matanya mengamati si mobil mewah yang belum ada nomor kendaraannya itu. Jelas di pikiran Hendrik saat ini adalah menyalahkan mobil baru itu, karena menurutnya dengan adanya mobil baru itu dapat di pastikan bahwa Arjuna Rajaksa akan memikat mantan istrinya. Audy masih menatap heran, " kenapa limited edition ya... kamu belum punya." ejek Audy sambil melihat mobil Hendrik yang lama tidak yang biasanya ia pakai. Mobil itu mengingatkan saat saat ia masih menjadi istri sah Hendrik Mahameru. Hendrik mendengkus, " mobil itu sudah lama tidak aku pakai, sudah di pakai bi Yati ke pasar kalau belanja. Apa kamu tidak pernah lihat mobil yang biasanya saya pakai. Itu harganya 3 sampai 5 kali lipat dari mobil ini." Hendrik merampas kunci yang Audy genggam dan langsung membuangnya di got saluran air depan kost. Mata Audy langsung memerah karena marah. Ulah apa lagi yang akan di ciptakan mantan suaminya itu. " kamu gila ya kak." Audy langsung mencari kunci itu dengan masuk dalam got, tangannya terus mencari kunci itu. Hendrik yang merasa cemburu, lalu mengambil batu paving di sekitar mobil. Dengan tumbukan keras memecahkan kaca dan spion mobil baru Audy. Suara pecahan kaca membuat Audy naik dari saluran air got. Berjalan dengan penuh amarah. Plak Plak Dua tamparan sudah melayang di sisi pipi kira dan kanan Hendrik sampai posisi wajahnya bergeser. Hari sudah mulai gelap di mana penghuni kost sudah banyak yang beristirahat karena lelah seharian bekerja, mereka terganggu dengan perdebatan kedua mantan suami istri itu. " datang ke rumahku, aku akan ganti semuanya. Dan ingat satu lagi aku akan membelikan mobil baru buat kamu lebih mahal berkali kali lipat dari harga mobil yang di berikan Arjuna." bentak Hendrik yang di bakar rasa cemburu. Widya yang baru saja datang dengan Hendra tidak percaya kalau teman mereka sedang berdebat dengan bos besar dari perusahaan Mahameru bos yang memberikan perusahaan mereka proyek besar. Hendra dan Widya saling melempar pandangan tidak mengerti. Kemudian mereka mendekat agar lebih jelas dengan masalah mereka. " tolong berhenti untuk menggangguku kak, apa kakak belum puas juga selama ini sudah menyiksa hidup ku dengan trauma yang membuatku tidak percaya dengan laki laki." bentak Audy balik. " kamu bilang trauma, Audy dengar ya... seorang wanita yang trauma dengan laki-laki tidak akan begitu saja menyerahkan harga dirinya pada laki laki hanya dengan di tukar sebuah mobil." Plak... Audy kembali menampar Hendrik. " Kakak bilang harga diri, ingat kak aku sekarang sudah tidak punya harga diri lagi semenjak kakak mengambil semuanya dari ku." d**a Audy terasa menggebu-gebu berdetak lebih cepat dari kapasitas kerjanya. Ia terlalu emosi jika harus berhadapan dengan Hendrik yang seperti ini. Dulu ia bisa mengalah kerena ingin mempertahankan rumah tangganya tapi sekarang tidak mereka bukan siapa siapa lagi dan tidak ada ikatan apa apa lagi. Audy baru sadar bahwa pertengkarannya dengan Hendrik menjadi bahan tontonan penghuni kost termasuk teman sekantornya yaitu Widya dan Hendra pasangan yang akan menikah beberapa bulan lagi. Audy berlari ke kamarnya dengan cepat ia mengunci pintu agar Hendrik tidak dapat masuk. Tubuhnya lemas seketika di atas kasurnya. Pertengkarannya dengan Hendrik kembali lagi mengorek luka lama yang sudah susah payah ia kubur dalam dalam. Belum lagi ia berfikir bagaimana nanti ia bilang pada Juna bahwa mobil barunya yang belum sempat ia coba sudah rusak kaca dan spionnya, sebagai body mobilnya juga sudah penyok semua karena ulah paving yang di layangkan Hendrik. ======= Esoknya sebelum jam makan siang Audy sudah di suruh ke ruangan Juna, hatinya sudah was was sebab dari semalam si pemberi mobil itu bertanya bagaimana sudah mencoba mobil barunya. " Audy..." panggil Widya dan Hendra bersamaan. " hem, kalau mau tanya masalah kemarin jangan sekarang. Nanti kalau sudah siap aku akan cerita ke kalian." Sebelum mereka bertanya lebih baik Audy langsung menjawab dengan sebuah janji penjelasan. Sebelum masuk ruangan Juna, Audy mengatur detak jantungnya dulu. Mencoba sebisa mungkin ia tidak membuat curiga Juna. " ada pekerjaan yang bisa saya kerjakan pak." tanya Audy dengan sopan karena masih wilayah kantor. " duduk Audy." ajak Juna ke sofa panjang agar mereka bisa bicara santai. " bagaimana sudah kamu coba." tanya Juna " hmm su-sudah pak." jawab Audy gugup " lalu kenapa saya lihat tadi pagi kamu naik angkutan umum saat berangkat kerja Audy." wajah Juna langsung berubah seketika, Yang tadinya santai sekarang terlihat sorotan tajam padanya. " itu pak, anu... hemm." jawab Audy bingung " itu anu apa..." Juna penasaran dengan jawaban Audy yang menggantung Jantung Audy sudah mau keluar dari tempatnya jika itu tidak buatan Tuhan, yakin itu akan loncat dari dalam dadanya jika buatan China. " mobilnya sudah rusak pak. " suara tiba tiba muncul dari pintu. Wajah Audy pucat dan pias langsung. Ayu berjalan ke arah mereka membuka ponselnya kemudian menyerahkan pada Juna. Mata Juna langsung memerah, sampai telinganya ikut memerah jika itu di flim animasi sudah keluar asap dari telinganya karena marah. " jelaskan Audy." bentak Juna. " saya permisi pak," Ayu pun puas saat Juna marah pada Audy kemudian keluar dari ruangan Juna dengan ekspresi yang membahagiakan tinggal menunggu hasilnya beberapa menit lagi. Audy menunduk tidak berani menatap Juna bahkan mengangkat kepalanya pun ia tak berani. " jawab Audy, apa kamu mendadak bisu hah..." Juna menggebrak meja depan Audy yang langsung kaget. Apes bin sial Audy saat ini. " Saya tidak mau tau kamu harus memperbaiki mobil itu seperti semula dan saya akan membengkakan hutang kamu di perusahaan saya dengan alasan kamu lalai menjaga aset perusahaan." Musibah apa lagi ini yang akan Audy hadapi, belum juga ia menikmati mobil barunya. Hutang malah membengkak. Hampir saja Audy menitihkan air matanya, tapi ia tahan. Dia tidak mau di anggap lemah di mata seorang laki laki. " baik pak, saya akan menanggung resikonya tapi asal pak Juna tau saja dari awal saya sudah tidak menerima mobil pemberian bapak tapi bapak masih memaksa. Tapi saya bukan tipe wanita lepas tanggung jawab, saya akan mencicil hutang saya pada perusahaan walau sampai pensiun pun saya belum yakin bisa melunasinya. Saya permisi pak." Audy keluar dari ruangan Juna dengan perasaan marah dan sedih. Langkahnya berhenti saat melihat Ayu yang begitu puas saat ini melihat Audy dalam masalah. " bagaimana jadi di pecat sekarang atau besok." tanya Ayu yang sangat berdengung di telinga Audy, jika tidak ingat ini wilayah kantor sudah di pastikan Ayu akan di hajar habis oleh Audy. Audy enggan menanggapi pertanyaan Ayu, ia lebih memilih masuk lift, turun dan makan di kantin. Saat perut kenyang ia akan mudah berfikir untuk nanti selanjutnya hidupnya dalam menghadapi ekonomi yang sudah di pastikan akan sangat ke kurangan. " Maaf Audy, tapi sumpah bukan kita yang kasih tau. Kemarin kita pulang memang di antar Ayu, jadi ia tau semuanya." Widya menjelaskan kejadian kemarin bagaimana Ayu bisa tau. " gak masalah, aku akan tanggung jawab. Tapi yang paling penting untuk saat ini Pak Juna jangan sampai tau dulu siapa yang merusak mobilnya." Audy berusaha santai, memanggil ibu kantin untuk pesan makan siangnya. " kalau kita berdua, bisa di pastikan tidak akan bocor kemana mana masalah kemarin tapi tidak tau kalau Ayu." Ucap Hendra yang di angguki oleh Widya. Seminggu telah berlalu, Audy tidak sekalipun menghubungi Hendrik dengan tawaran tanggung jawabnya. Ia malah berharap jika sudah tidak lagi dan tidak mau lagi berurusan dengan Hendrik ataupun bertemu dengannya tapi itu tidak mungkin karena perusahaan mereka masih dalam kontrak kerjasama yang mengaitkan dirinya sebagai desainer dari perusahaan Rakaksa. Hari ini gajiannya, usai kantor ia buru buru pulang dulu mengecek saldonya di mini bank dekat kantor. ingin melihat berapa nominal yang di potong Arjuna untuk biaya perbaikan mobilnya. Beberapa hari yang lalu Juna sudah menyuruh supir untuk mengambil mobil di kost Audy. Seminggu ini Audy selalu menaiki angkutan umum jika berangkat dan pulang kantor. Mobilnya sendiri sudah ia jual untuk membiayai pengobatan ibunya di kampung. Ia berpura pura mendapatkan bonus dari bosnya karena kinerjanya yang sangat memuaskan bagi para klien. Itu semua ia lakukan agar ibunya tidak menambahkan beban pikirannya, biarlah di kota ia sendirian yang berusaha asal di rumah tidak kekurangan dan cukup untuk biaya pengobatan ibunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN