bab 3

724 Kata
Aku menarik napas panjang. Tanganku meraba saku celana, memastikan amplop berisi uang masih ada. Masih aman. Lalu tanganku menyentuh buku tulis baru yang diberikan Salsa. Masih mulus, belum ada goresan. Aku membuka halaman pertama. Di sudut kanan atas, ada tulisan tangan kecil yang aku tidak sadari sebelumnya. Tulisannya rapi, dengan pena biru: “Semoga Kak Zu beruntung di kota. Jangan lupa pulang.” Salsa Aku tersenyum. Dadaku terasa hangat, meskipun bus mulai memasuki jalan yang lebih sepi dan angin dari jendela mulai menusuk. Aku memejamkan mata sejenak. Tahun 2016. Bulan Juni. Tanggal 15. Inilah perjalananku. Aku Lazuardi, anak desa, lulusan SMP, dengan modal lima ratus dua puluh ribu rupiah dan selembar buku tulis dari adik angkatku,Dan aku percaya. kembali ke Bus mini bergoyang perlahan meninggalkan terminal kecil di pinggiran kota. Aku masih duduk di kursi dekat jendela, ransel biru tua di pangkuan, mata menerawang ke luar. Lahan sawah mulai berganti dengan deretan rumah beton dan papan reklame usang. Aku membayangkan pekerjaan pertama nanti. Apa saja, asal halal. Yang penting bukan pekerjaan kotor. Mencuci piring? Boleh. Jadi kuli angkut? Asal bukan bersih-bersih selokan atau hal-hal yang memalukan. Aku ingin suatu hari nanti pulang ke kampung dengan cerita yang membanggakan, bukan dengan tangan kotor dan malu. Di luar jendela, sepanjang tepi jalan, orang-orang menjual segala macam: gorengan, nasi bungkus, koran, bahkan mainan anak-anak. Aku memperhatikan mereka dengan perasaan campur aduk. Ini kota, pikirku. Tapi tetap saja orang jualan di pinggir jalan. Sama seperti di desa, hanya lebih ramai. Tiba-tiba sesosok bayangan menutupi cahaya dari jendela. Aku menoleh. Seorang gadis berdiri di lorong bus, tersenyum ke arahku. Rambutnya panjang sebahu, diikat setengah dengan jepit berwarna merah muda. Wajahnya bulat, kulitnya sawo matang, dan matany matanya seperti sedang mencari sesuatu. "Hi, ganteng." Aku hampir tersedak ludahku sendiri. Dengan gerakan yang sedikit kikuk, aku menegakkan punggung. "A..aku?" Dia tertawa kecil. Suaranya renyah, seperti kerupuk digigit. "Iya, mas. Nggak ada cowok lain di sini." Matanya menunjuk ke kursi sebelahku yang kosong. "Boleh duduk?" Tanpa menunggu jawaban, dia sudah melabuhkan pantatnya di sampingku. Aroma parfumnya langsung menusuk hidung,manis dan sedikit menyengat. "Kamu dari mana, mas?" tanyanya langsung, seolah kami sudah kenal lama. "Tebing Tinggi," jawabku singkat. "Wah, jauh. Mau ke kota nyari kerja?" Aku mengangguk. Mataku tak bisa lepas dari wajahnya. Bukan karena tertarik tapi karena dia terlalu dekat. "Aku juga," katanya sambil menyandarkan tubuh ke sandaran kursi. "Aku dari Pematang Siantar. Mau coba-coba nasib di kota. Lagian di kampung bosen, kerjaannya itu-itu aja." Aku hanya mengangguk lagi. Dia terus berbicara, bercerita tentang temannya yang sudah lebih dulu di kota dan katanya bisa bantu cari kerja. Aku mendengarkan dengan setengah hati, kadang menjawab seperlunya. Sesekali dia tertawa, menepuk lenganku, dan aku tersenyum canggung. Lalu pertanyaan yang aku takutkan keluar dari mulutnya. "Mas sendiri kerja apa di sini? Udah punya kerjaan?" Aku ragu. Jujur berarti aku mengaku belum punya apa-apa. Tapi di depan gadis secantik ini, aku ingin terlihat seperti pria yang sudah punya tempat berdiri. "Kerja di bengkel," jawabku. Kata-kata itu keluar begitu saja, tanpa pikir panjang. Senja mengerut. Senyumnya yang tadi lebar mengempis. Tubuhnya bergeser sedikit menjauhi aku,hanya beberapa sentimeter, tapi terasa seperti jarak bermil-mil. "Oh, bengkel," ulangnya, nada suaranya berubah jadi datar. "Bagus... bagus." Dia tidak bertanya lagi. Tiba-tiba ponselnya keluar dari saku, matanya tertuju pada layar. Seolah aku sudah tidak ada di sampingnya. Aku mencoba menghidupkan percakapan. "Kita udah ngobrol panjang lebar, tapi aku belum tahu nama kamu. Siapa namanya?" Dia menoleh, tersenyum tipis senyum formal yang tidak sampai ke mata. "Nanti aja kalau kita ketemu lagi," katanya. Lalu berdiri. "Saya pindah ke depan, ya. Mau lihat jalan biar nggak ketinggalan turun." Aku hanya bisa memandangi punggungnya yang menjauh. Dia duduk di kursi kosong di deretan depan, langsung menyandarkan kepala ke kaca jendela, ponsel masih menggenggam erat. Kenapa cewek ini aneh? batinku. Awalnya bilang ganteng, ngobrol kayak akrab. Begitu tahu kerja di bengkel langsung kabur. Udah kelihatan banget matre. Aku menghela napas. Kekecewaan menggelitik dadaku, tapi aku cepat membuangnya. Sudahlah. Aku ke kota bukan cari cewek. Aku mau kerja, mau buktikan diri. Tidak lama kemudian, bus mulai melambat. Suasana di dalam berubah riuh. Penumpang bersiap turun. Aku menengok ke luar jendela dan mataku membelalak. Gedung-gedung. Tinggi-tinggi, menjulang. Neon warna-warni menghiasi setiap sudut. Orang-orang berhamburan di trotoar seperti semut, berlalu-lalang dengan kecepatan yang membuatku pusing. Motor dan mobil memenuhi jalan, klakson bersahutan tanpa henti, asap knalpot mengepul di mana-mana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN