Namaku Lazuardi,Aku lahir di sebuah desa kecil di kaki bukit Tebing Tinggi, Sumatra Utara. Tempat yang sunyi kalau malam, tapi ramai oleh suara jangkrik dan gemericik air dari selokan sawah. Di sinilah aku tumbuh bukan dengan kemewahan, bukan pula dengan kehangatan keluarga lengkap seperti anak-anak lain. Aku hanya punya satu keistimewaan sejak kecil: aku terbiasa sendiri.
Ibu meninggal saat melahirkanku. Aku tak pernah tahu bagaimana wajahnya ketika tersenyum, bagaimana suaranya saat menidurkanku. Yang kukenal hanya cerita dari tetangga bahwa ia cantik, kata orang-orang, dan bahwa ia sempat memelukku sebentar sebelum benar-benar pergi. Itu saja. Warisan yang terlalu tipis untuk seorang anak laki-laki yang tumbuh tanpa dekapan ibu.
Ayahku bertahan delapan tahun setelah itu. Dia bekerja serabutan, kadang jadi buruh angkut di pasar, kadang membantu membangun rumah orang. Kami tak pernah kaya, tapi aku tak pernah kelaparan. Namun, ketika aku baru naik kelas 3 SD, ayah jatuh sakit. Aku masih ingat betapa cepat tubuhnya yang kekar itu menyusut, seperti kain yang dicuci terlalu sering. Dalam hitungan pekan, dia tiada.
Aku duduk di teras rumah kami yang kosong saat itu, menatap langit yang mendung, dan untuk pertama kalinya aku mengerti satu hal: aku benar-benar sendirian di dunia ini.
Usiaku baru delapan tahun waktu itu.
Tapi nasib entah karena kasihan atau mungkin ini memang jalannya membawaku ke ibu Riana. Dia adalah adik dari ayahku. Setelah ayahku meninggal, ibu Riana langsung menjemputku dan membawaku ke rumahnya. Saat itu aku masih bingung, bahkan sempat menangis keras karena aku pikir aku akan dibuang. Tapi ibu Riana hanya memelukku erat, membiarkan air mataku membasahi bajunya, dan berkata dengan suara yang lembut namun tegas, “Kamu sekarang anak aku. Kamu punya rumah, Nak.”
Dan sejak saat itu, aku benar-benar tinggal bersamanya.
Ibu Riana adalah janda dengan tiga anak perempuan. Rumah kami sederhana, hanya terbuat dari papan kayu dengan lantai semen yang kadang berdebu kalau musim kemarau. Tapi selalu ada bau masakan dari dapur, selalu ada suara tawa dari ruang tengah. Kehangatan yang selama ini tidak kukenal, perlahan-lahan mulai aku rasakan.
Anak pertamanya, Rani Aprilia, sekarang berumur 24 tahun. Dia perempuan yang paling bertanggung jawab. Wajahnya teduh, matanya seperti ibu Riana. Dia yang biasanya mengatur jualan di warung kalau ibu Riana sedang lelah. Lalu Rosa Lina, 22 tahun, anak kedua. Dia lebih tomboi, suka menertawakanku kalau aku salah ngomong bahasa Batak, tapi dialah yang paling cepat membelaku kalau ada orang usil yang bertanya kenapa aku tinggal di rumah mereka. Dan yang bungsu, Salsa, 18 tahun. Dia masih duduk di bangku SMA Negeri Suger. Dia yang paling dekat denganku, mungkin karena usianya hanya terpaut lima tahun. Salsa sering meminjamkan buku catatannya, dan kadang kami belajar bareng di teras rumah sambil menunggu sore.
Tiga perempuan yang sangat cantik.
Bukan main-main.
Aku sering melihat anak-anak kampung sengaja lewat depan rumah hanya untuk melirik mereka. Para tetangga juga suka bergosip, bilang bahwa ibu Riana beruntung punya anak perempuan secantik itu. Tapi juga ada yang bilang lebih pelan bahwa ibu Riana kasihan padaku, bahwa aku hanyalah anak pungut yang suatu saat pasti akan pergi.
Aku tidak pernah memperdulikan omongan itu. Bagiku, ibu Riana adalah ibuku. Dan tiga perempuan itu adalah saudaraku, meskipun tidak sedarah.
Tiga tahun lalu, suami ibu Riana paman Togar, meninggal dunia. Penyakit gula yang dideritanya bertahun-tahun akhirnya merenggut nyawanya. Sejak saat itu, ibu Riana membuka warung kecil di depan rumah. Hanya jualan sembako, kopi, rokok, dan camilan-camilan kecil. Penghasilannya pas-pasan, cukup untuk makan sehari-hari, tapi tidak lebih. Anak-anaknya sudah tamat SMA kecuali Salsa, tapi untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, itu hanya mimpi yang terlalu jauh.
Aku ingat suatu malam, aku terbangun dan mendengar ibu Riana menangis pelan di dapur. Dia sedang menghitung uang recehan di meja. Tangannya gemetar. Katanya pada dirinya sendiri, “Gimana caranya aku bisa sekolahin Salsa? Anak-anak pintar, tapi aku tak mampu…”
Aku hanya diam di balik pintu, menelan ludah.
Saat ini aku berumur 23 tahun. Aku hanya lulusan SMP. Ibu Riana dulu ingin sekali menyekolahkanku lebih tinggi, tapi biaya selalu menjadi penghalang. Aku tidak pernah menyalahkannya. Dia sudah melakukan lebih dari yang bisa aku balas.
Tapi semenjak malam itu, tekadku mulai mengkristal.
Aku tidak bisa terus tinggal diam di desa ini. Aku tidak bisa terus menjadi beban, menjadi anak pungut yang hanya numpang makan. Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa berdiri sendiri. Bahwa aku bisa membawa sesuatu pulang untuk ibu Riana dan ketiga anaknya. Bahwa aku bukan sekadar orang yang dikasihani.
Dan ada satu alasan lagi yang agak memalukan untuk kuakui.
Tiga perempuan di rumah itu sangat cantik. Terlalu cantik. Dan aku mulai merasa aneh setiap kali Salsa memanggilku “Kak Zu” sambil tersenyum. Atau ketika Rani menyisakan lauk untukku di piring. Atau ketika Rosa menggoda dan menyentuh bahuku sambil tertawa.
Aku pria satu-satunya di rumah itu, dan aku takut jika terus tinggal di sana, aku akan terjebak dalam perasaan yang tidak seharusnya aku miliki.
Bukan karena mereka bukan siapa-siapa. Justru karena mereka adalah keluargaku. Dan aku tidak ingin merusak itu.
Maka aku memutuskan untuk pergi.
Bukan karena marah. Bukan karena takut. Tapi karena aku tahu, jika aku ingin menjadi berguna, aku harus keluar dari zona nyaman ini. Aku harus mencari uang. Mencari pengalaman. Menjadi seseorang yang nantinya bisa pulang dengan kepala tegak, bukan hanya sebagai anak pungut yang terus bergantung.