“Kakek bagaimana kalau kita mulai bergerak dengan memperluas bisnis kita ke USA? Pasar negara ini sudah kita kuasai sepenuhnya. Bukankah segalanya tidak cukup? Kita perlu membidik sasaran yang lebih tinggi lagi.” Rein berkata sambil menggeser bidak caturnya yang berwarna putih. Kontras dengan niatannya yang hitam. Si tua bangka tidak langsung berkata apapun untuk dapat menyahut, pria tua itu lebih suka melihat kearah papan catur dan memikirkan strategi sepertinya untuk dapat mengalahkan sang cucu yang sepertinya sudah selangkah lebih maju dari dirinya. Tapi pria tua yang sudah mengenal asam garam kehidupan tentu tidak akan merasa terancam meskipun nyawa miliknya sedang diujung tanduk. Dia terlihat sangat memikirkan langkah selanjutnya yang hendak dia ambil. “Sejujurnya aku suka ambisimu

