3. Genggam Tanganku (PUISI)

406 Kata
Ketika langkah kaki ku melampaui batas kemampuanku, engkau selalu ada untuk mendekapku, disaat kata-kata yang ku ucapkan menjadi sebuah duri, engkau tak pernah merasa tersakiti. Aku tak ingin engkau pergi barang sejenak pun, meskipun aku tahu bahwa hadirmu adalah sebuah khayalan ku yang tak kenal ampun. Berkali-kali aku tenang karna hadirmu, berkali-kali juga aku merasa damai ketika engkau memihakku, tanpa aku tahu bahwa semua ini akan berlalu ketika aku tak lagi menjadi sebuah tujuanmu. Semua rasa sayang yang kau keluarkan menjadi sebuah rasa yang tak lagi menenangkan, suatu sore saat aku menyadari bahwa ternyata selama ini aku tertipu ekspektasiku sendiri. Engkau akan selalu menjadi sebuah raga yang ku andalkan, sebuah hati yang kujadikan tempat pelabuhan, sehingga engkau bisa menyakitiku lebih dalam. Senyuman hangat mu ketika aku mengeluh akan selalu menjadi sebuah obat hatiku yang paling ampuh, kalimat penenang yang kau keluarkan ketika aku tak sebaik orang-orang akan selalu menjadi sebuah kenangan yang kusimpan di kotak kesekian. Engkau melangkah begitu pasti ketika memutuskan untuk tak lagi melindungi, engkau memutuskan semuanya seolah-olah kita tidak pernah bersama. Genggaman tangan mu masih menjadi genggaman paling hangat yang pernah kurasakan, meskipun perasaan ku sudah tak dapat menentukan apa yang akan terjadi jika aku kehilangan kesempatan. Kesempatan untuk menggenggam tanganmu lebih erat, agar tak ada lagi perpisahan yang membuatku merasa terjerat, terjerat akan semua kebaikan mu yang ternyata hanya berakhir semu. Kata penolakan yang kau ucapkan berkali-kali sungguh sudah tak membuatku gentar untuk menggapai mu kembali, harga diri yang dulu kujunjung tinggi kini berakhir tak berarti. Tak akan ada yang bisa mengahalangi jalan ku untuk mendapatkan ketenangan yang hanya bisa kau berikan itu, bahkan semua ketakutan yang dulu selalu ku keluhkan menjadi sebuah kekuatan yang bahkan aku tidak tahu sampai kapan. Apakah akan berakhir ketika engkau melepaskan genggaman mu di tangan ku yang rapuh? Mungkin iya, Mungkin tidak. Tapi satu yang pasti, engkau tidak akan pernah bisa berlari tanpa aku yang serba kekurangan ini. Karna kekurangan ku inilah yang membuatmu menyadari bahwa engkau tercipta untuk menemani segala takdir yang akan kuhadapi nanti. Namun teriakan ku tidak pernah kau dengar. Kau mengingkari janji yang ku anggap benar. Menangisi tangan ku yang sudah tidak lagi kau genggam sama sekali tidak mengguggah hatimu untuk kembali ke pelukan. Kini aku sudah tidak mencarimu lagi, karna ku sadar bahwa segala yang kau janjikan bersifat tapi. Dan kini genggaman tangan mu sudah tak berarti lagi bagiku, karna kau sudah membukakan ku jalan menuju sebuah tempat yang membuatku membencimu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN