Jurusan Arsitektur menempati gedung paling artistik di seluruh kompleks UII. Kubah-kubah kecil memahkotai setiap sudut, jendela-jendela geometris membingkai cahaya matahari, menciptakan pola-pola heksagonal yang menari di lantai marmer. Dinding putihnya dihiasi kaligrafi ayat Al-Quran tentang keindahan semesta, diukir dengan presisi yang memukau.
Napasku tersangkut di tenggorokan. Bukan karena keindahan gedung, tapi karena kegugupan yang mencengkeram d**a. Hari ini adalah pertemuan pertamaku dengan Rafli sebagai partner kompetisi.
"Bismillahirrahmanirrahim," bisikku, mengusap wajah dengan kedua telapak tangan.
Kakiku melangkah menyusuri koridor menuju studio arsitektur lantai tiga. Setiap langkah terasa berat, seakan-akan gravitasi khusus bekerja hanya pada tubuhku. Dari balik jendela-jendela tinggi, kulihat awan kelabu menggantung rendah di langit Yogyakarta. Mungkin hujan akan turun sore ini.
Pintu studio terletak di ujung koridor. Tanganku terangkat, hendak mengetuk, namun terhenti saat mendengar suara-suara dari dalam.
"Kau harus bekerja sama dengannya, Raf. Ini perintah langsung dari Prof. Haidar."
"Aku tidak peduli. Gadis itu akan menghambatku."
Jantungku berdegup kencang. Itu suara Rafli. Dan ia sedang membicarakanku.
"Dia mahasiswi terbaik di jurusannya," suara lain membela.
"Dan juga aktivis yang keras kepala." Suara Rafli terdengar dingin. "Kau lihat bagaimana sikapnya saat demonstrasi? Semua harus sesuai prinsipnya. Semua harus benar menurut standarnya."
Dadaku terasa panas. Tanpa pikir panjang, kudorong pintu studio.
Empat pasang mata menatapku kaget. Rafli berdiri di tengah ruangan, mengenakan kemeja hijau—warna yang kuingat ia kenakan setiap hari Selasa. Di sampingnya berdiri seorang pemuda berkacamata yang kukenali sebagai Andi, mahasiswa Informatika. Dua orang lainnya, seorang perempuan dan laki-laki, tampak asing bagiku.
"Maaf terlambat," ujarku, berusaha menyembunyikan ketersinggungan. "Zahra Hasanah, Hubungan Internasional semester tiga."
Rafli menatap ke arah jendela, menghindari kontak mata seperti biasa. Tangannya sibuk memainkan pensil, memutar-mutar dengan gerakan cepat di antara jari-jarinya.
"Kalian sudah saling kenal, kan?" Andi memecah ketegangan. "Rafli, bukannya kau yang menyelamatkan Zahra waktu itu?"
"Menyelamatkan dengan metode yang dipertanyakan," koreksi Rafli, akhirnya menoleh ke arahku. Matanya hanya sekilas bertemu pandanganku sebelum beralih ke lantai.
Kutarik napas dalam-dalam. Sabar, Zahra. Ini ujian.
"Terlepas dari metodenya, aku masih berhutang terima kasih," jawabku diplomatis. "Dan sekarang kita ditugaskan bekerja sama untuk kompetisi ini. Jadi... bagaimana kalau kita mulai saja?"
Andi dan dua orang lainnya bertukar pandang, lalu pamit keluar. "Kami ada kelas," kilah Andi, meninggalkan kami berdua dalam keheningan canggung.
Studio itu luas dan terang, namun terasa sesak oleh tegangan di antara kami. Tiga puluh meja gambar berbaris rapi, sebagian besar kosong. Dinding dipenuhi maket bangunan dan sketsa-sketsa menakjubkan. Beberapa komputer dengan layar besar berjajar di sudut ruangan. Dan di ujung studio, berdiri papan presentasi besar dengan berbagai kertas sketsa yang ditempel.
Rafli kembali tenggelam dalam sketsanya, mengabaikan kehadiranku.
"Jadi," aku memulai, meletakkan tasku di salah satu kursi. "Temanya 'Memadukan Diplomasi dan Arsitektur Islam untuk Perdamaian Global', kan?"
Tidak ada jawaban. Rafli tetap menggambar, tangannya bergerak cepat di atas kertas.
"Aku sudah membaca panduan kompetisinya," lanjutku. "Kita perlu mendesain bangunan yang berfungsi sebagai pusat diplomasi Islam. Mungkin semacam pusat konferensi atau—"
"Sebuah pesantren."
Aku terdiam, terkejut mendengar Rafli akhirnya bicara. "Pesantren?"
Ia meletakkan pensilnya, lalu berjalan ke papan besar di ujung ruangan. "Bukan pesantren biasa. Pesantren internasional untuk anak-anak dari negara konflik."
Kuikuti langkahnya, mengamati sketsa-sketsa yang tertempel di papan. Napasku tercekat. Di hadapanku terbentang desain pesantren paling indah yang pernah kulihat—perpaduan arsitektur Timur Tengah, Asia Tenggara, dan sentuhan modernisme yang mengagumkan.
"Ini... kau yang menggambarnya?"
Rafli mengangguk. "Sudah kumulai sejak semester dua, tapi belum ada kesempatan untuk merealisasikannya."
"Tapi kenapa pesantren? Bukankah tema kompetisinya tentang diplomasi global?"
Rafli menatap langsung ke mataku untuk pertama kalinya. Tatapannya intens, seolah menantang.
"Karena perdamaian dimulai dari pendidikan, bukan dari ruang konferensi berisi orang-orang tua yang sibuk berdebat." Ia menunjuk salah satu detail dalam sketsa. "Pesantren ini akan menampung anak-anak dari Palestina, Syria, Yemen, dan negara-negara konflik lainnya. Mereka akan belajar bersama, tinggal bersama, dan tumbuh tanpa kebencian yang ditanamkan oleh politik orang dewasa."
Sesuatu dalam dadaku bergetar. Konsepnya menggetarkan, visioner, dan sangat sejalan dengan nilai-nilai yang kuperjuangkan. Tapi kenapa harus datang dari seseorang seperti Rafli?
"Itu... ide yang luar biasa," akuku jujur. "Tapi bagaimana menghubungkannya dengan aspek diplomasi formal?"
"Di situlah kau berperan," ia menyodorkan selembar kertas kosong dan pensil. "Aku butuh perspektifmu sebagai mahasiswa Hubungan Internasional. Bagaimana pesantren ini bisa menjadi jembatan diplomasi, bukan sekadar institusi pendidikan."
Kuambil pensil yang disodorkannya, jari kami nyaris bersentuhan. Rafli segera menarik tangannya, seolah takut tersentuh.
"Maaf," gumamnya, mundur selangkah. "Aku tidak nyaman dengan kontak fisik."
Saat itulah aku menyadari—Rafli Arkananta lebih kompleks dari rumor-rumor yang beredar. Ada sesuatu yang berbeda tentangnya, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan mudah.
"Tidak apa-apa," jawabku. "Aku mengerti."
Ia menatap ke lantai, jari-jarinya kembali memainkan pensil. "Tidak, kau tidak mengerti. Tapi tidak masalah."
Kupandangi sketsa-sketsa di hadapanku. Detail-detailnya luar biasa—dari sistem ventilasi alami hingga tata letak ruang yang memaksimalkan interaksi sosial. Bahkan ia telah memikirkan pencahayaan khusus untuk ruang tahfidz.
"Kau tahu banyak tentang pesantren," komentarku.
"Aku membaca banyak buku arsitektur Islam." Ia kembali fokus pada sketsa. "Dan mengobservasi beberapa pesantren di Jawa."
"Untuk seseorang yang dikabarkan tidak religius, kau cukup paham tentang kebutuhan institusi Islam."
Rafli menghentikan gerakan tangannya. Matanya menyipit. "Jadi kau juga percaya rumor-rumor itu?"
Wajahku memanas. "Aku—"
"Typical," potongnya. "Mahasiswi teladan dari pesantren, tentu saja menghakimi berdasarkan gosip." Tangannya bergerak kasar, menarik beberapa sketsa dari papan.
"Aku tidak—"
"Dengar," ia berbalik menghadapku. "Aku tidak peduli kau percaya apa tentangku. Tapi jika kita harus bekerja sama, kita fokus pada proyek. Aku tidak butuh ceramah tentang moral atau agama. Aku butuh input profesional untuk menyempurnakan desain ini."
Ketersinggungan bergolak dalam dadaku. Tapi sesuatu dalam nada bicaranya—kerapuhan yang tersembunyi di balik ketajaman—membuatku menelan kemarahan.
"Baiklah," jawabku akhirnya. "Mari kita fokus pada proyek."
Kami mulai bekerja dalam diam. Rafli dengan sketsanya, aku dengan catatan-catatan tentang aspek diplomasi. Ketika hujan akhirnya turun di luar, mengetuk-ngetuk jendela studio, perasaan aneh mengendap dalam hatiku.
Mungkin keputusan dekan menjadikan kami partner bukanlah kebetulan. Mungkin, entah bagaimana, ada hikmah tersembunyi dalam pertemuan dua jiwa yang begitu berbeda ini.
Tapi satu hal yang pasti: perjalanan kami baru saja dimulai, dan sudut-sudut yang berseberangan ini masih jauh dari titik temu.