Chapter 6

1625 Kata
Sebenarnya, bagaimana anak angsa berada dalam kumpulan anak ayam? Begitu berbeda. *** Di ruang makan keluarga Geofrey, situasi makan malam terasa sangat kaku dan terlalu dingin. Semua sibuk dengan makanannya sendiri dan tidak ada yang bersuara. Hanya denting lemah dari aduan piring dan sendok makan. "Dengar-dengar kamu tidak berhasil melobi Pak Rustam?" tanya Daniel tiba-tiba, memecah kesunyian di meja makan. Walaupun, Daniel tak menyebutkan nama, tetapi semua yang di meja makan tahu jika pertanyaan itu ditujukan untuk Orlando—suami Adora, putri tertua dari Daniel. Adora melirik gemas suaminya yang terlihat tak acuh, diam saja, tak ada niat menjawab "Bukan tidak berhasil, Pa." Akhirnya Adora yang menjawab mewakili suaminya, "Kemarin itu kan baru pertama kalinya Lando bertemu Pak Rustamaji. Ini juga, kita mau adakan pertemuan lagi, kok." "Hmm...." Daniel menatap anak dan menantunya, bergantian. Dia percaya Adora mampu menjalankan bisnis, tetapi tidak dengan Orlando. Menantunya terlalu manja dan bodoh di mata Daniel. Selama ini Daniel gemas dengan Orlando yang hanya manggut-manggut saja. Segala sesuatunya diselesaikan tuntas oleh Adora. Kalau bukan karena Orlando memiliki kekayaan berlimpah, mustahil baginya mengijinkan Adora menikah dengan lelaki lembek ini. Kali ini Daniel menatap ke arah Kamania dan ia hanya menghela napas panjang. Kamania kebalikan dari Adora. Ia terlalu lembut dan terlalu penurut atau mungkin juga bodoh. Putri keduanya adalah Orlando versi perempuan. Farrel, suami Kamania adalah seorang b******n, Daniel tahu sepak terjang mantunya itu. Herannya, Kamania justru terlihat sangat tenang. Sebenarnya Daniel tidak suka dengan kelemahan putrinya, tetapi dia mendiamkan saja. Baginya, selama mereka tidak merengek dan mengemis untuk segenggam remah-remah biskuit miliknya, Daniel memilih menutup mata dan telinga. Paling penting adalah kedua menantunya memberikan kontribusi tanpa batas untuk perusahaan dan keluarga Geofrey. Kini tatapannya tertuju pada si bungsu, Sasikirana. Ada amarah terpendam, geram, dan kesal setiap kali ia melihat Sasikirana. Ini semua karena kisah di masa lalu yang membuat Daniel tidak nyaman dengan si bungsu. Kisah kelam yang masih ditutup rapat, yang hanya dia, dan istrinya yang tahu. Sebenarnya ia tak pernah peduli dengan kehidupan Sasikirana, sampai kemudian keluarga Blenda menyukainya. Suatu keberuntungan bagi Daniel, terutama jika mengingat usaha menjodohkan Adora dan Kamania, untuk masuk dalam klan Blenda, mengalami kegagalan. Blenda adalah orang terkaya nomor sembilan di Indonesia dan lima belas untuk di Asia. Dirinya dan kedua menantunya tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka. Wajar jika ia punya obsesi. Sayangnya, sang pangeran justru memilih si bungsu. Padahal, Sasikirana tak pernah sekalipun diperkenalkan. Meski ini adalah keberuntungan, tetapi tetap saja terselip ketidaksukaan dalam benak Daniel. Dengan menghela napas panjang, Daniel mulai bicara, "Kamu sudah tanya Elard? Sampai di mana kata tunangan ini berakhir?" Sasi yang sudah menduga bahwa akan tiba gilirannya didakwa, tetap terkejut mendengar suara Daniel. "Eh..., mmm..., belum, Pa." "Kamu ini bodoh atau apa, sih? Kalau kamu tidak bisa mengikat Elard maka perusahaan kita hanya begini-begini saja. Lagipula, tiga tahun bertunangan, masa kamu gak bisa membuat Elard melamarmu?" Sasi diam, terus menyendokkan makanan ke dalam mulut dan mengunyahnya perlahan. Cara itu cukup ampuh baginya untuk tidak gugup. "Apa aja yang kamu lakukan? Hanya mondar-mandir ke sana-kemari seperti anjing. Setidaknya, kalau kamu tidak bisa bikin Elard mengawinimu, harusnya kamu bisa bikin dia berinvestasi di perusahaan kita. Bodoh!" Suasana hati Daniel menjadi sangat buruk. Dilemparnya serbet yang sedianya digunakan untuk mengelap mulut dan ia berdiri dengan kasar, bersiap meninggalkan ruang makan. "Mahes! Selesaikan makanmu cepat dan segera ke ruangan saya," perintah Daniel sambil kemudian melangkah meninggalkan ruangan. Mahesa tidak menyahut, dia hanya mengangguk hormat ke arah punggung Daniel. Diliriknya Sasi yang terlihat menahan tangis. Iba hati Mahesa, tetapi tidak ada yang bisa dilakukannya. "Haduh. Selalu saja kamu merusak suasana. Tidak bisakah kamu melakukan sesuatu yang diminta dengan cepat dan benar?" ucap Rosa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ck...ck...ck..., mungkin dipikirnya, wajah cantik itu sama dengan lem, yang dia yakini bisa membuat Elard hanya menempel padanya," sambung Adora dengan tatapan sinis ke arah Sasi. Sasi sudah tidak bisa mengendalikan emosinya. Segera ia berdiri dari kursi makan. Dengan lirih, Sasi mengucapkan permintaan maafnya dan melangkah cepat meninggalkan ruang makan. Kamania masih sempat melihat butiran air mata yang sudah terlepas di pipi Sasi. Dia sebenarnya sangat menyayangi Sasi, tetapi ia tidak berani terang-terangan membelanya. Sedari kecil, Adora dan Kamania seperti digiring untuk tidak menyukai Sasi. Sampai saat ini Kamania tidak tahu kenapa. Mahesa kemudian ikut berdiri dan mengangguk ke arah Agatha, "Saya permisi dulu." Mahesa menoleh sejenak ke arah Kamania dan tersenyum manis padanya. Hati Kamania berdebar seketika. Dulu dan sekarang, masih sama. Kamania menatap dengan perasaan aneh punggung Mahesa yang berjalan meninggalkan ruang makan. Ada sendu di dalam relung hati Kamania. Seandainya.... Kata-kata itu menggantung di dalam hati Kamania, membuatnya resah. Harapan yang tak layak dan ia menyesalinya sekaligus juga menginginkannya. *** Seorang gadis manis, berwajah sedikit oriental, dengan rambut hitam panjang yang diikat ekor kuda, membawa nampan berisi dua gelas es teh lemon dan sepiring kecil roti bakar selai cokelat ke teras depan rumah. Senyumnya mengembang saat melihat Sasikirana duduk bersandar di sofa lingkar yang sudah butut dengan mata yang terpejam. "Capek, Bu?" goda si gadis manis sembari meletakkan suguhan di meja kaca. Sasikirana tak menyahut juga masih enggan membuka mata. Ia hanya tersenyum dan mengangguk lemah. "Jarang-jarang ada roti. Ayo bangun. Saya dah bikinin roti bakar selai cokelat.” Dengan enggan Sasikirana membuka mata dan menegakkan duduknya. Ia menerima gelas es teh lemon yang disodorkan, meminumnya beberapa teguk. "Makasih, Adia." Si gadis yang disapa Adia, tersenyum. Adia dan Sasikirana sudah bersahabat sejak kanak-kanak. Rumah Adia berada di belakang rumah-rumah mewah, menjorok ke dalam, areal perkampungan biasa, tetapi masih satu lingkungan dengan Sasikirana. Mahesa yang memepertemukan keduanya. Mahesa sering membeli gorengan yang didagangkan keliling Adia, kemudian Mahesa memperkenalkan Adia pada Sasi. "Ada masalah dengan acara poto-poto dan wawancara kemaren?" tanya Adia. Sasikirana hanya mengedikkan bahu, menghela napas, dan mengambil sepotong roti bakar. "Saya sudah beli majalah Eksekutif, loh. Sengaja beli karena ada kamu. Cie..., kompak nih, ye. Di majalah itu, kalian serasi. Bikin irilah,” goda Adia, dengan senyum jahilnya. "Apaaan, sih. Itu diarahkan fotografernya," jawab Sasi lesu. "Pakaiannya juga. Bukan pilihan saya." Sasi teringat kejadian saat ia dipaksa berganti pakaian dan berdandan oleh Elle. "Pakai tim fashion? Keren sekali." "Begitulah, juga ada tim makeup." "Tapi wajar sih, itu kan majalah besar. Oh ya, kalian akan menikah? Elard berkata begitu. Sumpah, saya kaget. Kamu dan dia, kan....." Sasi langsung terbatuk-batuk dan memegangi dadanya. Adia tertawa geli, disodorkannya es teh lemon yang langsung diteguk Sasi. "Aduh, segitunya syok. Kalau iya, kan itu bagus. Artinya, kalian sudah ada kemajuan. Tapi kok kamu gak pernah cerita apa pun?" Adia merajuk dengan mimik wajah pura-pura kesal. "Tidak ada yang tidak saya ceritakan, kok. Kamu tahu semua. Dan tidak ada yang berubah." Adia melirik Sasi dan tersenyum geli. Adia sebenarnya tidak yakin akan isi pernyataan Adelard di majalah, tetapi ia ingin memastikan kebenarannya dengan Sasi. "Dia itu manusia paling munafik, pembohong, arogan, gak punya hati, semena-mena...," cerocos Sasi penuh emosi. "Hei...hei, kok jadi emosi. Ada apa, Sas?" "Mana ada pertemuan romantis depan pintu. Mana ada yang namanya niat tulus bertunangan. Dan menikah?" Sasi menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keras, membuat Adia melotot, khawatir kepala Sasi tiba-tiba lepas. "Kamu tahu?" sambung Sasi, "dia itu jahat dan gak punya hati. Dia baru saja memecat seorang karyawan perempuan. Padahal perempuan itu adalah tulang punggung bagi adiknya yang mengidap kanker dan neneknya yang sudah renta. Harusnya, dia bertanya dulu, gak asal main pecat. Sok berkuasa dan kamu tahu? Saat saya membicarakan Diana, dia malah melotot, marah-marah dan bilang kalau saya sedang cari popularitas. Cih!" "Tunggu...tunggu, siapa Diana?" "Nama wanita yang baru saja dipecat sama Elard. Padahal dia sedang menanggung adiknya yang...."  "Bagaimana kamu bisa kenal Diana? Tumben-tumbenan, berani sendirian kenal ama orang," potong Adia yang keheranan. "Nggg.... iya, ya. Kayaknya karena terdorong rasa iba. Saya gak tega lihat dia." "Dan..., kamu bicara dengan Adelard Blenda? Membicarakan orang lain dengan lelaki itu?" Sasi mengangguk saja. "Kamu berani? Kesambet apa kamu?" Adia tertawa, antara percaya dan tidak percaya. Sasi hanya menggelengkan kepalanya dengan lesu. Sasi sendiri pun bingung akan keberaniannya bicara keras terhadap Elard, entah apa yang merasukinya hari itu. "Sas! Malah melamun. Oh ya, Sas, besok Senin, rasanya warung ini akan saya tutup." Nada bicara Adia mulai serius. Sejak kecil, Adia hanya tinggal berdua dengan sang nenek. Kehidupan sehari-hari mengandalkan warung kecil yang menjual kebutuhan dasar. "Ha! Ditutup?" "Iya, mau saya tutup, Sas. Saya sudah dapat pekerjaan baru dengan gaji lebih baik." "Oh ya? Di mana?" "Jangan kaget, ya." Sasikirana menarik alis kanan, "Hmmm... jangan kaget lagi, ya! Di kantor pusat Blenda Group." "WHAT?" seru Sasi terkejut. Sangking terkejutnya, Sasi sampai menumpahkan minumannya. "Aduh Sas..., tumpah itu, loh. Kamu kenapa, sih?" Adia membantu Sasi membersihkan tumpahan air es teh di meja dan pakaian Sasi. "Kamu gak suka, Sas?" tanya Adia lirih. "Eh..., apa, sih. Enggak, bukan begitu, Adia. Saya hanya kaget saja. Saya senang kalau kamu dapat pekerjaan baru yang dapat memberi gaji yang lebih baik. Jadi, Nenek gak perlu buka warung lagi. Sudah waktunya Nenek istirahat." "Iya Sas. Aku memikirkan Nenek. Beliau memang tidak pernah mengeluh. Tapi, you know-lah." "Saya jadi iri sama kamu, Dia. Kamu punya tujuan hidup. Sedangkan Saya…." Sasi mengembuskan napas panjang, seolah-olah dengan begitu, bisa menyingkirkan segala gulana. Sasikirana tidak pernah diijinkan bekerja, baik di salah satu perusahaan Geofrey atau di manapun. Alasannya 'bikin malu', suatu alasan yang tidak jelas dan tidak bisa di mengerti, apa dan kenapanya. Sasi sendiri tidak bisa membantah, dia menurut walau itu membuatnya kecewa dan menghancurkan impiannya untuk bisa melakukan apa pun jika bekerja. Selama ini Sasikirana menghabiskan waktu dengan membantu Kamania di butiknya. Tapi, itu bukanlah bekerja dalam arti mencari materi untuk sebuah tujuan. Adia menggenggam tangan Sasi, "Sas..., suatu hari kelak, aku yakin kamu bisa menjadi dirimu sendiri dan keluar dari istana itu, dan kamu bisa melakukan semua hal sesuka hatimu. Percayalah." Adia tahu apa yang dipikirkan dan dirasakan Sasi. Adia merasa kasihan dan prihatin. Adia seringkali bertanya-tanya, kenapa keluarga Geofrey membedakan Sasikirana sebegitu rupa, tapi itu hanya dipendamnya dalam hati. Mungkin kelak, ia dan Sasi akan tahu apa alasannya. "Hei kalian!" Terdengar suara renta namun tegas dari arah dalam rumah, "Ayo masuk! Waktunya makan." Sasikirana dan Adia saling berpandangan dengan senyum geli dan kemudian keduanya tertawa. Itu adalah suara Nenek. Sasikirana dan Adia, kemudian masuk ke dalam rumah dengan  saling bercanda. Melupakan sejenak kilas galau yang sempat datang. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN