Lukanya, tidak hanya dirasakan olehmu, tapi..., aku juga, Sayang. *** Sasi melangkah perlahan menuju rumah Adia. Sesekali kakinya memainkan genangan air. Tak peduli lumpur menbuat kakinya kotor. Tak peduli juga hujan sudah membuatnya basah. Sasi sengaja tidak membawa payung. Saat keluar rumah, hujannya masih rintik. Tak disangka di tengah perjalanan, hujan semakin deras. Walau begitu, Sasi tidak keberatan. Hujan membuatnya damai dan Sasi butuh itu. "Ya, ampun, Sas...!" seru Adia dari teras rumah. Tadi dia membaca berita online di teras sembari menikmati hujan, ketika dilihatnya Sasi membuka pagar rumah. Sasi melangkah masuk dengan senyum lebar. Senang melihat reaksi Adia yang melotot. "Tunggu sini dulu." Adia mengambil selang yang tersambung dengan keran air di dekat teras. Disempro

