Jangan memaksa hati. Jangan membangun ilusi. Berhenti. Lihatlah padaku di sini.
***
Di salah satu restoran terbaik, Elle duduk seorang diri dengan posisi sangat anggun. Tatapannya tajam terarah pada Azka Blenda yang justru duduk terpisah darinya.
Azka duduk di salah satu meja, di tengah ruangan. Lelaki itu dikerubungi oleh beberapa gadis muda, yang menuntut ini itu.
Sejak mula, mood Sara sudah berantakan. Dia kecewa dengan sikap Elard yang aneh dan berubah. Wanita itu masih penasaran kenapa Elard tertinggal lama di Mal. Tadinya dia akan mengorek informasi dari Tristan, tetapi Azka keburu datang dan mengajak makan yang disetujui Elard.
Kini, melihat Azka yang mengabaikan dirinya seketika mood-nya berada di level paling buruk. Keinginan Sara untuk makan siang yang terlambat dengan Elard, telah gagal total. Masih lagi ditambah dengan polah Azka yang bergaya ngartis, walaupun sebenarnya dia memang selebritis.
Kenapa aku mesti makan siang sama orang ini? Sial! Elle merutuk dalam hati. Kedua tanggannya terlipat rapat di d**a dengan kedua jemari mengepal erat.
Azka sendiri masih sibuk meladeni beberapa fans-nya. Sebenarnya Azka tidak enak hati dengan Elle, tetapi sebagai public figure tak mungkin ia mengabaikan penggemarnya. Azka melirik ke arah Elle, sayangnya hal itu menjadi malapetaka, karena Elle menangkap matanya dan membalasnya dengan melotot tajam.
Arah tatapan Azka rupanya diikuti oleh para penggemarnya. Mereka kagum sekaligus bertanya-tanya akan sosok Elle.
"Itu siapa, Kakak?" tanya salah seorang penggemar.
Azka mengerling pada penggemarnya yang tadi bertanya. "Menurut kalian siapa?"
Sontak semuanya mengambil kesimpulan yang manis. "Cieee..., pacarnya, ya?
"Cocok?"
"Cocok banget, Kak. Cantik."
"Tapi galak," sahut Azka, membuat penggemarnya tertawa dan masih mencuri pandang ke arah Elle.
Elle sadar kalau dirinya sedang dijadikan bahan pembicaraan. Dia tak buta untuk melihat jika para penggemar Azka kini suka mencuri pandang ke arahnya. Elle mulai geram dan menghitung dalam hati.
Awas kamu! Kalau sampai hitungan ketiga kamu gak ke sini, lihat aja! Satu....
Azka tak bereaksi. Sempat Azka menoleh pada Elle dan memberikan senyum, tetapi kembali ia sibuk dengan para penggemarnya.
Dua.... Sara semakin menegakkan duduknya, sedangkan salah satu tangan sudah mengambil tas.
Ti....
Tiba-tiba Azka berdiri. Ia melangkah pasti menuju ke arah Elle. Dengan senyum manis yang tersungging di bibirnya, Azka menatap lekat, tepat ke manik mata Elle.
Deg!
Jantung Elle berdetak aneh. Elle menjadi gelisah, ia ingin mengalihkan tatapannya dari Azka. Nemun, ego yang tinggi terus melarangnya dan itu membuat emosi Elle teraduk-aduk tidak jelas.
"Si cantik, makin melotot makin cantik," ujar Azka tepat dihadapan wajah Elle. Lelaki jangkung itu belum duduk. Ia sengaja membungkuk hingga wajahnya sejajar dengan wajah Elle.
Wajah Azka yang sangat dekat, membuat Elle mematung dan memerah. Di bagian sisi yang lain dalam hati Elle, ada rasa senang mendapat pujian dari Azka, tetapi di bagian sisi lainnya, justru merasa kesal tanpa tahu alasannya.
"Bisa gak, kamu segera duduk dan segera pesan makanan? Kamu pikir saya ini fans-mu yang bisa kamu lempari kata-kata pujangga picisan seperti tadi?" sergah Elle dengan emosi. Diambilnya kesempatan itu untuk membaca table menu. Azka menurut dan dia duduk sembari terus menatap Elle.
"Kenapa gak jadi penggemarku?" tanya Azka.
"Siapa? Saya?"
Azka mengangguk manis.
"Saya gak suka artis."
"Kenapa?"
"Banyak gaya."
"Banyak gaya atau banyak fans?"
"Apa bedanya, sih?"
"Beda dong. Kalau banyak gaya, berkait dengan perilaku. Kalau banyak fans, ini berkait dengan sosialisasi."
Elle melengos dan membaca table menu. Dia malas berdebat, apalagi dengan Azka yang sebenarnya bukan artis kopong. Azka adalah lelaki yang sangat pintar. Elle tahu itu.
"Sebenarnya, kamu uring-uringan karena saya dengan fans saya atau..., karena kamu dipaksa dia, untuk makan siang bersama saya?" tanya Azka, yang membuat Elle tersentak.
"Maksudmu?"
"Hmmm..., kalau kamu marah karena saya dengan fans saya, well..., im so sorry bout that. Tapi...."
Azka membolak-balik menu. Sengaja mengulur waktu untuk mempertimbangkan baik buruknya melontarkan semua ke Elle. Lelaki itu cukup mengenal Elle. Walaupun Elle terlihat tegas dan kuat, tetapi sebenarnya wanita itu rapuh di dalam.
"Tapi apa?" tanya Elle gemas.
Azka menatap tajam Elle. Siratan mata Azka membuat Elle tidak percaya diri.
"Tapi..., kalau kemarahanmu karena waktu mengintili-mu tersita untuk menemani saya makan siang, saya gak peduli. Saya gak perlu minta maaf untuk itu. Toh, tadi kamu gak ada penolakan tegas."
"What? Mengintili?" Mata Elle melebar dan kali ini mutlak dia marah. Entah kenapa kata-kata Azka sangat melukai perasaannya, padahal Azka sedang tidak sedang menghina, bahkan perkataan Azka ada benarnya. Elle selalu mengikuti Elard.
"Lalu apa sebutannya? Apa kamu masih berpikir saya hanya anak SD, yang selalu beredar di sekitarmu dan tidak tahu apa-apa?" tanya Azka sambil lalu dan memanggil pelayan.
Azka memulai memesan makanan dan minuman bagi dirinya dan juga Elle. Azka merasa tak perlu menanyakan apa yang ingin dimakan Elle. Satu, karena ia sudah tahu apa selera Elle, dua karena ia melihat emosi di mata Elle, dan ia menyesal untuk itu.
"Apa hak kamu mengatakan itu semua?"
Azka tercenung. Pertanyaan Elle membuatnya tergugah. Dirinya bukan siapa-siapa, tetapi kalimat-kalimatnya sangat jelas menghakimi akan apa yang Elle lakukan dan itu memang bukan haknya.
"Saya mau mengintili, saya mau jungkir balik, atau bahkan saya mau terjun bebas, itu urusan saya!" lanjut Elle dengan amarah yang menggebu. Kekesalannya terasa begitu bertambah dan kata-kata Azka membuatnya tersudut.
"Memang. Tapi berapa usiamu sekarang? Kalau dia jadi pertapa, apa kamu juga akan terjun bebas jadi pertapa?"
"Kalau iya, kamu mau apa?" tantang Elle.
Saya mau mencegahmu! Seru Azka dalam hati.
"Dan apa yang akan kamu dapat? Bahkan, sekadar untuk memegang tanganmu pun, tak pernah, bukan?" ejek Azka dengan menyisakan tawa yang sinis. Dalam hatinya kemarahan atas sikap bebal Elle membuncah.
Sedangkan kemarahan Elle sudah sampai puncak, digebraknya meja, dan ia berdiri. Tanpa berkata-kata lagi, Elle melangkah keluar meninggalkan Azka.
Kurang ajar! Aku benci kamu Azka! Benci kamu seumur hidupku! b*****t! Sejuta makian lagi tercetus dalam benak Elle. Ia berjalan cepat dengan membawa emosi yang dipendam.
Beruntung saat pergi tadi, Azka menuruti Elle untuk naik mobil Elle saja. Jadi Elle tak perlu memberhentikan taksi. Dia bisa langsung menuju mobilnya. Elle meninggalkan restoran dengan tangis yang menderu. Dia kesal dan kecewa untuk banyak hal yang terjadi.
Elle tidak tahu jika Azka segera membayar pesanannya dan bergegas membuntuti Elle. Setelahnya Elle masuk ke dalam mobil, Azka tak mengikuti lagi. Mudah untuk Azka mengejar Elle, menghentikan langkahnya, ataupun mencegah Elle menyetir sendirian. Namun, Azka tak melakukannya.
Azka cukup sadar jika ia sudah keterlaluan. Mencampuri urusan hati Elle. Ada penyesalan yang membuatnya memaki diri sendiri. Ini semua karena Azka tidak bisa lagi membendung perasaan cemburunya.
Lama Azka memendam cintanya untuk Elle. Tak pernah tersampaikan karena dia tahu ke mana arah perasaan Elle. Azka kasihan pada Elle karena Elard hanya menganggap Elle tak lebih adalah seorang adik.
***