Bab 8 Pagi yang mengejutkan

1073 Kata
Seperti dugaan Ramora, kini dirinya benar benar terjebak oleh permainan licik Virgo. Tak ada senyuman layaknya pasangan pengantin yang berbahagia. Sepanjang resepsi berjalan, Ramora hanya tersenyum kaku untuk menyapa beberapa tamu. Selebihnya Ramora hanya memperlihatkan ekspresi datar dan masam. "Tersenyumlah walau hanya seujung sudut bibirmu sayang," bisik Virgo semakin membuat kedongkolan di hati Ramora berkobar bagai nyala api. "Om bohongin aku, tega banget sih!" dengus Ramora terlihat menahan amarahnya. Virgo sudah menyangka akan seperti ini bila Ramora sampai mengetahui kebenarannya. Tapi dia sudah siap untuk di benci gadis itu beberapa waktu ke depan, sampai dirinya bisa meluluhkan tembok keras hati Ramora. "Maaf, aku kehilangan cara untuk mendapatkanmu Mi amor." Balas Virgo enteng. Laki laki itu tanpa sungkan merangkul bahu Ramora meski gadis di sampingnya berontak untuk di lepaskan. "Bersikaplah manis sayang, lihat tatapan tamu tamu itu terarah kepada kita." Bisik Virgo menyeringai lebar. "Om akan menyesal telah membodohiku mentah mentah," ancam Ramora yang sudah berada di ujung kesabarannya yang setipis kertas. "Saya tunggu sampai itu terjadi Ramora sayang," balas Virgo menantang. Ramora menukik kedua alisnya sembari menatap galak ke arah Virgo. Pria menyebalkan yang kini resmi berstatus sebagai suaminya. Drama tak habis di pelaminan saja, keduanya masih bertikai kata hingga ke dalam kamar pengantin yang di tata sedemikian rupa oleh Selin sang kakak ipar tercinta. "Keluar dari kamar aku om!" usir Ramora setelah melihat Virgo kini berbaring santai di atas ranjangnya. "Kita sudah menikah Ramora, kamar kamu ya kamar saya juga. Dan apapun yang kamu miliki itu juga milik saya, begitupun sebaliknya." Ujar Virgo seringan bulu. Kedua matanya bahkan masih terpejam sempurna, resepsi sederhana mereka ternyata cukup menguras energi Virgo. Belum lagi sepanjang resepsi, dirinya terus beradu mulut dengan istri kecilnya. "Mana bisa seperti itu! om jangan ngadi ngadi ya, enak saja!" ketus Ramora tak terima. "Pokoknya sesuai kesepakatan awal, tiga bulan pernikahan kita aku ingin om mengajukan gugatan cerai terlebih dahulu. Mana sudi aku berlama lama jadi istri kakek kakek kaya om," ucap Ramora ketus. "Terserah kamulah, saya cape banget mau istirahat malam ini saja. Besok saya akan ke apartemen dan kamu bebas melakukan apapun di rumah ini sesukamu. Asal jangan membawa laki laki lain saja aku tak akan masalah." Setelah mengucapkan kalimat yang sedikit mencerahkan hati Ramora, Virgo berbalik membelakangi Ramora lalu tak lama terdengar suara dengkuran halus dari mulut pria tampan itu. Ramora terlihat berpikir keras, entah apa yang tengah gadis itu pikirkan. Setelah puas memandangi punggung lebar Virgo, Ramora memilih duduk di sofa. "Kira kira Suzan sudah tidur belum, ya?" gumam Ramora yang mulai merasa bosan. Padahal baru satu hari dirinya menyandang gelar seorang istri, tapi rasanya sudah seperti belasan tahun lamanya. "Halo..." sura serak Suzan membuat Ramora terkikik. "Jam segini sudah tidur, banci saja tidurnya dini hari." Celoteh Ramora membuat Suzan berdecak jengah. "Karena aku bukan banci makanya aku tidurnya cepat, nyonya muda Sukmajaya." Balas Suzan meledek. "Ck! bisa tidak jangan mengingatkan status menyebalkan itu, kesel tau!" sergah Ramora dongkol. "lah! emang ya, terus aku harus manggil apa, nyonya..." Suzan semakin memancing perkara tanpa peduli dengan kekesalan sahabatnya. "Nyesel aku udah cape cape menghubungimu, tau gini mending aku nelpon Kevin. Duh, apa kabar ya Kevin sekarang? pasti patah hati dia kalau tau aku udah married." Ujar Ramora nelangsa. Gadis itu menekuk wajahnya dengan bibir berlipat. "Yaelah ini anak. Ingat woi! udah jadi istri orang tuh, jangan berlaga amnesia deh. Cape bener punya sahabat somplak kaya gini." Seru Suzan yang jengah mendengar pembahasan tentang Kevin, ketua BEM di kampus mereka. "Tapi aku masih belum bisa move on tau, dari ketampanan hakiki yang Kevin miliki. Duh, jadi kangen nih sama suaranya yang merdu." Celoteh Ramora semakin menjadi jadi. "Sekali lagi bahas Kevin playboy cap minyak angin itu, aku tutup nih telepon." Ancam Suzan yang berhasil membuat Ramora mingkem. "Kan cuma curhat, Suzanna sundel bolong." Balas Ramora di sertai decakan nyaring. Pagi tiba, mentari malu malu menyapa kedua pengantin baru tersebut. Namun sang empunya kamar mandi tertidur lelap di atas ranjang empuknya. Semalam Ramora tertidur di Sofa setelah melakukan panggilan selama satu jam lebih dengan sang sahabat. Virgo yang kebetulan terbangun memindahkan tubuh mungil Ramora ke atas ranjang. "Mora sayang, bangun sudah pagi nih." Namun yang di bangunkan justru semakin mendengkur keras. Virgo terkekeh kecil melihat tingkah lucu istri mungilnya. Setelah puas menatap wajah cantik Ramora, Virgo memutuskan untuk bangun terlebih dahulu. Laki laki itu memiliki janji temu dengan seseorang hari ini, untuk itu dia ingin segera bersiap siap. "Apa kamu akan terus bersikap kekanakan seperti ini Ramora sayang? tak apa, aku tak keberatan sama sekali. Apapun yang penting hatimu senang aku sama sekali tak masalah." Monolog Virgo yang baru saja selesai membersihkan dirinya. Virgo hanya membawa beberapa helai pakaian di dalam kopernya ketika datang ke rumah baru yang dia beli khusus sebagai hadiah pernikahan bagi Ramora. Setelah bersiap, Virgo turun ke lantai bawah untuk menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Virgo sengaja tak memperkerjakan seorang pelayan di rumahnya karena ingin privasi mereka tetap terjaga. Terutama Ramora yang masih belum bisa menerima pernikahan mereka dengan lapang da da. Usai sarapan Virgo menyimpan sarapan untuk Ramora di atas meja. Tak lupa catatan kecil ia tinggalkan untuk istrinya agar tak melewati sarapan pagi. Segelas su su coklat kesukaan Ramora sudah tersedia di sana, tampaknya Virgo benar benar menyelidiki semua yang berhubungan dengan istrinya tanpa melewati satupun apa yang menjadi kesukaan gadis itu. Drrrtt drrrtt drrrtt "Ya Laura, aku sedang on the way. Apa kamu sudah tak sabar untuk berjumpa denganku hmm?" Rupanya Virgo mendapatkan panggilan dari seorang wanita bernama Laura, dan tampak ekspresi sumringah di wajah Virgo terpancar jelas. "Ck! kenapa lama sekali, apa kamu baru saja melewati malam panas dan melupakan aku hah?" semprot Laura dari seberang telepon. Alih alih menjawab Virgo malah tergelak renyah. "Berhentilah tertawa! dasar tidak punya perasaan, bisa bisanya kamu menikah setelah membuat aku menjadi lajang sampai saat ini." Dumel wanita bernama Laura itu dengan nada kesal. "Maafkan aku Laura sayang, aku tak bermaksud untuk menduakan cintamu. Tunggu aku di sana, kamu bisa menguasai tubuhku seharian ini tanpa gangguan. Bye baby," Virgo memutuskan panggilan lalu meraih tas kerjanya. Diam diam percakapan tersebut di dengar oleh Ramora yang kebetulan terbangun dan merasa sangat kehausan. Tapi siapa sangka dirinya malah mendapati fakta yang mengejutkan dari suaminya. "Namanya Laura hmmm....apa dia cantik? aku harap dia lebih cantik dariku, om." Ramora bergumam sembari menatap mobil Virgo yang meluncur tanpa kendala meninggalkan halaman rumah mereka. To be continue Semoga masih ada pembacanya setelah sekian lama vakum heheheee Penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose-Ana
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN