Sudah dua minggu setelah kesepakatan antara Ramora juga Virgo, kini kedua keluarga sibuk mempersiapkan persiapan pernikahan Akbar dua pewaris tersebut.
"Papi gak curiga sama perubahan Mora? menurut aku sih, perubahan Mora terlalu cepat dan terkesan seperti sebuah kudeta untuk memanipulasi kita semua." Ujar Randy tiba-tiba.
Rusdy yang sejak tadi sibuk dengan beberapa berkas di hadapannya, sontak langsung mengangkat wajahnya. Pria itu menatap putranya yang tampak begitu cemas dengan perubahan sikap adik bungsunya.
"Berpikir positif saja terhadap perubahan adikmu, nak. Mungkin saja Ramora menyadari bila Virgo cukup tampan. Siapa yang tau hati manusia nak, Tuhan maha membolak-balikkan hati. Barangkali saat ini Ramora juga merasakan ketertarikan terhadap Virgo setelah mengenal Virgo cukup jauh. Sudah, jangan di pikirkan lagi. Papi khawatir adikmu malah berubah pikiran jika kita meragukan keputusannya." Nasihat sang ayah bijak.
Randy hanya bisa mengangguk pasrah. Meski hatinya masih di liputi banyak kejanggalan.
Kakak harap kamu tidak akan membuat keluarga kita malu dek. Lihatlah betapa sayangnya papi dan mami padamu.
Di kampus, Ramora kembali membuat ulah. Gadis itu tertidur pulas saat dosen sedang berkoar koar menerangkan materi pelajaran.
"Tujuan kamu ke kampus untuk apa, Ramora? di sini bukan motel yang bisa kamu gunakan untuk menumpang tidur siang. Masih muda memangnya apa yang membuat kamu kurang tidur, hah?" cecar dosen killer yang kini sedang mengkotbah Ramora karena tertidur di kelasnya.
"Yaelah, pak! orang tidur siang bukan karena pengaruh usia kali," sahut Ramora tanpa rasa takut. Kampus tersebut milik keluarganya, memarahinya sama saja dengan menulis surat pengunduran diri untuk diri sendiri.
"Saya rasa kamu ini perlu di rukyah Ramora. Kekakuan kamu saban hari bikin semua dosen tekanan darah tinggi saja!" omel sang dosen yang mulai tak tahan berhadapan dengan mahasiswinya itu.
Pria paruh baya itu memijit pelipisnya yang mulai berdenyut hebat.
"Saya kristen pak, jadi harus di kremasi supaya dosa saya larut." Balas Ramora kian membuat pria bernama Budiman itu semakin pusing.
Sedangkan Ramora menahan tawa geli setelah berhasil membuat dosennya nyaris gila menghadapinya.
"Keluar kamu dari ruangan saya, dan langsung pulang saja. Kamu harus di bawa ke biksu agar di baptis ulang. Pusing saya menghadapi kelakuan kamu yang semakin hari ada ada saja yang tak beres." Usir pak Budiman mulai tak sabar.
Ramora bersorak girang dal hatinya, setelah berhasil membuat pak Budiman pun turut menjadi gila seperti dirinya.
"Astaghfirullah pak, istighfar pak, nyebut... subhanallah puji Tuhan amin taba..."
"Keluar kamu atau kamu saya lempar dari jendela itu, mau?!" sentak pak Budiman yang kini sudah tak sanggup lagi berhadapan dengan sosok seperti Ramora.
Keributan tersebut memancing perhatian beberapa dosen juga beberapa mahasiswa yang kebetulan berada di lantai tersebut untuk sebuah urusan.
"Ih galak amat sih pak. Belum di gaji apa gimana? tar Mora tanya papi ya, supaya gaji para dosen di segerakan." Setelah mengucapkan kalimat pemancing huru hara, Ramora berlari cepat menuju pintu kemudian menutupnya dengan kencang.
Terdengar suara benda keras seperti di lempar ke arah pintu. Pasti pak Budiman lah yang melakukan. Karena hanya beliau yang berada di dalam sana setelah Ramora keluar.
"Uh, untung saja aku gak kena lemparan maut asbaknya pak Budiman Santoso." Monolog Ramora mengusap lega dadanya.
Puk
Sebuah tepukan di bahunya membuat Ramora terkejut bukan main.
"Kutu kupret!" pekik Ramora terkejut.
Sementara Suzan terpingkal renyah melihat reaksi sahabatnya yang latah.
"Gila ya lo! Untung jantung aku sehat dan kuat, karena ibuku rajin dan cermat. Semasa aku bayi selalu di beri...."
"..besi, makanan bergizi dan formalinisi..lalaalaaaa..." sambung Suzan menyambung lagu nyeleneh sang sahabat dengan lirik yang tak kalah absurd.
"Bejir! kira aku iron Man apa...makan besi, kenapa gak baja aja sekalian." Protes Ramora menepuk lengan Suzan sepenuh hati.
Membuat gadis itu meringis merasakan rasa panas menjalar di kulitnya.
"Sakit cuk! niat amat mukulnya," protes Suzan kesal sambil mengusap lengannya yang terasa perih.
"Makanya kalau ngampus baju tuh yang bener. Gak kebayang perasaan babe lo di kampung kalau tau style anak gadisnya di kampus kaya gini." Ujar Ramora menarik pelan baju yang Suzan pakai.
"Ishh! apaan sih. Ini tuh namanya fashion, Ramora sayang." Bela Suzan membela diri.
"Fashion juga ada tempatnya, gak di kampus juga. Kamu udah kaya ayam kampus aja pakai baju ginian.. Pasti hasil pedekate sama si PK itu kan?" tuduh Ramora ngegas.
"Kok ngegas kau nona. Ini tuh gak ada hubungannya sama Ramli ya, enak saja. Aku saja yang mau tampil stylish, kece and seksoy. Apa salahnya coba merubah penampilan biar makin cantik," cerocos Suzan memberikan pembelaan terhadap perubahan penampilannya.
"Alah! gak percaya saya, sama anda nona. Semua ini pasti karena permintaan si Ramli itu. Awas saja dia, berani mengubah sahabat saya jadi seperti seekor ulat bulu begini." Ujar Ramora menggebu gebu.
"Eh eh...mau kemana? awas aja ya berani macam macam sama ayang Ramli, auto putus persahabatan." Ancam Suzan membuat Ramora memicing tajam.
"Oke! deal ya, tapi si Ramli kudu aku buat babak belur terlebih dahulu biar hatiku puas." Ramora meninggalkan Suzan yang masih termenung. Setelah menyadari sahabatnya tak agi terlihat, Suzan panik bukan main.
Perubahan penampilannya memang atas permintaan sang pacar. Ramli berpendapat penampilan Suzan norak dan kampungan. Untuk itu demi mempertahankan hubungan yang baru seumur jagung tersebut, Suzan rela merubah style nya yang sedikit tomboi menjadi feminim.
"Haduh! bisa bahaya nih kalau sampai si Ramora ketemu yayang Ramli terlebih dahulu. Auto babak belur tar ayang akuh," monolog Suzan panik sendiri.
Beberapa kali gadis itu mencoba menghubungi Ramli namun tak di jawab. Suzan semakin gelisah.
"Mar! Amar! lihat Ramli tidak?"
"Gak tuh, bukannya tadi jalan sama kamu?" tanya Amar balik. Amar adalah teman geng Ramli.
Suzan terlihat kebingungan untuk menjelaskan tentang pertengkaran kecilnya dengan Ramli sehingga mereka berpisah.
"Tadi Ramli katanya ada keperluan dengan anggota BEM, jadi kita pisah depan kampus." Alasan Suzan tersenyum kikuk.
Amar terlihat kebingungan karena dirinya baru saja dari ruangan BEM, dan tak melihat Ramli di sana. Tapi pemuda itu tetap mengangguk pelan.
"Ya sudah aku pamit cari Ramli dulu ya Mar," ujar Suzan lalu berjalan cepat meninggalkan Amar yang masih memandangnya heran.
"Aneh, ruangan BEM kan di sebelah sana." Tunjuk Amar ke arah yang berlawanan daei arah yang di tuju oleh Suzan. Namun pemuda itu tak ingin menggubris urusan orang lain.
Di tempat lain, Ramora masih merekam adegan panas di hadapannya dengan senyum jijik.
"Yang gini nih bikin kamu jadi kaya ondel-ondel kampus, Suzan Anak kesayangannya babeh." Setelah puas merekam aksi tak pantas di hadapannya, Ramora lantas mendorong pintu gudang kampus dengan sekali hentakan.
Membuat kedua insan yang sedang bekerja bakti tersebut terkejut bukan main. Pendakian baru saja di mulai, rasa lelah belum terbayarkan, tapi harus terjeda oleh kehadiran Ramora yang bagai hujan badai menerjang perjalanannya menuju puncak tersebut.
"Tambora!" bentak Ramli kelabakan. Pemuda itu segara menutup paksa celana jeansnya sedangkan lobak lokalnya tersiksa dalam ketatnya celana jeans Ramli.
"Kamu masih mau ngang kang gitu? gak malu sama jengger ayam dowermu itu?" tunjuk Ramora kepada gadis yang masih mematung dalam posisi yang sama.
Mendengar penuturan Ramora dengan gerak cepat gadis tersebut membenahi pakaiannya.
Wajahnya memerah karena malu atas hinaan yang di lontarkan oleh Ramora. Gadis paling legen di kampus tersebut karena tak memiliki rasa takut terhadap apapun.
"Kamu ngapain sih kemari segala?!" sentak Ramli yang masih berusaha mengatur deru nafasnya yang memburu.
"Ini kampus keluarga aku, kamu lupa? kasian banget, mau n***e gak modal. Di gudang pula, harga diri lo berapa sih? sini aku yang bayarin, sekalian aku sewa kamar hotel termahal di kota ini supaya kalian bisa ber*cinta sepuasnya tanpa khawatir bakal ketahuan kaya gini. Dasar sampah!"
Mendengar hinaan keluar lancar dari mulut Ramora membuat Ramli panas dalam. Pria itu melayangkan telapak tangannya namun sebelum sampai, Ramli harus merasakan sensasi pelintiran yang Ramora lakukan secara reflek tanpa dia sadari gerakan cepat gadis itu.
"Awww! lepasin gue Ra! lo gila ya!" bentak Ramli marah.
"Laki laki kalau sudah berani main tangan sama cewek, itu tandanya dia banci. Sama kaya lo, dasar banci! jijik gue liat lo di kampus keluarga gue," ujar Ramora penuh keberanian.
"Ra! lepasin Ra..! ya ampun Ra, kamu apa apaan sih!" Suzan tiba tiba datang lalu melepas paksa cengkraman Ramora pada kekasihnya.
"Cowok sejati ini nih yang bikin kamu berubah kaya badut. Lihat tuh di sana, bungkusan permen karet anti jebol punya pacar kamu ini masih belum sempat kepake. Pakai tuh, kalo kamu sesayang itu sama dia. Lanjutin bertiga sekalian sama tuh cewek!" tunjuk Ramora ke arah gadis yang masih berdiri di dekat meja bekas di sudut ruangan.
Suzan menatap tak percaya pada kekasihnya. Raut kekecewaan langsung terpancar di wajah Suzan. Pacar yang dia bela ternyata tak lebih dari seorang ba jingan.
"Cowok sampah lo!" maki Suzan meluapkan rasa kecewanya.
"Lanjutin noh, mumpung ada yang mau ladenin barang murah kayak lo!" Suzan menarik lengan Ramora keluar dari dalam gudang.
Sedangkan Ramora malah menjulurkan lidahnya ke arah Ramli dengan senyum mengejek.
"Cewe cewek breng sek!" kesal Ramli marah.
Di tatapnya gadis yang masih berdiri ketakutan di pojokan ruangan.
"Lo! lanjutin lagi, gue udah bayar lo enak aja udahan." Ramli benar benar tak layak di sebut pria sejati. Di saat keadaan genting pun, pria itu masih sanggup melanjutkan aktivitas adu mekanik tersebut tanpa rasa bersalah sedikitpun.
To be continue
Semoga terhibur guys
Slow update ya
Penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose-Ana