"Aanya udah bangun, Neng?" tanya Bunda saat melihat Mika yang memasuki dapur.
Mika mengangguk pelan, "Udah, Bun. Lagi mandi," jawabnya seraya menuangkan air ke dalam gelas dan meminumnya dengan tergesa seolah baru menemukan oase di tengah gurun.
"Minumnya sambil duduk dong, Neng!"
Mika hanya menunjukkan cengirannya saat bunda menegurnya.Untungnya Bunda bukan tipe mertua jahat atau sering menuntut ini itu kepada menantunya, bahkan bunda tipikal mertua yang sangat baik dan memperlakukan menantunya seperti anak sendiri.
"Hehe ... maaf, Bun. Abisnya Mika haus banget."
Mika menghampiri Bunda yang sepertinya tengah sibuk memasak. Wanita itu menggaruk kepalanya kikuk, saat tidak mengerti dengan segala yang berhubungan dengan dapur. Karena di rumahnya ia seorang tuan putri yang segala kebutuhannya sudah disiapkan pelayan, terlebih lagi papinya over protective yang melihat ia memasuki dapur saja seperti ia akan membakar dapur. Yeah, meskipun ia pernah satu kali membuat dapur terbakar. Mika memang jagonya hanya makan, dibandingkan memasaknya ia nol besar.
"Boleh Mika bantu, Bun?"
"Nggak papa, Bunda biasa masak sendiri. Lagian kata Dira, Mika di rumahnya udah kayak tuan putri. Jadi Bunda ndak enak nyuruh-nyuruhnya."
Dasar Dira ember!
"Malah Mika yang nggak enak sama bunda. Menantu Bunda ini nggak bisa apa-apa," ucap Mika dengan raut wajah sedih.
Terbiasa hidup enak dan dimanja, membuat Mika tidak tahu menahu dengan pekerjaan rumah tangga. Di mansion keluarganya dipekerjakan puluhan maid yang bertugas membersihkan seluruh mansion, jadi ia tidak perlu bersusah payah mengerjakan sendiri. Dan saat seperti ini membuat Mika insecure, padahal biasanya Mika menjadi manusia over PD. Selain itu, ada sebuah kesedihan dalam hatinya ketika melihat dapur yang harusnya terdapat penampakan seorang ibu rumah tangga, akan tetapi tidak pernah ia temukan ketika berada di rumah.
Meski demikian, Mika tak pernah menunjukkan kesedihan itu dihadapan sang papi. Karena selama ini papi Mika selalu berusaha menjadi sosok ayah sekaligus ibu baginya, walau tentu saja ada beberapa peran seorang ibu yang tidak akan pernah bisa tergantikan oleh siapapun.
Bunda tersenyum dan mengusap kepala Mika dengan lembut, "Wajar dong menantu Bunda kan putri satu-satunya, jadi apapun yang Mika mau pasti dipenuhi papi Mika."
Mika cemberut, "Iyah Bunda, tapi papi tuh kadang nyebelin. Masa Mika masuk dapur aja dilarang? Semua pelayan nggak bolehin Mika masuk dapur. Gara-gara Mika pernah bikin dapur kebakaran," curhat Mika.
Bunda terkekeh mendengar penuturan Mika, "Nanti juga Mika bisa kok, asalkan Mika mau belajar."
"Siap, komandan."
"MIKA!"
Mika dan Bunda langsung terlonjak kaget saat mendengar teriakan Mahen disusul pemilik suara yang berjalan ke arah mereka dengan rambut yang masih basah dan memakai pakaian biasa.
"Aa, jangan teriak-teriak! Masih pagi, nggak enak didengar tetangga," tegur bunda.
Mahen hanya bergumam mendengar teguran bundanya, lalu menarik tangan Mika tanpa menghiraukan protesan wanita itu. Ternyata Mahen membawa Mika ke kamarnya dan menunjuk ke arah lemari, tanpa mengeluarkan suara yang tentunya membuat Mika bingung. Dikira ia cenayang, bisa paham apa yang dimaksud tanpa Mahen mengeluarkan suara.
Mahen berdecak, "Siapkan pakaian kerja saya!"
Mika dibuatnya melongo. Jadi, pria itu berteriak di pagi hari dan menyeret Mika ke kamar hanya untuk menyiapkan pakaian kerjanya. Benar-benar menyebalkan! Tanpa kata tolong dan memerintah seenak jidatnya, ia pikir dirinya pembantu. Dan yang benar saja! Mereka baru menikah, tapi laki-laki itu langsung kerja satu hari setelahnya.
Oke, kalian semua jangan salah paham. Bukan maksud Mika ingin bermesraan dengan suami dadakannya itu. Karena melihat keberadaan pria itu saja Mika sudah kesal setengah mati. Akan tetapi, setidaknya pria itu menghargai pernikahan paksa mereka dan pernikahan yang tidak diharapkan ini.
"Lo kan punya tangan! Ngapain nyuruh-nyuruh gue."
Mahen kembali berdecak melihat istrinya yang sudah membangkang di hari pertama pernikahan mereka. Benar-benar jauh dari kata istri idaman yang ia harapkan.
"Apaan nih?" ujar Mika bingung setengah kesal saat Mahen memberikan ia kertas yang mirip struk pembayaran.
Mika tidak habis pikir! Jangan-jangan pria itu memberikan ia bon hutang agar ia lekas membayar hutang-hutang pria itu. Jika memang benar, maka Mika akan langsung menuntut suaminya itu atas nama pemerasan. Kalau perlu ia langsung menggugat cerai dan juga meminta pembagian harta gono gini.
Tuk
Mahen mengetuk kening Mika saat melihat raut wajah aneh wanita itu. "Jangan berpikir yang aneh-aneh! Kertas itu berisi, apa yang kamu boleh lakukan dan tidak boleh dilakukan sebagai istri saya."
"Semacam perjanjian?"
Mahen menggeleng, "Liat saja isinya," ujarnya seraya melenggang ke kamar mandi dengan membawa pakaian kerjanya.
"Mahen!" teriak Mika kesal.
Isi dari kertas mirip struk pembayaran yang panjangnya hingga menyentuh lantai, bahkan sampai mengalahkan kasbon hutang di warteg. Dan isi kertas itu kebanyakan adalah perintah menyebalkan. Kebanyakan berisi tentang kewajiban Mika sebagai istri Mahen, bahkan hal remeh seperti membukakan atau memasang sepatu Mahen saat laki-laki itu akan pergi dan pulang kerja. Benar-benar niat menjadikan Mika asisten pribadi!
Mika tidak habis pikir. Bukankah sebelum adanya ia dalam hidup pria itu bahkan dalam sekejap berstatus sebagai istrinya, Mahen tentu bisa melakukan hal-hal itu dengan kedua lengannya. Lalu, mengapa kini ia yang harus repot melakukannya? Hell! Mika di sini berstatus sebagai istri, bukan sebagai pembantu.
Meskipun begitu, Mika tetap menjalankan kewajiban dan perintah dari suami dadakannya itu. walaupun ia mengerjakan dengan wajah cemberut dan hati yang kesal. Sebenarnya Mika tahu bahwa ketika melaksanakan kewajiban seorang istri hatinya harus ikhlas, jangan setengah-setengah karena nantinya pahala yang ia dapatkan bisa berkurang. Namun, sebagai seorang manusia Mika tidak bisa menghilangkan kekesalan dalam hatinya. Terlebih lagi saat melihat wajah mengejek milik Mahen.
"Muka Teteh kenapa? Kok cemberut gitu?" tanya Uti yang baru saja masuk ke ruang makan dan duduk di samping Mika yang wajahnya terlihat masam, berbanding terbalik dengan Aanya yang justru terlihat cerah.
Mika hanya menggelengkan kepala dan menatap Mahen dengan tatapan permusuhan. Akan tetapi, raut wajah pria itu tetap lempeng dengan mata yang memberikan isyarat. Mau tak mau membuat Mika langsung mengingat isi kertas itu.
"Loh ini kenapa diam-diam?" Bunda datang dengan membawa teko berisi air, lalu duduk di samping Mahen.
"Teteh sama Aa lagi pada sariawan," ucap Uti yang langsung mendapat pelototan dari Mika dan Mahen, membuat bunda terkekeh pelan.
"Hmm ...."
Mahen berdehem memberi kode kepada Mika saat Uti dan Bunda sudah mengisi piringnya masing-masing, ia menyodorkan piringnya pada Mika.
"Iyah, Aa Prabu. Jadi orang yang sabar," ucap Mika sarkas seraya mengisi piring Mahen dengan nasi dan berbagai lauk juga sayur hingga piring itu penuh.
"Terima kasih, Adinda Ratu," ujar Mahen seraya menerima piring dan menyendok makanan.
Uti dan Bunda saling berpandangan lalu terkekeh pelan. Pasangan suami-istri di hadapan mereka sangat lucu juga menggemaskan.
“Ya ampun kok Aa sama Teteh so sweet banget. Baru sehari nikah udah punya panggilan sayang.”
“Uhukk ... uhukk.” Mika dan Mahen langsung terbatuk-batuk.
Uti bersorak dalam hati melihat bagaimana pasangan suami-istri baru itu terlihat salah tingkah ketika digoda olehnya. Tentu saja hal ini membuat Uti semakin bersemangat untuk menggoda keduanya.
“Jangan sembarang yah, Dek!”
“Anak kecil nggak usah sok tau!”
Kali ini keduanya kompak menyahuti perkataan Uti dan membuat gadis remaja itu semakin gencar menggoda keduanya. Sungguh mengasyikan.
“Cie ... cie ... ngomong aja kompak gitu.”
Mika dan Mahen saling berpandangan sebelum akhirnya sama-sama membuang wajah. Tentu saja Mika tidak sudi memandang wajah Mahen yang semakin hari semakin terlihat menyebalkan di matanya. Ia kompak dengan Mahen? Kata-kata yang terdengar mustahil di telinganya. Jangankan untuk kompak, bahkan hanya sekadar akur saja susah. Mereka itu seperti sudah ditakdirkan menjadi sepasang tikus dan kucing, akur tidak tapi ribut iyah.
"Uti baru sadar, kalau muka Aa ada baretannya. Padahal semalem nggak ada," ucap Uti ke kelewat polos yang membuat bunda kembali terkekeh dan pasangan suami-istri itu salah tingkah.
Mika meringis dalam hati saat melihat adanya goresan panjang di pipi Mahen, lalu melirik kukunya yang sedikit panjang. Mengapa tadi ia tidak sadar? Dan sepertinya pria itu juga tidak menyadarinya. Oke, Mika tidak perlu merasa bersalah karena membuat luka goresan di pipi Mahen. Bahkan, itu terlihat tidak setimpal dengan semua bercak kemerahan nyaris membiru di hampir seluruh tubuhnya. Oh, jangan lupakan juga bahwa pria itu membuat ia nyaris tidak bisa berjalan dan rasa sakitnya masih terasa hingga saat ini.
"Teh Mika, kayaknya di kamar Aa banyak serangga yah?" Uti kembali bersuara dengan wajah polosnya.
"Hah?" Mika terbengong.
"Itu sampe leher teh Mika merah-merah. Pasti digigit serangga."
"UHUKK ...."
Selanjutnya, perkataan kelewat polos yang Uti keluarkan membuat Mika dan Mahen sama-sama tersedak makanan untuk kedua kalinya.
"Bun, Mahen berangkat dulu yah," ucap Mahen seraya mengucap punggung tangan bundanya.
"Bun, Mika anter Aa keluar dulu yah," ucap Mika dengan salah tingkah mengikuti Mahen dari belakang.
"Bun, Aa sama Teteh kenapa?" tanya Uti heran saat melihat Mika dan Mahen yang berlalu dengan tergesa-gesa dan terlihat salah tingkah.
Bunda terkekeh, "Bunda ke dapur dulu."
Uti bertambah heran dan juga bertanya-tanya dalam hati. Memangnya apa yang salah dari perkataannya? Kenapa semua penghuni rumah terlihat aneh? Padahal Uti merasa kasihan pada kakak iparnya itu, jika memang benar di kamar kakaknya terdapat serangga. Bahkan Uti berniat untuk membelikan obat anti-serangga atau kalau perlu racun tikus.
Uti menggaruk kepalanya, "Emang Uti salah ngomong?"
Uti tidak tahu saja bahwa kakak ipar yang katanya akan ia belikan obat anti-serangga itu tengah mengumpatinya dalam hati. Mengingat betapa polosnya pemikiran Uti dan wajahnya yang tanpa dosa membuat Mika kesal sekaligus dibuat gemas, gemas ingin mengotori otaknya yang masih seputih salju itu dengan kebobrokan dirinya.
“Gemes banget sih tuh adek ipar, pengen gue jitak,” ucap Mika pelan.
“Apa? Kamu mau jitak saya?”
Yang dibicarakan siapa yang menyahut siapa. Susah memang jika telinganya isi kabel semua, bawaannya nyambung terus padahal beda server.
Mika memutar bola mata, “Halo, dengan Aa Prabu? Maaf anda salah sambung” ujar Mika seolah tengah melakukan panggilan dengan telepon.
Mahen mendengus dan seolah tidak ingin kalah ia pun mengikuti apa yang tengah Mika lakukan, “Maaf, sisa pulsa anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini,” ucap Mahen dengan wajah datar.
“Suami nggak waras!”
“Istri gelo!”