2

1043 Kata
Alika akhirnya selesai sarapan dengan telinga yang terus menerus mendengar godaan dan juga sindiran di antara kedua orangtuanya yang masih mencoba bertingkah bak pasangan baru menikah. Alika tersenyum kala memperhatikan interaksi manis ayah dan ibunya ketika dia dan ayahnya, Renald. Alika melambaikan tangannya dengan kebahagiaan yang terpancar jelas, mobil mewah yang digunakan oleh Renald ke kantor membuat Alika merasa nyaman dan sekaligus tenang. Di mobil ada camilan ringan serta minuman yang diletakkan Renald untuk anak dan istrinya. "Yah, bagaimana kalau kepergian kita besok ditunda dulu." Alika akhirnya berbicara. Tiba-tiba saja Alika mengingat bisikan lemah tadi malam, entah kenapa saat melihat jalan yang mereka lalui Alika akhirnya kembali mengenang peristiwa aneh tadi malam. "Mana bisa diundur Sayang! Kamu tahu kan kalau ayah jarang mendapatkan kesempatan seperti ini untuk bisa pergi bersama keluarga kita. Ya walau sebenarnya harus ada ketiga kakakmu juga sih," ujar Renald dengan sedikit kekecewaan dalam nada suaranya. Alika memilih diam sembari melihat hilir mudik orang-orang di jalan. Alika memperhatikan pohon-pohon dan bunga yang menghiasi taman jalan yang mereka lewati. Ada beberapa orang yang duduk di kursi yang disediakan di tepi jalan itu. "Kakak kenapa enggak mau tinggal di rumah bareng kita sih, Yah? Mereka sibuk sendiri sampai lupa jalan pulang," keluh Alika dengan nada bosan tapi ada sedikit kebencian terselubung dalam ucapan yang ia lontarkan. "Huh mereka itu akan pulang jika ayah dan ibumu sudah tiada. Mereka benar-benar bukan anak yang berbakti, untung kami memiliki anak perempuan yang cantik dan manis seperti dirimu, dibuang pun mereka tidak akan marah sama sekali." Renald mendengus tidak suka saat berbicara tentang tiga kakak Alika. Alika yang mendengar pujian serta kemarahan ayahnya, Renald yang bisa tersenyum kecil. Di mata ayahnya, Alika adalah permata sekarang dan kakaknya hanyalah imitasi yang tidak layak dipandang. Bagaimana mereka tidak akan kesal saat orangtua mereka selalu membandingkan mereka dengan adik bungsunya yang pandai mengambil muka ini. Akan tetapi rasa sayang di antara keempatnya tidak diragukan lagi. "Ayah tidak boleh berbicara seperti itu, Alika masih membutuhkan Ayah dan Ibu di sini jadi, jangan yang berpikir macam-macam. Atau Ayah ingin Alika marah pada Ayah." Mata kecil bulat milik Alika memicing, jemari kecilnya memegang bahu Renald sebelum dengan kuat mencubit Renald. Hal itu sukses membuat Renald memekik dan sopir keluarga menjadi melihat tingkah unik mereka berdua. "Ayah enggak akan meninggalkan kamu, kalaupun Ayah pergi masih ada ketiga kakakmu yang akan menjagamu Alika. Kau harus menyusahkan mereka dan kau harus membuat mereka berubah menjadi yang lebih baik. Kalau Ayah dan Ibu sudah tidak ada lagi kamu tidak boleh tinggal di rumah itu lagi, mengerti!" Renald meraih tangan Alika. Ada cinta, kelembutan, ketulusan dan kasih sayang yang nyata di sana. Tidak ada kepalsuan dalam pandangan mata itu hingga membuat Alika merasa tenang sebelum tiba-tiba saja Alika mendengar tiga ketukan lagi di jendela dengan suara yang begitu pelan. Alika mengalihkan pandangannya ke jendela hanya untuk menemukan kekosongan di sana. Angin pun bahkan tidak terdengar kuat sama sekali. "Jangan pergi dua hari lagi, kalau kau pergi maka kau akan melihat tragedi berdarah." Suara lembut nyaris tidak terdengar memasuki telinga Alika membuat Alika merasakan bulu kuduknya berdiri. Lagi, kali ini Alika mendengar suara itu dengan sangat jelas. Sepertinya suara itu ingin menghentikan Alika untuk pergi menjauh. "Ayah denger enggak suara barusan?" Alika menatap Renald yang duduk di sebelahnya. Mata Alika memicing seolah berkonsentrasi agar suara itu kembali terdengar lagi. Namun, sekuat apapun Alika mencoba suara itu tidak lagi ada seolah itu hanya angin lalu yang berdengung di telinganya sebentar. Renald mencoba mendengarkan suara di sekitar namun dia tidak dapat mendengar apapun selain suara angin yang berhembus. Apalagi kaca mobil diturunkan hingga angin semakin kencang menerpa wajah Alika dan Renald. "Enggak, Ayah enggak dengar suara apapun. Kamu salah dengar kali," ejek Renald dengan mata memutar malas. Alika mencoba mendengarkan dengan saksama lagi akan tetapi suara wanita itu memang benar menghilang. Memang hanya ada suara angin kencang yang menerpa kulitnya. Akhirnya Alika memilih diam dan duduk manis meski Alika merasa gelisah dengan peringatan yang sudah dua kali ia terima itu. Alika tidak tahu apakah itu benar-benar hantu atau hanya sekedar gangguan kecil dari angin saja atau bisa jadi Alika berhalusinasi. Alika melangkah memasuki pekarangan sekolah setelah mobil ayahnya, Renald berhenti di depan gerbang sekolah. Ini adalah kebiasaan Renald yang sejak dulu, Renald hanya akan mengantarkan Alika sampai di depan gerbang dan pergi kemudian dengan cepat. "Aku katakan padamu untuk tidak pergi dengan orangtuamu. Garis takdir mereka sudah jelas berbeda denganmu, kau hanya akan melihat peristiwa berdarah saja jika kau pergilah." Suara itu terdengar lagi ketika Alika melangkahkan kakinya lebih dalam ke lagi menuju sekolah. Alika merasakan perasaan hangat menerpa wajahnya seperti ada sesuatu yang berdiri di depan dirinya menghalangi Alika untuk berjalan lebih jauh lagi. Kali ini bulu kuduk Alika berdiri secara teratur, wajah Alika seperti tebal seolah ada es yang mengenai wajahnya. Alika merasakan panik, keraguan menyerang hatinya memaksa Alika untuk percaya dengan apa yang dia dengar. "Kau mau apa?" bisik Alika kali ini. Alika melihat sekeliling takut dia akan disangka gila oleh orang lain atau teman-teman sekelasnya. Alika mencoba merasakan asal suara tapi dia tidak bisa mendeteksi di mana itu berpusat. "Aku hanya ingin mencegahmu pergi, jangan ke sana! Di jalan, orangtuamu akan mengalami sesuatu yang sudah ditentukan pada mereka." Suara itu kembali bergema dengan halus di telinga Alika membuat Alika benar-benar merasa mati rasa. "Kenapa? Kalau memang belum takdir seharusnya aku bisa menghentikan semua itu. Kalau kau memang pintar kenapa kau tidak bisa mendeteksi kematianmu sendiri atau keluargamu, kenapa kau malah mencegah diriku?" tanya Alika dengan nada dipenuhi sarkasme. Bibir Alika mencibir, muak dengan suara-suara halus yang terus menganggu dirinya beberapa hari ini. Alika kembali melangkahkan kakinya setelah lama berdiri diam di lapangan luas itu seperti orang bodoh. "Aku ingin mencegah mereka, aku ingin menghalangi mereka tapi aku bukan Tuhan yang tahu segalanya. Aku juga ingin berbicara dengan yang lain tapi hanya kau yang bisa mendengar suaraku. Itu sebabnya aku mengejar dirimu," ujar suara itu dengan nada penuh dengan kesedihan. Alika mengangkat alisnya setelah mendengar ucapan itu. Memang, sejak kecil ia sudah bisa mendengar dan merasakan hal seperti ini. Akan tetapi Alika tidak pernah melihat wujud dari hantu atau makhluk halus yang menganggu dirinya siang dan malam itu. Makhluk halus yang selalu ada di sekitar tempatnya pergi. Berada di sekitar kita tapi kita tidak bisa melihat mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN