Suasana duka menyelimuti pemakaman Jingga sore ini. Beberapa anggota keluarga yang ikut mengantar satu persatu mulai meninggalkan area pemakaman menyisakan Rey yang belum ingin beranjak. Dia menunduk menatap pusara sang istri yang bertabur bunga. Mengusap batu nisan yang beberapa saat lalu baru dipasang. “Kamu tau apa yang aku rasain sekarang?” Bulir bening itu sudah tak bisa lagi dia bendung. Membentuk aliran sungai yang memenuhi setiap inci wajah pria itu. “Aku hancur, Sayang ... aku rapuh tanpamu.” Bahu kokoh itu kian bergetar karena tangis. “Kenapa kamu tega tinggalin aku sendiri?” Masih lekat dalam ingatan saat mereka merajut cinta, bercengkrama dan bercanda bersama sebelum masalah demi masalah menghampiri rumah tangga mereka. Rey menyesali waktu yang terlewat. Seharusnya dia lebih

