Setelah berjalan beberapa kilometer akhirnya mobil yang Bara kendarai berhenti di sebuah apartemen. Lala membuka pintu kemudian berjalan ke belakang, membuka bagasi mobil dan mengambil semua belanjaannya. “Udah sono pergi!” usirnya pada Bara yang tampak bingung. Emang dia sopir taksi? “Sini aku bawain!” Bara hendak meraih paper bag yang Lala pegang saat gadis itu melengos begitu saja meninggalkannya di pelataran gedung. Terkekeh dengan tangan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, Bara merasa bodoh. Enak saja gadis itu mempermainkannya. Lihat saja! Bukan pergi pria itu malah memarkir mobil kemudian membuntuti diam-diam Lala yang tidak bisa berjalan cepat karena banyaknya barang belanjaan. “Astaghfirullah,” serunya kaget mendapati Bara berdiri di sampingnya tanpa merasa bersalah

