26. Jalan

795 Kata

Levin mengelap keringat di dahinya dengan punggung tangan. Kemeja yang ia kenakan sudah digulung sampai siku, dengan tiga kancing teratas yang terbuka. Rembesan keringat mencetak jelas bayangan dadanya. Seraut wajah tampan itu tampak menahan jengkel sedari tadi. Tetap mencoba sotonya meski enggan. Sedang di depannya, ada Alice yang melahap bagiannya sendiri dengan raut bahagia. Astaga. Rasanya Levin merasa sedang berada di neraka sekarang. Bayangkan saja. Mereka harus menunggu sekitar setengah jam ini mendapatkan dua mangkuk soto. Belum lagi harus berdesak-desakan duduk dengan pengunjung lain. Ah, dan jangan lupakan hawa panas yang harus Levin tanggung sedari tadi. Alih-alih kenyang, Levin justru merasa jika dirinya sedang dipanggang hidup-hidup sekarang. "Alice. Kamu masih lama?" Levi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN