Ketika Alice keluar kamar mandi dengan rambut basah, Levin sudah berada di kamarnya dan duduk dengan tenang di atas ranjang. Diam, dengan kedua tangan terlipat di atas paha seolah menunggu. Ya, dan, tentu saja. Alice mensyukuri kebiasaannya yang selalu membawa baju ganti ke dalam kamar mandi. Alice melenggang santai melewati Levin dan duduk di depan meja riasnya, menyalakan pengering rambut. Tentu saja Alice sadar jika mata setajam elang itu mengikuti pergerakannya sedari tadi. Dan Alice, jujur. Masih berusaha bersikap secuek mungkin. Sampai kemudian, Levin sudah berdiri di brlakangnya dengan manik mereka yang saling mengunci di dalam cermin. Raut muka pria itu terlihat datar. "Aku minta tolong padamu, Alice. Hargai aku sebagai seorang suami. Meski tidak mudah, tapi mulailah terbiasa

