Reuni

1772 Kata
Meidinda Rajingga   " Wid... Wiwid... " teriakku sambil melambaikan tangan ke arahnya. Yang dipanggil juga langsung menoleh ke arahku dan ikut melambaikan tangan. Hanya kurang dari lima menit akhirnya kami bertiga bisa berkumpul kembali. Widya berteriak dan memelukku erat sambil mencium pipi kanan dan kiriku, kami berpelukan kembali habis setelah berpegangan tangan dan bilang. "Ihhh... Kangen". "Udah lah, sekarang gantian, kapan nih saya dipeluk? Tanya Ari ngeledek sambil merentangkan kedua tangannya. "Iih... Sorry ye, bukan mahrom. Iga aja tuh yang peluk kamu, perwakilan, dia kan saudaramu", jawab Widya kesal. Ternyata teman-teman sebaya kami banyak yang ikut mudik liburan semester ini berbarengan satu pesawat dengan Widya. Kami saling bertegur sapa, ngobrol sebentar dan tertawa riang, kemudian berjanji untuk kumpul kembali esuk harinya. Sebagian besar dari kami memang pendatang. Ayah dan ibuku berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Barat. Tapi aku dan semua saudaraku lahir dan dibesarkan di kota karang ini menjadikan tanah ini sebagai kampung halaman.Edwin kakakku awalnya tinggal di Sumatra, bertugas sebagai dokter di daerah pedalaman Jambi. Akan tetapi sejak kondisi kesehatan ayah menurun selama dua tahun ini, maka ayah dan ibuku menyuruhnya kembali pulang ke kota kecil kami. Ayik sendiri ayahnya berasal dari Sumatra Selatan sementara ibunya yang juga merupakan sahabat ibuku berasal dari Semarang. Widya pun sama, ayahnya yang berasal dari Jawa Timur, sementara mamanya berasal dari Sulawesi Utara. Aku sangat bersyukur dibesarkan dan menghabiskan masa sekolahku di pulau yang indah dengan kota yang cantik ini. Penduduk kota kecil kami terdiri sari berbagai suku dan etnis selain penduduk lokal. Akan tetapi penduduk lokal mampu menerima pendatang seperti kami dengan baik, asal mereka datang dengan damai dan tidak membawa kekacauan dan keonaran saja. Sadar kalau kami memang berbeda l namun itu tak menjadi penghalang. Sejak kecil kami sangat paham bahwa hidup damai adalah kebutuhan bersama dan harus dipupuk. Jika ada masalah pun harus duduk bersama dan dibicarakan baik-baik. Kami yang pulang merantau di luar pulau kecilku bersepakat untuk reuni sekaligus camping di pantai. Meskipun sudah dua hari hampir tak bisa tidur menyiapkan perlangkapan juga membantu Widya dan Shinta yang jago memasak. Kami membuat bekal nasi liwet dan perlengkapan memasak lainnya. Tapi tak mengapa, semua kulakukan dengan bahagia karena akan berkumpul kembali dengan sahabat-sahabatku. Selama tiga tahun di perantauan, bertemu teman-teman lamanya kemudian piknik , dan tertawa bersama, memancing dan membakar ikan laut hasil tangkapan di pantai seperti dulu saat mereka masih SMA adalah impiannya selama di perantauan.     Walau kota di pulau kecil Papua, tapi daerah ini memiliki HDI ( human development index atau indeks pembangunan manusia) yang cukup tinggi. Setelah lulus SMA, maka akan menjadi kebanggaan keluarganya kalau anaknya bisa kuliah di Jawa, apalagi jika diterima di perguruan tinggi negeri dengan beasiswa atau sekolah-sekolah kedinasan milik pemerintah.   *****   Hari itu langit cerah. Aku, Ari dan Wiwid sudah bersiap setelah lepas sholat subuh. Waktu baru menunjukkan 05.10 tatkala aku menjalankan mesin jeep willys keluar dari garasi rumah. Sewaktu  kecil dulu, aku dan Mas Edwin menamai Jippy pada mobil Jeep milik Ayah. " Si Jippy sudah Ayah service minggu lalu, Ga. Kamu jadi mau ke daerah rumah Oma Ana?" " Ya jadi lah Yah. Kan tadi malam Iga udah bilang sama Ayah kalau mau camping sama teman-teman. " " Nanti lokasi campingnya jangan jauh-jauh dari rumah  Oma ya!"  " Siap Yah.." " Ga, Ayah tahu kalau jalanan kota Bandung itu tiap hari macet. Tapi bukan alasan untuk kamu balas dendam dengan ngebut begitu lihat jalanan di sini sepi ya." Ayah seolah tahu apa yang aku pikirkan. Aku cuma bisa nyengir sambil mencium tangannya tanda ijin untuk berangkat. " Kalian semua juga hati-hati ya. Iga diingatkan nggak boleh ngebut," Ucap ayah sambil memandang teman-temanku lainnya yang sudah ada di dalam mobil. " Siap Yah", sahut mereka. Ayah tersenyum melihat kami. Aku mengoper persneling dan mulai memundurkan mobil keluar dari garasi. Teman-teman dekatku apalagi yang tinggal satu kompleks perumahan denganku, ikut memanggil ayah karena saking seringnya mereka main di rumahku dan diajak piknik ibu dan ayahku. Kujalankan mobil antik peninggalan kakekku ini dengan perlahan. Aku memang tidak mau terburu-buru, karena tidak ingin melewatkan pemandangan pagi kota kecilku dan udara yang masih teduh. Kami beriringan empat mobil. Aku, Ari, Marco dan Deny yang memegang kendali kemudi tiap mobilnya. Meskipun sudah tergolong antik, si Jippy peninggalan kakekku masih yahud mesinnya dan bunyinya tergolong 'lembut'. Ayah membawanya dari Yogya dan sangat telaten merawatnya. Setelah menjemput Alex, Sodiq, Ayu dan Memey, rombongan kecil bergerak menuju timur luar kota. Sepanjang jalan kami bertukar cerita tentang kehidupan kami di perantauan. Diselingi canda tawa, dan senandung bersama kami mengikuti alaunan musik di radio, apalagi kalau lagunya kenangan kami saat SMP dan SMA dulu.  Dua jam sesudahnya sampailah kami di desa kecil nelayan. Di sana. Kampung halaman Marco. Kami menghentikan mobil di pekarangan rumah nenek dan kakek Marco, yang biasa kupanggil oma Ana dan opa Philipus. Kakek dan nenek Marco menyambut kami di depan pintu. Nenek Marco langsung memeluk dan menciumiku setelah kucium punggung tangannya. Tatkala kutarik wajahku, ada cairan mengalir dari mata nenek, sambil tersenyum dia berkata: " Nona Iga, kamu tambah cantik dengan kerudung ini. Oma sampe pangling". Aku tersenyum dan memeluknya lagi. "Tadinya Oma kira kalau Nona sudah tidak mau peluk Oma lagi karena sudah pakai kerudung." "Aih Oma kenapa begitu ka, saya tetap Iga, cucu Oma yang dulu. Kerudung ini hanya saya mau menunaikan kewajiban saya mengikuti ajaran agama saya. Saya masih tetap sayang sama Oma Ana dan Opa Philip, juga Fransiska." Oma memegang kedua pipiku, air matanya bergulir kembali disertai senyum. "Kenapa ka Oma Ana menangis? Katanya rindu sama saya, tapi menangis. Oma tra suka ka saya ke sini?" Dengan cepat Oma menggelengkan kepalanya. " Tidak...tidak, Oma terlalu rindu sama Nona Iga. Kenapa lama sekali di Jawa baru kembali sekarang ka? Marco saja tiga tahun ini su kembali dua kali. Oma pikir Nona su berubah karena su pake kerudung. “ Dia terdiam sesaat memegang kedua pipiku dan mengamati wajahku dari dekat. Aku menunggu apa reaksi selanjutnya. “Ternyata kamu tetap nona Iga yang dulu cantik dan lincah. Oma sangat bahagia makanya Oma menangis. Kamu jangan salah sangka dulu." Aku memeluknya lagi. "Oma, Iga juga rindu sekali sama Oma, Opa juga Fransiska." Aku kaget karena tiba-tiba ada yang memelukku dari belakang. " Kak Iga, ko lupa saya kah? Sa juga rindu ko, Kaka!" Tubuhku menegang. Setelah Siska merenggangkan pelukan, aku berbalik menghadapnya lalu kami berpelukan kembali. " Siska, sa juga kangen ko sekali."  Kueratkan rangkulan padanya. Setelah itu kami berhadapan lagi sambil berpegangan tangan dan saling tertawa. " Macam sa mimpi eh... bisa ketemu ko lagi." " baru kenapa Kaka lama sekali baru pulang Ka? Macam kak Marco saja!" " Ehem... trada yang mau peluk sa (saya, orang Papua sering menyingkatnya) ka? Sa juga baru datang nih." Marco sudah berada di belakang kami. Oma dan Fransiska memeluknya. Lagi-lagi Oma menangis haru memeluk cucunya. Ketika Mario lepas dari pelukan Oma dan Siska, dia menghadap Opa Philips.  " Baru ko (kamu) kenapa sudah datang dua hari yang lalu tapi tara langsung kemari ?" Opa berkata dengan berkacak pinggang. Mario langsung bergegas datang dan memeluk kakaknya itu. " Opaa...." Aku tersentuh melihat pemandangan itu. Setelah selesai acara reuni keluarga ini, Mario mendatangiku. " Baru Nona yang satu ini tra mau peluk Abang ka?" " Iih...Abang? Abang bakso ka? Sa tra mau." Aku berdecih disambut tawa yang lain. " Ah...sa kira nona yang satu ini ada kangen sama Abang yang hitam manis ini ka, jadi minta dipeluk." Ucap Marco sambil menaik turunkan alis matanya, bermaksud menggodaku. " Ah ko sambarang saja." (Ah, kamu asal aja kalau  ngomong / ngaco). " Yah, namanya usaha to, siapa tahu dapat jackpot." Marco mengedipkan matanya padaku. Aku mencebik judes padanya.  " Jackpot? Ini baru jackpot!" Aku meninju keras lengannya dan cuma ditanggapi dengan tawa keras olehnya.    Keluargaku telah lama mengenal dan bersahabat dengan Marco dan keluarganya semenjak kepindahan tugas ayah ke pulau ini dari ibukota propinsi dahulu. Papa dan mama Marco telah lama meninggal dalam sebuah kecelakaan sejak ia masih duduk di kelas satu SMP dahulu, kemudian bersama Siska tinggal di sebelah rumahku bersama tante dan omnya. Papa Marco adalah teman satu kantor ayahku. Mereka telah lama akrab, jauh sebelum kami tinggal di pulau ini.  Dahulu sewaktu kecil, kami sering ke rumah Oma Ana dan Opa Philipus, karena mas Edwin selalu meminta berkemah di tepi pantai. Ayah dan  juga selalu mengajak Marco dan Siska adiknya turut serta kalau kami piknik atau berpetualang ke mana saja. Ibu selalu dengan senang hati menyediakan makanan untuk kami semua. Saat kami berpetualang, terkadang aku, mas Edwin atau Mitha adikku membawa teman. Oleh karena itu teman-teman dekat kami , apalagi yang sering ikut dan main ke runah, selalu memanggil orang tuaku "ayah"dan "Ibu".   Dari Opa Philip kami belajar bagaimana caranya berenang, menyelam, mendayung sampan, mengendalikan perahu johnson (speed boat), memancing , menjaring, bahkan menombak ikan. Serta yang paling asyik adalah membaca arah mata angin menggunakan rasi bintang di langit saat malam hari agar tidak tersesat saat di tengah laut. Ayah dan ibu memang sejak dahulu selalu mengajak kami wisata ke alam bebas. Sekedar hiking di bukit lalu camping di sana,  pinggiran sungai, bahkan menginap di pedesaan d luar kota dan berinteraksi dengan penduduk lokal. Hiburan murah meriah dengan nilai edukasi yang tinggi. Tak jarang kami mengikuti aktivitas penduduk lokal setempat masuk dan tinggal beberapa saat di dalam hutan. Dari mereka aku dan saudara-saudaraku belajar bagaimana adat istiadat budaya , berbagai kearifan lokal seperti bagaimaan cara agar kelangsungan hutan agar tetap terjaga. Dari opa dan oma kami jadi tahu cara bertahan hidup dengan mengetahui tanaman dan hewan apa yang bisa dimakan pada kondisi terdesak,  mana tanaman, jamur  yang beracun dan mana yang tidak, serta yang mempunyai khasiat obat, serta bagaimana membuat perlindungan alami untuk menghindari hewan buas berbahaya juga bagaimana menaklukkannya jika keadaan darurat. Ayah dan ibu ingin kami memiliki pengalaman serta pemahaman hidup yang baik , cinta kasih dan menjalin persahabatan yang indah dengan penduduk lokal atau siapapun tanpa memandang ras,  agama dan suku. Mereka ingin kami bisa menjadi agen,  citra muslim yang baik yang membawa kasih dan damai. Ibu pernah bilang, " Ayah dan Ibu melakukan ini agar kalian memperoleh pendidikan dan pengalaman langsung yang mungkin tidak diperoleh saat belajar di sekolah. Namun pengalaman dan pembelajaran ini akan sangat penting untuk sukses kehidupan kalian di masa mendatang". Kebiasaan unik ayah, setelah berpetualang, kami disuruh membuat karangan cerita tentang pengalaman yang baru saja kami alami, dengan rinci dan mengoreksinya. Itu yang aku tidak menyukainya. Karena terpaksa, ya lama-lama jadi biasa kemudian berkembang jadi bisa. Sejak kecil memang sering ikut lomba menulis atau sekedar baca puisi. Bukan karena pintar, tapi lebih karena dipaksa. Mungkin mendidikku itu harus dengan jalan “dipaksa”, karena aslinya aku adalah anak yang pemalas. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN