Meidinda Rajingga
Pulau karang kami memang terkenal sangat indah. Hutannya, air terjun, laut, pantai, danau, sungai, bahkan alam bawah lautpun sangat memukai. Bertepatan akhir bulan ini ada peringatan berakhirnya perang dunia kedua, sehingga kota kami dikunjungi banyak turis dari Jepang. Biasanya mereka mengunjungi Gua Binsari atau Gua Jepang dan monumen peringatan perang dunia kedua. Dahulu saat perang terjadi, maka posisi pulau Biak diperebutkan oleh pihak Jepang dan tentara sekutu untuk dijadikan pangkalan militer. Letak strategis pulau Biak yang menghadap samudera Fasifik ini sangat diperhitungkan.
Gua Binsari ini sebenarnya gua alami yang diketahui tentara Jepang dan mereka gunakan untuk bersembunyi dan tempat bertahan. Awalnya gua ini hanya terlihat kecil tapi memiliki ruangan yang sangat luas di dalamnya. Gua itu seperti sebuah markas sementara yang relatif besar lengkap dengan senjata, amunisi, ransum makanan, sake, bahkan peralatan medisnya. Tentara Jepang juga membangun gua-gua kecil di sekitarnya. Saat aku kecil, pernah mendengar cerita kalau mereka juga bahwa berhasil membuat terowongan yang tembus hingga ke laut.
Saat perang dunia berlangsung antara 1943-1945, pasukan Jepang terdesak oleh sekutu dan akhirnya pulau Biak mampu diambil alih oleh sekutu yang dipimpin oleh jendral Douglas Mac. Arthur. Namun, pihak Jepang masih terus melakukan gerilya dan menyasar pihak sekutu saat mereka melakukan penyusuran wilayah atau tim patroli yang lewat di sekitar gua Binsari. Kecurigaan ini berbuntut dengan jatuhnya bom yang menyisakan lubang dengan diameter sepuluh meter dan kedalaman dua puluh meter pada tanggal 7 Juni 1944. Peristiwa itu mengakibatkan sekitar tiga ribu tentara Jepang tewas.
Biak memiliki bandar udara internasional yang merupakan pintu gerbang paling timur dan dilalui jalur penerbangan luar negeri. Pengembangan pariwisata cukup baik. Karenanya Aku, Alek dan Memey berniat menggalang dana. Seperti yang telah kulakukan di Bandung, kami memilih ngamen dan membuat bazar makanan.
Sudah seminggu ini kami melakukan penggalangan dana di resto dan cafe milik papanya Alex berupa konser amal. Selain itu kami juga melakukan bazaar makanan dan minuman. Shinta dan Rosa yang jago masak menjadi komandannya. Aku dan Ayu yang ikut membantu. Sementara Memey dan Wiwid yang bagian memasarkan. Sebenarnya untuk urusan masakan, kami dibagi menjadi dua tim. Aku, Wiwid dan Rosa sementara tim lainnya Shinta, Ayu dan Memey. Timku kali ini dibantu Mitha adikku. Beberapa kudapan kue basah dan puding sudah kami buat. Dewa dan Ari membuat minuman yang juga untuk dijual. Kami bekerja dengan gembira. Keluarga kami mendukung penuh usaha ini. Kami menitipkan di dua kantin yang berada di areal perkantoran dan sekolah. Selain itu juga kami diijinkan meminjam etalase makanan di toserba milik orangtua Memey.
Saat malam sabtu dan minggu, kami menggelar konser musik di resto dan cafe yang terletak di kota. Cafe dan resto ini sangat terkenal di kalangan anak muda juga banyak dikunjungi wisatawan karena letaknya yang strategis. Kami tidak perlu menyewa peralatan dan tempat. Orang tua Alex, salah seorang teman kami mengijinkan kami menggunakannya. Aku hanya ikut meramaikan konser dengan memainkan biola kesukaanku dan terkadang menjadi back vocal buat Ayu, Rosa,Shinta, Marco yang memiliki suara merdu. Indra, Marco, Ari dan Deny juga ikutan ngeband. Shodiq yang menjadi bagian dokumentasi dan Alex yang menjadi managernya.
Seperti malam ini, tugasku dalam lagu terakhir hanya ringan saja, touch di awal, bagian refrain dan akhir lagu saja. Setelah mengucapkan terimakasih, Marco dan Rosa yang didaulat sebagai penyanyi malam itu dihadiahi tepuk tangan dan suitan kembali. Aku tersenyum melihat antusias penonton yang cukup ramai malam ini. Ini minggu pertama kami mengadakan penggalangan dana setelah camping di kampung Marco. Acara menggung ini adalah penampilan kami yang kedua. Mudah saja bagi kami untuk latihan musik, karena hampir setiap hari kami bertemu.
Hasil penggalangan dana malam ini cukup banyak. Kami benar-benar bersyukur. Kami berkumpul di taman belakang kafe ini. Mamanya Alex mendekati kami diiringi pelayan, membawa makanan dan minuman untuk kami. Kami masih mengobrol cukup lama dengan papa dan mamanya Alex selaku sponsor utama penggalangan dana ini. Beny kakaknya Alex datang membawa buket bunga.
" Iga, ini ada titipan buket bunga untuk kamu," kata Beny sambil menyerahkan rangkaian mawar merah jambu dan putih kepadaku. Semua orang menatapku. Dan aku masih belum mencerna apa yang disampaikan Kak Beny.
“Apa Kak?” Kak Beny terkekeh.
“ Ada orang titip bunga ini untuk kamu.”
“ Orang? Siapa?” Kak Beny mengangkat bahunya. Aku menerima sambil mengerutkan kening keheranan.
" Beneran untuk saya?"
"Iya untuk kamu, tadi ada pria yang nonton pertunjukan kalian lalu mendekatiku dan titip ini ke kamu."
" Ooh. Dia tidak sebut nama ka?” Benny menggeleng dan berkata “Tidak”
“Kakak tidak tanya dari siapa?”
“Adooh...iyo, sa lupa tadi. Lain kali sudah baru sa tanya. Maaf eh.”
“Trapapa Kakak, Makasih ya."
" Sama-sama, Ga."
" Cie... Cie.. Cie... Iga... " ledek Ari
" Uhuuyy...... ", goda Sodiq yang langsung mengarahkan kameranya beberapa kali padaku layaknya paparazi. Ramai yang lain bersiul menggodaku, bahkan papa Alex sempat meledekku.
" Wah... Iga punya pengagum rahasia nih", kata Dewa cengar cengir.
"Aku yang vocalis sama Marco kok nggak ada yang kasih bunga ya.... ", kata Rosa protes.
Ramai teman-temanku sahut menyahut menggodaku di taman belakang kafe itu. Aku memilih diam dan pasrah saja menjadi bulan-bulanan godaan mereka.
"Gila...si Iga, sudah dua hari ini dikirimin bunga terus", sahut Alex.
" Mungkin ini salah alamat ka pa, " jawabku pelan. Shinta dan Ayu mulai duet melantunkan lagu dangdut alamat palsunya Ayu Ting-Ting, sementara dewa mengiringi pakai gitar. Denny dan Marco mengetuk-ngetuk meja seperti gendang mengikuti cengkok Ayu dan Shinta. Yang lain bertepuk tangan. Aku malu sekali. Mereka ramai bukan main.
"Salah alamat kok sampe dua kali gitu", sahut Memey dan Indra berbarengan yang turut membantu dalam konser amal. Mereka masih tertawa melihat aku yang cemberut. Makin banyak teman-teman yang mengerubungi kami. Kami ketambahan teman yang membantu dalam konser amal ini, Dion memainkan yang membantu bagian perlengkapan sedangkan Frans membantu tata cahaya.
" Wiihh... gimana rasanya punya mysterious admirer gitu Ga?"
"Nggak ada rasanya Ndra!"
"Ah serius? Pasti berbunga-bunga tuh. Sa yang punya mimpi dapat pengagum rahasia yang sering kasih bunga, kenapa kenyataannya malah Iga yang dapat ya?"
" Kalau gitu ini bunganya buat kamu aja lah Shin. Toh nggak ada kartunya dari siapa dan untuk siapa ini." Aku menyodorkan bunga pada Shinta yang menerimanya tersenyum.
" Kita lihat lagi ajah besuk, masih ada kiriman bunga buat Iga lagi apa nggak ya?"
" Ayo taruhan . Kalau besuk Iga dapat lagi sa traktir kalian mancing ikan dan menginap di pulau Numfor tempat sa pun Tete (kakek)." Usul Frans.
" Nggak usah pakai taruhan lah Frans. Kita bisa ke sana besuk lusa," Bang Benny menimpali.
"Ini bukan akal-akalan kamu saja to Bang naksir Iga diam-diam lalu kirim bunga?" Tanya Alex pada abangnya.
"Aih...ko lagi, bikin gosip saja. Kalau sa cinta Iga itu langsung tembak dia bilang "Will you marry me?" Tra usah main sembunyi-sembunyi macam begini. Iya to Ga?" Aku tertawa keras lalu mengacungkan jempol ke arahnya.
" Kak Beny benar. Sa lihat sendiri kok ada laki-laki yang kasihkan itu ke Bang Beny. Orangnya tinggi besar, ganteng lho Ga. Sa bisa dengar jelas waktu dia bilang titip buat Jingga." Dion menguatkan apa yang diucapkan Beny. Yang lain kembali saling sahut menggodaku.
" Nah, su jelas to. Siapa lagi di sini yang bernama Jingga?" Semua mata tertuju padaku dan aku hanya mengedikkan bahu.
" Udah lah...ini cuma masalah kecil saja. Kita nggak pernah bisa memaksa orang untuk suka atau membenci kita kan? Yang penting kan nggak ganggu atau mencelakai saja, trapapa mo (tidak apa-apa)," balasku santai.
" Besuk malam kalau dapat lagi, bunganya gantian buat saya Ga."
“ Besuk su hari minggu, malam senin kita masih tampil kah? “
“ Kitorang tampil minggu siang sampai sore di pantai Bosnik saja. Biasanya banyak orang di sana. Dapat bocoran ada rombongan turis dari Jepang dan US berkunjung ke sana. Siapa tahu toh kita dapat sumbangan besar.Sa su urus tempat di sana. ” Ucap Frans kemudian.
“ Bagaimana, kalian setuju ka tidak?”
“ Oke lah”
“ Setuju”
“ Setuju sekali. Sekalian kita abis itu bisa main-main di pantai to.”
“ Setuju Marco, tong bisa lihat sunset to.”
“Sa setuju saja, tapi tolong setting panggung menghadap laut ya. Jadi sambil main musik kitorang juga bisa menikmati sunset begitu.”
" Atur jo Marco!" (atur ajalah)
*****