Pep Talk

2865 Kata
Alan Wibisana    Sore ini langit didominasi warna abu-abu gelap yang menggantung di atas Bandung. Seolah dia tahu isi hatiku saat ini, sangat miris. Pria dengan usia matang, tampang lumayan, pendidikan cemerlang dan karier bagus harus berakhir pasrah menerima perjodohan. Aku teringat ucapan pakde Pur kemarin malam saat kami sedang mempersiapkan keberangkatan menuju Yogya. "Perjodohan ini nggak semengerikan yang ada dalam pikiran kamu sekarang ini, Lan. Percayalah suatu saat kamu akan sangat berterimakasih pada Mama, Pakde, Bude, Tante dan Om mu ini kalau sudah dijodohkan." Aku menarik nafas panjang. Ah, sepertinya itu cuma kalimat retorika semata. Aku hanya tersenyum kecut menanggapinya. Seandainya saja, perempuan yang disodorkan padaku itu adalah Meidinda, perempuan yang jadi mahasiswa bimbinganku, tentu akan lain ceritanya. Tapi makin lama kok rasanya jauh sekali mimpi itu dengan kenyataan yang ada. Aku beristighfar berulang kali. Pasrah dan ikhlas itu mengapa sulit sekali ya dilakukan tapi gampang sekali diucap. Enam bulan sejak Mamahku terbaring lemah di rumah sakit, aku bertekad melakukan apa saja untuk membahagiakannya, membuatnya selalu tersenyum. Sore ini aku pun harus memenuhi janji itu. Seperti sapi yang dicucuk hidungnya, pasrah digiring naik pesawat ke Yogya untuk menemui keluarga calon istriku kelak. Kalau saja hatiku masih kosong, mungkin langkahku tidak akan seberat ini. Masalahnya hati dan pikiranku sudah dipenuhi satu nama. Ya, Meidinda Rajingga Hapsari, mahasiswi bimbinganku. Gadis yang masih polos, anak ingusan. Aku tidak bisa menyembunyikan wajah tak bersemangatku. Mungkin sepintas seperti orang yang terkena anemia ─ letih, lelah, lesu dan tak b*******h. Ingat anemia, ingat aku dulu pernah menanyai hal itu pada Meidinda. Mencoba mengujinya. Tapi gadis itu memang menawan dalam segala hal. Tiba-tiba aku merasa takut. Takut kehilangan dirinya. Aku sadar sainganku banyak. Hampir setiap hari aku selalu memantaunya. Mencoba untuk selalu berdekatan dengannya walau hanya sebentar. Semua informasi tentang Meidinda dengan cepat aku serap. Sedangkan informasi tentang wanita yang dijodohkan kepadaku sangat sedikit. Malas saja mengetahuinya. Untuk sampai ke bandara ini saja, aku harus membatalkan salah satu seminar di hari sabtu dan mengganti jadwal mengajarku pada hari Jum'at. Ya, semua kulakuan hanya untuk  menuruti keinginan ibuku. Menemaninya menemui pak Suryono yang kebetulan sedang berada di Yogya. Suryono adalah lelaki yang akan ditemui keluargaku. Anak perempuannya yang akan dijodohkan padaku Sebenarnya pak Suryono sudah tidak menetap di Yogya lagi. Dia tinggal jauh di Papua. Di sebuah pulau kecil yang indah bernama pulau Biak. Aku pernah kesana dahulu, saat almarhum papa masih bergabung dengan TNI-AL dan bertugas di Jayapura. Saat ada dinas ke pulau Biak, aku diajak serta bersamanya.  Pulau itu adalah pulau karang dengan pemandangan yang eksotik dan penduduknya yang ramah. Aku tidak menyangka akan berjodoh dengan salah seorang gadis di pulau kecil itu. Pak Suryono adalah seorang guru, tepatnya kepala sebuah SMA negeri di sana. Anaknya yang nomor dua yang akan dijodohkan padaku. Karena kebetulan dia sedang berada di Jawa karena urusan dinas, maka sekalian mendatangi Yogyakarta untuk menyambangi orang tua dan keluarganya di sana. Lewat informasi dari kerabatnya maka keluargaku bisa tahu tentang keberadaannya. Karena itulah kami mengejarnya untuk menyampaikan niat baik ini.  Aku menghembuskan nafas dengan keras. Aku malas mendengarkan mama, bude atau tanteku yang asyik berceloteh mendiskusikan beberapa informasi tentang "calonku" itu.  Lamunanku mengembara dan berlabuh pada seraut wajah gadis nan ayu dengan suara merdu. "Meidinda" Aku menyebutnya dalam hatiku. Sudah tiga hari ini tidak bertemu dengannya. Disamping dia yang mulai megerjakan uji pendahuluan PKM-nya, dia juga sibuk mengerjakan berbagai tugas perkuliahan. Aku melirik pada arloji di pergelangan tangan kiriku. Hampir jam lima sore tapi dia belum melaporkan apa-apa padaku. Aku memang berhasil memaksanya untuk berkirim kabar padaku minimal dua kali setiap harinya. Kuakui dia sebenarnya enggan, namun terlalu takut menolak perintahku. Segera tekan panggilan cepat di gawaiku. Berniat mengatasi kebosanan dan mendung di hatiku. Mendengar suaranya saja sudah cukup sebagai bekal untuk membuatku ceria sepanjang hari. Aku segera meneleponnya, namun tidak diangkat. Aku mengulanginya beberapa kali, namun hasilnya tetap sama. Aku sangat kesal.  Suara pengumuman bergema se antero bandara Husein Sastranegara memanggil penumpang untuk segera menuju gate karena pesawat sudah siap melakukan penerbangan. Mama dan budeku sudah memberi kode untuk bersiap. Aku berdiri dan membawa tas ranselku, berjalan bersisian dengan pakde di belakang mama, bude dan tante yang berjalan santai di depan kami. Pakde merangkul bahuku erat.  "Semua akan indah pada saatnya Lan. Percayalah ucapan pakde ini. Nggak usah lemes begitu, yang semangat dong!" Aku menengok ke samping, dan dia sedang tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya walau berat. Satu jam lebih penerbangan Bandung- Yogyakarta membuatku tidur pulas selama dalam pesawat. Aku terbangun kita roda pesawat menyentuh landasan Adi Sucipto. Mama menggenggam erat tanganku, dia memeluk lenganku erat dan kepalanya disandarkan di bahuku. Tak lama dia beringsut dan mencium pipiku. “Makasih ya Lan, sudah jadi anak Mamah yang manis. Kamu mau menuruti nasihat Mamah. Mamah bahagia sekali.” Aku tersenyum melihat binar gembira di matanya.  Seketika bayangan Meidinda melintas dalam benakku. Rasanya aku hampir gila. Saat aku menyetujui perjodohan ini dan mulai mengenal dengan keluarga calon istriku karena Mamah.  Tapi hati dan pikiranku malah terpaut pada orang lain. Aku menutup mata dan meremas rambutku dengan kedua tangan.  “Astagfirullah ‘aladziiim...” “Kenapa Lan? Kamu pusing?” “Iya Mah. Cuma sedikit aja kok.  Mungkin kecapekan aja.” “Ya udah abis ini kamu sholat, makan dan istirahat. Besuk pagi baru kita ke rumah pak Pudji Rahardjo.“ “ Lho bukan ke rumahnya pak Suryono?” “ Ya sama aja, Lan. Pudji Rahardjo itu bapaknya pak Suryono, alias eyang kakungnya Iga?” “ Iga? Iga siapa lagi ini Te?” Tanyaku keheranan. “ Masya Alloh anakmu, Mbak In. Ampun deh aku... “ Tanteku berseru dengan nada frustasi. “Alan, jadi kamu nggak tahu siapa Iga?” Tanya bude Ati. “ Nggak!” Jawabku santai dengan tatapan tak berdosa. Bude, Mama, dan Tante Dewi menarik nafas panjang, melemparkan pandangan gregetan padaku. "Perasaan dari kemarin Tante, Bude dan Mamahmu rame ngomongin dan diskusi masalah Iga itu, kamu nggak ngeh  to Lan?" "Maaf Tante kalau aku nggak perhatikan." Tante Dewi geleng-geleng kepala. “Lan, perempuan yang mau dijodohkan alias calon istrimu itu bernama Iga, putrinya pak Suryono yang tinggal di Papua.” Ucap mama penuh keprihatinan. “ Jadi calon istriku itu orang Papua?” “Ya nggak juga sih sebenarnya. Wong pak Suryono itu asli Yogya. Istrinya ─ ibunya Iga itu berasal dari Sukabumi tapi lahir dan dibesarkan di Semarang. Mungkin Jingga dilahirkan dan besar di Papua,” jawab bude Ati. " Eh, kok Jingga sih Bude? Bukankah perempuan yang mau dijodohkan padaku itu bernama Iga? " Semua orang melihat padaku dengan tatapan kasihan. “ Lha Iga itu ya sama dengan Jingga. Panggilan sayang keluarganya Iga. Lengkapnya Jingga siapa ya Wi?” “Waduh, aku kok lupa tanya lagi sama Nirmala ya. Dulu pernah dikasih tahu sih, tapi aku lupa. Kayaknya Jingga Hapsari gitu deh.” “Jingga Hapsari...” Aku bergumam pelan. Sepertinya kok akrab ya dengan nama ini. Lampu di otakku menyala tiba-tiba. Mengapa nama gadis yang akan dijodohkan denganku itu seperti mirip dengan Meidinda ya? Sepertinya aku harus segera menghubungi gadis itu untuk menanyakan beberapa hal yang terasa ganjil. Aku sibuk bersenandika. "Kalau mau tanya-tanya lagi soal Iga, buat daftarnya dulu malam ini. Besuk kalau ketemu bapaknya bisa kamu tanya langsung sampai puas. Biar penasaranmu tuntas." Ucapan pakde Pur membuat riuh tawa bergaung dalam mobil yang kami tumpangi.Membuatku kembali pada kesadaranku semula. Aku baru sadar belum membuka gawaiku sejak pesawat mendarat tadi. Ada banyak panggilan, dan ratusan notifikasi WA. Aku mulai mengeceknya. Hatiku mengembang saat kulihat ada panggilan telepon dari Meidinda. Dengan semangat jariku mulai menjelajah pesan WA dan benar saja aku menemukan pesan-pesannya untuk ku. Aku tersenyum sumringah. Meidinda : Bapak tadi telepon saya? Maaf Pak, saya baru mengantar ayah saya ke stasiun kereta. Tadi terburu karena waktunya mepet dengan keberangkatan kereta ke Yogya, jadi gawai saya tertinggal di kamar kosan. Meidinda : Oh ya, maaf selama tiga hari kemarin tidak melaporkan kegiatan karena ayah saya datang dari Papua dan berkesempatan menengok saya. Tapi sudah saya kerjakan uji pendahuluannya kok Pak. Jangan marah ya, please... Meidinda : Bersama ini saya membuat laporan berupa tabel mengenai apa saja yang saya kerjakan selama tiga hari ini. Berikut hasil data pengamatan uji pendahuluan yang dilakukan selama tiga hari. Semua sudah saya kirim via email ke bapak. Meidinda : Mengenai uji pendahuluan tugas akhir saya, saya sudah mendapat bahannya Pak. tadi saya mengurus ijin menggunakan Lab. ProBa (Produksi Bahan Alam). Alhamdulillah disetujui. Proposal TA saya juga sudah ditandatangani Bu Farida. Terima kasih Pak atas bantuannya. Aku tersenyum membaca banyaknya pesan dari Meidinda. Eh, apa tadi? Ayahnya Meidinda dari Papua? Perjalanan ke Yogya? Aku tersentak. Nyala lampu di otakku makin terang, dia mencoba membuat kaitan-kaitan baru yang terasa sebagai kemungkinan yang indah. Mungkinkah? Ah, masak sih? Kumainkan jariku menyentuh layar touchscreen ponselku, mencoba membalas pesan Meidinda. Aku          :  Oke Mei, sama-sama Aku           : Oh ya, kamu orang Papua? Tanpa sadar aku mengetukkan jari ke paha dan telapak kakiku menepuk-nepuk lanti mobil. otakku mulai bekerja menyusun sesuatu. Semoga ini berhasil. Tak sabar rasanya menanti balasan pesan dari Meidinda. Lima menit berlalu, saat kulihat layar ponselku, tertera : Meidinda mengetik....  Seketika mataku berbinar dan senang yang membuncah dalam hati. Tak sabar aku menanti akhir dari ketikannya. Meidinda  : Ya Pak. Saya lahir dan besar di Papua. Begitu ketikan terkirim, aku dengan cepat membalasnya. Aku            : Orang tua kamu asli Papua? Meidinda  : Nggak. Meidinda  : Ayah asli Yogya, keluarga besar papa tinggal di seputar Yogya dan Jawa Tengah. Ibu asli Sukabumi Jawa Barat, tapi lahir dan besar di Semarang. Hatiku membuncah kesenangan. Aku nggak bisa menghentikan tarikan di bibir yang menampilkan senyum bahagia. Aku           : Jadi orang tuamu masih tinggal di Papua. Meidinda  : Ya, kebetulan ayah ada acara dinas di Bogor minggu lalu dan tiga hari kemarin menyempatkan menengok saya di Bandung. Dan sekarang perjalanan ke Yogya karena ada urusan keluarga sekalian jenguk eyang putri.  Aku tersentak, mengapa Meidinda semakin banyak persamaan dengan Iga anaknya pak Suryono ya? Aku bersenandika. Aku mencolek punggung tanteku. "Te, pak Suryono itu guru kan?" Tante Dewi membalikkan badannya ke belakang, alis matanya bertaut dan keningnya berkerut keheranan. " Iya. Sekarang dia sudah jadi kepala sekolah sih. Kepala sebuah SMA negeri di pulau Biak sana. Pulau kecil di Papua, kenapa sih Lan?" " Nggak papa, cuma tanya aja." "Ooh...." Aku tersenyum dan Tante Dewi kembali meluruskan pandangan ke depan sibuk ngobrol dengan ibu dan budeku. Aku cepat menarikan kembali jari-jariku di layar ponsel. Alan        : Mei, kalau boleh tahu : apa pekerjaan bapakmu? Hatiku gembira karena Meidinda mulai mengetik balasannya. Meidinda : Ayah PNS, kepala SMA pak.  Alan          :  Bapakmu tadi naik kereta apa Mei? Meidinda  : Turangga Alan           : Kalau boleh tahu, nama bapakmu siapa Mei? Meidinda   : Saya kan sudah minta maaf beberapa kali. Masak nggak dimaafkan sih Pak? Jangan bawa ayah saya dong, please. Itu semua murni kesalahan saya. Kemarin saya terlalu gembira mendapat kunjungan ayah. Jarang-jarang bisa ketemu Ayah, kecuali kalau beliau sedang cuti, libur lebaran atau dinas di Jawa. Tiga tahun lho Pak, saya nggak pulang ke Papua. Alan          : Kamu salah paham Mei, saya tanya nama Bapak kamu itu karena saat ini saya sedang dalam perjalanan lalu bertemu dosen dari Papua juga. Siapa tahu kenal dengan bapak kamu. Meidinda   : Papua itu luas lho Pak. Saya tinggal di pulau kecil terlepas dari daratan besar Papua. Aku menarik nafas, rupanya Meidinda menyangka yang negatif akan pertanyaanku ini. Aku mulai mengetik lagi. Alan            : Oke, kamu tinggal di pulau apa? lima menit kemudian.. Meidinda   :  Biak. Ada apa, Pak ? Alan            : Nggak apa-apa, cuma ingin tahu saja. Ada kemungkinan saya mau riset sekaligus pengabdian di sana.  Meidinda   :  Ooh... Alan           : Kalau boleh tahu, siapa nama bapak kamu, Mei? Jadi kalau nanti saya di sana kan sudah punya kenalan. Meidinda   : Suryono.  Jantungku berdegub kencang, rasa hangat menjalar dalam hatiku. Aku seolah melihat pelangi di depan sana. Aku memeluk ibuku dari belakang dan memberikan ciuman di pipinya bertubi-tubi. " Kamu nih kenapa sih ? Nggak ada angin, nggak ada hujan kok aneh begini?" Aku membiarkan pakde, bude dan tanteku mengejek dan menjadikanku bahan candaan. Aku nggak peduli, hatiku sedang bahagia. Mama tetap dalam pelukanku selama sisa perjalanan.   *********    Hari itu langit cerah, kubuka jendela di kamarku. Hembusan angin menerpa wajah. Aku tersenyum. Tidur yang cukup semalam membuatku sangat siap menghadapi hari ini. Ketukan di pintu menyadarkanku. "Kok masih pakai bathrobe? Mama kira kamu sudah rapih." "Iya Ma, sebentar lagi." " Udah shalat dhuha atau belum?" " Masih mau akan, Ma." "Ya udah cepetan . Bude, Pakde, Om dan Tante kamu udah siap di bawah. Kita sarapan dulu lalu langsung berangkat." "Siap Ma." Aku baru melangkah pada anak tangga terakhir ketika om Darwin, adik bungsu almarhum papaku alias suami  dari tante Dewi melambaikan tangan menyuruhku mendekat ke meja makan. Mereka telah menunggu. " Nah ini dia yang ditunggu-tunggu, akhirnya datang juga. Ayo kita sarapan dulu sebelum berangkat." " Iya Om." "Om kapan datang?" " Ya...hampir sejam yang lalu lah. Penerbangan paling pagi dari Jakarta."  " Bela-belain tuh Om Darwin datang untuk acara kamu, makanya kamu yang serius ya. Jangan mainin anak orang nantinya." ucap ibuku. "Insya Alloh Alan serius Mah. Masak pernikahan dibuat mainan sih? Alan kan ingin juga seperti Papa Mamah,  pernikahannya langgeng, hanya maut yang memisahkan." " Amiiinn," sahut bude Ati. "Syukurlah kalau begitu," jawab pakde Purnomo. " Jadi udah mantap nih mau nikah?" " Siap lahir batin Om, Insya Alloh." " Udah tahu belum siapa calonnya? Kamu cuma jawab : "Siap-siap", tapi nggak tahu calonnya. Nanti kalau kecewa malah jadi masalah di kemudian hari." "Insya Alloh Alan sudah mantap sama pilihan keluarga, Om.  Nggak ragu lagi." Om Darwin memandang ragu padaku, masih tidak percaya. Beliau adalah adik kandung papaku yang selama ini menjadi tempat sampah yang menampung curhatku saat mamah, tante dan budeku bersekongkol menjodohkanku.  "Papa, calon yang kita tawarkan itu ternyata mahasiswa bimbingannya Alan yang dia naksir dan memang sedang diincar. Jadi yah...udah kenal banget!" Tante Dewi menjelaskan pada suaminya yang disambut tawa mama, pakde, bude dan Om Darwin. "Makanya langsung iya aja. Rupanya sudah diincar sebelumnya," sambut om Darwin. Aku cuma bisa tersenyum kecil sambil meneruskan sarapan. "Hem...kamu belum tahu Win, mukanya Alan saat aku dan Dewi mengutarakan ingin menjodohkan dirinya dengan cucu pak Pudji. Iih...jutek banget." Mama melemparkan cibiran padaku, yang didukung dengan anggukan kepala tante Dewi yang ikutan mencebik. " Lalu kenapa dia  tiba-tiba jadi bersemangat begini?" " Ceritanya panjang Win, nanti saja ceritanya di mobil sembari perjalanan. Sekarang kita selesaikan sarapan dulu." Perjalanan dari rumah almarhum eyangku ke daerah Kotagede membutuhkan waktu sekitar empat puluh lima menit. Dan selama itu pula aku diinterogasi oleh Om Darwin. " Jadi kapan kamu mulai tahu kalau perempuan yang dijodohkan sama kamu itu mahasiswi yang kamu incar?" " Sejak dia mengirim pesan melalui WA untuk minta maaf karena terlambat mengirim  hasil uji pendahuluan dan laporan kegiatannya kemarin sore. Alasannya karena dia mengantar ayahnya ke stasiun kereta api. Dia bercerita jika ayahnya yang bertugas di Papua sedang ada kunjungan dinas di Bogor dan menemuinya di Bandung selama tiga hari. Saat itu dalam perjalanan ke Bandara kemarin sore, mama, dan tante bercerita tentang pak Suryono. " " Papa ingat teman SMA mama yang bernama Nirmala?" Tanya Tante Dewi pada Om Darwin. "Nirmala ? Hem...sebentar... Nirmala yang dulu pernah pacaran sama Roby temanku bukan ya?" " Ya benar, Pa." "OH, kalau begitu aku ingat. Kalau nggak salah dia aktif di teater kan?" " Iya, teman sebangku sekaligus satu sanggar teater dan tari denganku."  "Trus apa hubungan Mas Suryono dengan Nirmala?" " Gini lho Pa, Nirmala itu menikah dengan mas Yuda, adiknya mas Suryono. Jadi si Iga yang dijodohkan dengan Alan itu adalah keponakannya." " Jadi Iga ini yang menjadi mahasiswa bimbingan Alan di Bandung?" " Seratus untuk Papa!" Tante Dewi  bertepuk tangan sambil memekik girang. " Lha trus Alan kemarin sempat menolak dan baru ngomong tadi malam kalau siap menikah dengan Iga ini. Bagaimana ceritanya?" " Biar yang bersangkutan aja yang cerita!" Pakde Purnomo mengusulkan. " Kalau di kampus, anak pak Suryono itu dipanggilnya Mei atau Meidinda. Namanya Meidinda Rajingga hapsari. Saya malah nggak tahu kalau di kalangan keluarga dan teman dekat dipanggil Iga. Awal bertemu dengannya sebenarnya justru di Panti Melati. Saat Alan disuruh mama mengantar  makanan dan barang untuk anak-anak panti, di sanalah saya bertemu dengannya. Saat itu saya melihat dia telaten mengurusi anak-anak, menyuapi makanan, mengatur mereka sholat, bahkan mendongeng. Saya jatuh cinta saat pertama kali bertemu. Ternyata pertemuan kedua terjadi hari itu juga di perpustakaan, lalu di ruang kelas saat mengajar. Dia salah satu mahasiswa yang masuk kelas yang saya ajar. Kebetulan saya menggantikan Om Ardy yang sedang cuti untuk berobat ke Jerman. Dan Meidinda itu mahasiswi di bawah bimbingan pak Ardy yang saya gantikan. Dia tegolong mahasiswi yang sangat cerdas dan prestasinya juga banyak. Cukup populer di kampus. Bahkan istri pak rektor, Prof. Farida berniat menjodohkan dengan putranya. Saingan saya banyak di kampus." " Wah...  Om jadi penasaran nih. Seperti apa penampakan Jingga itu? Hebat benget bisa buat si Alan klepek-klepek gini." Semua tertawa mendengar candaan Darwin. “ Makhluk astral kali Om, kok penampakan sih?” Aku menyanggah ucapan Om Darwin yang dibalas kekehannya. " Makanya Win, tadi malam Alan bilang sama Pakdenya kalau bisa segera dinikahkan saja begitu bertemu dengan pak Purnomo nanti."  lanjut ibuku yang langsung disambut gelak tawa seisi mobil.   *******            
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN