Meidinda Rajingga
Minggu pagi, aku bersama Ririn, Annisa dan Mira sedang berjalan di pusat perbelanjaan tekstil di jalan kepatihan di tengah kota Bandung. Kami asyik ngobrol dan bercanda. Mira dan Annisa tengah mengodaku hingga tanpa sengaja aku terdorong ke depan oleh gerakan Ririn.
Brukk...
Aku terjatuh dengan barang-barang yang berserakan di lantai sekelilingku. Ketika medongak ke atas aku menemui wanita tua yang memegang dadanya menatapku dengan wajah antara terkejut dan kasihan. Pada wajahnya masih terlukis guratan - guratan kecantikan masa lalu. Tak lama berselang, bibirnya mengulas senyum dan binar matanya berganti ceria. Dia mengulurkan tangannya padaku dan kuterima. untuk bangkit kembali.
" Aduh, maaf Bu. " kataku ketika tersadar bahwa aku telah menjatuhkan barang-barangnya. Segera aku berjongkok kembali. Kuambil tas yang jatuh ke lantai serta beberapa kantong belanjaan lainnya lalu menyerahkan pada si empunya. Sembari tersenyum kutatap wajahnya dengan memelas.
" Sekali lagi, maafkan saya ya Bu. Saya benar-benar tidak sengaja." Ibu itu tersenyum.
" Sedang buru-buru ya Dik ?" Tanyanya dengan suara kalem. Tidak ada kemarahan di sana.
" Ehm, sebenarnya tidak juga Bu. Saya tadi teledor sedang bercanda dengan teman. Jalan nggak lihat depan, sehingga saya menubruk ibu. Maafkan saya ya Bu. Ehm...mungkin.... ada yang bisa saya lakukan untuk ibu untuk menebus kesalahan saya?"
Ibu itu menatap lekat wajahku, kedua tangannya ditangkupkan di pipi kiri dan kananku. Lalu sembari tersenyum dia berkata:
" Kalau begitu, bisa melakukan sesuatu untuk saya, Dek ?" Aku menatap matanya dengan sungguh-sungguh. Akan kubuktikan melakukan apa saja sebagai kompensasi kesalahanku.
"Boleh. Hm...apa itu Bu ?" jawabku mantap.
Ibu yang aku tabrak tadi langsung menarik kuat lenganku. Badanku hampir jatuh kembali karena kehilangan keseimbangan. Ibu itu membawaku ke deretan etalase kain di dalam toko itu. Annisa, Mira dan Ririn menatap iba padaku.
" Ibu minta tolong sama kamu, pilihkan bahan kebaya yang bagus ya, dua stel untuk calon menantu saya."
"Wow, beruntung sekali gadis itu dapat calon mertua yang sangat perhatian. Apa warna kesukaannya. Bu?" Ibu itu seolah tersadar dan memegang keningnya layak orang yang sedang lupa.
"Oh, iya ya.., apa yah... ? Eh, Kalau kamu sendiri apa warna kesukaanmu, Nak ?"`
" Saya suka warna biru dan oranye, Bu. Tapi kan belum tentu sesuai dengan selera calon menantu ibu," jawabku. Ibu itu tersenyum tatapan matanya membawa keteduhan dalam hatiku.
" Tidak apa-apa, Nak. Tolong pilihkan saja, ibu yakin pasti seleranya sama dengan seleramu. Dua stel ya kebaya dengan kain bawahan atau jaritnya ya ", desak ibu itu.
"Bener nih Bu, nggak papa? Kalau nggak sesuai dengan selera calon menantu ibu kan nanti ibu rugi."
"Ibu yakin dengan pasti, calon menantu ibu tidak akan kecewa dengan pilihanmu." Aku mengamatinya dengan lekat. Aku melihat kesungguhan di mata ibu tua yang masih cantik itu. Teman-temanku sudah berpencar menjauh, sulit rasanya untuk dimintai tolong. Ya sudahlah, toh hanya aku yang telah menabrak ibu itu tadi.
" Baiklah Bu. "
Aku berkeliling sebentar untuk memilih bahan dan kembali dengan pilihan bahan kebaya dan jaritnya . Satu stel kebaya motif sederhana dan anggun berwarna paduan biru muda dan pink dan satu lagi satu stel kebaya dengan paduan warna oranye hijau tosca yang mendominasi.
" Ini Bu bahannya, semoga Ibu dan calon menantu ibu menyukainya. Saya permisi dulu." Aku tersenyum, mengangguk padanya dan membalikkan badan. Ketika bergabung dengan teman-temanku mereka sudah selesai urusannya di kasir lalu mengajakku beranjak dari sana.
" Tapi tunggu dulu Nak !" Aku berbalik karena dia menggenggam tanganku. Teman-temanku pun menonton kami berdua.
" Berapa ukuran sepatumu ?" Keningku berkerut. Mengapa dia bertanya padaku? Apakah dia hendak membelikan sepatu untukku?
" Jangan salah sangka, aku juga mau membelikan calon menantuku sepatu."
" Tapi belum tentu sama dengan ukuran saya, Bu." Jawabku pelan dengan senyuman.
" Saya yakin, yang jadi menantu saya pasti sama ukuran dan seleranya denganmu, Nak." Aku mengernyit heran. Tadi dia bilang untuk calon menantunya, dan sekarang dia bilang siapapun yang akan menjadi menantunya- Berarti calonnya masih belum ada dong. Lalu, kalau calonnya saja masih belum ada, kenapa juga harus beli? Itu kan namanya buang-buang uang. Tapi, biarlah itu bukan urusanku. Aku bersenandika.
" Nak, berapa ukuran sepatumu?" Suaranya menggugah kesadaranku. Aku tersenyum menatapnya. Teman-temanku tampaknya sudah selesai memilih bahan dan melakukan pembayaran lalu mulai memanggilku.
" Tiga Sembilan, Bu. Maaf, Permisi." Aku tersenyum dan menganggukkan kepalaku padanya sebelum pergi bersama teman-temanku. Ririn dan Annisa sudah menyeretku pergi menjauhi ibu itu. Mira mikut mendorongku dari belakang.
“Eh tunggu dulu Nak. Siapa namamu?” Suara ibu keras sekali. Aku baru saja mau menoleh ke belakang tapi suara Ririn mencegah.
“ Jalan terus Jingga, jangan menoleh ke belakang. Aku takut kamu nanti bisa kena gendam.”
" Emangnya siapa sih ibu itu tadi, Ga? Apa kamu kenal dia sebelumnya?" Tanya Annisa. Aku menggeleng.
"Nggak tahu, aku nggak kenal kok. Kenapa Nis?"
" Nggak apa-apa, Cuma kok seperti udah kenal lama sama kamu. Akrab dan perhatian banget. “
“Tadi kan aku menabrak dia, jadi supaya membayar rasa bersalahku aku membantunya memilihkan dua pasang kain buat calon memantunya.”
“ Kok aneh sih? Mestinya kan dia ajak aja calon mantunya ke sini dan suruh pilih sendiri.”
“Ya mana aku tahu juga, Mir. Yang penting niatku tadi baik. Eh, tapi tadi dia bilang calon istri untuk anaknya kok belum ada ya.” Aku teringat sesuatu dari percakapan kami tadi.
“ Hah? Dia mau kawinkan anaknya sama jin apa, kok calonnya aja belum ada udah beli kado buat calon mantu. Paling itu buat ritual pesugihan kali Ga.”
“ Ah kamu nakut-nakutin aja Rin. Kebanyakan nonton sinetron horor kamu.”
“ Iih dikasih tahu nggak percaya. Kalau ketemu ibu itu lagi dicuekin aja lah Ga. Jangan-jangan nanti kamu lagi yang dijadikan tumbal buat pesugihannya.” Aku dan Mira terkikik geli.
“Tumbal apaan sih?”
“ Tumbal darah perawan lah.” Aku terkikik geli mendengarnya.
“ Jinnya nggak bakalan suka sama aku. Darahku pahit karena suka makan pare dan pete. Sama aku keseringan baca ayat kursi kali ya jadi aromaku nggak enak menurut mereka.”
“Wah kalau itu sih bisa bikin jinnya diare dan sesak nafas.” Kami tertawa ngakak mendengar celoteh Annisa.
“ Eh, tuh dia kayaknya masih ngeliatin kamu lho." Ucap Mira yang baru berbalik ke belakang.
"Nggak usah balik, Ga. Kan tadi udah dibilang sama Ririn kalau zaman sekarang banyak orang sok kenal sok dekat tapi ada maunya. Gendam itu mengerikan lho. Jangan mudah percaya sama orang asing!" Mira meremas erat lenganku, seolah tahu apa yang akan aku lakukan.
**********