Renata tersenyum tipis ketika Diana mengajaknya berbelanja di salah satu mall ternama di kota ini. Awalnya, dia menolak dan beralasan pulang lebih dulu menaiki taksi online karena kelelahan. Sayangnya, dia kembali lemah ketika Diana menatapnya khawatir dan akan membawanya ke rumah sakit karena dia mengatakan kelelahan. Diana takut terjadi sesuatu pada kandungannya.
Tidak mau merepotkan Diana terlalu jauh juga tak enak hati pada Diana, pada akhirnya dia menyetujui ajakan Diana. Sehingga di sinilah dia berada, di salah satu mall bersama Diana dan Riko.
Riko sejak tadi diam dan sesekali memperhatikannya membuatnya merinding. Takut-takut Diana mencurigai keanehan darinya dan Riko.
"Re, kamu sudah tahu apa jenis kelamin anakmu?" pertanyaan Diana mampu membuatnya tersadar dari lamunannya.
Menatap Diana, dia menggeleng pelan karena memang benar, dia tidak tahu apa jenis kelamin anaknya. Dia selalu menolak ketika kakak-kakaknya menyuruhnya untuk USG. Alasannya tidak mau USG adalah, dia hanya ingin jenis kelamin anaknya menjadi kejutan untuknya. Toh, mau jenis kelamin anaknya laki-laki atau perempuan, dia akan tetap menyayangi anaknya, darah dagingnya.
"Aku tidak tahu," jawabnya pelan dan melihat raut wajah Diana berubah lesu.
"Aku ingin membawamu ke store yang menjual perlengkapan bayi. Aku kira kamu mengetahui jenis kelamin anakmu. Jika kamu mengetahui jenis kelamin anakmu akan lebih mudah mencari barang-barang untuk anakmu."
"Aku masih lama melahirkan, rasanya tidak masuk akal membeli perlengkapan bayi disaat kelahiranku masih lama."
"Setidaknya mempersiapkan dari sekarang. Hitung-hitung sebagai langkah pertama menyambut kehadiran anakmu."
Renata diam. Namun detik kemudian dia tersenyum masam ketika ekor matanya tak sengaja melirik Riko yang menatapnya lekat.
Dengan raut yang berubah keruh, dia menunduk dan mengelus perutnya sebelum akhirnya menatap Diana.
"Biarlah. Lagian, aku juga tidak tahu apakah kandunganku bertahan sampai waktunya aku melahirkan atau tidak."
"Apa maksudmu? Kamu tidak berencana menggugurkan kandunganmu, kan?" raut wajah Diana menjadi panik membuatnya kontan tertawa.
"Tidak. Aku tidak akan melakukan itu. Aku menyayangi anakku."
Raut wajah Diana berubah menjadi tenang setelah mendengar perkataannya.
"Lalu, apa maksud perkataanmu? Apa kamu mengidap sesuatu yang berakhir buruk pada kandunganmu?"
Renata menggeleng. "Tidak. Hanya saja, seseorang tengah berusaha membuatku kehilangan anakku," ujarnya lantang, mengabaikan Riko yang rahangnya mulai mengeras.
"Seseorang? Siapa? Re, apa ada yang mengganggumu? Jika iya, biar aku katakan pada Ali untuk lebih ketat menjagamu," Diana meraih kedua tangannya, meremas tangannya dan menatapnya khawatir.
Dia terkekeh dan melepas genggaman Diana.
"Tidak, aku tidak apa-apa. Jangan mengkhawatirkanku, khawatirkan saja dirimu."
"Re ...."
"Aku tidak apa-apa, Diana! Justru aku yang mengkhawatirkanmu karena yang terlihat menyayangimu belum tentu dia setia padamu."
Renata mengulas senyum tipis dan melirik Riko sekilas yang menatapnya tajam, penuh peringatan.
Diana mengerut kening. "Aku? Kenapa aku?"
Renata mengusap bahu Diana dan tersenyum tipis. "Aku hanya bergurau. Bukankah kamu ingin berbelanja, ayo aku temani sebelum aku berubah pikiran."
Mendengar perkataan Renata, dia kontan tersenyum lebar dan menggandeng Renata menuju tempat yang biasa Diana datangi untuk berburu barang branded dengan harga fantastis.
...
Satu jam lamanya Diana sibuk memilih tas keluaran terbaru yang harganya bukan main. Karena kelelahan juga perutnya yang sedikit kram, Renata memilih duduk di tempat duduk yang disediakan pihak store. Renata memperhatikan Diana yang masih asyik pada dunianya dan ditemani Riko yang setia di samping Diana. Sesekali lelaki itu merekomendasikan tas yang menurut lelaki itu bagus. Hingga berakhir tawa keduanya yang bersahutan. Tawa bahagia yang membawa luka baru untuknya. Membuat dadanya sesak dan berulang kali menguatkan anak dalam kandungannya jika dia tidak masalah akan keromantisan Diana dan Riko.
Renata meluruskan kedua kakinya ketika merasakan denyut nyeri di kedua kakinya. Sejak hamil, dia memang mudah kelelahan. Jalan atau berdiri terlalu lama cukup membuatnya mengeluh sakit. Nyatanya, dia begitu lemah bukan? Lemah dalam segala hal, termasuk dalam melawan orang yang melukainya, Riko.
Menghela nafas panjang, sebisa mungkin dia mencoba tegar. Menguatkan diri jika suatu saat ada kebahagiaan dalam hidupnya meski harus melewati masa sulit dan menyakitkan.
Dia memang membenci Riko, tapi dia tak bisa bohong jika dia telah membiarkan rasa itu tumbuh di hatinya. Dia sebodoh dan serendah itu hanya karena lelaki b***t yang menjadi ayah dari anaknya itu.
Tatapannya kembali menyorot sosok Diana dan Riko yang kini berjalan mendekatinya dengan raut bahagia dari sepasang kekasih yang dimabuk cinta itu. Dia kontan berdiri dari duduknya dengan satu tangan menekan pinggangnya karena kram di perutnya yang kian terasa ketika dia bergerak.
"Maaf telah membuatmu lama menunggu," ujar Diana dengan raut tak enak.
Renata menggeleng dan tersenyum tipis.
"Tidak apa-apa. Apa kamu masih ingin berbelanja?"
Diana mengangguk. "Iya, aku akan ke toko perhiasan dulu, baru setelah itu kita pulang. Aku tak tega melihatmu menunggu lama."
Renata mengusap bahu Diana, "Aku tidak masalah menunggu lama. Toh, aku ke sini juga karena tumpangan darimu."
"Tapi Re, kamu sedang hamil."
"Hamil tidak membuatku menjadi orang lemah," Renata tersenyum hangat dan meyakinkan Diana jika dia tak masalah jika harus menunggu Diana belanja sampai berjam-jam lamanya.
"Kamu ... serius?"
Renata mengangguk meyakinkan membuat Diana merangkul Renata untuk berjalan bersisian dengannya dan Riko. Sebelah tangannya merangkul Renata dan sebelahnya lagi menggenggam tangan Riko.
Setibanya di toko perhiasan, dengan penuh semangat Diana memilih perhiasan yang membuatnya tertarik untuk membeli. Saking semangatnya, Diana meninggalkan Riko bersama Renata yang berdiri mematung di pintu toko perhiasan dan menatap Diana dengan tatapan berbeda. Riko dengan tatapan memuja dan Renata yang menatap Diana dengan senyum bahagia sekaligus iri karena begitu banyak yang mengasihi dan menyayangi Diana.
Tidak sepertinya yang menyedihkan ini.
Karena kram yang masih terasa di perutnya, Renata memilik duduk di kursi yang berada di depan etalase. Namun langkahnya terhenti ketika Riko menahan lengannya dan mencengkeramnya kuat membuatnya meringis.
"Lepas," lirihnya yang tak mampu berkata kasar karena nyeri di perutnya membuat tubuhnya melemas dan tak bertenaga.
Riko mengabaikan lirihan Renata, lelaki itu justru membawa Renata mendekati Diana yang asik memilih perhiasan.
"Sudah menemukan apa yang kamu sukai, sayang?" Tanya Riko lembut ketika berdiri di samping Diana dan dengan sebelah tangan mencengkeram lengan Renata dan sebelahnya lagi merangkul Diana.
Riko mengambil posisi di tengah-tengah Diana dan Renata sehingga membuat Diana tak melihat apa yang diam-diam dia lakukan pada Renata. Katakan saja dia b******k, tapi dia muak melihat Renata yang terlihat menyedihkan dengan perut buncitnya itu.
"Aku ingin membeli cincin untuk pernikahan kita," ujar Diana sembari menunjuk cincin yang menarik perhatiannya.
Riko mengangguk. "Boleh. Aku serahkan padamu, sayang."
Diana menatap Riko dan tersenyum sembari menyandarkan kepalanya di bahu Riko.
Diana menerima cincin yang baru saja ditunjuknya dan memperlihatkannya pada Riko.
"Bagus tidak?"
Riko mengangguk dan mengusap puncak kepala tunangannya itu dengan sayang.
"Pilihanmu selalu bagus," pujinya, mengabaikan Renata yang berusaha sekeras mungkin menormalkan raut wajahnya ketika nyeri di perut dan sakit di lengannya menghantam dirinya.
Diana tersenyum malu dan melirik Renata.
"Re, menurutmu ini bagus tidak?" tanyanya menatap Renata.
Renata menatap cincin yang dipilih Diana sebelum akhirnya mengangguk.
"Bagus," jawabnya seadanya.
Diana tersenyum lebar dan mulai mencoba cincin yang dipilihnya sebelum akhirnya menyuruh Riko untuk mencoba juga. Akhirnya setelah menempuh waktu kurang lebih satu jam, cincin untuk pernikahannya dan Riko telah ditemukan. Hanya tinggal menunggu waktunya cincin itu tersemat di jari manisnya dan Riko.
Namun sebelum benar-benar meninggalkan toko perhiasan itu, Riko membeli cincin yang katanya diberikan pada mamanya. Riko meminta Diana untuk mencobanya karena ukuran jemari mamanya dan Diana sama. Setelah melakukan pembayaran, barulah mereka meninggalkan toko perhiasan dengan posisi yang sama, Riko berada di tengah-tengah Diana dan Renata.
Diana memeluk lengan Riko dengan raut bahagia tak terelakkan, berbeda dengan Renata yang berusaha melepas tangan Riko yang kini tak lagi mencengkeram lengannya, melainkan menggenggam tangannya dengan erat.
Tiba di parkiran, Riko membukakan pintu mobil untuk Diana. Setelah Diana memasuki mobil, Riko berkata pada Diana untuk memasukkan belanjaan Diana ke bagasi. Tepat saat Riko berjalan mendekati bagasi, saat itu pula Renata membuka pintu mobil belakang dan Riko menahan Renata yang hendak memasuki mobil.
Renata terperanjat dan hendak berontak takut Diana melihat. Namun berontakannya terhenti ketika Riko mengangkat tangan kanannya dan menyematkan cincin pada jemari manisnya. Cincin yang katanya untuk Mama lelaki itu.
Dia terperangah dan menatap tak percaya cincin yang tersemat di jari manisnya itu.
Ketika dia hendak menatap Riko, lelaki itu berlalu membuka bagasi. Meninggalkannya yang masih terperangah , berusaha meraih kesadarannya dan memasuki mobil dengan melempar senyum pada Diana yang menanyakan keadaannya yang dia jawab dengan kata, "Aku baik-baik saja."
...
Ketika tiba di kontrakannya, Renata langsung mengunci rapat kontrakannya. Bersandar pada pintu, dia menekan dadanya yang tiba-tiba bergemuruh hebat. Dia menatap jemarinya yang tersemat cincin pemberian Riko.
Dia tidak tahu kenapa tiba-tiba air matanya jatuh begitu saja. Yang jelas, dia seperti dipermainkan oleh takdir. Riko, lelaki itu penuh misteri. Terkadang, terlihat seperti iblis baginya dan terkadang, terlihat seperti lelaki yang dia idam-idamkan.
Menghapus kasar air matanya, dia melangkah memasuki kamarnya. Tiba di kamar dan hendak merebahkan tubuhnya, tiba-tiba dia mendengar dering dari ponselnya.
Dia mengerut kening ketika panggilan berasal dari nomor tidak dikenal.
Penasaran, dia mengangkat panggilan dari nomor tidak dikenal tersebut dan saat dia mengangkat panggilan tersebut, tubuhnya langsung menegang ketika suara yang tak asing baginya menyapa indra pendengarannya.
"Renata, akhirnya Riko menemukanmu."
Deg
Suara ini ....
Suara milik neneknya, Riana.
Mungkinkah, setelah ini hidupnya kembali pada masa-masa sebelumnya? Menyakitkan dan rumit.