Turuti Perintahku!

820 Kata
"Pak Wira? Jadi anda..." Seketika Sarah menjadi panik. Dengan gerakan kikuk, dibuka lebih lebar pintu yang kemudian jadi jalan Wira melangkah masuk ke dalam salah satu aset property miliknya sendiri ini. "Silahkan. Maaf, kami baru selesai berbenah, jadi belum sepenuhnya rapi," ujar Sarah setelah menutup pintu. "Anda mau minum apa? Saya ada teh, kopi, atau.." "Tidak usah," jawaban dingin Wira, seperti biasanya. "Saya hanya sebentar." "Oh, baiklah. Silahkan duduk disini." Sarah tergopoh-gopoh menuju ke salah satu sofa, membersihkannya kilat dengan menepuk-nepuk seolah menghilangkan debunya. "Silahkan," ucapnya, berusaha mewakili Jelita yang masih berdiri lesu, bahkan tak sekalipun menatap atau menyapa lagi atasannya ini. "Terima kasih," sahut Wira, menurut untuk duduk dibagian sofa yang sudah disiapkan oleh Sarah. Sarah menatap bergantian antara Jelita dan Wira dengan perasaan sedih. Meskipun kecewa semua keadaan ini, tapi yang dipikirkan Sarah adalah anak dalam kandungan putrinya. Sarah tak mau berharap banyak pada keduanya, tapi menerima kenyataan dan menjalaninya dengan ikhlas, itulah penguatnya saat ini. "Pak Wira, apa anda mau makan? Atau..." "Nyonya," sela Wira. "Duduklah," perintahnya datar. "Saya ingin bicara...dengan kalian." Suasana ruangan itu hening untuk beberapa detik, sampai Sarah mendekati putrinya untuk mengajaknya duduk disofa 3 seater, menghadap Wira yang sudah memperhatikan keduanya. "Nyonya," panggil Wira sebagai awal pembicaraan. "Iya, Pak?" "Anda tidak marah pada saya?" tanyanya kemudian. Pertanyaan yang disambut helaan napas dalam oleh Sarah. "Saya...tidak akan marah, kalau Pak Wira berjanji pada saya." "Janji seperti apa itu?" "Mungkin anda tidak inginkan putri saya, tapi tolong perlakukan dan lindungi dia, demi bayi ini." "Baik. Akan aku lakukan itu, ada lagi?" "Kalau..." Sarah raih tangan Jelita, dan menggenggamnya erat. Keringat dingin yang dia rasakan, coba dihilangkan dengan kasih sayang ibu tak terbilang. "Anak ini sudah lahir, dan anda tidak menginginkan Jelita, kembalikan pada saya secara baik-baik, jangan sakiti, baik fisik dan mentalnya, karena hanya dia harta saya satu-satunya di dunia ini." Ekspresi dingin yang semula Wira tunjukkan, berubah jadi tatapan sendu pada dua wanita dengan kelas dan status dibawahnya ini. "Baiklah. Saya pegang janji untuk itu." Wira beralih pada Jelita yang masih saja tertunduk. Wira kemudian kerutkan kedua alisnya, merasakan ada yang salah dengan gadis yang kini jadi istri kontraknya itu. "Jelita," panggil Wira dengan suara berat dan dalamnya. "Apa kau sakit?" tanyanya kemudian. Jelita menjawab disertai gelengan kepala, "Tidak, Pak." "Tapi kenapa wajahmu pucat sekali?" tanya Wira lagi. "Tidak kenapa-kenapa, Pak." Wira tenglengkan kepala, berusaha menilai sesuatu dari wajah cantik Jelita. "Kamu sakit," kesimpulan Wira, lalu berdiri untuk berikan perintah selanjutnya. "Bersiaplah. Kita ke dokter sekarang juga!" tandas Wira. "Tapi saya tidak apa-apa, Pak. Jadwal bertemu dokter baru weekend ini, sesuai perintah anda, jadi saya rasa tidak perlu..." "Cepat berdiri dan bersiaplah. Kamu tahu waktuku tidak banyak!" Perintah arogansi Wira ini, ditanggapi Sarah dengan ikut berdiri. "Jelita, sayang. Sebaiknya kamu menuruti apa kata Pak Wira. Ini semua demi bayimu. Kamu tentu nggak mau kenapa-kenapa sama anakmu itu, kan?" Sarah mencoba menengahi, dari dua orang yang mempunyai sifat sama-sama keras kepala ini. "Mama ambilin tasmu dulu ya, pakai baju itu saja, tinggal tambah jaket atau--" "Tidak usah, Ma. Biar Jelita ambil sendiri." Jelita bangkit dan pergi ke kamarnya dengan sikap acuh pada Wira. Sarah kembali harus berdamai dengan keadaan, dimana ternyata putrinya menyimpan kebencian pada pria yang telah menanamkan benih pada dirinya. "Maaf atas sikap anak saya, Pak," ucap Sarah, berharap maklum dari Wira. "Tak apa," secuil jawaban Wira, duduk kembali dan menatap dingin pintu kamar Jelita yang kini tertutup kembali oleh Sarah. "Jelita. Jangan begitu. Mama tahu, kamu ingin tunjukkan kemarahan pada Pak Wira, tapi paling tidak hargai usahanya, biar kamu dan anaknya juga baik-baik saja." Jelita berpaling, saat ibunya ingin menyentuh pundak untuk menenangkan, seperti yang biasa Sarah lakukan. "Aku nggak marah, Ma. Hanya ingin tunjukkan, kalau Pak Wira itu jangan dikit-dikit samakan dengan kedudukannya. Mungkin kalau dikantor, beliau punya kuasa sama aku, tapi paling tidak kalau di keseharian begini, sikapnya itu bisa diredam sedikit." "Sstt. Jangan keras-keras ngomongnya," pengingat Sarah. "Katamu, memang orangnya begitu. Sabarin saja, jangan dimasukkan hati." Jelita cemberut, ketika tatapannya kini tertuju pada ibunya. "Kenapa mama kesannya belain Pak Wira terus? Apa karena semua yang diberikan pada kita ini, jadikan mama seperti penurut didepannya?!" protes Jelita, merasa benar. "Jelita. Pelankan suaramu," pinta Sarah lagi berusaha sabar. "Bukan Sayang. Bukan karena uang, tapi demi anak dalam kandunganmu itu. Kamu masih muda, dan belum siap hadapi semua ini, jadi mama ingin kamu berdamai dengan keadaan, dan siap tak siap hadapi ini dengan legowo, Jelita." Seperti yang ditakutkan oleh Sarah, diruangan tamu apartemen yang sunyi itu, jelas Wira dapat mendengar adu argumen antara ibu dan putrinya tersebut. Untuk pertama kalinya ini, Wira terkesima akan sikap tegas Jelita. Jelita sangat berbeda dengan wanita-wanita yang dekat atau mengejarnya selama ini. Jelita tidak sekalipun memanfaatkan keadaan hanya untuk mencari perhatiannya, atau bahkan terobsesi untuk jadi miliknya. Mungkin Jelita masih sangat muda, tapi dibalik sikap emosional labilnya, baginya gadis polos nan cantik yang sudah dia nodai itu adalah wujud dari tipe wanita yang dicarinya selama ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN