Menelurusi setiap tempat yang bertuliskan menerima 'kos' sangatlah melelahkan. Rata-rata penuh dan baru kosong setelah tahun ajaran baru. Sangat lama bagiku, meskipun tinggal dua bulan lagi. Waktu pun beranjak malam. Pukul sembilan malam, aku meminta Pak Reza mengantarku pulang. "Na, ada indekos putri masih banyak yang kosong, tapi dekat dengan kos tempatku. Kalo kamu mau, besok Mas antar ke sana." Pak Reza mengatakan saat kami sampai di depan gerbang tempat indekosku. Aku menatapnya dalam. Takut ada modus terselubung. Ternyata tidak, mata Pak Reza tidak menyiratkan itu. Artinya, beliau memang ingin berteman denganku. Bisa dipertimbangkan idenya, tetapi lumayan jauh jika menuju sekolahku. "Aku mikir dulu, jauh soalnya dari sekolah. Nah, aku sering telat," keluhku pada Pak Reza tentang

