"Memang, sudah dari kapan Papa punya gitar itu?" Aisu duduk di sofa depan Papa.
"Papa sudah dari SMA bisa main gitar. Dulu papa jago main gitar, ya, walau cuma satu lagu saja." Papa lantas tertawa, menggeleng maklum.
Aisu ikut tertawa. "Kok, bisa cuma satu lagi? Memang lagu apa, Pa?"
Papa menatap gitarnya untuk beberapa waktu dengan mata sendu. "Wonderwall, Oasis. Lagu lama yang sangat terkenal pada zamannya. Lagu kesukaan mamamu."
Aisu agak terkejut. "Eh, memang iya, Pa? Aisu baru tahu Mama suka lagu yang sedikit rock gitu."
Papa tersenyum senang. "Lagu itu Papa pakai untuk menembak mamamu dulu."
"Oh, ya?!" pekik Aisu kelewat senang. "Gimana lagunya? Papa romantis juga sama Mama dulu!"
Papa tersenyum lemah mendengar Aisu. "Mamamu dulu gadis paling keren di sekolah. Keras kepala dan berpendirian kuat." Papa mengenang dengan mata sendu, kemudian berubah gembira, detik berikutnya berkaca-kaca, seperti mengulang sebuah sejarah spesial dalam kepalanya.
"Coba mainkan, Pa," pinta Aisu. "Aku ingin dengar Papa main gitar."
Tetapi Papa menggeleng. Dia bangkit dan menaruh kembali gitar tuanya pada dudukan gitar di sudut lemari buku. "Sudah malam. Besok lagi saja," katanya. "Bagaimana kuliahmu?"
Aisu cemberut, gagal mendengar kisah romansa kedua orang tuanya. Papa bukan tipe orang yang mudah dirayu, rupanya.
"Yah, masih banyak tugas seperti proyek di tiap mata kuliah. Tugas-tugas bikin model 3D yang bikin pusing itu juga gak kalah banyak." Aisu mengembuskan napas. "Papa tahu, lah. Kan, Papa pernah jadi asisten dosen dan merasakannya juga waktu mahasiswa dulu."
Papa tertawa seraya melintas dari ruang baca ke balkon kamar yang jaraknya tidak seberapa jauh. "Benar juga." Papa mengambil sebatang rokok dan meletakkan bungkusnya di meja sofa di depan mata Aisu. Setelah menyalakannya dengan korek api gas dan membakas ujung rokok, Papa mengembuskan wejangan bersamaan dengan asap yang menguar.
"Dulu, Papa dan teman-teman satu jurusan pernah bergadang di indekos teman Papa selama dua hari. Selesai jam kuliah langsung mengerjakan tugas di kantin sambil makan. Bosan di kantin, kami pergi ke indekos dan mengebut menyelesaikan proyek rancangan bangunan dari sore sampai pagi buta."
Papa mendengus, sedikit tertawa sebelum melanjutkan, "Karena semuanya lelah, kami memutuskan tidur sebentar setelah memasang alarm jam delapan pagi, lima belas menit sebelum jam kuliah pertama dimulai.
"Tapi si4lnya, kami kecapekan dan malah bangun telat. Papa dan teman-teman Papa seperti orang kes3tanan berlari ke kampus jam setengah sembilan tanpa mandi, ganti baju, ataupun cuci muka. Hahaha." Papa menggeleng, hampir tersedak asap rokok saat tertawa.
"Terus akhirnya gimana, Pa?"
"Gimana lagi? Kami telat."
"Eh, terus tugasnya gimana? Papa datangnya sudah telat begitu, terus tugasnya gimana?" Mendadak saja, Aisu teringat kebijakan Pak Hiroki yang membuatnya tak boleh masuk tadi pagi, serta tugasnya yang tak diterima sama sekali.
"Ah, itu, sih, bukan masalah besar," ucap Papa enteng. "Papa dekat dengan dosen Papa. Kami dibolehkan masuk, dan tentu saja tugasnya diterima. Lagi pula, hanya telat sekitar lima belas menit. Ini bukan seperti dunia akan hancur jika mahasiswa telat."
"Eh?! Dibolehin?!" Aisu merengut. Agaknya, dia berharap Papa tidak diizinkan masuk dan tugasnya tidak diteriima, sama sepertinya. Bikin iri, pikirnya.
"Dibolehkan masuk, mungkin karena Papa ini asisten dosennya?" bangga Papa, tertawa, membuat Aisu merajuk.
Ini, sih, tidak adil! Pak Hiroki memang sok ketat banget!
Melihat Papa merokok dan menghabiskan satu batang sendirian, mendadak muncul sebuah dorongan dalam diri Aisu untuk ikut merokok. Selama Papa masih memandang teras rumah dan jalanan kompleks dari balkon, Aisu tergerak mengambil bungkus rokok Papa di meja sofa.
Tetapi, saat menarik sebatang dari bungkusnya, Papa tiba-tiba menoleh dan membuatnya kaget. "Kamu lagi apa, Aisu?"
Aisu membeliak, tertangkap basah. "E-eh, gak ngapa-ngapain, kok, Pa. Tadi aku cuma menutup bungkus rokoknya saja." Aisu menyengir gugup.
Papa menyipit, menaruh curiga pada gadis sulungnya. Tapi Aisu cepat-cepat mengalihkan topik. "Papa sendiri, gimana kerjaan? Kelihatannya sibuk banget, ya? Lagi mengerjakan proyek apa bulan ini, Pa?"
Aisu berdiri, melangkah mendekati meja kerja Papa yang terdepat selembar cetak biru dan alat-alat tulis dan berbagai macam bentuk penggaris yang berserakan.
Baru tiga detik Aisu melihat garis-garis yang saling menyusun menjadi sebuah sketsa bangunan, Papa langsung menghalanginya, menggulung cetak biru dan memasukkannya ke dalam tabung gambar.
"Tidak boleh," kata Papa.
"Apa? Aku cuma lihat saja, kok." Aisu menampilkan senyum terbaik.
Papa menggeleng. "Desain itu bagaikan sidik jari bagi pelaku seni, Aisu. Dan kamu tahu, kan, sidik jari tiap-tiap manusia itu berbeda?"
Aisu mengangguk lemah.
"Lalu, apa yang terjadi misalkan ada dua manusia yang bersidik jari sama?"
Aisu diam, memilih mendengarkan ucapan Papa.
"Secara harfiah, akan ada error pada sebuah sistem. Tidak mungkin ada dua manusia beridentitas sama di dunia ini, bukan? Manusia bukan amoeba yang bisa membelah diri. Bahkan kembaran sekali pun memiliki sidik jari yang berbeda.
"Dalam ranah seni, jika ada ciri khas sama pada dua karya, salah satunya akan langsung dikritik habis-habisan karena sudah mencuri identitas karya orang lain." Papa menarik napas. Segalanya menjadi serius secara tiba-tiba. "Desainmu tidak boleh sama dengan milik Papa."
Jika sudah menyangkut soal desain dan hal-hal tentang arsitektur, Papa akan menjadi sensitif, lebih-lebih dari masalah melakukan kesalahan seperti melupakan tugas yang diberikan Papa ataupun melanggar jam malam. Papa akan jadi seram dalam sekejab jika membahas kesalahan perihal seni dan arsitektur.
"Iya, Pa, maaf. Aisu cuma… agak bingung dengan tugas kali ini."
"Kamu, kan, sudah pinjam majalah arsitektur punya Papa? Memang tidak ada yang bisa dijadikan referensi?"
Aisu tersenyum lemah. Rasanya seperti kena marah. "Iya, nanti Aisu coba lihat lagi."
Papa melindas rokoknya di asbak dan menutup pintu balkon. Karena suasana mendadak tidak enak, Aisu asal mengambil topik dan bertanya, "Oh, iya, Pa. Ami baru masuk TK tapi kamarnya sudah dipisah. Kemarin Aisu dipisah kamarnya waktu SD kelas tiga, deh, Pa. Kenapa Ami cepat banget?"
Cara itu berhasil membuat Papa mesem-mesem. "Orang dewasa punya alasan tersendiri."
Aisu merasa curiga dengan senyuman papanya. "Papa…," Aisu mengernyit dengan wajah jenaka, "Aisu gak mau punya adik lagi, lho, ya!"
"Hahaha." Papa seketika tertawa. "Kenapa? Kalau Papa, sih, mau punya anak laki-laki."
"Papa!!" desis Aisu, mendadak malu.
"Lagi pula, Papa dan Mama masih muda, masih bisa menambah anak beberapa lagi." Papa tersenyum lebar.
"Beberapa?!?" pekik Aisu. "Papa!!" Aisu hanya bisa berteriak dengan wajah merah. Dia malu karena Papa seolah bersemangat membahas topik dewasa ini.
"Aisu tahu, Mama sama Papa masih sama-sama berusia 37 tahun. Di usia segitu, Papa bisa dibilang masih muda. Tapi Mama? Kasihan Mama kalau sampai hamil di usia hampir 40 tahun, Pa. risikonya lebih tinggi. Kalau Papa mau anak laki-laki, biar Aisu saja yang menikah dan bikin cucu buat Papa. Nanti Papa jadi kakek sebelum umur 40 tahun, gimana?" tawar Aisu.
"Hahaha." Papa tertawa lagi. "Bukan itu maksud Papa." Papa menepuk punggungnya. "Kamu gak boleh menikah muda. Pokoknya nikmati dulu masa mudamu, Aisu. Sekolah sampai jenjang yang tinggi, raih cita-citamu dulu, nikmati uang yang kamu hasilkan. Puaskan dulu hasratmu terhadap dunia dan diri sendiri, baru menikah."
Aisu baru pertama kali mendengar Papa berpesan seperti itu.
"Aisu boleh menikah kalau sudah usia berapa, Pa?" pancing Aisu.
"Hmm… minimal 27 tahun," jawab Papa dengan wajah serius.
"Hahaha! Kayak lowongan kerja saja." Aisu memegangi perutnya. "Tapi, bukannya 27 tahun itu terlalu tua bagi perempuan untuk menikah, Pa? nanti kalau gak ada yang mau sama Aisu gimana?"
"Bagus. Kamu temani Papa dan Mama saja sampai tua."
"Papa!" sungut Aisu. Lantas mereka berdua tertawa.
"Aisu tahu Papa bercanda," katanya. "Tapi omongan, kan, doa, Pa. Papa doakan Aisu yang baik-baik saja, dong!"
"Papa dan Mama selalu ingin yang terbaik untuk Kak Aisu dan Ami." Papa mendaratkan usapan di kepala Aisu. "Sudah, kamu tidur. Papa masih mau menyelesaikan ini."
Papa berbalik ke meja kerjanya, sedang Aisu tidak menurut. Dia duduk ke sofa di belakang workspace Papa, ruang baca kecil yang terdapat lemari buku tinggi, sofa dan meja, serta buku-buku koleksi Papa.
"Iya, nanti," kata Aisu. "Oh, iya, Pa. Mama dan Ami ke mana, ya? Kok, belum pulang? Aisu telepon juga tidak diangkat."
Aisu tak melihat Papa yang tersentak ketika sedang menarik garis dengan bantuan penggaris besi panjang di atas kertas cetak birunya. Setelah berdeham pelan, Papa menjawab, "Mamamu dan Ami menginap di rumah Oma."
"Rumah Oma? Maksud Papa, mamanya Papa?" tanya Aisu, melihat anggukan singkat dari Papa yang masih terpekur pada kerjaannya. "Wah, itu, kan di Jakarta! Kenapa Papa dan aku gak ikut? Memang Mama ada acara apa ke sana, Pa? kenapa cuma Ami yang diajak?"
Pertanyaan bertubi anak gadis sulungnya tak membuat Papa terkejut. Dengan tenang, Papa menjawab satu-satu, "Papa masih ada kerjaan. Begitu juga dengan kamu yang punya banyak tugas kuliah. Ini bukan musim liburan. Ami juga masih sekolah, dan pasti Mama akan segera pulang besok pagi ataupun besok sore. Gak akan lama, Kak Aisu."
"Hmmm…." Aisu mengangguk-angguk. "Oh, iya!" pekiknya. "Aku lupa kasih tahu Papa! Mbak Ris mau ngomong sama Papa!"
"Mbak Ris? Kenapa?"
"Gak tahu, Pa. Sepertinya hal penting. Mbak Ris sampai gugup gitu waktu kasih tahu Aisu kalau dia ingin bicara dengan Papa."
Papa diam sejenak. "Kak Aisu," panggil Papa dengan nada datar dan dalam.
"Iya, Pa?" Aisu, entah mengapa mengubah posisi duduknya menjadi sigap. Nada bicara Papa yang itu hanya terdengar jika Papa sedang memberi larangan.
"Berjanjilah pada Papa."
"Berjanji… apa, Pa?"
Papa selintas menoleh dan berwajah serius. "Menikah hanya saat kamu sudah berhasil meraih cita-cita dan sudah cukup bahagia dengan dirimu sendiri. Berjanjilah pada Papa."
Aisu tak mengerti apa maksud perkataan Papa. Namun, ketimbang menghadapi omelan Papa, Aisu menelan ludah dan mengangguk. "I-iya, Pa."
Papa mencermati wajah Aisu sebentar. Maksudnya, menusuk Aisu dengan tatapan mata tajam yang tak biasanya Papa layangkan. Kemudian Papa memutar roda kursi kantornya kembali menghadap meja.
Aisu yang masih bingung dengan Papa, mendadak mendengar papanya memanggil lagi, "Kak."
"Eh, iya, Pa?"
"Papa boleh tanya?"
Aisu memandang punggung papanya yang terfokus menghadap pekerjaan. "Tanya… apa?"
"Jika… seandainya terjadi hal buruk yang tak terelakkan yang mengharuskan Kak Aisu memilih satu orang berharga, Kakak akan memilih siapa?"
Aisu mengernyit. "Maksud Papa?"
"Kakak akan memilih Papa atau Mama?"
Mata Aisu membulat menatap punggung Papa yang dirasanya menjadi jauh dan tak terjangkau. "Eh?"