Gumpalan benang tersebut kian terbakar dan meliuk kepanasan, bentuknya semakin habis dan menciut, sampai akhirnya sedikit lelehan plastiknya terjatuh ke trotoar. Setelah salah satu sisi gumpalan dibakar, benang tersebut dapat dicopot dengan mudah. Deka segera membuang gumpalan benang yang ternyata tak seberapa banyaknya itu—tapi membuatnya kesulitan—untuk dibuang di tempat sampah umum terdekat.
Selepasnya, Deka tidak menuruti perkataan Reyo untuk mengembalikan korek gas yang isinya sudah sekarat itu. Deka tidak membuangnya juga. Dia mengantunginya di saku celana. Segeralah Deka menarik stang sepeda, berlari sedikit sambil menuntun stang, mengambil ancang-ancang dengan menoleh ke kanan dan ke kiri jalan raya dengan maksud melihat keramaian kendaraan, kemudian langsung melompat ke atas sadel dan mengayuh sepeda gunungnya cepat-cepat ke kafe Dinolatte.
Deka sampai beberapa menit setelahnya. Tak membutuhkan waktu lama, berhubung kakinya mengayuh sangat cepat tapi tetap berhati-hati sampai ke kafe Dinolatte yang hanya berjarak beberapa blok saja.
Sampai di depan kafe Dinolatte, tidak seperti biasanya, kafe dalam keadaan tertutup. Kaca-kaca besar dan transparan yang menampilkan seluruh ruangan, tertutup tirai putih plastik. Pada hari biasanya, menarik tirai adalah tugas Iyo dan atau juga Irfan. Namun berhubung hari ini kafe Dinolatte tidak akan pernah buka lagi… yah, begitulah. Lagi pula, pintu depan terkunci.
Turun dari sadel sepeda, Deka berputar menuju bagian belakang kafe, masuk dari gang kecil di antara dua bangunan ruko. Lantas memarkirkan sepedanya di dekat tiang listrik, kemudian membuka tas selempang dan mengeluarkan rantai sepeda untuk mengunci gerigi roda sepedanya pada tiang listrik.
Selepas itu, Deka mencoba masuk lewat pintu besi belakang kafe, karena mungkin saja, walau pintu depan terkunci, Iyo dan ataupun Irfan sudah berada di dalam dan masuk lewat pintu belakang.
Akan tetapi, saat Deka menarik gagang besi yang merambatkan panas dari sinar matahari, pintunya tidak terbuka sama sekali. Terkunci. Deka coba tarik-tarik dan buka paksa pun pintunya tidak bergeming.
Bingung dengan apa yang terjadi, (dan hampir saja dituduh sebagai pencuri yang mencoba membobol kafe, walau sudah berhasil menjelaskan kesalahpahaman pada beberapa orang lewat) Deka akhirnya mencoba menelepon Iyo.
Riiiiing
Riiiiing
Riiiiing
Riiiiing
Namun sayangnya, Iyo tidak menjawab panggilan itu. “Ya Tuhan, Mas Iyo kenapa, sih?” Deka sekali lagi mencoba menghubungi Iyo, tapi yang terjadi tetaplah sama. Telepon tidak terangkat, meski nada deringnya bunyi dan tersambung.
“Kenapa gak dijawab juga?” bingung Deka. “Mas Iyo ke mana, ya? Apa briefing yang semalam Mas Iyo bilang itu sebenarnya tadi pagi? Tapi, waktu di jalan, Mas Iyo bilangnya boleh datang siang, kok? Ah, Mas Iyo ke mana, ya? Apa jangan-jangan pembagian uang gaji bulan ini sudah selesai tadi pagi? Apa sebenarnya yang diakal-akali itu aku, bukannya Mas Irfan—” Deka mendadak teringat sesuatu, “Ah! Mas Irfan!”
Deka kemudian memutus panggilan yang tidak dijawab juga menuju Iyo. Dia beralih pada nomor telepon Irfan, lantas meneleponnya.
Riiiing
Riiing
Riiing
Nada dering panggilan terus berjalan dan berulang berkali-kali, dan hal itu sempat membuat Deka hampir putus asa karena terlalu cemas Irfan tidak akan mengangkat telepon.
Riiiing
“Yah, Mas Irfan pun gak bisa dihubungi juga—”
Tut!
“Aduh, Deka! Ngapain, sih, telepon pagi-pagi begini?! Ganggu orang tidur saja kamu!!”
Sewotan Irfan menyambutnya, memasuki telinga Deka kencang-kencang. Tetapi Deka tidak menyahuti dengan sewotan yang sama, pun merasa jengkel karena suara berisik Irfan terlalu keras dan menyakiti gendang telinganya. Malah, entah mengapa Deka merasa lega karena Irfan menjawab telepon.
“Eh, Mas Irfan!” pekik Deka bahagia. “Lagi di mana?! Kenapa gak ke sini?!” tanya Deka antusias, sekaligus dengan cengiran lebar.
“Ck! Kamu menelepon cuma untuk bertanya hal itu? Sudah, lah! Ini hari minggu! Hari minggu itu jadwalku untuk libur! Tutup!”
“Ah— sebentar, Mas Irfan!”
“Kenapa lagi?!!” Irfan terdengar menggerutu.
“Mas Irfan gak ke kafe? Semalam, kan, Mas Iyo menyuruh kita untuk datang pagi ke sini, soalnya Bos ingin bicara.”
“Datang pagi apa?! Sifku sama Iyo itu jam sembilan!”
“Eh? Tapi, Mas Irfan—”
“Sudah, lah! Sekarang masih jam setengah tujuh! Aku masih punya waktu untuk tidur lagi dan datang nanti-nanti. Kamu gak usah bilangin aku untuk datang pagi, juga, aku tiap hari memang datang pagi!” Terdengar bunyi suara gesekan kain. Sepertinya Irfan menggulung tubuhnya kembali masuk ke dalam selimut.
“Mas Irfan! Tapi sekarang bukan masih pagi! Sekarang sudah jam dua siang! Bukan jam setengah tujuh pagi!” peringat Deka, mengoreksi Irfan yang masih setengah sadar.
“.…”
Selepas itu hening, tak ada suara apa pun untuk sementara waktu. Deka tebak, Irfan sedang terbengong sambil melihat jam dinding ataupun jam pada ponselnya, saling menyesuaikan jarum jam dengan angka digital di sana.
“Mas… Irfan?”
“HAH?! SEJAK KAPAN SUDAH SIANG BEGINI?!” Terdengar bunyi gaduh dari seberang telepon. Dan dari teriakan Irfan barusan, Deka sampai harus menjauhkan ponsel dari telinganya. Kemudian, suara di seberang berubah lagi menjadi kegaduhan-kegaduhan khas seseorang yang cepat-cepat berdiri dan rapi-rapi dari ranjangnya, karena tahu dirinya terlambat berangkat.
“Mas Irfan?” panggil Deka. “Mas Irfan!”
“Eh, ya, Deka? Sudah dulu, ya! Aku mau bimbingan! Harus ketemu dosen pembimbing, karena sudah janji hari Minggu ini mau pergi ke komunitas yang beliau ikuti! Sudah, ya!”
“Eh, Mas Irfan! Sebentar! Nanti dulu, kafenya—!!”
Tut!
Tetapi telepon sudah lebih dulu diputus oleh Irfan.
“—terkunci….” Deka menatap layar ponselnya. Dia termangu oleh kata-kata Irfan. “Mana ada bimbingan skripsi hari Minggu? Dan lagi…,” Deka mengernyit, menggeser layar notifikasi yang menunjukkan jam, hari, tanggal, dan tahun, ke bawah, “kenapa Mas Irfan bilang hari ini hari Minggu? Sekarang, kan, hari Rabu?”
Deka mengernyit dengan kerutan dahi yang semakin dalam dan berlipat-lipat. Dia menggaruk kepala. “Apa Mas Irfan belum sepenuhnya bangun, ya? Masih belum sadar sampai mengingau kayak gitu?” Deka menggeleng-geleng, menekan nama yang lain untuk meneleponnya sekali lagi. “Yah, biarin, lah. Mas Irfan dari kemarin-kemarin memang sudah aneh dan gak jelas. GWS, Mas Irfan. Get well soon.”
Riiing
Riiiing
Riiiing
Nada dering menuju Iyo masih sama, menggantung dan tidak tersambung juga. Deka penasaran, ke mana pergi Iyo sedari tadi. Bahkan senior kerjanya itu tidak memberi pesan apa-apa dari pagi, jika memang ada perubahan rencana atau pengunduran waktu.
Tut
Deka mengakhiri panggilan yang bahkan tidak diangkat itu.
“Hhhhh.” Deka menghela napas. “Apa ini karma, ya, karena sudah merencanakan sesuatu yang jahat dengan Mas Iyo kepada Mas Irfan?” katanya pada diri sendiri, merasa bersalah sekaligus putus asa.
“Kalau sudah begini, mau ke mana? Pulang? Nanti kalau Bang Deril bertanya, gimana? Kalau Bang Deril curiga, gimana? Kalau Bang Deril melaporkanku yang siang-siang sudah pulang ke rumah pada Ayah dan Bunda, gimana?” Deka menghela napas lagi, dia menunduk dan merasa layu kembali. Semangat yang tadi merasukinya untuk mengambil uang gajian bulan itu spontan lenyap dan bersisa.
“Gimana caranya membayar tagihan rumah sakit Bunda?”
Deka semakin menunduk. Dia yang berdiri tepat di depan pintu besi belakang kafe, merasa tubuhnya semakin lemah dan hendak menyandarkannya pada dinding. Dan mumpung dirinya menunduk, Deka tinggal melangkah satu tapak lagi saja untuk menyandarkan kepalanya, keningnya, pada pintu besi itu untuk menumpu seluruh tubuhnya.
Satu tapak dia langkahkan. Wajahnya tampak sedih dan tidak b*******h. Namun, begitu kakinya menapak pada aspal, begitu kepalanya yang tertunduk semakin dekat pada pintu besi, daun pintu besi tersebut malah menghampirinya.
Akibatnya, kening Deka ditabrak lebih dulu oleh pintu besi yang kokoh dan keras itu, sampai berbunyi dug! yang sangat kencang.
“Aaarrrghh!” pekik Deka, yang langsung limbung pada pijakan kakinya, sekaligus langsung memegangi keningnya yang terasa pusing dan sakit.
Deka mengangkat wajah, masih tak tahu sebenarnya jika pintu besi itu berayun terbuka atau ada yang membukakan pintunya. Yang Deka tahu, kepalanya terlalu berayun ke depan, hingga menabrakkan diri pada pintu besi yang keras. Yang Deka tahu, itu adalah kesalahannya sendiri karena telah ceroboh.
Akan tetapi, ketika kepalanya terangkat, matanya yang meringis lantas membulat saat melihat seorang lelaki berpakaian piyama yang muncul dari balik pintu besi yang terbuka.
Deka dibuahi tatapan datar yang tampak lelah pada wajah matang-tapi-tampak-muda miliknya. Dari perawakan dan penampilannya, Deka bisa tahu kalau lelaki berpiyama di depannya itu seumuran dengan Iyo.
Namun, orang yang tak mengenal lelaki itu akan mematok usia yang jauh lebih tua ketimbang usia yang sebenarnya. Itu, tentu karena wajah lelah dan kantung mata hitam pada wajahnya, yang membuat si lelaki berpiyama tampak bertahun-tahun lebih tua.
Akan tetapi, yang membuat Deka kaget saat ini bukanlah usia. Melainkan, penampilan si lelaki yang tampak kelelahan dan kacau itu, yang baru pertama kali Deka lihat setelah beberapa kali bertemu dengannya.
“E..eh, Bos? Kenapa… turun dari lantai dua?”
Lelaki berpiyama, yang Deka panggil sebagai bos, memanglah Bos yang selama ini Deka, Irfan, dan Iyo bicarakan. Seorang manager kafe sekaligus bos pemilik usaha kafe tersebut.
Lelaki itu menatap Deka sebentar, membuat Deka bingung pada sikapnya. Tetapi kemudian, Bos mengambil sesuatu dari kantung piyamanya. Sebuah kertas putih kecil yang panjang dan tebal.
Bos menyerahkannya pada Deka, yang Deka sendiri tanpa sadar menerimanya karena benda itu disodorkan kepadanya.
“Eh, ini apa, Bos?” tanya Deka.
Namun, setelah memberikan kertas itu, Bos langsung masuk kembali ke dalam kafe dan menutup pintu besinya kencang.
Brakk!
Grek! Grek!
Kemudian hening. Tak ada suara apa pun lagi.
Deka saat ini menatap pintu besi hitam itu dengan tatapan bengong yang tampak pongo. Mulutnya juga agak terbuka tanpa sadar.
“...eh?” Deka bergantian menatap pintu besi dan kertas putih panjang dan tebal pada tangannya. “Apa yang baru saja… terjadi?”
Penasaran dengan ketebalan kertas tersebut, Deka memencetnya berkali-kali. Sadar bahwa terdapat lipatan pada kertas yang ternyata adalah amplop itu, Deka membukanya. Lantas kedua matanya membelalak kaget.
“LHO, U-UANG?!?”