Aroma minuman fermentasi prem yang manis membelai penciuman Vizena, ia begitu menyukai aroma arak prem tradisional Luxorth ini. Begitu manis dan harum saat dihirup, asam saat dikecap untuk pertama kali, lalu terasa manis ketika disesap sebagian.
Sembari menikmati arak buah prem itu, Vizena membolak-balikkan dokumen yang ia dapat dari Rasheq. Di temani oleh Ariah dan Rasheq mereka menghabiskan malam di rumah hiburan yang seringkali di datangi Vizena setelah pindah kembali ke Istana lalu kembali sebelum jam malam berlaku.
"Ini sudah semuanya?" Tanya Vizena.
"Sudah, Yang Mulia. Jumlah keseluruhan ada tiga ratus delapan puluh sembilan keluarga di Ibukota yang kehilangan sumber keuangan mereka." Jawab Rasheq dengan sopan. Dia sudah mengumpulkan informasi ini beberapa waktu tanpa henti.
"Baiklah, undangan itu kau sudah berikan kepada mereka?" Tanya Vizena lagi.
"Sudah, Yang Mulia."
"Ini minumlah." Vizena menyodorkan satu botol arak prem pada Rasheq.
"Ariah kau juga minumlah!"
"Tidak. Tidak." Ariah mengibaskan tangannya dengan cepat. "Anda tahu aku tidak bisa minum" Katanya lagi. Vizena tersenyum samar, dia tahu Ariah memang tidak bisa meski hanya setetes. Itu hanya akan membuatnya tidak sadar.
Pandangan Vizena teralih ke luar jendela ruangan yang dia gunakan di rumah hiburan itu. Di lantai bawah sedang berlangsung sebuah pertunjukkan. Sepertinya para lakon itu sedang memainkan cerita percintaan. Semua pengunjung begitu antusias menyaksikan bagaimana para lakon itu bermain dengan sempurna.
Melihat pertunjukkan itu, pikiran Vizena melayang pada beberapa tahun lalu. Saat semua yang ada dalam hidupnya sama sekali belum berubah. Dia masih seorang puteri kecil yang di manja oleh Kakaknya dan Kaisar, dan menjadi kesayangan semua orang di istana.
Waktu itu, dia juga suka sekali bermain peran. Dia selalu berpura-pura menjadi seorang Ratu dan kakaknya selalu berlutut di hadapannya untuk menerima perintahnya.
"Dengarkan aku, ambilkan aku buah apel itu!" Perintahnya pada Loexard muda sembari menunjuk ke arah pohon yang tak jauh dari mereka.
"Siap melaksanakan perintah, Yang Mulia Ratu!"
Leoxard pun dengan senang hati memanjat pohon tersebut. Meski pelayannya melarang dia untuk memanjat dia tetap melakukannya karena begitu menyayangi Vizena.
"Kakak bukan yang itu, itu kecil." Protes Vizena kecil sembari menunjuk pada buah yang terletak lebih tinggi dari tempat Leoxard berada.
"Yang Mulia, minta Yang Mulia Pangeran turun. Bagaimana nanti jika dia terjatuh, kalian tidak bisa bermain lagi." Kata pelayan Leoxard.
"Bicara apa kau Jazel?! Jika aku dengar bicara begitu lagi aku akan menghukummu!"
"Kakak turunlah, aku sudah tidak ingin apel itu." Teriak Vizena dari bawah.
Namun, Leoxard tidak melakukannya. Dia memanjat lebih tinggi kemudian mengambil apel yang diinginkan oleh Vizena. Setelahnya ia melompat dari tempat dia berada sekarang dan mendarat dengan selamat dihadapan Vizena. Ia berlutut untuk memberikan apel itu pada Vizena, dan gadis itu mengambilnya dengan senyum sumringah.
"Ingat Jazel, tidak ada yang bisa menghalangiku untuk mengabulkan permintaan adikku!" Ujar Leoxard pada Jazel yang mematung di sampingnya.
"Ba-baik, Jazel mengerti Yang Mulia."
"Bagaimana Ratu, apa anda menyukainya?" Tanya Leoxard pada Vizena yang langsung melahap apel itu dengan mulut kecilnya.
"eung!" Vizena mengangguk girang. Tangan Leoxard terjulur untuk mengacak-acak rambut Vizena.
"Sebenarnya kenapa kau ingin menjadi seorang ratu?" Tanya Leoxard sembari memandangi Vizena yang cukup gigih mengunyah apelnya.
"Suatu hari nanti aku akan menikah dengan raja dari negara asing dan menjadi ratu, karena ratu..... punya segalanya." Katanya dengan mulut penuh makanan. Leoxard tertawa terbahak-bahak mendengar penjelasan adiknya. Bukan penjelasan Vizena yang membuatnya tertawa, melainkan cara menjelaskan Vizena dengan mulut penuh makanan.
"Mana ada ratu yang gembul dan suka makanan begini." Ujar Leoxard sembari mencubit pipi gemuk Vizena.
Senyum pun mengembang di wajah Vizena meski matanya begitu terlihat sendu. Dia sangat merindukan kakaknya, ingin sekali ia mengelilingi dunia untuk mencari keberadaan kakaknya yang dia yakini belum tiada itu.
"Arak ini sangat nikmat, Yang Mulia." Suara Rasheq menyapu telinga Vizena dan mengenyahkan lamunannya tentang masa lalu.
"Tentu saja, bahkan Tuan Dranis pun menyukainya." Vizena mengatakan itu begitu saja. Namun, Ariah dan Rasheq saling memandang satu sama lainnya.
"Tuan Dranis? Apa anda merindukannya Yang Mulia?" Tanya Ariah sengaja menggoda Vizena.
"Me-merindukan? Tidak! Tidak ada hal semacam itu." Balas Vizena sembari memalingkan wajahnya yang memerah.
Di sampingnya Ariah dan Rasheq terkikik melihat bagaimana reaksi Vizena saat nama itu disebutkan.
"Berhenti tertawa!" Geram Vizena lalu ia menyesap minumannya tapi malah tersedak, "uhuk, uhuk." Ia terbatuk berkali-kali hingga Ariah harus membantunya menepuk punggung Vizena untuk meringankan batuknya
"Tenanglah, Yang Mulia." Ujar Ariah lagi.
"Sudah Ariah, kau suka sekali mengganggu Yang Mulia." Timpal Rasheq.
"Tapi memang Yang Mulia terlihat lebih serasi dengan Tuan Dranis, dan sepertinya Tuan Dranis menyukai Yang Mulia."
"Ariah, hentikan semua omong kosong ini." Dengus Vizena.
"Maaf Yang Mulia, hamba hanya menyampaikan pendapat hamba."
Setelah tenggorokannya membaik, Vizena menuangkan arak ke dalam gelasnya kemudian menenggaknya perlahan sampai habis.
"Pesankan lima botol untuk dibawa pulang." Ujar Vizena pada Rasheq.
°°°°°
Gemerisik suara gaun Vizena yang menyapu lantai bergema di seluruh koridor teras istana setiap kali ia melangkah. Hari ini ia harus pergi ke ruang pertemuan, ia telah membuat janji dengan beberapa tokoh penting yang telah lama menjalankan beberapa usaha mereka dan membantu perekonomian Luxorth berkembang pesat.
Takut terlambat, Vizena melangkah dengan terburu-buru hingga beberapa kali ia hampir tersandung dengan kakinya sendiri. Dia sangat antusias dengan tanggung jawabnya, karena itu bisa membantu rakyatnya keluar dari kemiskinan.
Tepat di depan ruang pertemuan, Vizena berhenti sejenak. Mengatur nafasnya agar tidak terengah-engah, lalu ia meminta penjaga untuk membuka pintu ruang pertemuan tersebut dan masuk kedalamnya.
Vizena mengambil nafas panjang dan tertahan ketika ia masuk ke dalam ruangan tersebut namun yang dia jumpai hanya kehampaan. Tidak ada satu pun orang yang telah dia undang datang kemari. Ruangan tersebut kosong.
"Yang Mulia, kenapa mereka belum datang?" Tanya Ariah yang cukup heran dengan situasi yang mereka alami saat ini.
"Apa kau yakin Rasheq telah mengirim undangannya dengan benar?" Tanya Vizena sembari menghembuskan nafas panjangnya secara perlahan. Jika di lihat dari waktunya, seharusnya Vizena datang terlambat. Namun kenyataannya, ruangan itu begitu sepi.
"Benar, ada empat Tuan Besar yang kami kirimi surat-surat itu." Ujar Ariah, dia merasa yakin karena Rasheq tidak mengantarnya sendirian. Sekalian pergi ke pasar, Ariah ikut Rasheq memberikan semua undangan pada beberapa orang yang seharusnya datang ke tempatnya.
"Kalau begitu kita tunggu saja sampai mereka datang." Kata Vizena. Ia kembali melangkahkan kakinya, melewati meja panjang dan Ariah mengekor di belakangnya. Vizena duduk di ujung meja, tatapannya terus menatap ke arah pintu masuk menunggu orang-orang tersebug datang.
15 menit berlalu, tapi para undangan itu tak kunjung datang. Vizena sudah mulai bosan menunggu, melihat sifatnya ini bukanlah hal yang paling disukai Vizena. Dia sama sekali tidak suka menunggu seperti ini.
45 menit berjalan, dan tidak ada satupun makhluk yang datang melewati pintu masuk tersebut, bahkan seekor lalat pun tak ada. Vizena begitu gerah menunggu, ia sudah sangat bosan tapi harus tetap bertahan dan yakin bahwa orang-orang itu akan datang.
Dua jam kemudian, mata Vizena memerah karena begitu fokus hanya memandangi pintu masuk yang tidak di lewati oleh siapapun itu. Sementara Ariah sudah duduk tak jauh dari Vizena sembari menatap Vizena dengan iba.
"Yang Mulia mereka tidak akan datang." Kata Ariah dengan suara lirih.
"Sebentar lagi." Vizena mengatakannya sudah ratusan kali, nyatanya dia telah menunggu sampai dua jam lamanya dan orang yang seharusnya datang itu tidak pernah tiba.
Terdengar langkah kaki berderap mendekati ruang pertemuan. Mendengarnya Vizena menegakkan tubuhnya dan memandangi ke arah pintu masuk. Akan tetapi setelah beberapa saat ditunggu, yang muncul di depan pintu masuk bukanlah orang yang diundang oleh Vizena, melainkan beberapa pengawal istana yang sedang berbaris lalu masuk ke ruang pertemuan.
"Ada apa ini?" Tanya Vizena yang seketika ia berdiri.
"Menteri pertahanan telah memerintahkan untuk menangkap anda, Yang Mulia Puteri dengan dugaan pencurian." Kata Salah seorang pengawal yang bertubuh tegap.
"Apa? Apa maksudnya pencurian? Pencurian apa yang aku lakukan?!!" Tentu saja Vizena tidak mengerti dengan tuduhan yang ditujukan padanya. Dia tidak merasa telah mencuri sesuatu.
"Maaf Yang Mulia Puteri, kami harus menangkap anda!" Ujar Pengawal itu.
"Tangkap!" Perintah Pengawal itu pada yang lainnya.
Dengan tubuh kecilnya Vizena dikepung oleh beberapa pengawal gagah dan bertubuh besar itu. Mereka mengeluarkan tali pengikat untuk mengikat Vizena. Tapi Ariah segera berlari ke depan Vizena sembari merentangkan tangannya untuk menghalangi para pengawal itu.
"Kalian tidak boleh membawa Tuan Puteri!"
"Tangkap dia juga!" Kata pengawal itu.
Para pengawal yang lain telah melangkah maju untuk menangkap Ariah terlebih dahulu. Melihat Ariah hendak ditangkap Vizena tak bisa membiarkannya.
"Tunggu! Jangan tangkap dia! Lepaskan dia! Aku akan ikut dengan kalian." Teriaknya dengan mengulurkan kedua tangannya ke depan untuk di ikat. Ariah menggeleng pada Vizena dan pipinya sudah dipenuhi oleh airmata.
"Ariah, jangan khawatir. Siapkan saja makan malamku." Kata Vizena lalu ia dibawa oleh para pengawal.
.
.
.
::Bersambung::