Aroma harum sandalwood terendus oleh penciuman Vizena, begitu harum dan melekat, hingga perlahan-lahan ia mebuka kelopak matanya yang begitu berat. Setelah berusaha, pandangan matanya masih buram, ketika itu ia melihat sosok bayangan hitam sedang duduk di ranjangnya sembari bersandar pada tiang penyangga ranjangnya. Berkali-kali ia mengerjapkan matanya, hingga tatapannya menjadi lebih jernih.
Hatinya kecewa ketika sosok bayangan hitam itu bukanlah sosok yang dia harapkan. Vizena mendengus pelan, lalu berusaha untuk duduk sendiri.
"Anda sudah bangun!" Gard terbangun dari tidurnya dengan seketika. Ia melihat Vizena berusaha bersandar pada kepala ranjangnya, lalu membantunya.
"Mengapa kau disini?" Suara Vizena begitu parau, ia bahkan merasakan tenggorokannya sangat perih. Ia berusaha menyembunyikan rasa takutnya ketika melihat Gard. Semua yang terjadi tempo hari benar-benar membuat Vizena menjadi sangat waspada.
"Saya? Disini? Itu..." Gard tampak bingung hanya dengan satu pertanyaan sederhana.
"Pergilah!" Kata Vizena.
Gard tidak bisa memaksakan dirinya untuk tetap berada di sana, ia menyadari bahwa kesalahan yang di buat olehnya teramat besar. Dia beranjak untuk pergi dari kamar Vizena.
"Tunggu!" Suara Vizena kembali menahan langkah Gard yang hampir keluar dari kamarnya. Gard menoleh padanya, menantikan dirinya mengatakan sesuatu.
"Kembalikan Ariah padaku dalam keadaan hidup." Suara Vizena sangat datar, ia mengatakannya sembari menatap ke arah yang lain. Sementara Gard merasa aneh, dia tidak berusaha melukai Ariah atau semacamnya, tapi sebuah pemikiran terlintas dalam benaknya.
'Pasti Eyster.' Pikir Gard, tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya.
"Baiklah, saya akan melaksanakan perintah Tuan Put-"
"Yang Muliaa..." Sebuah suara serak menyeruak menyela ucapan Gard. Seorang penjaga menerobos masuk ke dalam kamar Vizena.
"Ada apa?" Tanya Vizena.
"Itu, itu, Nona Ariah dan Tuan Rasheq-"
Mendengar nama dua orang pengikutnya itu, seketika saja Vizena turun dari ranjangnya dan mendekati penjaga itu. Gard terkejut melihat reaksi Vizena seketika menghampirinya dan mendekap bahu kecilnya.
"Yang Mulia anda belum pulih." Kata Gard.
"Dimana Ariah dan Rasheq?" Tanya Vizena dengan panik.
"Hal-halaman." Penjaga itu tergagap, seolah-olah hal yang dia sampaikan adalah hal yang buruk.
Vizena melepaskan tangan Gard dari bahunya. Dia berlari keluar dari kamarnya tanpa menggunakan alas kaki dan juga berpakaian tipis. Rasa takutnya Vizena begitu besar, apalagi mengingat bagaimana penjaga itu menyampaikan beritanya seolah dia baru saja melihat sesuatu yang buruk.
Kaki Vizena terhenti saat dia berada di halaman depan rumahnya. Udara di sekitarnya berhenti dan nafasnya tercekat ketika mata sayunya menangkap sosok Rasheq yang berlutut di halamannya dengan tubuh penuh luka dan darah, tidak hanya itu sosok di hadapan Rasheq tak berdaya tergolek tanpa jiwa di hadapannya.
"Tidak! Tidak! Tidak! Ariah...." Kaki Vizena terseok-seok ketika ia berusaha mencapai tubuh Ariah yang tak bernyawa terbaring di depannya. Lutut Vizena tak bertenaga, ia ambruk tepat disamping tubuh Ariah sembari memeluk raga yang tak lagi bernyawa itu.
"Ariah, bangunlah... Ariah! Bangun, kumohon." Isak tangis Vizena membuat tubuhnya gemetat hebat. Ia terus mengguncang tubuh Ariah berusaha membangunkannya, namun sia-sia saja usahanya. Jiwa Ariah telah pergi, kini hanya tinggal tubuhnya yang dipenuhi oleh luka.
Mata Gard terbelalak lebar ketika ia melihat Ariah yang sudah terbujur kaku dengan banyak luka pada hampir semua tubuhnya. Dia tidak menyangka bahwa ini akan terjadi, dia tidak habis pikir rupanya Eyster sangat kejam.
°°°°°
Hujan mengguyur bumi Luxorth hari itu seolah ikut bersedih seperti halnya Vizena yang merana dalam hatinya. Di hadapan jasad Ariah yang di semayamkan ia hanya menatap kosong peti mati itu, airmatanya tak bisa lagi tumpah karena ia sudah menghabiskannya beberapa hari setelah Ariah tiada.
Tak pernah terpikirkan dalam benak Vizena meski hanya satu detik bahwa dia akan kehilangan Ariah di tangan orang terdekatnya sendiri. Dengan perginya Ariah untuk selamanya ini, Vizena merasa bahwa dirinya sendiri telah kehilangan separuh belahan jiwanya
Ariah sudah seperti adiknya sendiri, pertama kali mereka bertemu saat pesta ulang tahun Vizena yang ke sepuluh. Waktu itu dia diperbolehkan untuk memilih teman bermainnya sendiri, dan Ariah begitu menarik perhatiannya karena rambutnya yang di kuncir dua membuat Ariah terlihat menggemaskan, selain itu Vizena sangat menyukai Ariah karena gadis itu suka sekali makan dan berbicara.
Semua kenangan tentang Ariah terlintas dalam benak Vizena. Suara Ariah yang khas ketika memanggil Vizena, ketika mereka berdua melakukan kebodohan bersama, saat Ariah menahan Vizena untuk pergi menyelinap dari istana tapi pada akhirnya Ariah malah mengikutinya keluar istana, Ariah yang selalu menceritakan semua buku yang dia baca, kebiasaannya yang menunggu Vizena berlatih sembari memberikan semangat, Ariah yang marah pada Vizena jika Si Tuan Puteri tidak menurut, dan masih banyak hal lainnya. Vizena telah kehilangan sosok sahabat, adik dan juga partner hidup sejatinya.
Kembali ke istananya, Vizena roboh seketika setelah ia menginjakkan kaki di kamarnya. Dia menarik dirinya ke sudut ruangan yang gelap, menarik kakinya lalu ia memeluk lututnya. Tangisnya pecah setelah ia kira tak bisa lagi meneteskan airmata.
Kini dirinya sendirian dalam tempat tinggalnya. Tidak ada lagi tawa Ariah yang menghiburnya, atau teriakannya yang membangunkan paginya. Vizena benar-benar tenggelam dalam kehampaan dan kegelapan yang tak berdasar.
°°°°°
Dranis berdecak sembari mendesah pelan, dia begitu cemas memperhatikan Zaviest yang tampak murung sejak beberapa hari ini. Tidak bernafsu untuk makan, menolak pertemuan pribadi, bahkan menolak kedatangan Moscha dan Vein. Setelah persidangan Zaviest selalu berjalan ke kolam, lalu melamun beberapa waktu dan baru kembali jika Dranis mengingatkannya.
Merasa sangat frustasi dengan keadaan Zaviest yang begitu buruk, Dranis pun pergi untuk menemui Pangeran Moscha di kediamannya. Ia mengeluhkan semua perubahan sikap Zaviest beberapa hari.
"Benarkah? Kakakku tampak murung?" Tanya Moscha sembari memindah halaman buku bacaan bergambar miliknya. Moscha tidak terlalu terkejut dengan perubaham sikap Zaviest, karena begitulah sang Raja. Selalu berubah-ubah.
"Benar sekali, Yang Mulia." Kata Dranis dengan menghela nafasnya.
"Mungkin dia merindukan Puteri Vizena, tenanglah Dranis." Ujar Moscha.
"Tapi ini tidak seperti biasanya, coba Pangeran pikirkan. Pernahkan Yang Mukia menolak untuk menemui anda?"
Moscha menutup bukunya seketika lalu duduk dengan tegak sembari memandangi Dranis yang tampak gelisah, itu memang tidak pernah terjadi sebelumnya. Memang rasanya janggal sekali dengan tingkah Zaviest. Bahkan saat persidangan rutin di pagi hari, Zaviest tampak tidak fokus pada laporan dan petisi yang di sampaikan bawahannya.
"Kalo begitu, ayo kita ganggu dia lagi. Aku akan mencari tahu penyebabnya." Ujar Moscha.
Keduanya beranjak dari tempat tinggal Moscha dan pergi ke kamar pribadi raja Zaviest. Anehnya mereka tidak menemukan siapapun di dalam kamar raja.
"Yang Mulia kemana?" Tanya Dranis bergumam.
"Coba kita cari dulu di ruangan yang lain." Usul Moscha.
"Tunggu Pangeran." Dranis melihat satu lembar kertas di atas ranjang kaisar. Dia segera mengambilnya lalu membaca isinya.
Jantung Dranis serasa berhenti setelah membaca isi surat yang ditinggalkan oleh Zaviest di atas Ranjang itu. Tangannya gemetar sehingga menjatuhkan kertas itu ke lantai. Moscha memungut surat tersebut lali membaca isinya.
'Aku pergi, hanya untuk beberapa hari saja. Tolong beritahu Vein dan Moscha untuk membantuku, ada hal penting yang harus aku urus. Setelah semuanya selesai, aku akan kembali."
"Dranis....." Panggil Moscha pada Dranis, ia sangat mengenal Dranis yang mudah sekali histeris. Moscha memastikan bahwa Dranis bersikap setenang mungkin, karena jelas dikatakab oleh Zaviest bahwa dia hanya ingin Vein dan Moscha yang membantunya.
"Ya, ya Yang Mulia Pangeran?"
"Apa yang kau pikirkan tentang kakakku sekarang?" Moscha memastikan isi kepala Dranis.
"Yang Mulia Raja.... Sudah dibutakan oleh cintanya." Ujar Dranis lirih, bahunya merosot seketika. Semangatnya telah lenyap dari jiwanya.
"Kau benar, tapi semua orang tidak mengetahuinya." Kata Moscha dengan sedikit penekanan oada setiap kalimatnya. Dranis mengangguk menyetujui perkataan Moscha.
"Itu sebabnya kau harus mengunci mulutmu dan membuang kuncinya ke laut, mengerti?"
"Me-me-mengerti, Pangeran."
"Baiklah, karena kau sudah mengerti kini saatnya memanggil Pangeran Vein dan juga Tetua Penyihir untuk kemari."
"Te-tetua penyihir??"
"Ini penting."
Dranis mengerti dan langsung beranjak sesuai dengan perintah Pangeran Moscha. Meski begitu ia masih merasa sangat kesal pada Zaviest.
"Mengapa kebiasaan Yang Mulia Raja tidak pernah berubah, suka sekali menyelinap, kini dia malah pergi lebih jauh." Gerutunya sambil berjalan.
"Siapa yang pergi lebih jauh?"
.
.
.
::Bersambung::