Baju zirah berlapis emas itu dijatuhkan dengan sengaja ke lantai oleh Zaviest. Tangannya segera meraih pedang panjangnya, yang tersampir di atas sebuah rak. Dia berbalik, dan beranjak pergi, tapi langkahnya terhenti ketika pintu tendanya terbuka dan adik-adiknya menerobos masuk ke dalam. "Kakak kau mau kemana?!" Moscha bertanya dengan heran. "Mencari Vizena, dia berada dalam bahaya." Kata-kata itu keluar dengan tegas, tapi ke tiga pangeran tak bisa ting.gal diam. Mereka berbaris membuat penghalang jalan. "Ini terlalu berbahaya." Vein mengingatkan. Zaviest memutar matanya dengan kesal, dia tidak perlu diingatkan akan bahaya. Seluruh hidupnya memang berbahaya. "Menyingkir!" Suara yang keluar dari mulut Zaviest masih berupa geraman. Ke tiga adiknya tak memiliki niat untuk sekedar melon

