Malam itu rembulan begitu terang menyinari istana Luxorth, dan membuat seluruh bangunan berkilau indah. Vizena berdiri di pinggir teras dengan kepala mendongak keatas tempat dimana bulan sedang bertengger dan memantulkan cahayanya. Dirinya baru saja menemui Kaisar Mouszac membahas perihal bantuan yang akan diberikan kerajaan untuk para anak didik di akademi sihir dan akademi sipil.
Sebuah pergerakan di langit yang gelap tertangkap oleh penglihatan Vizena. Rasa ingin tahunya membuat dia menyipitkan matanya, dan sedikit berjinjit agar bisa melihat benda itu dengan jelas. Benda itu bergerak, lalu ketika tepat berada di sekitar bayangan bulan, terpancar cahaya dari itu.
"Apa itu?" Gumam Vizena yang masih mencoba mencari tahu apa gerangan yang bergerak di langit.
"Burung? Burung pembawa surat?!" Pekik Vizena ketika ia menyadari bahwa benda itu merupakan seekor burung yang sedang mengepakkan sayapnya dan bergerak menuju ke arah dirinya.
"Aku baru mengirimnya pagi ini dan dia sudah kembali, mustahil." Gumamnya.
Tangannya ditekuk sembari dijulurkan ke atas dengan tujuan agar burung itu bisa bertengger di lengannya. Benar saja, Feiry dengan cepat turun kemudian menginjakkan kakinya di lengan kecil Vizena. Meski cengkramannya tak begitu kuat karena lengan Vizena kecil dan membuatnya sedikit tidak seimbang, Feiry tetap bertengger disana.
"Bagaimana kau bisa kembali secepat ini? Ah maksudku bukan aku menunggu balasan suratnya, tapi... Ah sudahlah." Ujar Vizena dengan wajah tersipu. Dia merasa sangat konyol karena tersipu pada seekor burung.
"Kau pasti sangat lelah, ayo kita ke tempatku dan kau bisa minum sepuasnya."
'Kwak!' Feiry terlihat begitu antusias. Sepertinya dia memang sedang kehausan karena terbanh sejauh ratusan mil. Vizena terkekeh melihat reaksi Feiry.
"Seorang Puteri memang lebih pantas bermain saja." Seseorang menghadang jalan Vizena. Seketika Vizena pun mundur selangkah dan berhenti. Pria yang ada didepannya adalah Louth Meridiam. Tengah menatapnya dengan senyum yang tidak sampai ke matanya.
"Salam untuk ayah mertua." Ujar Vizena, mengabaikan sepenuhnya kata-kata Louth sebelumnya.
"Bukankah tidak pantas bagi seorang yang sudah bersuami tetap tinggal bersama ayahnya?"
"Saya hanya membantu Yang Mulia Kaisar." Jawab Vizena.
"Anda terlihat lebih baik jika bermain dengan burung itu daripada berdiri di persidangan dan bicara omong kosong." Louth sengaja mengatakannya untuk menyerang Vizena.
"Apakah keberadaan saya disana sangat mengganggu ayah mertua?" Tanya Vizena sembari tersenyum samar.
"...." Louth terdiam sejenak.
"Ayah mertua tidak perlu cemas, bukankah keberadaanku ruangan itu jadi lebih indah?" Kata Vizena kemudian ia memberikan hormat dan berlalu melewati Louth.
Hati Vizena sangat dongkol, bahkan Louth begitu terang-terangan menyerangnya. Tapi dia berusaha untuk tidak memikirkannya, toh Louth adalah ayah mertuanya, saat ini Vizena hanya ingin segera membuka pesan yang diantarkan oleh burung cantik berbulu perak itu.
Sampai di dalam kamarnya Vizena mengambilkan air yang telah tersedia di kamarnya untuk diberikan pada Feiry lalu dirinya sendiri segera duduk di meja yang terletak tak jauh dari ranjangnya, ia juga membuka jendela yang ada di depannya agar udara masuk ke dalam kamarnya. Vizena menurunkan Feiry dan mengambil gulungan itu di kaki Feiry.
"Apa isinya sampai dia begitu cepat membalas." Gumam Vizena sembari membuka gulungan tersebut.
Mata Vizena melebar begitu membaca isi gulungan kertas yang kecil itu. Dia kemudian menatap Feiry, lalu memandangi lagi surat yang masih dia pegang. Dia menghela nafasnya dengan berat.
"Majikanmu sungg-"
"Ehm," Seseorang berdeham, Vizena terlonjak hingga seketika dirinya berbalik.
"Sungguh gila." Vizena melanjutkan ucapannya yang sempat terpotong tadi dengan gumaman yang hanya dirinya saja yang bisa mendengarnya.
Di hadapannya telah berdiri pengawal bermata emas yang pesannya baru saja dibaca oleh Vizena. Mata dan bibir Vizena terbuka lebar, lalu ia menggelengkan kepala sembari berkedip, berharap apa yang dia lihat hanya ilusi sajam
"Puteri." Vizena menggerakkan kepalanya lagi dengan cepat, berharap pendengarannya salah. Tapi suara berat yang halus milik Zaviest itu sungguh membelai telinganya.
"Ka-kau nya-nyata?" Tanya Vizena dengan gugup. Zaviest meraih tangan Vizena dan mengecup punggung tangannya dengan lembut.
"Tuan Puteri, Apakah anda sudah tidur?" Suara Ariah dari luar kamar mengejutkan Vizena sehingga reflek dirinya berhambur ke arah Zaviest dan membekap bibir Zavies dengan telapak tangannya yang mungil. Dia melakukannya meski harus berjinjit untuk melakukannya.
Zaviest begitu menikmati kedekatannya dengan Vizena. Hanya dengan begitu ia bisa melihat wajah Vizena lebih dekat, meski bibirnya harus ditutup, tidak masalag selama dirinya bisa sedekat ini.
"Ariah aku akan segera tidur, kembalilah besok." Ujar Vizena agar Ariah segera pergi.
"Baik, Yang Mulia." Langkah kaki Ariah terdengar menjauh dari depan pintu.
"Ehmm ehm." Kini Vizena dikejutkan dengan suara lain ia langsung melepaskan telapak tangannya dari Zaviest. Ia menoleh ke belakang dan melihat sosok pria lain berdiri di depannya dengan senyum jahil di wajahnya.
"Pa-pangeran Moscha." Vizena benar-benar kehabisan kata-katanya. Di malam hari, tiba-tiba saja dua pria mendatangi kamarnya. Ia kemudian menghela nafasnya berusaha untuk mencerna semua hal yang baru terjadi secara mendadak.
"Tuan Dranis, jelaskan padaku apa maksudnya semua ini? Aku pikir kau hanya bergurau saat mengatakan akan menemuiku dalan surat yang kau tulis, tapi kau malah datang dengan-" Vizena memandangi Moscha, ia menggerakkan tangannya untuk menunjuk Moscha.
"Tuan Puteri mohon tenanglah," kata Moscha berusaha menenangkan Vizena yang terlihat sangat terkejut dan bingung, "saat ini kami sedang membutuhkan bantuanmu." Kata Moscha lagi.
"Bantuan?" Vizena semakin bingung dan tak mengerti. Moscha berjalan mendekat pada Vizena kemudian memberikan satu buah gulungan berwarna kuning. "Apa ini?"
"Anda bisa membukanya."
Segera Vizena membuka gulungan itu, dan membaca isinya. Vizena berjalan ke arah ranjangnya dengan matanya yang terpaku pada isi surat tersebut. Setelah membaca isinya, ia melihat stempel kerajaan dan tanda tangan dari raja Sholaire, Zaviest De'Laire.
"Apa itu benar jika Sholaire mengalami musibah wabah penyakit kulit?" Tanya Vizena, ia menatap dua pria yang sedang menunggu dirinya menyelesaikan membaca surat.
"Itu benar, Yang Mulia. Seperti yang telah dikatakan oleh Raja kami. Hanya akar merah yang bisa menyelematkan Sholaire dari wabah ini." Jelas Moscha lagi.
"Seandainya tidak begitu mendesak, saya tidak akan kemari secara tiba-tiba." Kata Zaviest.
Vizena tampak berpikir, ia menggigiti kuku ibu jarinya sembari menatap ke lantai. Pangeran Moscha berjalan mendekat pada Zaviest yang memperhatikan Vizena lekat-lekat.
"Bahkan dia memiliki cara yang sama denganmu saat sedang bimbang, Kak." Bisik Moscha di telinga Zaviest.
"Shhh diamlah." Desis Zaviest.
"Aku akan serahkan surat ini kepada Kaisar." Ujar Vizena tiba-tiba sambil berdiri. Moscha agak terkejut dengan keputusan Vizena, tapi wajah Zaviest begitu datar seolah ia sudah tahu pasti apa yang akan dilakukan oleh Vizena setelah membaca suratnya itu.
"Tentu saja anda harus melaporkannya pada Kaisar, namun saat ini kami tidak memiliki waktu." Ujar Zaviest dengan begitu tenang.
"Baiklah, akan tetapi...." Vizena mencoba mengingat sesuatu. "Di Istana hanya sedikit tumbuhan ini ditanam, kita harus pergi ke hutan tempat perburuan tempo hari." Lanjutnya.
"Kita bisa pergi kesana, saya sudah menyiapkan perlengkapannya." Kata Zaviest sembari menunjukkan apa yang telah dia bawa.
Moscha dan Vizena memandangi apa yang ada di balik tubuh Zaviest. Itu beberapa cangkul kecil dan keranjang untuk mengangkut semua tanaman. Ingin sekali Moscha membenamkan wajahnya dibantal. Zaviest memang penuh dengan kejutan.
"Kau membawa semua ini?" Tanya Vizena.
"Ya, tentu saja!"
"Baiklah, kita pergi sekarang. Akan lebih aman." Kata Vizena kemudian ia beranjak untuk pergi. Tapi Zaviest mencegahnya dengan menahan tangan Vizena.
"Anda tidak akan pergi ke hutan dengan gaun ini kan?" Tanya Zaviest sembari memandang gaun Vizena untuk menunjukkan padanya.
Vizena masih mengenakan gaun formalnya yang begitu berat dan dihiasi begitu banyak permata itu.
"Aku akan berganti pakaian kalau begitu." Ujar Vizena, ia kemudian mengambil santainya lalu pergi ke ruangan yang lain untuk menggantinya.
"Kakak, dia begitu saja menyetujui?" Tanya Moscha dengan suara berbisik pada Zaviest.
"Ya, dia sengaja melakukannya." Jawabnya.
Memang terasa sedikit janggal, urusan ini adalah masalah yang besar dan melibatkan dua negara. Tapi Vizena dengan mudahnya setuju akan hal ini, tentu dari sudut pandang Zaviest yang merupakan seorang Raja, ini bukanlah hal yang biasa. Seorang Puteri tanpa otoritas menyepakati hal besar secara diam-diam, tentu terlihat sangat sembrono dan ceroboh pastinya.
"Ayo, kita segera berangkat." Vizena sudah selesai mengganti pakaiannya. Meski tanpa menggunakan gaun yang bertabur permata dan hanys menggunakan pakaian santai bercelana tetap saja membuat Zaviest tak mampu mengalihkan pandangannya pada Vizena.
Moscha berbalik untuk keluar kamar, namun dengan langkah cepat Vizena berjalan menghadangnya dengan merentangkan kedua tangan di depan pintu.
"Kita tidak akan lewat pintu!" Desis Vizena.
"Lantas?"
"Kemari!"
Vizena berjalan lebih dulu untuk menunjukkan jalannya. Dia berjalan ke arah meja rias yang terletak tak jauh, kemudian dengan tubuh kecilnya ia berusaha mendorong meja rias tersebut.
Melihat Vizena akan mendorong meja tersebut, Zaviest tidak tinggal diam. Ia segera menggantikan posisi Vizena dan mendorongnya sendiri.
"Meja ini rupanya berat sekali, bagaimana Ariah bisa melakukannya." Gumam Vizena.
Setelah meja rias itu di dorong kesamping. Terdapat sebuah lubang seukuran tubuh Vizena dibaliknya. Kedua pria itu saling menatap keheranan.
"Untuk apa Yang Mulia memiliki lubang ini?" Tanya Moscha.
Vizena hanya menyeringai sembari menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Banyak orang yang mengetahui bahwa dirinya suka menyelinap keluar akan tetapi tidak banyak yang tahu bagaimana cara dia keluar dari istana tanpa di ketahui oleh siapapun.
"Ini jalan keluar menuju ke luar istana." Ujar Vizena lirih.
"Jadi anda juga suka menyelinao keluar dari istana?" Tanya Moscha.
Vizena mengambil lampu yang tak jauh darinya kemudian membawanya masuk melewati jalan tersebut. Sementara Vizena berjalan dengan mudahnya, kedua orang itu harus membungkukkan hampir separuh badannya agar bisa masuk dan melewatinya.
"Ya kalau terlalu bosan di istana, aku akan keluar dan bermain." Jawab Vizena tanpa ragu. "Tapi sepertinya aku selalu bosan," ungkapnya dengan jujur.
"Mirip yang seperti dilakukan oleh Raja kami." Balas Moscha sambil terkekeh, karena ia begitu senang memprovokasi Zaviest.
"Tidak heran, jika seperti yang di rumorkan, Raja...."
"Zaviest." Moscha membantu Vizena.
"Ya! Raja Zaviest pasti bukan orang yang suka berdiam diri di ruangannya." Jawab Vizena sambil terus berjalan.
"Argh!" Zaviest memekik dengan keras, kepalanya terbentur oleh sesuatu.
"Hati-hati." Ujar Vizena.
"Kenapa terowongan ini pendek sekali." Geruty Zaviest sembari mengusap-usap kepalanya.
"Ini disesuaikan dengan tinggi badanku, dibuatkan oleh Rasheq dan Ariah."
Tak berapa lama kemudian, mereka sampai di ujung terowongan itu. Vizena berbalik dan menyerahkan lampu yang ia bawa pada Zaviest, kemudian ia menekan dinding di ujung terowongan sampai dinding tersebut terbuka.
"Ahh akhirnya!" Decak Zaviest dan Moscha bersamaan. Keduanya merentangkan tangan untuk meregangkan otot-otot mereka.
"Kita tidak punya waktu! Biasanya petugas jam malam akan segera lewat di saat seperti ini." Ujar Vizena lagi.
Mereka bertiga kemudian bergegas, mereka berlari untuk menuju ke hutan tempat perburuan di adakan. Hutan tersebut tidak jauh dari istana. Hanya beberapa kilometer saja.
Tepat di depan mereka adalah pintu masuk hutan tersebut. Moscha membungkuk untuk mengatur nafasnya yang tidak karuan, ia lalu bangkit dan melihat dua orang di depannya yang bernafas dengan normal, sungguh aneh sekali seolah keduanya tidak berlari sepanjang jalan.
"Bisakah kita menggunakan metode lain untuk sampai ke sana?" Tanya Moscha yang kelelahan.
"Seperti apa? Kita tidak punya kuda disini." Kata Vizena menjawab.
"Teleportasi?" Moscha mengatakannya sambil melirik kearah Zaviest.
"Benar sekali! Mengapa kita tidak menggunakannya?" Vizena tampaknya setuju dengan usulan Moscha.
"Kalau begitu, Yang Mulia gunakan saja teleportasi." Ujar Zaviest sembari menatap geram ke arah Moscha.
"Tapi itu tidak mungkin jika tidak mengetahui tempat tujuan pastinya, atau kita akan terbawa ke tempat yang lainnya." Jelas Moscha panjang lebar.
"Aku tahu tempatnya." Kata Vizena.
"Maksudnya, adalah pembuat portal harus mengetahui lokasi pastinya." Sahut Zaviest.
"Ah begitu, tidak masalah. Tempat itu tidak jauh dari sini. Hanya saja," Vizena menggantung kalimatnya. Ia menatap hamparan hutan di depannya dengan mimik wajah ketakutan, tidak masalah jika ia memasuki hutan di siang hari, tapi di malam hari seperti ini tanpa pencahayaan, bayangan dirinya berada dalam kegelapan hutan dalam keadaan terluka kembali menyerang dirinya sehingga membuatnya takut.
Zaviest mengerti akan ketakutan Vizena, ia menggerakkan jari telunjuknya lalu muncul di kaki Vizena ribuan kunang-kunang dengan cahaya putih sehingga keadaan disekitar mereka menjadi terang.
Melihat ribuan kunang-kunang yang mengelilingi kakinya itu Vizena begitu takjub melihat keajaiban yang diciptakan oleh sihir itu. Matanya berbinar begitu cerah, dan tampak cahaya keunguan memantul dari matanya akibat terkena cahaya-cahaya dari kunang-kunang itu.
Di sisi lain, Moscha begitu salut pada kakaknya yang mampu membuat senyum seorang gadis mengembang begitu lebarnya, selain itu rasa takjub itu menular pada Zaviest dan berubah menjadi senyum bangga yang terukir di wajah tampannya. Ini kali pertama bagi Moscha melihat sang kakak begitu terlihat penuh cinta.
Selama setengah jam mereka berjalan hingga akhirnya sampai pada tempat yang ingin dituju. Tempat itu berada di pinggir hutan, begitu luas tapi dipenuhi dengan tanaman akar merah jadi tak ada pohon besar yang tumbuh.
"Jika akar merah begitu berharga, mengapa tidak ada yang menjaga?" Tanya Moscha dengan tiba-tiba karena merasa janggal tidak ada penjaga atau siapapun yang bertugas mengawasi area tersebut.
"Kami tidak perlu menjaganya, hanya kalian berdua yang berani masuk kemari tanpa ijin." Ucap Vizena.
Moscha dan Zaviest merasa cukup bingung. Akar merah sangat berharga tapi ditanam tanpa ada pengawasan. Sangat tidak masuk akal, tapi itulah yang terjadi.
"Mari, ayo kita gali sekarang." Kata Vizena sembari mengulurkan tangannya.
"Puteri anda tidak perlu ikut menggali." Sambar Zaviest dengan cepat.
"Lalu mengapa bawa cangkul tiga?" Vizena memandangi cangkul kecil yang dibawa oleh Zaviest.
Jumlahnya memang ada tiga, itu sengaja dilakukan oleh Zaviest karena ia tahu pasti sifat Vizena yang tidak akan tinggal diam tanpa membantu.
Tanpa menunggu jawaban dari si pengawal bermata cantik itu, Vizena mengambil cangkul kecilnya. Ia lalh berjongkok dan mulai menggali. Disusul oleh Zaviest dan Moscha yang menggali di tempat lainnya.
Penggalian itu berlangsung cukup lama, tapi mereka sudah berhasil mendapatkan satu keranjang besar penuh dengan tanaman akar merah. Vizena duduk diatas tanah sembari melihat keranjang besar yang ada dihadapannya.
"Apakah ini cukup?" Tanya Vizena, tangannya mengusap peluh dikeningnya. Namun bukannya menjadi bersih tapi malah membuat wajahnya menjadi kotor.
"Kurasa ini sudah cukup, kami akan bawa ini ke Sholaire." Kata Zaviest, ia kemudian berdiri untuk membantu Moscha mengangkat keranjangnya, dan tertangkap oleh penglihatannya Vizena tertidur di atas tanah sembari memeluk cangkulnya.
"Moscha." Panggil Zaviest pada Moscha, sementara dirinya sendiri mendekati Vizena.
"Iya?"
"Kembali dulu ke Sholaire, aku akan mengantarkan Puteri ke kamarnya." Ujar Zaviest dengan suara yang lirih.
"Tapi, bagaimana aku mengangkat ssmua ini." Keluh Moscha sembari melihat ke arah tumpukan akar merah itu.
"Othèvoren Sholaire." Kata Zaviest sembari menggerakkan tangannya. Sebuah Portal berwarna emas muncul tak jauh darinya. Dia kemudian berjalan ke arah Moscha dan mendorong adiknya masuk ke dalam portal.
"Dhàkueshi." Zaviest menggumamkan mantranya dan keranjang penuh dengan akar merah yang ada dihadapannya itu berubah melayang kemudian masuk ke dalam portal emas yang dia buat.
Setelah menutup kembali portal yang telah dia buat, Zaviest beralih pada Vizena yang sedang tertidur. Ia berjongkok dihadapan gadis itu, lalu mengangkatnya. Sesaat kemudian sebuah lingkaran portal berwarna kehijauan muncul di hadapan Zaviest. Dengan Vizena di tangannya ia masuk ke dalam portal tersebut.
Hanya membutuhkan satu kedipan mata, dirinya telah berada di kamar Vizena. Khawatir akan membangunkan Sang Puteri, ia kemudian meletakkan tubuh Vizena dengan hati-hati di atas ranjang. Sesaat, Zaviest memandangi wajah Vizena yang kotor akibat tanah. Dia menjulurkan tangannya kemudian membersihkan wajah Vizena yang begitu damai terlelap dalam mimpinya.
"Mengapa bersemangat sekali membantuku?" Gumam Zaviest, tangannya kini beralih pada rambut Vizena dan membelainya dengan lembut.
°°°°°°
Sebelum keberangkatan ke Luxorth.
Mata Moscha melebar saat ia melihat Zaviest berusaha mengecat rambutnya sendiri dengan warna hitam. Buru-buru ia berjalan keaeah Zaviest, dan mengambil cat yang akan di gunakan kakaknya itu.
"Kakak memintaku datang dengan cepat, hanya untuk mengecat rambut?" Tanya Moscha.
"Tentu saja tidak, tapi tolong berikan itu ke rambutku." Ujar Zaviest.
"Untuk apa? Kita di Sholaire, semua orang tahu jika kakak memiliki rambut berwarna perak." Ucap Moscha panjang lebar. Sampai akhirnya dia menyadari sesuatu.
"Jangan bilang......" Moscha berusaha mengenyahkan pikiran bahwa Zaviest akan pergi lagi ke Luxorth.
"Malam ini kita akan pergi ke sana untuk misi penting." Balas Zaviest.
"Misi penting apa, kakak?!"
"Nanti kau juga akan mengetahuinya." Ujar Zaviest penuh misteri, "Sekarang, cat lah rambutku dulu."
Langkah Moscha begitu gontai tak bersemangat tapi ia tetap melaksanakan perintah kakaknya untuk mengecat warna rambut milik Zaviest menjadi hitam.
"Yang Mulia," ujar Moscha begitu sopannya. Tapi Zaviest tidak bisa ditipu, sang adik pasti memiliki maksud dengan bersikap sangat formal padanya secara tiba-tiba.
"Apa?"
"Mengapa anda tidak menunjukkan identitas asli anda kepada Puteri Vizena?" Pertanyaan Moscha sangat tepat sasaran menohok jantung hati Zaviest. Dirinya bahkan terdiam untuk sesaat, memikirkan alasan sebenarnya mengapa ia menyembunyikan identitasnya dari Vizena. Tapi dia tak menemukan satu pun kata yang pas, lantaran dirinya sendiri pun tidak tahu.
"Entahlah." Balas Zaviest sembari mengendikkan bahunya.
.
.
.
::Bersambung::