5. Unanswered

3643 Kata
EMPRESS: 5. Unanswered Mendung berlalu berubah menjadi gerimis mengguyur Sholaire di pagi hari. Tapi tidak menyurutkan niat Zaviest untuk menghadiri persidangan pagi bersama menteri dan punggawanya. Dengan menggunakan jubah kekaisarannya yang begitu agung karena disulam menggunakan benang emas sungguh membuat Zaviest terlihat sangat gagah dan tampan. Sosoknya begitu agung, kharismanya sebagai raja terpancar disetiap inci tubuhnya. Penjaga membukakan pintu Aula Persidangan, di kanan dan di kirinya berjejer menteri dan pejabat pemerintahan. Ketika Zaviest mulai melangkah masuk, semua orang berlutut tunduk kepadanya. "Panjang Umur, Yang Mulia Raja!" Zaviest terus berjalan menuju ke singgasananya. Sesampainya di depan singgasananya sebelum duduk ia berbalik, dan meminta semua pejabat untuk berdiri. Menatap ke seluruh ruangan, memerhatikan satu persatu pejabatnya. Kemudian ia duduk untuk memulai persidangan pagi. Persidangan dimulai dengan membaca seluruh petisi dan dokumen penting. Terkadang setelah pembacaan ada pejabat terkait yang menjelaskan detail masalah dan memberi solusi, ada pula pejabat yang membantah dan meminta Zaviest untuk memberikan solusi. "Cukup, cukup membacanya!" Perintah Zaviest kepada sekertaris istana. "Buang-buang waktu sekali," gerutunya, hal itu menimbulkan bisik-bisik diantara pejabat. Mereka tidak terkejut melihat tingkah Zaviest yang seenaknya, akan tetapi tetap belum terbiasa untuk menjaga mulut mereka. "Semua pejabat yang memiliki masalah temui aku sore hari, saat ini aku harus mengumumkan sesuatu." Kata Zaviest yang tampak sudah malas dengan persidangan pagi itu. "Sekertaris Istana, catat titahku dengan baik. Jika terlewat satu kata aku akan mengurangi upahmu. Mengerti?" "Mengerti, Yang Mulia." Zaviest menatap seluruh pejabat satu persatu. Di barisan terdepan itu ada empat saudaranya yang senantiasa selalu mendukung keputusannya. "Hari ini, pertaruran baru Harem akan diberlakukan," Ujar Zaviest, seketika ruang persidangan menjadi riuh. Zaviest belum memiliki seorang Ratu, tapi sudah mengatur Harem. Selain itu, Harem adalah wilayah kekuasaan Ibu Suri Agung, untuk apa Zaviest mengaturnya sendiri? "Maaf Yang Mulia, urusan istana dalam adalah urusan Ibu Suri Agung, Tidak diperkenankan Raja mencampuri urusan Istana Dalam." Seorang pejabat menyela ucapan Zaviest. Tetapi Zaviest mengabaikannya dan melanjutkan ucapannya. "Harem kedepannya akan dipimpin oleh seorang Ratu, dan di bantu dengan isteri-isteri Pangeran dan pejabat pemerintahan. Aku tidak akan mengambil selir, dan tidak akan ada pemilihan selir seperti sebelumnya." Seorang pejabat paruh baya maju, ia kemudian berlutut dihadapan Zaviest. Wajahnya tegas, ia memiliki sedikit kumis diatas bibirnya, tatapan matanya tajam namun lembut diwaktu yang bersamaan. "Memohon maaf kepada, Yang Mulia." Katanya. "Apa kau melakukan kesalahan, Tuan Erthione?" "Mohon untuk menarik kembali titah, Yang Mulia!" Pintanya. Zaviest mendengus kesal. Tapi ia berusaha untuk tetap menjaga emosinya. Ia menatap tajam keseluruh pejabat, lalu pandangannya tertuju pada Vein yang mengangguk pelan, memberi petunjuk pada Zaviest untuk tenang. "Mengapa aku harus menarik titahku?" "Menjawab Yang Mulia, pengaturan baru akan menimbulkan permasalahan yang baru, Yang Mulia pasti tahu bagaimana Harem dijalankan? Banyak sekali perselisihan, akan tetapi perselisihan itu hanya berlangsung di area isteri kaisar. Jika Harem diisi oleh Isteri para pangeran dan juga Isteri Pejabat pemerintahan, maka perselisihan akan menjadi lebih luas, selain itu-" "Selain itu apa?" "Menjawab Yang Mulia, selain itu tidak bijaksana bagi Yang Mulia untuk tidak mengambil selir, Mohon Yang Mulia tarik kembali titah Yang Mulia!" Serunya sembari berlutut. "Mohon tarik kembali titah, Yang Mulia!" Semua pejabat kecuali para pangeran berlutut untuk memohon kepada Zaviest. "Titahku mutlak, jika ada yang melanggar berarti melanggar perintah Raja." Kata Zaviest dengan tegas, "lagipula, aku sudah lelah. Kita lanjutkan lain waktu." Zaviest berdiri lalu beranjak meninggalkan Aula persidangan dengan wajah muram. •• Taman Istana Raja begitu luas dan indah. Banyak tanaman bunga dengan berbagai macam jenis yang sedang bermekaran. Di tengah taman terdapat pohon bunga persik yang sangat besar dan sedang bermekaran. Angin yang berhembus meniup rambut perak panjang milik Zaviest. Taman itu adalah satu-satunya tempat yang membuatnya bisa bersantai dan tidak memikirkan urusan negara. Tidak ada satu orang pun yang diperbolehkan memasuki area tersebut semenjak tempat itu dibangun dua puluh tahun yang lalu setelah Zaviest menduduki tahtanya di usia yang ke delapan tahun. Di udara, terdengar suara kepakan sayap. Feiry, burung magis milik Zaviest sedang terbang rendah, seperti biasanya Feiry baru saja kembali dari misi mencari informasi untuk Zaviest. Setelah beberapa saat berputar-putar di udara, Feiry terbang perlahan mendekati Zaviest yang sedang berbaring sembari menyandarkan kepalanya di batang pohon. Feiry mendarat tepat di samping tubuh Zaviest. Sesaat kemudian Zaviest menyentuh puncak kepala Feiry. "Kau selalu tahu kapan harus datang, kan?" Ujar Zaviest. Zaviest membaca pikiran Feiry yang sudah dipenuhi oleh berbagai macam informasi. Dari informasi tentang kerajaan lainnya, hingga informasi mengenai gadis yang telah dimata-matai oleh Zaviest. Senyum merekah lebar diwajah Zaviest, ketika ia melihat bayangan sesosok gadis yang sedang cemberut karena kesal tidak bisa melakukan apapun di dapur. "Kau hanya akan merusak bahan-bahan itu," gumam Zaviest mengomentari bayangan gadis itu. "Yang benar saja, dia hanya akan menghancurkan dapur itu," decak Zaviest setelah melepaskan kepala Feiry. "Terimakasih Feiry, kau bisa istirahat." Kata Zaviest sembari menepuk puncak kepala Feiry. Burung itu kemudian mengepakkan sayapnya dan terbang lagi menuju langit yang tampak sangat biru sekali siang itu. Zaviest kembali menutup matanya menikmati hembusan angin yang membawa semerbak keharuman bunga yang tumbuh ditaman miliknya. Dalam hatinya ia berharap, mungkin akan bertemu dengan gadis pujaannya dalam mimpi. Namun keinginannya hanya menjadi angan belaka ketika ia mendengar suara gaduh yang merusak suasana ketenangan ditaman miliknya. Suara itu berasal dari Istananya, suara yang sama sekali tidak asing bagi Zaviest. Mata emas Zaviest pun terbuka, alisnya saling bertaut dan keningnya berkerut. "Kenapa mereka tidak membiarkanku tenang walau sebentar saja," gerutunya kesal. Meski dengan berat hati, Zaviest bangkit kemudian ia beranjak menuju kediamannya melalui pintu rahasia. Sesampainya di kediamannya, ia segera duduk di meja kerjanya dan mencari satu dokumen untuk dipegangnya. "Penjaga! Mengapa ribut sekali diluar!" Teriaknya. Sesaat kemudian pintu ruangannya terbanting. Sosok Moscha menerobos masuk dengan wajah khawatir. Sekali lihat saja, Zaviest tahu ada berita yang mungkin tidak ingin ia dengar. "Moscha memberi hormat kepada Yang Mulia," Moscha berlutut dengan hormat. "Berdirilah," Balas Zaviest lalu ia meletakkan dokumen ditangannya ke meja, "Ada apa menerobos kemari dengan raut wajah menjengkelkan begitu?" "Kakak, baru saja aku mendapatkan surat, pecah perang di perbatasan." "Apa maksudmu!!" Hardik Zaviest, ia tidak menyinggung kerajaan lain, dan tidak disinggug juga. Zaviest cukup benci dengan peperangan. "Narth kembali menyerang Luxorth di perbatasan tiga negara," "Bukankah Narth baru saja menobatkan raja baru mereka? Mengapa kembali menyerang Luxorth?" Moscha menghela nafasnya, kemudian menatap Zaviest yang sudah tersungut emosi oleh berita yang disampaikannya. "Raja baru Narth, Karrazam tampaknya ingin membalas dendam atas kekalahannya atas Putra Mahkota Luxorth." Moscha menjelaskan. Zaviest merenung, apalagi peperangan kali ini terjadi diperbatasan tiga negara. Jika ia tidak terlibat, maka perbatasan kerajaannya dipertaruhkan, tapi jika ia ikut andil maka ia harus memihak salah satu pihak, jelas semua orang akan mengarah untuk memihak Narth. Sedangkan perang ini bukan tentang negerinya sendiri. "Kakak, keputusan apa yang akan kau ambil?" Moscha menanti jawaban Zaviest. "Kau kan Jenderalnya? Bantu aku berfikir!" "Aku tahu ini akan terjadi, baiklah aku akan berdiskusi dengan Vein, lalu akan kuberitahu keputusan kami." Zaviest mengangguk kemudian mengibaskan tangannya meminta Moscha menghilang dari hadapannya. Setelah Moscha pergi, Zaviest memegang dahinya yang serasa berdenyut sekali. Ada satu pertanyaan yang tidak pernah ia ketahui jawabannya, mengapa setelah ia mendapatkan kabar gembira, selalu saja datang sesuatu yang buruk menghancurkan kabar baik itu? Masih segar dalam ingatan Zaviest, hari dimana ia diangkat menjadi Putera Mahkota, tak lama kemudian ayahnya meninggal dunia karena sakit. Lalu tiap kali mendapatkan kabar gembira dari Feiry selalu saja ada hal buruk yang mengikutinya. "Penjaga!" Zaviest memanggil penjaga kediamannya. Sesaat kemudian, seorang penjaga masuk dan memberi hormat pada Zaviest. "Jangan biarkan seorang pun masuk ke kediamanku, sampai aku mengizinkan mereka! Perketat semua penjagaan di istanaku." "Melaksanakan perintah, Yang Mulia." ????? Wajah Ariah begitu gelisah mendampingi Vizena yang begitu bersemangat didalam dapur yang penuh dengan asap. Sejak pagi hari buta, Vizena sibuk didalam dapur karena ingin menyiapkan makanan untuk Gard. Tapi yang terjadi ia malah membuat seluruh dapur berubah menjadi medan pertempuran. "Tuan Puteri, biarkan saya yang memasak. Saya berjanji akan mengatakan pada Tuan Gard bahwa anda lah yang memasak untuknya." Entah sudah berapa kali Ariah membujuk Vizena agar berhenti menyusahkan dirinya sendiri. Seperti seorang yang kerasukan Vizena tidak mendengarkan Ariah. Setelah pesta pernikahannya, Vizena harus hidup bersama suaminya di kediaman Gard Meridiam diluar istana. Sudah peraturan Kerajaan, Puteri yang sudah menikah harus mengikuti suaminya. Di kediaman barunya, Gard tidak menggunakan banyak pelayan. Ia mengatakan, banyak pelayan hanya akan membuat pengeluaran mereka banyak. Vizena menyetujuinya, meski terkadang ia sendiri yang harus melakukan banyak hal bersama dengan Ariah untuk menjaga keutuhan rumah tersebut. Hari ini, tiba-tiba saja Vizena ingin memasakkan sesuatu untuk Gard. Bukan tanpa alasan, itu karena setelah Vizena memperhatikan Gard jarang sekali makan di rumah mereka. Gard selalu berangkat pagi hari sebelum dirinya bangun, dan pulang ketika Vizena sudah terlelap. Bisa di hitung dengan jari, berapa kali ia bisa melihat wajah suaminya itu. "Ada apa disini?!" Suara bariton terdengar keras kedalam dapur. Sosok Gard yang baru saja bangun muncul. Ketika ia melihat Vizena dan Ariah di dapur, keningnya berkerut begitu dalam. "Tuan Gard," "Aku sedang memasak untukmu, tunggulah sebentar lagi baru berangkat." Kata Vizena dengan ceria. "Memasak?" Gard tampak keheranan, yang ia lihat bukan seseorang yang akan memasak, tapi bertempur didalam dapur. "Sudahlah Yang Mulia, tidak perlu repot-repot mengurus saya, saya akan makan di kamp pelatihan saja." Katanya, kemudian ia beranjak pergi dari dapur lagi. Mendengar itu Vizena hanya tersenyum tapi ia tidak beranjak pergi dari dapur dan meneruskan masakannya. Sedangkan Ariah hanya menatap Tuan Puterinya dengan prihatin. Ariah yang tidak tega melihat Vizena selalu mendapatkan perlakuan dingin dari Gard akhirnya mengambil sudip dari tangan Vizena. "Sekarang Tuan Puteri duduk saja, aku akan membuatkan masakan yang sangat lezat sekali." "Mulai besok kau ajari aku memasak, mengerti?" "Tentu saja, Tuan Puteri. Saya akan mengajarimu memasak." Ujar Ariah sepenuh hati. Siang harinya, Vizena dan Ariah pergi ke pasar bersama-sama untuk membeli kebutuhan rumahnya. Vizena tampak suka sekali ketika ia berada dipasar, jiwa lamanya seolah kembali. Sejak menikah dengan Gard, Ariah merasakan bahwa Vizena sangat memaksakan dirinya. "Tuan Puteri, sudah lama kita tidak pergi ke pasar kan?" Ujar Ariah dengan senyum sumringah terpancar di wajahnya. "Benar sekali, ohya aku teringat sesuatu sekarang sudah bulan apa?" Tanya Vizena setelah ia teringat akan sesuatu. "Bulan ke sembilan, Tuan Puteri." "Berarti aku harus mengambil pemberian guru, bulan depan. Kau ingatkan aku nanti ya." Ariah mengangguk. "Ohya, Yang Mulia, hamba ingat ada kedai bagus di sekitar sini, bagaimana kalau Yang Mulia membuatkan pakaian untuk Tuan Gard." "Kau benar, aku akan membuatkan satu untuknya." Keduanya kemudian pergi ke salah satu kedai yang terletak tidak jauh darinya. Ketika memasuki kedai tersebut, mereka di tawari berbagai macam kain terbaik yang ada Luxorth. "Aku ingin, satu kain sutera warna delima." Kata Vizena, ia ingat bahwa Gard sangat menyukai warna tersebut. Hampir semua pakaiannya berwana merah delima. "Dengan benang perak," Imbuh Vizena. Vizena cukup ahli menjahit baju, sebelum penculikan dirinya ia selalu membuatkan pakaian untuk Leoxard, pakaian itu selalu menemani Leoxard kemana pun Leoxard pergi, bahkan berperang. "Satu lagi Sutera dengan warna hitam dan benang emas." Vizena juga ingin membuatkan satu untuk kakaknya. Setelah mendapatkan semua barang yang dibutuhkannya, mereka berdua hendak kembali kerumah. Namun saat dijalan, tiba-tiba Vizena ingin membeli Sup Ayam yang terkenal dikota. Ia menarik Ariah untuk memasuki sebuah kedai makanan yang cukup ramai. "Tuan Gard," Ujar Ariah lirih ketika ia melihat Gard Meridiam menjadi salah satu pelanggan yang sedang duduk di meja menikmati satu mangkuk sup dengan senyum yang begitu lebar. Mendengar nama suaminya disebutkan, Vizena memandang kearah Ariah memandang. Senyumnya mengembang begitu saja ketika ia melihat Gard. Tapi senyum itu memudar saat ia melihat orang lain dihadapan Gard. "Adik!" Eyster mengenali Vizena, seketika Gard pun menoleh dan melihat Isterinya sedang mematung dan menatapnya tanpa berkedip. Gard menoleh pada Eyster yang tersenyum, lalu mengerlingkan mata padanya. "Kalian! Kebetulan sekali bertemu dengan kalian disini!" Ujar Vizena sembari menyunggingkan senyumnya yang paling menawan kemudian sedikit menarik Ariah untuk mendekat ke meja. "Apa kalian juga kebetulan bertemu disini?" Tanya Vizena sembari meletakkan bokongnya pada kursi. Ia menatap Eyster dan Gard secara bergantian. Gard tampak gugup, ia meraih cangkir minumannya dan menenggaknya sampai habis. "Ahhh tentu saja tidak, aku meminta Gard untuk menemaniku karena aku sangat ingin makan disini." Ujar Eyster. Di hadapannya Gard tersedak, secara refleks Vizena menepuk pundak Gard dengan lembut. "Minumlah dengan perlahan," ujar Vizena. Dibelakangnya Ariah yang menyaksikan adegan tersebut menjadi sangat geram, terutama pada Gard. Vizena sudah bangun dini hari hanya untuk memasak, meski pun gagal tapi lelaki itu malah pergi dengan wanita lain dan makan di kedai mewah. "Apa kau juga mau makan disini?" Tanya Eyster. "Aku akan pesankan," Vizena memang lapar, tetapi entah kenapa ia merasa perutnya sangat penuh. Selera makannya hilang ketika melihat Eyster dan Gard bersama. "Ah tidak perlu, aku tidak lapar." Kata Vizena, "lebih baik aku kembali kerumah, karena harus mengerjakan banyak hal. Kakak tahu, sekarang aku sudah menjadi seorang isteri." Vizena bangkit, lalu hendak berpamitan pergi. "Baiklah, berhati-hatilah dijalan." Ujar Eyster lagi. Untuk sesaat Vizena menoleh pada Gard yang hanya menatap kearah lain alih-alih berdiri dan mengantarkannya pulang. Pandangan mata Gard mengarah pada Vizena yang pergi keluar melewati pintu kedai makanan yang penuh sesak dan membuat Vizena harus berdesakkan. Entah kenapa hatinya terasa sedikit sakit ketika ia harus menyaksikan hal tersebut. "Ingin mengejarnya?" Tanya Eyster yang memperhatikan Gard. "Apa kau harus mengatakan semua itu padanya?" Tanya Gard sembari menatap Eyster. Gadis itu tersenyum senang. "Seharusnya kau lihat wajahnya, menyenangkan sekali melihat senyum menjengkelkannya itu lenyap!" Desis Eyster, "kau harus menguatkan hatimu, Gard!" Ujar Eyster. Gard menghela nafasnya, ia kemudian menatap Eyster sekali lagi. •• Pandangan mata Vizena berbinar ketika ia menatap dua pakaian yang ada dihadapannya. Satu pakaian berwarna merah delima dengan sulaman singa perak seperti simbol keluarga Meridiam di tengah pakaian tersebut, dan satu lagi pakaian berwarna hitam dengan sulaman naga emas ditengahnya. Ia tersenyum puas melihat hasilnya, meski membutuhkan banyak waktu dan tenaga karena ia harus menggunakan tangan kirinya tetapi hasilnya membuat hati Vizena senang sekali. "Ariah!" Panggil Vizena, sesaat kemudian Ariah datang. Melihat hasil kerja Vizena, ia pun begitu senang. "Wah! Yang Mulia ini sangat indah sekali, Yang Mulia Putera Mahkota pasti akan sangat menyukainya!" Vizena tersenyum bangga, menjahit baju bisa dikatakan adalah salah satu keahliannya. "Kuharap Gard juga akan menyukainya," "Aku tidak yakin dengan hal itu," kata Ariah. Seketika Vizena menoleh pada Ariah sembari mengangkat alisnya, "maksud hamba, bukankah anda juga mendengar rumor itu?" Ariah pergi ke istana setelah ia melihat Gard begitu dingin pada Vizena. Karena sangat kesal, ia pergi untuk menemui Putera Mahkota dan mengadukan semuanya. Setelah menemui Leoxard dan mengungkapkan kekesalannya ia pun kembali, akan tetapi ketika ia melewati kerumunan pelayan malah mendengar kabar yang tidak biasa. "Hampir setiap hari menemui suami, Yang Mulia Puteri. Sungguh memalukan!" "Aku pernah melihatnya malam-malam keluar dari kamar Nona Eyster!" "Kasihan sekali, Tuan Puteri." Tentu saja Ariah tidak tinggal diam. Ia segera pergi dan mengadukan apa yang didengarnya pada Vizena. Namun, Vizena malah marah besar karena Ariah mengadu pada Leoxard. "Itu hanya rumor, kau tau kan orang di Istana itu suka sekali bergosip, aku juga suka melakukannya." Kata Vizena sembari merapikan lagi pakaian yang akan diantarkannua untuk Leoxard. "Tapi Yang Mulia, tidak akan ada asap jika tidak ada api. Mengapa ada orang yang repot-repot mengarang cerita begitu?" Vizena hanya mengangkat bahunya. "Lebih baik sekarang, kau siapkan keperluan untuk pergi ke Istana." "Untuk melabrak Nona Eyster?" Tanya Ariah yang begitu gembira. "Kau ini!" Desis Vizena, "aku ingin menemui kakakku, dan memberikan pakaian ini." Tak lama kemudian ia menggunakan kereta kuda pergi ke Istana ditemani oleh Ariah. Di tangannya sebuah kotak ia pegang selalu, takut kalau jika ia tidak memegangnya sendiri maka kotak tersebut akan hilang. Sesampainya di Istana, Vizena langsung menuju ke Istana Leoxard. Namun sepanjang ia berjalan, ia merasa sesuatu yang aneh. Pelayan yang melewatinya seolah menatapnya dan berbisik-bisik. Vizena menepis kecurigaannya dan mengatakan itu hanya perasaannya saja. Sampai suara Ariah mengusiknya. "Lihatlah, semua orang memandangi Anda, Yang Mulia." "Aku tidak peduli," Kata Vizena dengan tetap tampak tenang seperti biasanya. Ketika sampai di kediaman Leoxard, saat itu sang calon penerus tahta Luxorth sedang menikmati indahnya malam yang dipenuhi dengan bintang dan bulan sabit yang bersinar begitu terang. Menyadari kedatangan Vizena ia langsung menyambut adiknya dengan merentangkan kedua tangannya. Vizena berlari kecik kearah kakaknya kemudian memeluknya dengan erat, ia begitu merindukan kakaknya. "Aku sangat merindukanmu, adik kecil." Ujar Leoxard penuh kehangatan yang dirindukan oleh Vizena. "Aku juga, aku sangat merindukan kakak!" Leoxard melonggarkan pelukannya untuk melihat paras Vizena yang separuhnya di tutupi oleh topeng emas itu. "Kenapa kau menjadi kurus begini, apa Ariah tidak memberimu makanan yang enak?" Tanya Leoxard. "Bukan itu, tapi karena aku tidak punya teman bermain. Di kediaman kami begitu sepi." Keluh Vizena, "Kenapa kakak tidak pernah mengunjungiku?" Protes Vizena dengan manja yang disambut tawa oleh Leoxard. "Maaf, maaf, tapi aku sangat sibuk mengurus segala hal, apalagi sekarang ini kita sedang berperang, jadi kau tahu betapa sibuknya." Vizena masih memberengut, "ya, ya, ya, aku tahu, kakakku harus mengabdi pada negara supaya menjadi Kaisar yang baik kelak." Leoxard tertawa lagi, kemudian ia mencubit pipi Vizena. Tiba-tiba saja, perasaan bersalah menyelimuti batin Leoxard. Beberapa bulan ini, ia memang sangat sibuk, terlebih lagi ketika perang terjadi, tidak ada hari tenang baginya. Sehingga, ia tidak bisa melindungi Vizena dari rumor yang beredar, bahkan mengunjungi Vizena pun hanya sekadar angannya saja. "Maafkan aku," Bisik Leoxard. "Kenapa kakak meminta maaf?" "Sejak kecil aku sudah berjanji untuk melindungimu, tapi aku malah membuatmu menderita." Vizena mundur selangkah, ia menatap wajah kakaknya dengan serius. "Jika ini mengenai rumor yang beredar, jangan khawatir. Semua itu hanya rumor, aku bahkan tidak mempercayainya. Gard sangat baik padaku, aku yakin dia begitu mencintaiku." Ujar Vizena dengan senyum yang merekah. Menatap adiknya, Leoxard tahu bahwa Vizena berbohong demi kakaknya agar tidak khawatir. "Aku sudah berbicara pada Gard, jadi kau tidak perlu membelanya. Tentang rumor itu, benar atau tidaknya aku tetap harus melindungimu." Ujar Leoxard lagi. Vizena menghela nafasnya, ia tahu Leoxard berusaha berbuat yang terbaik untuknya. "Ahh, daripada bicara tentang hal buruk itu, lebih baik kakak melihat apa yang aku buatkan untukmu!" Kata Vizena, kemudian ia memanggil Ariah yang membawa sebuah kotak. "Apa yang sudah kau siapkan untukku?" Tanya Leoxard. Vizena menyerahkan kotak yang dibawa Ariah pada Leoxard. Karena sangat ingin tahu, Leoxard segera membukanya. Matanya melebar dengan binar bahagia ketika melihat baju yang terlipat rapi didalamnya. Ia segera mengangkat pakaian itu, memutarnya tanpa menghilangkan senyuman diwajahnya. "Kau buatkan ini untukku?" Mata Leoxard berkaca-kaca. Terakhir kali ia mendapatkan pakaian dari Vizena adalah sekitar empat tahun lalu. Setelah Vizena mengalami insiden buruk, gadis itu tidak pernah lagi membuatkan sehelai pakaianpun padanya. "Kau yang membuatnya?" Tanya Leoxard lagi, "Ba, ba, bagaimana bisa?" Leoxard meraih tangan kiri Vizena dan menatapnya dengan sebutir airmata yang menetes. "Kenapa kakak menangis seperti ini, dasar cengeng!" "Oho! Kau berani mengatai kakakmu cengeng!" "Lalu apa namanya?" Cibir Vizena, sembari menarik tangan kirinya. "Tanganku masih tidak berfungsi dengan benar, jadi aku membutuhkan waktu lima minggu untuk membuatnya! Jadi kakak, kau harus menggunakannya!" "Tentu, tentu aku akan menggunakannya. Ini kan dari adikku." Leoxard terus memandangi pakaian yang dibuatkan oleh Vizena. Ia begitu senang menerimanya dan berjanji akan memakainya sesering mungkin. Tak lama kemudian, seorang penjaga masuk dan memberitahukan bahwa Gard ingin menemui Putera Mahkota. Setelah mendapatkan perintah Leoxard, penjaga membiarkan Gard masuk. Melihat isterinya ada di samping Leoxard, wajah Gard menjadi gusar. Ia mengira bahwa Vizena mungkin saja sedang mengadu lagi kepada Leoxard. Tapi itu bukan hal penting untuk dipikirkan oleh Gard saat ini, ada hal yang lebih penting lainnya. "Hamba memberi hormat kepada Yang Mulia Putera Mahkota." Kata Gard sembari membungkuk. "Ada apa?" Leoxard tidak bisa menyembunyikan kekesalannya pada Gard yang belum sirna. Jika ia mampu, ia akan menghilangkan Gard dari muka bumi ini, jika saja Leoxard tidak mengetahui bahwa Vizena mencintai Gard, ia tidak akan menempatkan Gard disamping Vizena. "Gawat Yang Mulia, Pasukan Narth memukul mundur pasukan kita, jika bantuan tidak segera dikirimkan, saya khawatir Narth akan menyerang benteng perbatasan." Gard melaporkan berita yang baru saja ia terima. "Tidak mungkin, bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah Sholaire memutuskan untuk tidak ikut berperang?" "Sholaire memang tidak mengirimkan pasukan kepada Narth, akan tetapi, Narth memiliki pasukan penyihir." "Pasukan penyihir? Bagaimana bisa?!" Amarah Leoxard memuncak. Karrazam bukan musuh yang mudah ditaklukan. Ia tidak bisa mengajak raja baru itu bernegosiasi. "Mereka pikir kita lemah dengan sihir? Apa mereka lupa kita adalah Bangsa Luxorth yang memiliki akademi sihir terkuat dari lima negara?! Jika mereka menginginkan perang sihir, maka akan terjadi seperti itu," Leoxard telah bertekad. Ia akan mengalahkan Narth dan membuat Negara itu hancur jika perlu. "Gard, dengar perintahku, Kumpulkan semua pasukan penyihir terbaik dari akademi sihir, kumpulkan juga Pasukan keluargamu, aku akan mengontrol pasukan di istana dan melaporkannya pada Kaisar." "Gard melaksanakan perintah Yang Mulia." Sesaat kemudian Gard beranjak pergi. Vizena tidak tinggal diam, ia berpamitan pada kakaknya kemudian berlari menyusul Gard. Gard belum berjalan jauh, jadi Vizena bisa mengejarnya. Ia memanggil Gard sehingga pria itu berhenti melangkah. Vizena mendekati Gard yang memandangnya. "Ada apa, Tuan Puteri?" Vizena benar-benar membenci cara Gard memanggilnya. Terdengar seperti cemoohan, akan tetapi Vizena memakluminya, mungkin saja Gard tidak terbiasa untuk memanggil namanya. "Apa kau akan ikut berperang juga?" Tanya Vizena dengan cepat seolah ia ketakutan akan kehilangan kesempatan untuk berbicara pada suaminya sendiri. "Iya," balas Gard tanpa ada emosi sedikitpun dalam nada bicaranya. "Jadi begitu," "Jika sudah selesai mengadu pada Putera Mahkota, lebih baik segera kembali ke rumah." Ujar Gard kemudian ia mulai melangkah kembali. Vizena yang tidak terima, menyusul Gard lagi. "Aku tidak mengadu pada kakakku, mengapa kau berpikir demikian?" Suara Vizena hampir berupa teriakan. Untungnya ia bisa menguasai diri. "Percuma bicara denganmu, meski dunia berbalik kau tidak akan mengakuinya." Karena kesal Vizena meraih lengan Gard. Seketika pria itu berhenti dan menatap Vizena dengan tajam. "Apa yang salah denganmu, kenapa kau memperlakukanku seperti ini?" "Aku tidak punya waktu untuk mendengarkan rengekanmu." Ucap Gard dengan tajam ketika ia menyadari mereka mulai menjadi pusat perhatian. "Katakan padaku, mengapa kau menerima pernikahan ini jika kau tidak mencintaiku?!" Vizena lebih keras kepala dari batu itu sendiri. Gard mengambil nafasnya untuk menahan emosinya yang mulai naik. Untung saja saat itu, Ariah segera datang dan menarik Vizena pergi dari hadapan Gard. "Ariah, dia belum menjawab pertanyaanku!" ::Bersambung::
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN