41. Hypocrisy

1721 Kata
Ariah berhambur ke arah Vizena ketika ia menyaksikan Tuan Puteri kesayangannya duduk di lantai dengan memeluk lututnya dan pandangan mata kosong terarah pada lampu yang jatuh di lantai. "Tuan Puteri apa yang terjadi?" Tanya Ariah. Dia menyentuh bahu Vizena, merasa ada yang salah kemudian memeriksa kening Vizena. Suhu yang panas membuat Ariah terkejut. "Yang Mulia anda demam, mari ayo naik ke ranjang." Kata Ariah. Dia membantu Vizena berdiri, dan sesuatu yang tak pernah dibayangkan olehnya sebelumnya membuat Ariah sangat terkejut, yaitu sobeknya pakaian Vizena di bagian depan. Ariah tak bisa menahan raut wajahnya, matanya melotot lebar, dan tangannya secara reflek bergerak menutupi bibirnya yang terbuka. "Apa, apa yang terjadi, Yang Mulia?" Tanya Ariah lagi, terlihay kecemasan yang luar biasa tampak di wajah Ariah. Tubuh Ariah gemetar ketakutan membayangkan apa yang telah terjadi pada Vizena. "Bantu aku untuk bersiap menghadiri persidangan pagi ini." Suara Vizena begitu lemah namun nadanya begitu datar tak memiliki emosi, ia berjalan gontai mendahului Ariah keluar dari kamarnya. Bak mandi itu berisi air hangat dan ribuan kelopak mawar, harumnya semerbak dan bisa membuat siapapun yang masuk ke dalam sana bagai memasuki taman bunga yang wangi, namun Vizena belum pula masuk ke dalam bak yang sudah di siapkan oleh Ariah. Dirinya berdiri di samping kolam dengan tatapan kosong. Ketika akan masuk untuk menambahkan pewangi, Ariah memandangi Vizena yang terdiam di pinggir bak tersebut. Dia yakin sesuatu telah terjadi pada Vizena, tapi apa dan siapa? Keinginan Ariah mengetahui siapa dalang p*********n terhadap Vizena begitu kuat. Jika Vizena tidak bercerita, dka bertekad akan mencari tahu kebenarannya. "Yang Mulia, mari saya bantu membersihkan diri." Kata Ariah dengan pelan. Tak ada jawaban dari Vizena, jadi Ariah segera membantunya melepaskan pakaian robek itu. Lagi-lagi Ariah harus dibuat terkejut, pada tubuh Vizena yang terdapat memar-memar, di sekitar lengan atas, dan pinggangnya. Kali ini Ariah tak bisa lagi berdiam diri. Dia harus mendesak Vizena untuk mengatakan yang sebenarnya. "Tuan Puteri, siapa yang menyerang anda?" Tanya Ariah dengan suara gemetar menahan tangis. Ariah sangat menyesal karena tak menjaga Vizena dengan baik. Entah berapa kali Tuan Puterinya terluka meski dia ada di samping puteri. Tak ada jawaban dari Vizena, ia hanya terdiam lalu berjalan masuk ke dalam bak mandi yang airnya masih terdapat kepulan asap tipis. Hangat, itulah yang dirasakan olehnya ketika pertama kali kulitnya menyentuh air. Vizena segera duduk menenggelamkan tubuhnya hingga ke leher. Air hangat yang menyentuh tubuhnya seolah mampu mengangkat rasa sakit fisiknya. Ia memejamkan matanya menikmati air hangat itu, sementara Ariah sesenggukan melihat Tuan Puterinya kembali mengunci dirinya sendiri seperti empat tahun lalu. Tapi kali ini berbeda, Ariah sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi. "Apakah Tuan Puteri tidak ingin memberitahu saya? Kalau begitu saya akan beritahu Yang Mulia Kaisar, agar dia menyelidikinya." Ariah mencoba mengancam Vizena, meski tahu itu hanya sia-sia saja karena jika Vizena sudah keras kepala maka batu yang paling keras di dunia ini bukanlah tandingannya. "Akan ku urus sendiri masalahku." Ujar Vizena dengan nada datar. Ia lalu menenggelamkan kepalanya ke dalam air sambil memejamkan matanya. Semua bayangan kejadian yang telah menimpanya semalam kembali berputar secara runtut. Masih dapat dirasakan oleh Vizena cengkraman tangan kuat Gard di lengannya, aroma alkohol yang menguar dari bibir Gard begitu menyengat dan sorot mata yang dipenuhi kegelapan itu Vizena masih mengingatnya dengan sangat jelas. Dia mungkin tak akan pernah melupakannya meski seratus tahun kemudian atau bahkan seumur hidupnya. Musim seminya kini langsung berubah menjadi musim dingin yang panjang. °°°°°° "Aku tidak bisa melakukannya." Suaranya parau dan kepalanya sedikit tertunduk. "Kenapa? Itu tugas yang sangat mudah dan kau bahkan tak bisa melakukannya?!" Teriak Eyster berapi-api. Ini masih pagi tapi dia sudah dibuat begitu kesalnya dengan mendengar pengakuan dari Gard. Gard berdiri kemudian berjalan ke arah jendela besar. Tak sengaja matanya menangkap sosok Vizena yang berjalan anggun dengan gaun merah delimanya yang menawan. Dua tangannya terkepal dengan erat di sisi tubuhnya. Kejadian semalam, meski dirinya mabuk tapi tidak cukul untuk membuatnya lupa setiap detailnya. "Apa kau benar-benar jatuh cinta padanya?!" Lagi suara Eyster melengking sampai membuat telinga Gard berdengung. "Bukan itu! Bagaimana aku bisa mencintai dua wanita sekaligus. Aku sangat mencintaimu, Eyster." Ungkap Gard sembari menoleh kepada Eyster. "Lalu mengapa kau tidak bisa melakukannya? Bukankah itu mudah, kau hanya perlu membuatnya tidur denganmu!" "Eyster!" Bentak Gard dengan suara yang sangat keras. Dadanya naik turun karena nafasnya yang tak beraturan. Gard kembali memandang keluar dari jendela, sosok itu sudah lenyap dari pandangannya. Kini ia berusaha menahan emosinya. Pikiran Gard kembali pada malam itu, Bagaimana bisa dia melukai Vizena yang sudah terluka? Pertama kali untuk Gard menatap langsung ke dalam mata lembayung yang menawan milik Vizena, dan ia melihat begitu banyak luka yang terpendam disana. Untung saja Vizena menampar wajahnya, jika tidak mungkin ia hanya akan membuat luka itu semakin dalam. "Aku tahu...." Eyster mendekati Gard, lalu dari belakang ia memeluk tubuh Gard yang tinggi besar itu, "kau pasti merasa aku akan terluka jika kau melakukannya." Kata Eyster dengan manja. Gard terdiam, dia tidak pernah tahu apakah itu yang dia sungguh rasakan atau hal lain. Hanya saja, dia tak bisa melukai Vizena untuk ke sekian kalinya, dia tidak sanggup membayangkan untuk melihat wajah pucat Vizena lagi, karena wajah itu hanya menimbulkan rasa sakit dalam hatinya. "Aku dengar, Kaisar mengirimmu untuk membantu Jovach?" Tanya Eyster. "Iya, itu benar. Aku akan berangkat besok pagi bersama seseoranh bernama Liyan." "Ahhh kalau begitu, aku bisa menggunakan kesempatan ini." Kata Eyster dengan semangat. Seketika Gard melepaskan tangan Eyster yang melingkar di pinggangnya. Ia berbalik lalu menatap Eyster dengan seksama. Ada perasaan aneh yang timbul di hati Gard, ia merasa Eyster berubah. Dulu gadis yang dia cintai, begitu manis dan menawan, kini sepertinya hanya ada dendam saja di mata Eyster. "Apa yang kau rencanakan?" Eyster tersenyum simpul, sebuah rencana telah tersusun di kepalanya. Dia telah bertekad untuk menghancurkan Vizena. "Apa yang kau rencanakan!!" "Tenanglah Tuan Gard, ini tidak akan melibatkanmu sama sekali." Gard tidak bisa memaksa Eyster untuk mengatakannya. Tapi ia tahu, rencana ini pastilah rencana yang sangat buruk. Entah apa yang akan dilakukan oleh Eyster kepada Vizena. Memikirkannya saja membuat Gard menjadi tidak tenang. °°°°°° Di bawah terik matahari yang menyengat itu Ariah menunggu dengan sabar meski kakinya terus bergerak-gerak gelisah. Ia juga harus menyembunyikan wajahnya karena para pasukan yang berlalu-lalang memasuki arena latihan itu kerap kali menatapnya dengan pandangan penuh tanya. "Kenapa dia sangat lama sekali!" Gerutunya. Dia sudah menunggu cukup lama untuk ini, dan tak bisa menunggu waktu yang lain lagi. Ketika Vizena pergi ke persidangan pagi ini, Ariah memanfaatkannya dengan mendekati penjaga pintu tempat tinggal Sang Puteri. Dia bertanya kepada mereka siapa yang datang ke dalam tempat tinggal Puteri. Hanya satu nama dan ia sudah sangat yakin hingga rela menunggu di bawah terik panas matahari ini. "Ah itu dia!" Decaknya ketika melihat sosok pria berbadan tinggi dan tegap sedang berjalan ke arahnya. Segera ketika dia sudah lebih dekat Ariah menghadang jalannya. "Ada apa, Ariah?" Tanya Gard dengan alis terangkat. "Ada apa, huh? Kau bertanya ada apa?!" Ariah meninggikan suaranya, ia bahkan terang-terangan menatap Gard dengan tajam. "Mana sopan santunmu?!" Ariah terkekeh mendengar Gars mengingatkan dirinya akan sopan santunnya. Sementara Ariah mengetahuinya, Gard lah yang menyerang Vizena malam sebelumnya. "Tuan Gard, aku sangat mengagumi dan menghormatimu! Tapi itu dulu. Sekarang bahkan kau tidak pantas aku pandang dengan kedua mataku! Cuih!" Ariah meludah ke samping. "Omong kosong apa yang kau katakan ini, kau hanya membuang waktuku!" "Bagaimana jika semua bawahanmu itu tau kalau Jenderal kebanggaan mereka ternyata telah melukai harga diri negeri ini? Mereka tidak akan menganggapmu lagi!" Mata Gard melebar, dia tidak menduga Ariah akan menhadang jalannya untuk mengingatkan kesalahan yanh dia perbuat semalam. Ya! Gard menganggapnya sebagai kesalahan. Tapi ia tak bisa menunjukkan isi hatinya dengan terus teranh dan berusaha tetap menjaga citranya yang sudah dikenal oleh Ariah. "Bukankah Tuan Puteri terlalu suka mengadu?" Katanya dengan dingin. "Ternyata benar kau?!!!" Ariah mengangkat tangannya hendak menusukkan sebuah belati yang di simpan olehnya sejak tadi pada Gard. Tubuh Gard mematung karena ia cukup terkejut. Namun seseorang menangkap tangan Ariah dengan kuat sehingga belati itu tidak sampai menusuk Gard. "Berani-beraninya kau menusuk Jenderal kami!!" Rupanya seorang pasukan yang akan keluar dari arena latihan. "Lepaskan aku!! Aku akan membunuh pria tidak bermoral ini!!" Teriak Ariah sembari meronta-ronta. Pemuda itu tak melepaskan Ariah, ia memukul punggung tangan Ariah sehingga belati itu terjatuh di lantai. Keributan itu mengundang perhatian banyak orang. Mereka keluar untuk menyaksikan apa yang sedang terjadim menyadari dirinya menjadi pusat perhatian, Gard meminta bawahannya untuk melepaskan Ariah. "Jangan buat keributan di tempat ini, kau hanya menpermalukan Yang Mulia Puteri." Kata Gard kemudian beranjak pergi meninggalkan Ariah. Tapi, Ariah tidak serta merta menurut begitu saja. Ia mengambil kembali belatinya yang sudah jatuh kemudian melemparkan ke arah Gard. "Jenderal awas!" Bawahan Gard melindunginya sehingga belati itu mengenai lengannya. "Apa yang kalian lakukan?! Tangkap wanita gila itu!" Teriaknya lalu beberapa pasukan yang berlatih menangkap Ariah. "Lepaskan aku!!" Gard berbalik, ia melihat pada luka yang dialami oleh bawahannya. Kemudian ia memandangi Ariah yang terus meronta. Kini dirinya dilanda oleh dilema, jika ia membebaskannya para bawahannya akan bertanya mengapa dia membebaskan orang yang hendak mencelakainya, tapi jika tidak maka dia hanya akan berurusan dengan Vizena. "Apa yang membuatmu ragu?" Sebuah suara menginterupsi. Rupanya itu adalah Eyster dengan bekal makanan di tangannya. "Penjarakan gadis ini! Dia harus dihukum atas perbuatannya!" Kata Eyster lagi. Seketika para pasukan itu membawa Ariah untuk di penjara. "Apa yang kau lakukan?!" Desis Gard. "Membawakan bekal makan siangmu?" sembari mengangkat kotak makanan. "Semua bubar!" Gard menatap Eyster dengan tatapan bingunh bercampur gelisah. Memenjarakan pengikut Vizena adalah hal besar. Jika Kaisar sampai mendengarnya, maka entah siaoa yang bisa menebak apa yang akan terjadi. Tapi yang jelas Vizena akan sangat marah besar. "Ini bagian dari rencanaku! Sangat sempurna sekali!" Decak Eyster. Sorot matanya berbinar sangat cerah sekali. "Aku tidak menyangka gadis itu bisa sangay sempurna sekali, aku tidak harus repot-repot menculiknya." Ujar Eyster lagi. "Apa sebenarnya yang kau rencanakan?" "Sudah berapa kali kau bertanya hari ini, tenanglah dan makan bekal ini." Eyster menyerahkan makanan tersebut pada Gard lalu beranjak pergi dengan senyuman yang merekah di wajahnya. Gard meremas kain pembungkus yang di berikan oleh Eyster padanya. Perasaan aneh bergejolak dalam batinnya, gelisah, takut dan cemas. Eyster bisa menjadi sangat gila dan kejam. Jika ia sudah merencanakan sesuatu yang buruk, hal itu akan menjadi sebuah malapetaka. "Apa yang harus aku lakukan." Gumam Gard dengan gelisah. . . . ::Bersambung::
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN