Aula utama istana Luxorth telah riuh ramai dipenuhi oleh orang-orang yang tampak kelelahan dengan pakaian yang sangat lusuh. Seharusnya mereka bisa berpakaian lebih rapi dan mengerjakan tugas mereka dengan baik. Namun, sudah berbulan-bulan mereka masih bertahan dengan protesnya. Tidak semuanya, hanya sebagian dari mereka saja yang bertahan. Beberapa sudah kembali ke keluarganya dan bekerja untuk Vizena. Kini tinggal segelintir orang keras kepala yang hatinya tak bisa diluluhkan oleh Vizena.
"Yang Mulia telah tiba!" Penjaga memberi pengumuman. Tak seperti pejabat lainnya yang akan berlutut memberi hormat, mereka berdiri dengan angkuhnya menatap Vizena yang berjalan melewati mereka menuju ke singgasanannya.
Meski aura yang begitu agung menyelimuti Vizena, mereka sama sekali tak berpengaruh. Mereka cukup teguh dalam pendiriannya.
Dengan anggun dan tenang, Vizena duduk di atas tahtanya. Pandangan matanya menyapu ke seluruh ruangan, menatap satu persatu kepala orang-orang yang begitu keras kepala menentangnya. Dia berpikir, menimbang-nimbang, harus diapakan orang-orang ini. Dipenggal? Dipenjara? Atau disiksa sampai menyerah. Pemikiran itu sangat menggiurkan sekali, mungkin Vizena harus melakukan salah satunya agar semua yang melihatnya jadi ketakutan.
"Apa kalian tahu, mengapa kalian aku minta datang kemari?" Vizena mengeraskan suaranya, menahan nafas dengan perutnya. Tidak ada jawaban, mereka hanya berkasak-kusuk dengan teman di sebelah mereka.
Vizena mengangkat tangannya kemudian menjentikkan jarinya. Sesaat kemudian, aula istana bergemuruh dengan suara derap langkah para pengawal yang masuj dari berbagai arah dan mengepung semua orang yang menentang Vizena.
"Akhirnya, kau menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya!" Teriak salah seorang dari mereka. Seorang pengawal lantas memukulnya sampai orang tersebut jatuh pada lututnya di lantai marmer yang keras.
"Katakan padaku, apa tujuan kalian melakukan protes?" Vizena tahu betul tujuan orang-orang itu. Tapi dia yakin, ada hal lain di balik itu semua.
"Kami ingin kau turun dari tahta yang suci itu, kau tidak pantas duduk di atas sana!" Lagi, seorang pengawal memukul orang tersebut hingga tersungkur ke lantai.
"Apakah orang yang duduk di kursi ini lebih penting dari keluargamu?" Tanya Vizena dengan suara lantang. Tentu saja semua orang menjadi bingung, mereka bukannya tak tahu jika keluarga mereka telah diurus oleh Istana. Tapi apa hubungannya dengan pertemuan ini, mereka sama sekali tidak tahu.
"Kau! Kau mengancam kami dengan nyawa keluarga kami! Kau memang wanita hina!" seorang pengawal memukul wajahnya hingga ia terjungkal ke belakang.
"Kenapa kalian tidak ingin mendengarkanku dulu?" ujar Vizena, rupanya orang-orang itu pun menurut. Mereka mulai mendengarkan apa yang akan Vizena katakan selanjutnya.
"Aku hanya akan memberikan satu penawaran, tidak akan ada kesempatan di lain waktu, jadi dengarkan aku baik-baik." Vizena mengambil nafas dalam-dalam, kemudian ia mulai berbicara lagi.
"Aku akan memberikan masing-masing anak dari kalian yang telah lulus dalam akademi sebuah jabatan kelas 2, atau kalian bisa hidup di pulau pengasingan sebagai gantinya jika tidak mendukung pemerintahanku?"
Semuanya terkejut, penawaran itu tampak menggiurkan, akan tetapi sebenarnya itu hanya jebakan yang ribuat oleh mereka. Tanpa disadari, Vizena telah mengikat satu keluarga untuk setia terhadapnya atau pergi sebagai orang terkucil.
"Aku tidak akan memaksa kalian, pilihan ada di tangan kalian. Keberlangsungan keluarga kalian ada ditangan kalian saat ini." Kata Vizena lalu ia menghela nafasnya pelan. Sebuah beban terasa terangkat dari pundaknya. Meski ia tahu, akan ada masalah yang mengikuti keputusannya dia akan menghadapinya nanti.
°°°°°
"Kerja bagus." Puji Theriaz pada cucunya. Keduanya kini sedang menikmati suasana senja di teras paviliun yang terdapat di taman istana. "Meski hal ini akan menimbulkan rasa iri bagi pejabat yang lain."
"Aku sudah memberikan pejabat yang lain gantinya. Mereka tidak akan merasa iri, Kakek." Balas Vizena, ia mengambil cangkir tehnya kemudian menyeruputnya sedikit.
"Rupanya kau sangat cerdas sekali, bagaimana kau bisa terpikirkan solusi seperti ini?"
Vizena meletakkan cangkirnya, lalu meraih kue berbentuk bulan sabit dan melahapnya sepertk orang yang sedang kelaparan. Ini pertama kalinya sejak dia memimpin Luxorth akhirnya merasakan lapar. Theriaz menatap Vizena dengan keheranan.
"Ngomong-ngomong nak, siapa tamu yang kau berikan istana tamu terbaik itu?"
"Uhuk-uhuk." Vizena tersedak, ia meraih cangkir tehnya lalu meminum semua airnya untuk melegakan tenggorokan. Kemudian memandangi Theriaz yang menunggu jawabannya.
"Dia, dia itu." Vizena tampak ragu-ragu. Mungkin kakeknya akan sangat terkejut jika dia mengatakan orang yang tingga di istana tamu terbaik adalah Kaisar dari Thymur, Trugeris Khan.
"Apa kau sakit nak?" Theriaz memperhatikan wajah Vizena yang memerah.
"Tidak kakek! Dia adalah temanku dari jauh. Kakek tidak perlu memikirkannya." Kata Vizena.
"Teman seperti apa sampai diberikan tempat terbaik di istana tamu? Apakah dia orang yang membuatmu terjebak dalam skandal?" Theriaz cukup baik dalam mengobservasi. Dengan cepat Vizena menggelengkan kepalanya.
"Jadi benar saat itu kau menyembunyikan seorang pria di kamarmu?" Tanya Theriaz lagi dengan mimik wajah yang dibuat-buat seolah ia terkejut.
"Kakek! Bukan seperti itu."
"Kau memang cucuku, hahaha kau memang cucu seorang Theriaz!" Gida Theriaz. Dia begitu senang melihat wajah cemberut Vizena. Entah sudah berapa lama, ia tak melihat ada raut wajah Vizena yang berubah, seolah-olah ia tak memikiki emosi apapun.
Puas menggoda cucunya itu, Theriaz kembali serius. Ada hal lain yang harus dia sampaikan pada pemimpin tertinggi di Luxorth.
"Jadi, apa kau sudah menemukan siapa yang akan menggantikan Gard?"
Mendengar nama Gard, hati Vizena terasa seperti di cubit. Dia hampir tak memikirkan lagi pemilik nama itu. Namun, kakeknya mengingatkannya karena dia harus mengganti komandan pasukan secepat mungkin agar semua pasukan bisa berlatih untuk menghadapi peperangan secara mendadak atau hanya untuk pertahanan kerajaan.
"Aku tidak yakin siapa yang bisa menggantikannya, figurnya terlalu kuat di mata para pasukan." Jelas Vizena. Sangat sulit memang untuk menggantikan Gard, semua pasukan di bawah komandonya sangat patuh padanya. Kepergian Gard benar-benar membuat suasana kamp militer kacau.
"Tidak adakah seseorang yang muncul dalam benakmu?" tanya Vizena.
Tentu saja ada. Orang yang sangat kuat, memiliki pemikiran yang cerdas, pintar dalam membuat strategi, dan sosok yang sangat mudah untuk dicintai. Hanya saja, Vizena tidak mungkin menjadikan orang tersebut sebagai pemimpin pasukan Luxorth. Sangat mustahil.
Kepala Vizena menggeleng lemah, tidak ada nama lain selain sosok yang selalu menghantui pikirannya itu. Entah dia bisa menyelesaikan masalah ini atau tidak.
"Kalai begitu aku akan mengenalkanmu dengan seseorang." Alis Vizena terangkat saat mendengar ucapan Theriaz.
"Dia putera Hakim Agung, Barra."
"Barra?" Vizena tak asing dengan nama itu. Senyumnya merekah mendengarnya, memang Theriaz tak pernah salah memilih orang-orang terbaik untuk tinggal disisinya.
Barra adalah teman masa kecilnya, satu orang lagi yang selalu mematuhi semua ucapan Vizena selain Leoxard. Barra adalah salah satu siswa terbaik dalam akademi militer, pria yang menawan dan berkharisma. Ketika Gard menjadi pengawal pribadinya, Barra lah yang menggantikannya. Sosoknya banyak di cintai oleh teman sejawat dan bawahannya.
"Kakek tidak perlu mengenalkannya padaku, kami adalah teman masa kecil." Ujar Vizena dengan senyuman di wajahnya mengembang begitu lebar.
"Bagus sekali, kalau begitu masalah ini sudah bisa di selesaikan dengan mudah." Kata Theriaz merasa lega dengan reaksi Vizena. "Oh dan satu hal lagi." Theriaz memasang senyuman yang tak biasa sembari menatap ke arah Vizena.
"Ada apa kakek? Mengapa memandangku seperti itu?" Tanya Vizena yang memiliki firasa yang tidak baik dengan apa yang akan di ucapkan Theriaz padanya.
"Barra, dia masih lajang."
Mata Vizena melebar, dia tak percaya bahwa kakeknya akan memberitahu tentang informasi yang sudah jelas diketahui semua orang. Apa gunanya mengatakan hal semacam itu sekarang?
"Lalu?"
"Bukankah itu bagus?" Theriaz benar-benar memiliki niat terselubung.
"Bagus sekali, tandanya dia tidak memiliki beban saat harus pergi berperang nanti." Balas Vizena.
Therias menepuk dahinya, mengapa susah sekali bicara dengan Vizena, gadis itu terlalu tidak peka terhadap sekitarnya dan tindakan orang lain. Kepolosannya ini memang baik, tapi menjadi seorang Kaisar seperti saat ini, kepolosan hanya akan membuatnya dimanfaatkan orang lain.
"Aku bisa mengatur pernikahan kalian berdua."
"Uhuuk-uhuuk!" Suara batuk ini bukan milik Vizena. Ada orang lain rupanya yang mendengar ucapan Theriaz. Keduanya pun menoleh, dan seketika itu melihat sosok Trugeris yang sedang menepuk-nepuk dadanya dengan keras untuk meredakan batuknya.
"Mohon maafkan saya, saya tidak sengaja lewat. Mohon lanjutkan saja perbincangan Anda, Yang Mulia." Ujar Trugeris lalu beranjak pergi.
"Tunggu anak muda!" Suara Theriaz cukuo kencang hingga Trugeris berhenti melangkah. Dia tidak bisa membalikkan badannya, atau perdana menteri yang pintar itu akan mengenali dirinya. Akhirnya dengan secepat kilat Trugeris lalu berlari untuk menghindari Theriaz.
"Kakek, sudahlah. Temanku itu pemalu." Ujar Vizena.
"Pemalu? Pria bertubuh besar itu?"
Vizena mengangguk memberikan pertanda mengiyakan sebagai jawaban dari pertanyaan Theriaz. Meski sebenarnya, Trugeris bukan seperti itu. Tapi tetap saja, sangat menyenangkan membayangkan seorang ahli bela diri seperti Trugeris berwajah kemerahan menahan malu.